CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Mabuk


__ADS_3

"Wiski satu, pakai es." Arion mengacungkan telunjuk pada bartender.


"Anda minun alkohol? tolong batalkan sebelum semuanya menjadi kacau,"Sergah Kevin.


Sudah lama sekali sejak Arion mabuk beberapa tahun yang lalu akibat terlalu banyak minum alkohol. Dia akan kehalawan menangani atasannya itu yang meracau dan bertingkah tidak jelas.


Sejak saat itu, Arion tidak pernah menyentuh minuman beralkohol lagi.


"Sedikit saja." Arion tak peduli himbauan Kevin.


"Anda tidak sedang memikirkan sesuatu kan?" Kevin bertanya-tanya. Biasanya seseorang akan melampiaskan masalah pada minuman jika sedang nemikirkan beban yang berat.


Arion menuangkan wiski kedalam dua gelas yang sudah berisi butiran es.


"Kita minun bersama." Arion mengangkat slokinya mengajak bersulang.


"Saya yakin anda sedang memikirkan sesuatu."


Kevin tahu segalanya tentang Arion, luar dalam.


Malam ini tidak akan berlalu dengan cepat. Karena Arion akan menikmati kebebasannya yang di temani dengan dentuman musik dan beberapa penari yang meliuk-liuk di atas dance floor.


Sudah berulang kali Kevin mengingatkan agar Arion berhenti minum, namun satu botol wiski sudah ia habiskan hingga tandas. Tubuhnya mulai limbung dan Arion pun meracau tidak karuan.


"Kevin!! melihat bayi itu membuatku sakit!!" Arion menepuk-nepuk dadanya.


"Iya saya tahu. Nanti masalah ini akan selesai, anda tidak akan terbebani lagi oleh bayi itu." Kevin membantu membopong tubuh Arion, ia harus segera membawanya pulang.


"Aku menyesal. Aku jahat." Arion terisak, kedua sudut matanya berair.


"Terserah anda saja, Mister."


Tingkah atasannya semakin membuat Kevin kewalahan. Tubuh Arion di rebahkan dalam mobil, memasang seatbelt lalu Kevin pun mengantarkan Arion kembali ke apartemennya.


"Keviiiiiiiiiin. Kamu tau semuanya kan?? diam jangan katakan pada siapa pun." Racaunya lagi.


Kevin yang masih waras, mencoba fokus pada kemudi mobil. Walaupun dia ikut minum, tapi cukup satu sloki saja jadi tidak membuatnya sampai mabuk.


"Tau kan Kevin?? " Arion menepuk-nepuk pundak Kevin.


"Iya Mister, saya tau. Bahkan nomor ****** ***** anda saja saya tahu," sahut Kevin campur geram melihat Arion yang kacau. "Sudah saya katakan jangan minum alkohol. Dasar keras kepala."

__ADS_1


Tentu saja karena Arion dalam keadaan setengah sadar, sehingga Kevin berani merutuki atasannya. Kalau tidak, bisa kena potongan gaji.


Sementara itu, di apartemen Arion.


Edsel sudah kembali tidur setelah menghabiskan susu satu dot. Namun Nara belum bisa juga menenangkan diri. Terus mondar mandir di tengah rumah menanti kepulangan Arion. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Seharusnya ia sudah tertidur nyenyak di rumahnya. Tapi jika keadaan seperti ini, ototmatis dia terperangkap di apartemen Arion dan tidak bisa pulang.


Sudah lebih dari tiga kali ia mencoba melakukan panggilan telepon, tapi nomor Arion tidak bisa di hubungi.


Tidak berapa lama pintu apartemen berdenyit, pintu mengayun terbuka menampakkan Kevin yang sempoyongan mencoba mempertahankan Arion berdiri dan melangkah walau dengan terseret-seret.


"Ke-kenapa Mister?" Nara terkejut melihat Arion yang sudah sangat kacau.


"Tolong bantu saya membawanya kekamar."


"Iya."


Nara menopang dari sisi lain, menyeret tubuh Arion sampai ke kamarnya lalu di rebahkan di atas tempat tidur.


"Dia mabuk," ujar Kevin sambil melepaskan sepatu dari kaki Arion. Ia juga melepaskan satu kancing kemeja bagian atas agar Arion dapat menghirup udara lebih bebas.


"Kok bisa? katanya mau ngurus Ibu si pembuang bayi. Berarti bohong ya?" Kesal Nara merasa tertipu.


