CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Banyak hal yang terkuak


__ADS_3

Konsentrasi Nara buyar di detik-detik terakhir jam kerja yang tersisa. Sejak tadi ia memaksakan fokus pada serentetat laporan rapat yang harus disusun dan di arsipkan. Berulang kali wajah lelahnya di usap frustasi bahkan sisa-sisa make up nya pun turut luntur.


"Apalagi yang sedang kamu fikirkan? masih tentang Mister?" Kevin sejak tadi memperhatikan tingkah Nara yang tidam seperti biasanya.


Dalam masalah pekerjaan, Nara termasuk orang yang memiliki konsentrasi tinggi apalagi jika sedang berhadapan dengan tumpukan dokumen yang berlumut di layar komputernya.


"Jika kamu masih penasaran, tanyakan saja langsung padanya. Sepertinya Mister tidak sungkan untuk menjawab apapun jika itu berhubungan dengan mu." Kalimat Kevin berlanjut walau tidak mendapatkan sahutan apapun dari Nara.


Mencari tahu apapun tentang Arion pada akhirnya hanya membuat luka kecil di hati Nara. Berulang kali Nara mencoba menepis segala perasaan lebih untuk Arion. Namun ia tetap kalah dengan ketentuan hati yang memilih jalannya sendiri. Ia jatuh cinta pada pria dingin itu. Sungguh tidak tau diri.


Nara berdecih, mentertawakan diri sendiri. Bagai pungguk merindukan bulan, adalah pribahasa yang cocok untuk perasaannya yang tidak mungkin terbalas ini. Kalau bukan karena Edsel, dirinya pun tidak akan pernah sedekat ini dengan Arion.


Sudah sepantasnya Nara menyadari bahwa perhatian-perhatian Arion hanya sebatas Atasan dan bawahan. Arion membokar rahasia mereka di hadapan karyawan agar mereka diam dan tidak merundung Nara, bukan berarti itu semua bentuk perhatian yang lebih.


Telunjuk kanan Nara menekan mouse kemudian sign out dari desktop. Pekerjaannya harus di tinggalkan sejenak, masih banyak hal-hal yang mengganjal di pikirannya sehingga konsentrasinya sulit untuk di kembalikan. Padahal masih ada beberapa dokumen lagi yang perlu ia selesaikan hari ini.


"Mau kemana?"


"Saya ingin berhenti bekerja sebagai pengasuh Edsel. Saya harus temui Mister sekarang."


Mendengar perkataan Nara yang serius, Kevin langsung memutari mejanya dan menyergah langkah Nara.


"Hei, hei.. kenapa?"


"Saya tidak ingin menjadi penghalang hubungan Mister dan Syera."


Kevin menarik napas dalam-dalam. Si keras kepala ini memang selalu membuat keputusan seenak ususnya, tidak jauh beda dengan Arion. Menghadapi orang seperti ini tentu saja harus banyak sabar.


"Tolong selesaikan urusan rumah tangga kalian di rumah, ini kantor." Kedua tangan Kevin mengepal di depan dada, menahan geram yang meluap.

__ADS_1


"Apa anda bilang? rumah tangga? hei, saya dan Mister bukan pasangan suami istri."


Jangan berani-berani beradu mulut dengan seorang wanita, karena laki-laki tidak akan pernah menang dalam berdebat. Dalam setiap ronde perdebatan dengan Nara, baik Kevin atau Arion keduanya selalu kalah telak.


"Setidaknya jangan bahas masalah pribadi di kantor."


Sekretaris magang itu memang tidak pernah ada kapoknya, padahal sudah berulang kali mendapat ancaman potong gaji dari Arion. Bahkan pagi ini dia sudah merusak fasilitas di kantin, Untuk urusan yang satu itu, Arion akan benar-benar memotong gaji Nara untuk ganti rugi. Tunggu saja surat peringatannya.


"Biar saja, karena saya ingin bicara sekarang."


Kata-kata yang keluar dari mulut Kevin pun hanya di anggap angin lalu, ada tapi tak terlihat.


Kembali di acuhkan untuk yang kesekian kalinya, Kevin memilih menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Jam pulang sudah menunggu.


Sementara Nara, tetap mengikuti perintah dari otaknya. Pergi menemui Arion di ruang pimpinan.


...----------------...


Yeri mendapat perintah untuk menemui Arion secara pribadi diruangannya.


