
Guntur membelah langit, menjilat pohon-pohon tinggi yang meliuk di terpa angin. Hujan deras sejak sore tadi belum juga reda. Aktifitas di luar terhenti, karena semua orang terkurung di dalam rumah.
Sesekali Nara melongok jendela ruang tamu, menanti Lisa yang belum juga datang sejak kepergiannya menjelang petang tadi.
Bisnis jahit kecil-kecilan yang di jalani Lisa selama beberapa tahun sudah menapaki kemajuan yang pesat. Nara membantu promosi hasil jahitan sang Ibu di laman sosial media, sehingga beberapa bulan terakhir ini banyak konsumen yang datang dan berlangganan. Selain permak, banyak juga yang memesan baju seragam keluarga. Apalagi di hari-hari perayaan, pesanan akan melonjak dan Lisa pun kebanjiran orderan.
Seperti petang ini, ia pergi untuk mengantarkan baju pelanggannya yang sudah selesai di jahit. Ketika Nara menawarkan diri untuk menggantikan Lisa, Ibunya menolak dengan alasan karena pulangnya sekalian mampir di pasar untuk membeli benang dan beberapa kain lagi.
Sebelum pergi, Nara membekali Lisa sebuah payung untuk sekedar berjaga-jaga dan benar saja, rupanya hujan turun lebih dulu sebelum Ibunya kembali.
Karena Lisa tak kunjung datang, Nara kembali ke kamar untuk melanjutkan mengerjakan PR Kimia yang tertunda. Ibunya pasti pulang jika hujan sudah reda, pikirnya.
"Nara... " Suara parau itu memanggil namanya dengan jelas, walau harus berlomba dengan suara hujan yang menderu di atas atap. Tapi itu bukan suara Lisa.
"Loh, Bapak di rumah? dari tadi nggak kelihatan, kemana?" Nara menoleh dari kursinya.
Pria senja dengan rambut yang sebagian sudah memutih itu berjalan sempoyongan dengan satu botol anggur di tangannya.
"Kamu kayak nggak tau aja kebiasaan Bapak." Cakra menyeringai menampakkan giginya yang sebagian menguning akibat kerak rokok.
Mana mungkin tidak tahu, karena Cakra memang selalu menghabiskan waktunya untuk bergelung dengan rokok dan minuman beralkohol. Gudang di dekat dapur adalah tempat keramat yang ia gunakan hampir setiap hari.
Ibunya mungkin termasuk perempuan yang kurang beruntung karena harus menghadapi suami yang berprilaku tidak menyenangkan. Nara tidak pernah mengerti, bagaimana Lisa bisa bertemu dan menikah dengan pria kurang adab itu.
"Nara sedang belajar, Pak. Bapak sebaiknya keluar atau susul Ibu ke pasar. Kasian kehujanan."
Sejak Nara beranjak remaja, ia selalu menjaga jarak dengan Cakra. Banyak hal mengerikan saat mereka tinggal berdua di rumah. Cakra sering mengerlingkan mata nakal, atau berpura-pura memegang tangannya. Nara sadar itu bukan sikap normal antara Ayah kepada Anaknya.
Saat Nara bertanya kepada Lisa, kenapa tidak bercerai atau meninggalkan Cakra. Jawaban Lisa selalu tidak memuaskan. Ibunya tidak mau gagal lagi dalam rumah tangga, suatu saat Cakra pasti berubah. Begitulah yang Lisa yakini selama ini.
"Bapak kedinginan, tapi kalo di kamar kamu rasanya hangat ya." Cakra mengikis jarak, dia mendekat dan meletakkan botol anggur di atas meja belajar Nara.
Nara beranjak dari duduknya, aroma tembakau berkombinasi alkohol begitu menyengat saat mereka saling berdekatan.
"Nara mau susul Ibu." Nara mencoba menghindar, di lihat dari jendela kamarnya bahwa hujan perlahan reda.
Jika Cakra menolak keluar dari kamarnya, maka dia sendiri yang harus pergi.
"Jangan pergi dulu, masih hujan." Tangan kokohnya menahan pergelangan Nara.
Gadis SMA itu menepis, berusaha melepaskan cengkraman tangan Ayah tirinya.
"Kalau begitu, silahkan Bapak yang keluar dari kamar Nara."
"Baik. Tapi setelah kita bersenang-senang."
"AAAAAAA!!! LEPASKAN, PAK!! "
__ADS_1
Nara memekik saat tubuhnya di sergap dan di rebahkan ke atas ranjang berukuran kecil itu. Tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang saja.