"Iya, Ibu bayi sudah di temukan. Tapi Arion justru minum alkohol terlalu banyak. Karena kami bertemu di bar tadi." Kevin menjelaskan.


"Menginap saja. Bukannya kamu sudah biasa berada di sini." Saran Kevin sambil berlalu keluar kamar.


Nara mengekori Kevin sambil terus menuntut tentang keberadaannya yang terjebak lagi di apartemen itu.


"Saya mau pulang."


"Tidak bisa, Mister sedang mabuk dan dia tidak bisa menjaga bayi itu. Jadi kamu tinggal saja."


"Nggak."


Dua orang ini benar-benar keras kepala, Kevin hanya berusaha menenangkan agar emosinya tetap terkontrol. Atasan dan sekeretaris bawel ini sama sekali tidak ada bedanya.


"Tetap tinggal di sini, saya akan langsung transfer bayarannya dua kali lipat." Kevin mengeluarkan gawainya, menunjukkan pada Nara bahwa hanya dengan sekali klik uang langsung bisa masuk ke rekeningnya.


"Ya sudah."


Lagi-lagi uang berhasil meluluhkan ego Nara. Karena nominalnya tidak sedikit, setara dengan tiga bulan gaji. Sangat Menggiurkan.

__ADS_1


Kevin di biarkan pulang, Nara juga tidak bisa menahan relasi kerjanya itu terlalu lama. Toh dia juga memiliki keluarga yang sedang menunggunya. Tapi tidak juga, Nara bahkan tidak tahu latar belakang Kevin seperti apa.


Kembali teringat dengan Arion, Nara memutuskan untuk melihatnya di kamar. Ia mendekati Arion yang terlelap di atas tempat tidur, menarik selimut tebal itu untuk menyamankan dan menjaga suhu tubuh Arion agar tetap hangat.


"Kenapa harus mabuk? Memangnya kamu punya masalah hidup apa?" Nara memperhatikan wajah Arion dengan seksama.


Garis wajah pria dewasa itu terlihat lebih sempurna di bawah cahaya lampu kamar. Hidungnya yang mancung dengan satu tai lalat kecil di pucuknya, bibir ranum yang menebal di bagian bawah, dan kelopak mata ganda.


Tangan Nara terangkat, menyingkap anak rambut yang menutupi sebagian dahi Arion. Diam-diam ia berdecak kagum di dalam hati.


"Ganteng gini kenapa masih jomlo." Lirih Nara sambil tertawa kecil. Kapan lagi bisa mengejek Arion kalau tidak hari ini.


KREPP!!!


Tangan Nara di sergap oleh Arion, di hentak dengan kuat hingga Nara terjatuh di atas dada bidang Arion tanpa sengaja.


"Mister, aduh." Nara jadi tidak nyaman karena seperti ada listrik yang mengaliri tubuhnya sekarang.


Nara bergerak, berusaha melepaskan diri. Namun tangan Arion yang terbebas justru menahan kepalanya agar tetap bersandar di dada itu. Bahkan suara degup jantung Arion bisa di dengar jelas oleh Nara.


"Maafkan aku. Aku salah." Racau Arion.


Kedua mata Nara terbelalak, mendengar ocehan Arion yang entah untuk siapa. Sudah pasti banyak orang-orang yang menjadi korban Arion. Dia sampai menyimpan rasa sesal yang begitu dalam.


"Sudah saya maafkan." Nara menyahuti seenaknya, dia memang berniat memafkan Arion karena uang bayarannya sudah mendarat cantik dalam tabungannya.


"Bayi itu," Arion masih berbicara dengan kedua mata yang tertutup.


Nara mendongak, memperhatikan Arion yang berkomat kamit. Aroma pekat bau alkohol menguar dari mulut serta melekat pada tubuh Arion.


"Bayi itu kenapa??" Nara melepaskan diri saat cengkraman Arion melemah. "Jangan bilang itu bayi anda!! "


Nara berdiri tegap menatap lekat pada Arion. Sekarang mungkin Mereka bisa di bilang sama Gila-nya. Karena Nara meladeni ocehan dari seseorang yang sedang mabuk berat.


"Bayi kita." Gumam Arion lagi.


"What!! Enak saja bayi kita."


Nara meraih satu bantal di dekat kaki Arion dan melemparkan bantal tersebut tepat di wajahnya.


Bugh!!!

__ADS_1


Tidak ada perlawanan, karena Arion semakin dalam menyelami dunia mimpinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2