"Ini nggak adil, apa salah saya?" Yeri bersedekap dan memalingkan wajah tanda protes.


"Karena kelancangan bibir kamu, kenapa harus menyebarkan rumor seperti itu di kantor. Kasihan kan Nara. Dia sudah cukup menderita karena ibunya menjadi tahanan, di tambah lagi pembullyan dari orang-orang kantor."


Lebih kasihan lagi, karena Arion baru mengetahui faktanya hari ini. Perihal Arion yang menanyakan tentang Lisa kepada Narapun, mungkin menjadi pemicu hati perempuan itu bersedih. Arion tidak bermaksud menyinggung perasaannya.


Lalu tentang Ayahnya? juga di rahasiakan dalam-dalam oleh Nara? Gadis itu terlihat tegar dan ceria di luar, tidak disangka ada kisah lara yang menggerogoti jiwanya.


"Bela saja terus dia!! itu karena kakak tinggal bersama nya kan?? lalu bayi itu, jadi benar hasil buah cinta kalian berdua??"

__ADS_1


"Bawa surat peringatan mu, dan tinggalkan ruangan saya. Tidak pantas membahas masalah pribadi di kantor."


Masih dengan kalimat halus, Arion mencoba mengusir Yeri yang banyak menuntut berbagai hal. Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang mulai keluar dari jalur.


"Kak Arion tidak mau jawab? jadi benar, Kakak sudah melupakan Kak Syera?" Bukannya diam, Yeri justru semakin mengupas masalah pribadi itu tanpa ragu. "Maksud Yeri, Syera dan anak kalian berdua."


BRAAKK!!!


"Yeri hentikan!!!!"


Arion menggebrak meja kerjanya nyaris membuat jantung Yeri copot. Tidak disangka, Kakak sepupu nya itu akan marah besar seperti ini.


"Kamu sudah keterlaluan!! itu mengapa, kamu tidak akan bisa mendapatkan jabatan yang bagus di perusahaan. Kamu hanya pintar ikut campur urusan orang lain, tapi nol besar untuk urusan pekerjaan." Arion berdiri menatap Yeri yang terhenyak di tempat duduknya. "Tinggalkan ruangan saya sekarang!" Telunjuk Arion mengacung lurus kearah pintu.


"Kakak juga sama! tetap menjadi manusia paling menyebalkan dan egois!"


Yeri menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, berjalan dengan hentakan kemarahan meninggalkan ruang kerja Arion. Saat pintu terbuka, disana Yeri bertemu dengan Nara yang sedang mematung. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca, baru saja Nara mendengar kenyataan pahit yang seharusnya tidak perlu ia tahu dalam waktu secepat ini.


"Bagus, karena kamu sudah mendengar apa yang kami bicarakan." Yeri menyapa Nara dengan nada yang ketus.


Jabatan Sekretaris perusahaan memang sudah di incar sejak lama oleh Yeri. Ia sangat ingin menduduki jabatan tersebut. Berbagai usaha ia lakukan untuk meluluhkan Arion agar dirinya di tempatkan dalam posisi penting di perusahaan, tapi tetap saja Arion menolak dengan beragai alasan. Keahlian Yeri yang kurang mumpuni adalah faktor utamanya. Sikapnya yang arogan, kurang bertanggung jawab dan tidak disiplin adalah rentetan kekurangan Yeri yang mutlak. Sejak duduk di bangku SMA, anak itu tidak pernah berubah.


Ibu Yeri yang merupakan Bibi Arion -Adik kandung Ruth-, juga tidak bisa memohon lebih pada Arion. Karena ia menyadari putrinya yang tidak bisa di andalkan.


"Kamu juga seharusnya tau, bahwa saya tidak suka mihat kamu menduduki jabatan istimewa itu di perusahaan ini." Yeri mengibaskan rambut panjangnya, kemudian pergi dengan sikap tak peduli pada perasaan Nara. "Lebih-lebih saat kamu dekat dengan Kak Arion," katanya lagi dengan nada yang lirih.


Lidah Nara kelu, bibirnya seakan terkunci. Ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan rasa tidak percayanya saat ini.


"Sejak kapan kamu di sini?? " Suara itu berhasil membuat Nara tersentak lebih kaget lagi.

__ADS_1


Arion sudah berdiri di hadapan Nara, tatapan mereka langsung terkunci dalam satu titik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2