CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Ibu


__ADS_3

Dua koper besar berisi baju dan perlengkapan lainnya sudah terparkir apik di sudut kamar. Nara berkemas sejak kepulangannya semalam. Ia juga sudah menemui pemiliki rumah sewa dan mengatakan padanya bahwa Nara tak lagi menempati rumah tersebut.


Rumah ini sebenarnya sudah di huni sejak ia duduk di bangku SMA dulu. Melepasnya pun butuh kesabaran ekstra karena Nara sudah merasa nyaman dengan rumah kecil sepetak itu. Namun, keadaan telah memilihnya untuk pergi. Tinggal bersama Arion sebagai asisten rumah tangga khusunya mengurus bayi.


Mulai besok, Nara bisa mulai berhemat. Tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk biaya taksi karena ia akan menumpang mobil Arion setiap hari untuk berangkat ke Kantor.


Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya tentang alasan Arion yang mati-matian ingin mensejahterakan bayi tersebut padahal jelas-jelas mereka tidak memiliki pertalian darah.


^^^Arion^^^


^^^|| Edsel sudah saya antar ke penitipan. Bagaimana dengan mu? sudah berkemas? nanti sore saya jemput? ||^^^


Nara


|| Semua sudah siap. Hari ini saya akan mengunjungi Ibu ||


^^^Arion^^^


^^^|| Perlu tumpangan? ||^^^


Nara


|| Saya sudah pesan taksi online ||


Nara kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah bercakap sebentar di ruang chat bersama Arion.


Setiap weekend Nara memiliki jadwal wajib yang harus ia lakukan, yaitu mengunjungi Lisa, Ibunya.


Jaraknya cukup jauh, menempuh perjalanan selama dua jam.


Pandangannya menerawang jauh ke langit kota yang cerah. Sinar mentari mulai menyelinap kesetiap celah gedung-gedung pencakar langit. Pagi yang indah, namun harus bertolak belakang dengan perasaan Nara yang seketika berubah murung. Bukan tidak bahagia karena ia akan menemui Lisa, tapi atmosfir hatinya seketika akan terasa melankolis saat mengingat sejuta kisah pilu yang tertoreh di masa lalu.


Keadaan memaksan keduanya terpisah dalam waktu yang lama. Rasa rindu ingin jumpa harus di batasi dalam hitungan menit. Ingin rasanya bisa kembali seperti Nara Melody si gadis kecil yang manja dulu. Selalu tidur di bawah ketiak sang Ibu, selalu pergi bersama dan tidak ingin terpisahkan. Hingga sesuatu yang tidak di rencanakan menghancurkan semua kebahagiannya.


"Sudah sampai, Nona." Sopir taksi membuyarkan segala lamunan Nara.


Ia keluar dari mobil setelah mengucapkan terimakasih kecil dengan memberikan uang lebih sebagai tip. Taksi tersebut di minta untuk menunggu sampai urusan Nara selesai.

__ADS_1


Langkahnya menapaki ubin berdebu di halaman tempat di mana ia selalu menemui Ibunya. Ini tahun ke lima sejak putusan hakim di layangkan yang menyatakan Lisa resmi menjadi Narapidana kasus pembunuhan Ayah tiri Nara.


Nara melalui pemeriksaan terlebih dahulu di ruang penyidik, seperti menunjukkan kartu identitas dan pemeriksaan barang bawaan. Baru kemudian ia di perbolehkan membesuk Lisa di ruangan khusus.


Mereka bertatap muka dengan jeruji besi sebagai pembatas.


"Ibu apa kabar?"


Setiap melihat Lisa berpakaian tahanan dan duduk lesu di balik pembatas besi itu, hati Nara semakin terkoyak. Air matanya kadang lolos begitu saja tanpa permisi.


"Seharusnya Ibu yang tanya kamu, gimana tidur kamu nyenyak kan? masih makan banyak kan? kerjaan lancar?"


Tangannya menyelinap menggengam jemari Nara pada lubang kecil yang tersedia di hadapannya. mereka saling menguatkan satu sama lain.


"Nara baik Bu, Ibu yang harus makan banyak." deraian air mata tanpa suara itu nyatanya lebih memilukan.


Perempuan senja yang berkasta paling tinggi sebagai Ibu itu masih tetap menomor satu kan keadaan putrinya, walau jelas-jelas dia lah yang memerlukan perhatian itu. Bahkan bobot tubuhnya berkurang sangat banyak, wajahnya tirus dengan kulit-kulit keriput pada permukaan punggung tangannya.


