
Sejak semalam Nara tidak mendapatkan jam tidur yang sempurna. Rasa gelisah tiba-tiba mengusik dan rasa kantuknya sulit untuk datang.
Baru saja ia memejamkan mata beberapa jam, alarm pada ponselnya sudah memerintah untuk bangun. Pukul enam pagi.
Di sebelahnya, ada Edsel yang sudah melotot dan berkubang ompol pada diapers yang sudah merembes kemana-mana.
"Ya Tuhan!" Nara menepuk jidat saat bayi itu melirik dan tertawa lebar memperlihatkan gusi yang belum di tumbuhi gigi.
BBRrrrroooottt!!
Tiba-tiba suara khas itu terdengar begitu keras bersama aroma telor busuk yang menyengat.
"Edsel." Nara menutup lubang hidungnya. Bayi itu menyambut pagi dengan pipis dan pup.
Saat namanya di sebut dan Nara mendelik kearahnya, bayi polos itu justru kembali tertawa dengan kekehan yang lebih keras.
Banyak suka duka yang ia lalui selama mengurus Edsel. Meskipun rasa lelah lebih mendominasi, tapi ada kehangatan yang sering Nara rasakan saat mendekap bayi tak berdosa itu. Ia merasa menemukan seorang teman.
Dengan cekatan, Nara melucuti pakaian Edsel, menelanjanginya dan segera membersihkan sisa sisa bom atom dari bokong bayi itu. Lalu memandikannya di atas wastafel yang berada di dapur menggunkan air hangat dari dispenser.
Maklum saja, keperluan bayi di rumah Arion tidak lengkap. Hanya memiliki Dot, dan beberapa pakaian ganti saja. Mungkin sudah waktunya untuk berbelanja barang-barang yang lain, termasuk kereta dorong. Beban Tubuh Edsel semakin bertambah, Tangan Nara sering terasa kebas saat menggendong terlalu lama.
"Nanti akan ku sampaikan pada Ayahmu, bahwa kita butuh bak mandi dan kereta dorong."
Bayi itu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya saat di ajak berbicara oleh Nara. Setelah memandikannya sampai bersih, Edsel langsung mendapat pijatan khusus menggunakan minyak telon, menaburi bedak dan mengganti dengan pakaian bersih.
"Ayah mu belum bangun. Dia bikin kekacauan semalam." Celoteh Nara lagi. Tangannya merengkuh punggung Edsel, menggendong dan terus menciuminya. Aroma khas bayi memang menyegarkan.
Ketika Nara sedang sibuk mengurus Edsel di dalam kamar, tanpa sadar ada mata yang memperhatikan di ambang pintu.
Arion bersandar, ia menahan tawanya sejak tadi. Menyaksikan bagaimana Nara berbicara dengan bayi dan mengatakan bahwa dirinya Ayah. Dasar lancang.
"Sejak kapan aku menjadi Ayahnya?? Sembarangan!!"
Seketika Nara langsung memutar tubuhnya untuk melihat kesumber suara.
"Anda kan memang Ayahnya. Lalu siapa? anda yang memilih untuk merawatnya."
Jika di luar kantor, sifat asli Sekretarisnya itu langsung keluar. Si super bawel dan pembangkang.
"Lalu siapa yang menjadi Ibunya? kamu?" Kini boomerang itu berbalik dan menyerang Nara.
"Tentu tidak. Enak aja."
__ADS_1
"Terus Kevin, gitu??" Timpal Arion lagi.
Ketika dua manusia itu berdebat, maka keduanya akan bersikukuh untuk menjadi pemenang.
"Ya bukan Kevin juga, dia kan laki-laki."
"Berarti bener, kamu Ibunya." Arion berlalu meninggalkan Nara yang sedang menahan jengkel.
Ia tertawa karena berhasil mengerjai Nara. Biar kapok. Batinnya.
Arion membuka pintu balkon, udara di biarkan masuk ke dalam apartemennya, teh hangat yang ia buat sendiri mampu mengurangi puyeng di kepalanya. Ia berharap, saat mabuk malam tadi tidak ada prilaku yang memalukan. Terutama jika itu di hadapan Nara, bisa habis terbongkar kartu As nya.
Di belakangnya, Nara datang bergabung sambil menggendong Edsel.
"Dia butuh Bak mandi, kereta Dorong, persediaan susu dan Diapers juga sudah menipis. Terus baju nya yang hanya ada empat pasang sudah waktunya mendapat pakaian baru." Nara menyampaikan segala kebutuhan Edsel.
