
"Bagaimana informasi tentang bayi itu?"
Setelah selesai Meeting dengan karyawan, Arion meminta Erik untuk bertemu di ruang kerjanya.
"Belum ada informasi apapun, Mister. Tidak ada rekaman cctv milik mini market tersebut yang mencurigakan."
Arion hanya mendesah penuh keputus-asaan. Bagaimana bisa Alien itu mengganggu ketentraman hidupnya.
"Alien itu memang membuatku stress."
"Anda bisa melaluinya selama ada Nara yang bisa di andalkan. Suruh dia bawa bayi itu."
Tidak ada hak menolak bagi Nara, dari pada ia harus kehilangan pekerjaan yang berharga ini tentu saja lebih baik menuruti perintah atasannya.
"Dia sudah menolak sejak awal." Berbincang dengan Kevin kali ini pun tidak mendapatkan solusi apa-apa. Kemudian Arion meminta Kevin untuk kembali bekerja.
Jika kehidupan seperti ini tidak berlangsung lama, terpaksa Arion akan melaporkan bayi itu kepada pihak yang berwajib. Walaupun tau orang pertama yang akan di selidiki adalah dirinya dan itu akan berbuntut panjang. Dia akan siapkan uang untuk membungkam para paparazi agar tidak mengeluarkan berita macam-macam.
Di kamar mandi umum, Nara baru saja merapikan make up nya setelah selesai makan siang. Penampilan harus tetap nomor satu saat di tempat kerja. Tidak mungkin berkeliaran dengan bibir pucat tanpa lipstik.
Tak sengaja Nara mendengar desas desus di dekat jalan keluar. Tampaknya para pasukan penggosip.
"Aku melihat Mister datang bersama Nara."
"Apa mereka memiliki hubungan khusus? "
"Tidak mungkin. Mana mau pria perfeksionis itu mengencani Sekretaris yang masih tryning."
"Tampilannya pun pas-pasan. Aku bahkan lebih cantik."
"Tapi kenapa harus Nara? selama ini Mister terlihat sangat anti pada seorang perempuan."
Nara yang menguping pembicaraan itu secara keseluruhan menjadi sangat kesal. Lalu apa masalahnya jika memang Boss nya itu dekat dengannya, bahkan merek tidur di bawah atap yang sama. Walaupun karena Bayi itu, tapi tetap saja Nara jadi memiliki kebanggaan karena bisa memanasi para karyawan yang iri.
"Jangan urusi kehidupan orang. Urus saja pekerjaan dan urusan kalian sendiri." Celetuk Nara sambil berlalu melewati segerombolan teman sejawatnya.
"Lihat saja, dia semakin sombong." Pergunjingan itu masih berlanjut.
Nara memilih untuk menulikan telinga dengan apa yang teman-temannya katakan.
Banyak hal yang harus Nara pikirkan, Sejak kemarin ia mencari cara bagaimana terlepas dari perintah Arion setelah jam kerja.
__ADS_1
Jangan kan minta naik gaji, gaji yang ada aja sudah habis terkena beberapa potongan hanya karena Nara doyan membantah.
Hari ini Nara menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, karena hari sudah sore, jam kerja pun berakhir. Ia akan memutuskan pulang lebih dulu. Katakan saja kabur, ia akan melarikan diri sebelum Arion mengajaknya untuk menjemput bayi di penitipan.
"Sore ini kita pulang bersama lagi kan? jangan lupa sama tugas." Arion menahan pintu elevator saat akan tertutup, kemudian ia bergabung bersama Nara di dalam sana.
Sial. Nara merutuki dirinya sendiri. Sepertinya Boss yang satu ini memang titisan hantu. Dia ada dimana-mana.
"Tapi saya nggak bisa nginep lagi. Saya harus pulang. Bayi itu urusan Mister."
"Lalu Alien itu siapa yang urus, saya tidak bisa."
"Namanya Edsel. Ingat, Mister kita adalah lelaki dan perempuan. Tidak mungkin tinggal bersama."
Nara tidak ingin harga diri sebagai wanita tercoreng karena tidur serumah dengan pria yang bukan siapa-siapa.
Bahkan obrolan para karyawan kantor sudah membuat ketenangannya terganggu.
"Memangnya kenapa. Apa yang kamu takuti, apartemen saya aman."
"Justru itu, saya takut jika disana hanya ada kita berdua."
