
High Class Corporation. Sudah lama sekali Nara tidak berkunjung ke perusahaan tempat ia bekerja dulu. Selain tidak ada urusan apapun, Nara memang di sibukkan dengan mengurus Edsel, sehingga ia jarang menemui Arion di perusahaan, walau sekedar membawakan bekal makan siang seperti waktu-waktu sebelumnya.
Tiba-tiba saja Nara merindukan suasana kerja seperti dulu. Tidak terlalu banyak memikirkan beban hidup karena fokus pada tugas-tugas di perusahaan. Hari ini, ia memutuskan untuk mengunjungi Seseorang di sana. Terlalu jenuh di rumah karena tidak ada teman berbicara selain Edsel, mungkin bertemu dengan Kevin bisa menemukan ide baru yang mampu merefresh isi kepalanya yang terasa jenuh.
Sengaja tidak membawa Edsel, karena Nara berjaga-jaga jika bayi lucu itu membuat kekacauan di kantor. Sebelum sampai disini, terlebih dahulu Edsel ia titipkan di tempat biasa.
Nara bak orang penting saat memasuki lobi, karena setiap karyawan yang bertemu dengannya menyapa dengan sopan dan segan. Mereka membungkuk, memberikan senyum terbaik.
"Selamat siang Mrs. Arion."
"Selamat Siang Nona Arion."
"Selamat datang kembali Nyonya muda."
Berbagai panggilan yang berbeda Nara dapatkan dari para karyawan perusahaan suaminya. Ada sedikit kebanggaan disana, dulu bahkan jarang ada yang mau menyapanya seperti ini. Sekedar senyum pun begitu sulit ia dapatkan.
"Wow, Mrs Arion. kehadiran anda di kantor begitu mengejutkan." Kevin menyambut Nara dengan sebuah lelucon tua.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" Nara merasa tidak nyaman karena Kevin sudah seperti sahabatnya sendiri.
Kevin hanya tertawa lebar menanggapinya. Ini sedang di kantor, tentu ia harus memanggil Nara dengan sebutan yang pantas.
"Mister sedang ada pertemuan di luar. Jadi anda tidak bisa menemuinya sekarang." Kevin memberikan jalan agar Nara bisa melanjutkan langkahnya. "Mari menunggu di ruangan."
"Aku tidak berniat menemui nya." Sepatu pantofel nya mengeluarkan bunyi nyaring saat perempuan itu melangkah anggun mendahului Kevin.
"Lalu?" Kevin berusaha menyamai langkah Nara.
"Hanya ingin mampir sebentar," katanya.
"Kebetulan kalau begitu. Ada sesuatu hal yang ingin ku sampaikan pada mu."
Kalimat terakhir Kevin mengundang rasa penasaran di hati Nara.
Tidak lama, mereka sudah sampai di ruangan Kevin. Belum banyak yang berubah, masih sama seperti sebelum Nara memutuskan untuk Resign.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin mengatakan ini kepada Kalian berdua. Tapi berhubung Mister akhir-akhir ini selalu sibuk dan tidak ada waktu senggang untuk berbicara, jadi aku memutuskan untuk mengatakan semua pada mu hari ini." Kevin memulai pembicaraan setelah keduanya duduk.
"Tentang apa?"
"Tentang Edsel."
Sepertinya pembahasan kali ini memang benar-benar penting.
"Kamu ingat tetangga Apartemen Mister yang di tangkap polisi akibat kasus pembunuhan?"
Seketika Nara tercengang. Kejadian itu memang sudah cukup lama, namun ceritanya masih belum bisa di lupakan begitu saja. Karena membuat Nara ketakutan dan tidak bisa tidur selama beberapa hari.
"Rexa?" Nara bahkan masih ingat dengan jelas pria yang sempat membantu ia bersembunyi di rumahnya.
"Benar. Ingatan mu masih sangat bagus. Rexa adalah Ayah biologis Edsel, sebelum ia mengencani gadis yang di bunuh nya, sebenarnya ia lebih dulu mengencani Ceta. Saat mengetahui Ceta hamil, ia mencoba lepas tanggung jawab dan menelantarkan gadis remaja itu hingga melahirkan."
Spontan, Nara membungkam mulutnya setelah mendengar penuturan Kevin yang mengejutkan. Semua yang ia terdengar sangat sulit untuk di percaya.
"Sejak kandungannya mulai membesar, Ceta melarikan diri dari rumah, pihak keluarga sudah mencarinya kemana-mana. Dan beberapa hari lalu Orangtua Ceta menghubungi ku. Mereka meminta cucunya kembali." lanjut Kevin.