Awalnya, Nara memang sulit menerima pekerjaan ini, tapi makin kesini sepertinya ia akan senang hati mendapat gaji sampingan dari mengasuh bayi.
"Nanti sore kita belanja," Jawab Arion singkat tanpa menoleh lawan bicaranya.
"Baiklah. Hemm bisa titip Edsel sebentar, aku harus pulang dan bersiap ke kantor."
"Khusus hari ini, kamu di liburkan." Arion masih menatap lurus pada pemandangan pagi di depannya. Pusat kota yang masih berkabut. Bias sang surya mulai terpancar dari ufuk timur.
Arion yang semula menikmati keindahan sunrise langsung menoleh dan menyaksikan kebodohan karyawannya secara langsung.
"Siapa yang memecat kamu, saya bilang hari ini libur."
"Oh." Nara menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Arion hanya tersenyum miring.
"Kamu tidak usah pulang kerumah. Mandi dan berpakaian di sini saja. Saya punya baju ganti untuk kamu."
Arion berjalan ke dalam, meletakkan cangkir teh nya di atas meja lalu menuju kamarnya dan kembali dengan membawa sepasang baju wanita.
"Letakkan saja bayi itu di atas sofa, saya akan menjaganya. Silahkan kamu bersiap-siap. Hari ini kita akan menemui Ibu si Bayi." Arion menyodorkan baju itu ke arah Nara.
Nara meraihnya dengan banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan.
"Baju siapa ini? kenapa anda punya baju perempuan?" Serentetan pertanyaan langsung memberondong Arion. "Berapa banyak perempuan yang sudah anda tiduri?"
Arion mendesah, di jelaskan berapa kali pun Nara selalu menudingnya seperti itu. Apa dia pikir wajah tampannya sangat terlihat begitu mesum? atau terkesan seperti lelaki bajingan?
__ADS_1
"Pakai saja, kecuali kamu mau telanjang."
Kesal dengan celotehan Nara, ia kemudian memberikan jawaban asal-asalan.
"Dasar mesum!!" Nara mencibir, kemudian meletakkan Edsel di dekat sofa yang tak jauh dari tempat mereka berbicara.
"Saya pria baik-baik." Arion selalu tidak ingin kalah saat berdebat.
"Tapi kenapa minum alkohol? dan saat mabuk, anda sangat menyebalkan." Nara beranjak menuju kamar untuk bersiap membersihkan diri.
Di tengah langkahnya, ia kembali berhenti karena Arion lagi-lagi membuatnya kalah telak saat beradu argumen.
"Kamu tidak meniduri saya kan??" Goda Arion, ia sengaja menjebak dengan pertanyaan itu. Hal yang sama, seperti Nara lakukan padanya.
"Enak saja, anda pikir saya perempuan macam apa??" Nara berkacak pinggang menantang perang.
"Mana saya tau, saya kan mabuk dan tidak sadar. Mungkin saja kamu melakukan sesuatu yang berbahaya."
"Memangnya kenapa?? anda takut hamil?? bagus. Dari situ anda bisa menghargai seorang wanita bagaimana mereka berjuang mengandung benih dari seorang lelaki."
Kalimat itu entah dari mana datangnya, tiba-tiba Nara meracau dengan kata-kata yang cukup melukai. Tiba-tiba ingatan tentang Ibunya terekam jelas di pelupuk mata, bagaimana Beliau di abaikan oleh Ayahnya saat sedang mengandung dulu. Sudut matanya berair, laki-laki di dunia ini memang menyebalkan.
"Jaga mulut kamu!!!"
Serangan tak terduga pun langsung ia dapatkan dari Arion. Bibirnya mengerucut akibat cengkraman tangan Arion yang cukup keras.
"Mi-Mister." Bibirnya kesusahan berkata. Hanya dengab satu kedipan, air matanya langsung mengalir di pipi.
Dihadapannya, Arion menghunuskan tatapan setajam pedang. Cengkramannya semakin kuat, Nara merasakan rahangnya yang mulai terasa sakit.
"Semuanya pasti memiliki alasan!!"
"Ssshhh aaaggghhh." Nara langsung mendesah pelan, menahan sakit saat Arion melepaskan dengan kasar tangannya dari mulut Nara.
Sejenak keduanya mematung. Mereka seperti sedang keraksukan. Hilang kontrol.
"Maaf." Kalimat itu terucap dari bibir Arion saat menyadari bahwa ia telah melukai wajah Nara.
Bekas tangannya memerah di sekitar wajah Nara.
Air mata Nara mengalir semakin deras, ia kemudian pergi dan membanting pintu kamar dengan kencang.
"Nara, maafkan saya. Saya tidak sengaja."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...