Seperti pepatah yang mengatakan bahwa yang ketiga adalah setan. Melihat sikap Arion yang doyan memaksa membuat Nara berpikir yang bukan-bukan.
Bisa jadi. Pekik Nara dalam hati, mana ada kucing yang menolak jika diberi ikan.
"Lagian saya juga ogah." Jawab Nara dengan angkuh.
"Kamu pikir saya mau nidurin kamu?"
"Nah looh, anda sampai berpikir kesana. Saya jadi semakin takut."
Pintu elevator kemudian terbuka, mereka sudah sampai ke basement.
"Sudah saya bilang, nggak napsu." Arion melangkah lebih dulu. "Cepet, nanti bayi mu menangis." Ia menoleh lagi kebelakang karena langkah Nara yang lambat.
"Enak saja. Bayi siapa!! "
Ingin rasanya Nara menjambak rambut Boss nya itu, menguliti kepalanya hingga botak.
Jam kerjanya memang berakhir, tapi tidak dengan kesengsaraannya.
__ADS_1
...----------------...
"Rewel nggak, Sus?" tanya Nara khawatir pada perawat yang menjaga Edsel.
"Nggak Kok, Bu. Bayi umur-umur segini biasanya lebih banyak tidur." Tutur Perawat seolah memberi tau banyak informasi kepada Ibu muda di hadapannya.
"Kami akan rutin menitipkan Edsel dalam waktu yang tidak bisa di tentukan. Saya mohon kerjasamanya." Seolah berperan menjadi seorang Ayah, kata-kata Arion terdengar sangat bijak.
Keduanya berpamitan setelah membawa bayi Edsel pulang.
Seumur hidup, Nara tidak pernah punya pengalaman apapun tentang bayi, termasuk menggendongnya. Tapi setelah kehadiran Edsel tiba-tiba saja ia memiliki keahlian baru sekarang. Termasuk menggendong dan menenangkan saat Edsel mulai merengek.
Pekerjaan kantor yang menumpuk sudah cukup membuatnya lelah seharian, di tambah lagi ada pekerjaan susulan yang menanti. Nara menguap berulang kali bersama Edsel yang terlelap di gendongannya.
Beberapa menit kemudian Arion mendengar dengkuran keras dari mulut Nara.
"Cih! perempuan tidak bisa menjaga image." Arion yang tengah berkonsentrasi dengan jalan pun menyempatkan diri untuk memperhatikan perempuan yang terlelap di sebelahnya.
Tampaknya Nara memang benar-benar kelelahan. Saat Arion mencoba menjahili dengan mencubit punggung tangannya, Nara sama sekali tak bergeming.
"Nyenyak sekali." Tanpa sadar Arion tersenyum lagi melihat bibir Nara yang kini menganga.
Arion memutar sebuah lagu yang cocok untuk menemani saat tidur. The Truth Untold, lagu milik boyband asal negeri gingseng yang menduduki tangga lagu nomor satu di billboard itu mengalun syahdu.
Mereka sudah sampai di apartemen, namun Arion ragu untuk mengganggu tidur Nara. Alih-alih membangunkannya ia justru dengan santai memperhatikan perempuan yang tengah terpejam.
"Nara, kenapa aku suka sekali mengerjai mu." Ia terkekeh. "Tidak ku sangka kamu memang bisa di andalkan. Mungkin bulan depan aku pantas menaikkan gajimu." Arion terus bermonolog.
Sepuluh menit berlalu, Nara mulai menampakkan tanda-tanda akan bangun, ia menggeliat berulang dan mengucek kedua matanya.
"Kita udah sampai?" Ia melirik Arion yang ternyata sedang menatap intens kearahnya. "Apa yang Mister Lihat?" Nara merekatkan dekapan Edsel.
"Sudah dari tadi, tapi kamu ngoroknya keenakan. Nggak bangun-bangun." Arion membenarkan posisi duduknya karena canggung sudah tertangkap basah saat mencuri pandang tadi.
"Anda nggak punya pikiran macem-macem kan? tatapan anda tadi???" Telunjuk Nara mengacung lurus ke wajah Arion.
Arion langsung menepis telunjuk Nara.
"Kamu pikir saya pria mesum??"
"Ya bagus kalau begitu." Nara keluar dari mobil kemudian memilih meninggalkan basement lebih dulu.
__ADS_1
Saat masuk kedalam elevator, Arion cepat-cepat berlari mengejarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...