"Ibu makan banyak kok, tidur Ibu nyenyak, Ibu betah di sini."


Dia lah perempuan hebat yang selalu pandai berbohong. Bagaimana bisa sebuah penjara bisa menciptakan kenyamanan dan kedamaian.


Vonis dua puluh tahun penjara adalah momok paling mengerikan bagi Nara. Itu bukan waktu yang sebentar.


"Ibu seorang penjahat, nggak mungkin bisa bebas."


"Ibu bukan penjahat, Ibu harus keluar dari sini, Ibu harus sabar untuk itu, dan doa kan Nara agar dapat uang banyak."


Tidak ada yang tidak bisa di beli dengan uang. Jaman sekarang Hukum dan harga diri bahkan di ecer murah hanya dengan sejumlah uang.


Bahkan orang-orang yang berdompet tebal sudah seperti ikan belut yang licin dan tidak mudah di tangkap oleh aparat atau lebih tepatnya dibiarkan berkeliaran bebas selama transfer illegal terus berlangsung secara diam-diam memenuhi rekening mereka.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Kamu. Ibu percaya anak ibu kuat dan hebat." Keriput di sudut matanya semakin jelas saat perempuan itu memaksakan sebuah senyum. Senyum palsu untuk menutupi perih di dadanya.


"Terimakasih, Bu. Oya, sekarang Nara sudah punya pekerjaan tambahan dari Mister Arion, gaji Nara akan naik dua kali lipat."


"Sukurlah, dia pasti orang baik."

__ADS_1


Sejauh ini, memang tidak pernah ada tindak kejahatan yang di lakukan Arion padanya, terlepas dari sikap semaunya itu. Tapi, Nara juga tidak bisa terlalu percaya sepenuhnya pada orang lain, seperti yang selalu Ibunya ingatkan setiap waktu.


Jangan percaya siapapun, kecuali diri mu sendiri. Orang terdekatmu, bisa jadi adalah musuhmu.


"Waktu besuk sudah habis." Penjaga memberi peringatan. Di hadapan Nara, Lisa langsung di jaga dari arah kiri dan kanan kembali membawanya masuk ke dalam sel.


"Minggu depan, Nara kesini lagi Bu." Lirih Nara dengan luka robek yang semakin dalam.


Lisa menoleh dengan anggukan penuh haru. Masih banyak rindu yang ingin mereka tumpahkan dalam dongeng yang panjang, Tapi tidak hari ini. Mereka selalu di ingatkan bahwa kenyataan memang harus tetap di terima kendati belum siap. Rasa rindu itu harus di tekan dalam agar tidak mudah menyeruak, dan rasanya memang menyakitkan.


Nara datang dengan langkah gontai penuh semangat, namun pulang dengan rasa malas yang memuncak. Tidak tega meninggalkan Lisa kembali meringkuk dalam kedinginan di ruang penjara.


"Nara, kok di sini?" Seseorang yang Nara kenal menyapanya saat bertemu di lobi. Yeri, salah satu karyawan yang bekerja juga di perusahaan Arion.


"Oh itu. Aku jenguk saudara." Nara nyaris gelagapan saat memberikan jawaban kepada Yeri. Hal yang tidak ia inginkan terjadi sekarang. Padahal selama ini ia berusaha keras untuk menyembunyikan perihal tentang Ibunya yang di penjara.


"Sama dong, aku juga nganter Mami jenguk anak temennya kena kasus Narkoba." Jelasnya tanpa di minta.


Kebetulan sekali rupanya. Nara harus bertemu teman sekantor di tempat ini.


"Aku duluan ya, taksinya udah nunggu. Kasian." Nara berdalih dan berusaha menghindari beberapa pertanyaan lain yang mungkin akan di sampaikan Yeri.


"Oh, oke. Hati-hati dijalan."


Keduanya saling melambai dan berpisah di sana.


Tanpa Nara tahu, Yeri menyimpan rasa penasaran yang besar atas kunjungannya ke penjara. Dia berencana mengorek informasi yang lebih akurat dari para petugas tahanan di sini.


"Pak, perempuan yang tadi itu besuk siapa ya??" Dengan seloroh Yeri bertanya pada salah satu petugas.


"Oh dia memang setiap minggu kesini, jenguk Ibunya."


"Kenapa Ibunya?"


"Narapidana atas kasus pembunuhan suaminya."


"Oh." Yeri hanya menjawab singkat, namun seringaian di wajahnya mengartikan suatu kepuasan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2