"Tapi, Edsel sudah di adopsi secara resmi. Mana mungkin mereka dengan mudah mengambil Edsel." Ada rasa was was di hati Nara.
Saat itu, Edsel di adopsi berdasarkan dua alasan kuat. Pertama, karena Ibu kandungnya mengalami gangguan jiwa dan tidak memiliki suami. Kedua, karena tidak di temukannya pihak keluarga dari yang bersangkutan setelah pencarian beberapa waktu.
"Saat itu, Mister terlalu terburu-buru untuk mengadopsi Edsel. Seandainya sabar sebentar hingga urusan ini jelas." Kevin menyesalkan keputusan Arion saat itu yang memang sulit untuk menerima beberapa saran dari orang-orang sekitar sehingga ia sedikit gegabah dalam bertindak.
"Tolong atur jadwal agar aku bisa menemui Pihak keluarga Edsel." Perintah Nara. Nara ingin sekali memastikan apakah Edsel akan baik-baik saja jika benar jatuh ke tangan Nenek dan Kakeknya.
"Dengan begitu apa artinya anda akan merelakan Edsel pulang ke keluarga kandungnya??"
"Aku juga tidak berhak sepenuhnya atas hidup Edsel kan?" Nara menarik sudut bibirnya. Tiba-tiba ada sesuatu rencana yang terlintas di benaknya.
Jika memang Edsel sudah menemukan Keluarga kandung yang benar-benar bertanggung jawab dan Menyayangi Edsel, itu artinya ia akan sangat rela melepaskan Edsel untuk pergi. Toh, Arion pun sudah menemukan anak kandung yang begitu ia nantikan dan rindukan.
Lalu apa lagi? bukan kah ini cara paling mudah untuk Nara meninggalkan semuanya. Tidak ada lagi alasan apapun yang bisa menghalangi langkahnya. Baik itu Edsel ataupun Arion, mereka sudah kembali ketempat masing-masing yang selama ini dicari. Sementara dirinya, juga akan kembali pulang dan menemui Ibu.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja kan?" Kevin ragu karena Nara sepertinya tidak berusaha untuk mempertahankan Edsel. Walaupun memang ia tidak memiliki hak sepenuhnya.
"Aku baik... dan jauh lebih baik setelah mendapat kabar ini." Ungkapannya penuh misteri.
Disela-sela obrolan Nara dan Kevin terdengar derap langkah seseorang memasuki ruangan tersebut.
"Mister." Kevin bangkit dan menyapa atasannya.
"Kenapa tidak memberitahu ku kalau mau kesini?" Cecar Arion setelah melihat Nara berada di dalam ruangan yang sama dengan Kevin.
"Aku tidak sengaja lewat sini, lalu mampir sebentar tapi kamu sedang keluar." Dalih Nara.
"Tapi bukan berarti harus berduaan di ruangan sepi seperti ini." Arion menyapu setiap sudut ruangan yang memang tidak ada lagi penghuni nya selain mereka.
"Aku hanya berbincang sebentar dengannya." Nara terus meyakinkan.
"Lain kali, cukup menunggu di ruang kerja ku."
Arion kemudian menarik tangan Nara lalu membawanya ke ruang kerja yang memang hanya bersekat dinding dengan ruang kerja milik Kevin.
"Jangan terlalu sering berinteraksi dengan laki-laki lain. Aku tidak suka."
Arion mengukung Nara yang tersudut di atas sofa.
"Apa beda nya dengan kamu yang suka berinteraksi dengan perempuan lain." Nara menatap lekat pria di hadapannya.
"Kapan? Aku tidak pernah melakukan seperti yang kamu tuduhkan." Sangkal Arion.
"Lalu Syera? apa dia bukan perempuan? kalian bahkan melakukan panggilan Video berjam-jam." Lagi-lagi Nara mengungkit hal yang membuatnya menangis semalaman.
"Aku tidak suka di bantah. Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Dadar egois!" Nara mendorong dada Arion, namun tangannya segera di tepis lalu di cengkram kuat.
"Diam atau kamu akan ku hukum di sini." Dengan cepat Arion melesakkan lidahnya, ia mencum*bu Nara begitu hebat hingga wanita itu kesulitan bernapas.
__ADS_1
Tubuh Nara tak bisa berkutik, Arion mengu*kung dari segala arah. Ia tak lagi berdaya ketika ceruk lehernya di ses*ap dengan penuh nap*su.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...