Tubuh rampingnya terkunci di antara ************ Cakra. Pria itu menindih dan menjagal tangan Nara di kedua sisi. Bola matanya merah, separuh kesadarannya sudah di kuasai oleh alkohol.
"Lepaskan!!"
Jantung Nara berdenyut kencang, sekujur tubuhnya gemetar, wajahnya terasa panas menahan tangis.
"Anak perawan jauh lebih nikmat kan?"
"Tidak!! jangan Pak! jangan lakukan itu pada Nara!"
Cakra tak menghiraukan ketakutan gadis itu. Wajahnya menelusup diantara tulang selangka milik Nara, menjilatinya dengan penuh napsu.
"Brengs*k!! baj*ngan!!"
CUIIHH!!!
Nara membuang ludahnya tepat di wajah pria tua kepar*t itu.
"Jangan marah-marah, apalagi melawan, nanti sakit."
Bukannya marah, Cakra justru semakin menggila. Ia bahkan menjilati sisa-sisa air ludah yang menempel di pipinya dengan ujung lidah.
"Manis."
Kalimat menjijikan itu membuat Nara kembali meludah.
"Mari bermain-main."
SRRRAAKK!!
Cakra merobek baju kemeja Nara hingga kancing-kancingnya terlepas. Dada Nara terbuka dan membuat birahi pria tua itu semakin memuncak.
"Jangan!!! tolong!! jangan!!!" Rintihannya hanya bisa di dengar oleh hujan yang kembali deras mengguyur.
Kaki dan tangannya terus menghentak kesana kemari, mencoba melepaskan diri dari kungkungan Cakra. Namun tenaganya tidak bisa mengalahkan kekuatan Ayah tirinya.
Air mata Nara tumpah bersama doa-doa yang ia rapalkan dalam hati. Menunggu keajaiban itu datang, sampai malaikat mengirimkan seseorang untuk menolongnya sekarang. Suaranya pun semakin hilang, teriakannya tak berguna. Tidak ada yang bisa mendengar. Hanya Tuhan satu-satunya harapan Nara sekarang.
Tolong hambaMu...
SREETT!!!
Gagang payung mengait leher Cakra, pria itu terhenyak dan Nara pun terlepas dari penjagalan.
Nara melihat Lisa dengan wajah geram, menarik Cakra dengan kuat hingga akhirnya pria itu terjerembab di lantai.
__ADS_1
CRAAASSSSHHH!!!
Ujung gunting mengambang di udara, kemudian mendarat tepat pada urat nadi leher Cakra.
"Ibuuuuuuuuuuu!!!!!" Nara terbelalak, melihat Lisa yang kalut hingga pria itu mendapat tusukan di leher dan kedua matanya.
Darah menciprat ke wajah Lisa, lalu mengalir deras ke lantai. Ubin yang berwarna putih kini telah berubah menjadi merah. Aroma anyir langsung menyeruak keudara.
Cakra kejang-kejang saat menjemput sakaratul mautnya dalam keadaan mengerikan.
"Anak Ibu baik-baik saja kan??" Lisa langsung menghambur memeluk Nara yang tercekat. Dadanya sesak.
"Ibu!!!"
Raungan tangis dua perempuan itu menyamai kerasnya suara guntur di langit.
...----------------...
"Ibu!!!!!!"
Nara terbangun dari tidurnya, matanya langsung berjelajah di sekitar ruangan. Keringatnya membasahi sekujur tubuh. Ia menggigil sambil memeluk guling dan selimut tebal.
Krek!!
Pintu kamar mengayun terbuka, Arion datang dengan wajah cemas.
"Ada apa? kamu mimpi buruk?"
Sambil duduk di dekat Nara, Arion menyodorkan air dalam gelas yang memang sudah berada di atas nakas.
"Minum, dan tenangkan dirimu."
Tangan Nara yang masih bergetar bahkan tidak sanggup memegang gelas, dengan rela hati Arion pun langsung memberikan bantuan.
"Ibu.... "
Tiba-tiba Nara menangis hebat, Arion menjadi semakin bingung melihatnya.
"Tidak apa-apa, itu hanya mimpi buruk."
Nara mengubur wajahnya dengan telapak tangan, ia menangis sampai sesenggukan. Kenangan buruk yang ingin ia kubur itu masih saja menghantui ketenangannya.
"Menangislah sepuasmu, sampai sesak itu benar-benar pergi."
Arion menarik tubuh Nara kedalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut mencoba memberikan ketenangan.
Ada kalanya, semua yang tidak mampu terucap harus di curahkan melalui air mata.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...