
"Silahkan di minum kopinya, Mister." Nara menyodorkan satu gelas kapucino yang masih mengepul di atas meja kerja Arion.
Arion seketika menatap penuh selidik. Ia memindai tubuh istrinya dari ujung rambut hingga ke kaki. Entah kenapa Nara tampak begitu seksi hari ini. Tidak bisa di biarkan. Jangan sampai sesuatu itu bangun di tempat yang tidak tepat.
"Wah, wah, ada apa ini? semacam sogokan?" Arion meraih tangkai gelas, mengendus aroma kopi yang nikmat tersebut dan mencicipinya. "Manis, sama seperti kamu."
"Anggap saja begitu, Mister." Nara mengulum senyum.
"Jangan menggoda ku seperti ini saat di kantor. Bisa bahaya." Mendengar Nara menyebutnya Mister, terdengar sangat sensitif. Ah, ada yang tidak beres dengan dirinya.
"Justru ini di kantor, saya harus tetap memanggil anda dengan sopan."
"Iya. iya. terserah kamu saja. Sogokan untuk apa ini?" Arion kembali menyeruput kopinya.
"Besok saya mau izin kerja setengah hari. Tapi kalau tidak boleh, tidak apa-apa."
Butuh waktu berjam-jam bagi Nara untuk mengutarakan maksud dan keinginannya pada Arion. Padahal dia kan suaminya, tapi tetap saja merasa tidak enak hati.
"Kenapa? mau bulan madu lagi?" Arion menyeringai, membuat Nara langsung bergidik.
"Bukan." Cepat-cepat Nara menyela.
"Huh!" Arion beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mengelilingi Nara yang mematung di dekat meja, berakhir dengan pelukan erat di punggung Nara. "Katakan, kamu mau kemana?"
Desisan Arion terdengar menakutkan di telinga Nara. Seluruh tubuhnya seketika meremang.
"Jangan seperti ini, tidak enak kalau ... "
Kreek!!
Belum sempat Nara menyelesaikannya, seseorang datang mendorong pintu.
"Ma-maaf. Saya akan kembali nanti."
Kepala Kevin yang baru saja nongol kembali menghilang, lalu pintu di tutup.
Wajah Nara langsung kemerahan, mirip seperti udang rebus.
"Tuh kan?"
Nara langsung mengajukan protes, memukul pelan dada bidang suaminya.
Cup!!
Arion bosan mendengar omelan sang istri. Ia langsung megecup bibir Nara dengan cepat untuk menghentikan rutukan yang tidak mau ia dengar.
"Biarin aja. Toh cuma Kevin kok," jawab Arion santai.
"Tetap saja, aku malu."
__ADS_1
"Nggak usah malu. Biasanya kan malu-maluin."
Arion menyentil pucuk hidung Nara. Perempuan itu langsung menepisnya dan merajuk hendak meninggalkan ruang kerja mereka.
"Nyebelin!!"
"Tunggu dulu, jangan pergi." Arion menahan langkah Nara, menarik lengannya dengan kuat dan membawa kembali kedalam pelukkannya. "Katakan, kenapa besok mau izin kerja?"
Tubuh mereka saling menempel satu sama lain, Arion terus mengendus ceruk leher istrinya sambil berbicara. Sedangkan Nara berusaha menghindar. Ia khawatir jika nanti ada karyawan kantor yang memergokinya seperti tadi.
"Lepaskan dulu. Baru ku katakan." Nara menahan dada Arion dengan kedua telapak tangannya.
"Oke!"
Cup!!!
Cup!!!
Lagi. Arion mendaratkan kecupan nakal. Kini kedua pipi Nara yang berhasil menjadi korban. Kemudian ia melepaskan pelukannya, menggandeng Nara untuk duduk di sofa.
Setelah Arion memberi waktu, barulah Nara kembali mengutarakan niatan awalnya.
"Dokter Intan ingin bertemu dengan ku besok."
"Kamu aja? aku nggak di ajak?" Protes Arion.
"Kamu kan sibuk. Jadi aku nggak apa-apa datang sendiri."
"Tapi kan ada Kevin. Nanti aku minta bantuannya buat handle kerjaan." Nara tak mau kalah.
"Iya sayang. Aku kan bercanda."
Setelah jadi suami. Arion akan membiasakan diri untuk mengalah. Melihat Nara yang doyan merajuk, selalu berhasil melelehkan hatinya.
...----------------...
Bandara Internasional. Yeri sudah menyusun rencana sejak jauh-jauh hari untuk menyesuaikan dengan jadwal pekerjaannya yang padat agar dapat menjemput Syera.
Tidak menunggu lama, Seorang wanita dengan perawakan jangkung bak model itu melenggok bersama putri kecil yang cantik di sisi nya, juga koper besar berwarna hitam.
"Syera!! " Yeri memanggil namanya dengan antusias. Saling berpelukan dan melepaskan rindu setelah berpisah lama sekali.
Gadis kecil dengan poni dan rambut sebahu itu hanya memandang bergantian pada perempuan dewasa di depannya.
"Beri salam pada Aunty Yeri." Pinta Syera pada putri kecilnya.
"Selamat siang, namaku Elea." Elea yang manis menjabat tangan Yeri.
"Cantik sekali, seperti Mamanya." Yeri mencubit gemas kedua pipi Elea setelah memberikan pujian.
__ADS_1
"Kata Mama, aku mirip Papa." Celetuk gadis itu tiba-tiba membuat Yeri terkekeh.
"Ooowwhh begitu. Elea mau bertemu Papa?" Yeri mengusap rambut keponakannya.
"Tentu saja, karena Mama sudah menjanjikan ini sejak lama, ya Kan Ma?"
Syera mengangguk saat putrinya mendongak meminta penjelasan.
"Iya, nanti kita bertemu dengan Papa."
Kedatangan Syera hari ini tidak di ketahui siapa pun, karena hanya Yeri yang masih menjalin komunikasi dengannya. Itu pun karena beberapa bulan sebelum Syera merencanakan untuk mempertemukan Elea dengan Arion.
Sebagai sahabat yang baik, Yeri sudah memesankan hotel untuk Syera selama beberapa hari. Tadinya, Yeri menawarkan agar Syera tidur di rumahnya saja, tapi single parent itu menolak demi kenyamanan bersama.
Setelah menjemput Syera dan Elea di Bandara. Mereka langsung menuju hotel yang sudah di pesan.
Elea kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh dari Eropa. Saat sampai di kamar hotel, ia langsung memutuskan untuk beristirahat dan tidur.
Sementara Syera dan Yeri masih berbincang sembari menikmati teh hangat yang sudah di pesan lebih dulu.
"Kapan mau ketemu Arion?" tanya Yeri di sela-sela hening.
"Kamu saja yang ajak Elea untuk bertemu Papa nya, sebaiknya aku tidak perlu ikut."
"Kenapa? Kamu juga harus ketemu dia dong."
Sejak hubungan Syera dan Arion di bangku SMA dulu, Yeri memang menjadi pendukung nomor satu. Karena Syera sahabat terbaiknya, dulu ia selalu berharap bahwa mereka akan benar-benar menjadi saudara jika Syera menikah dengan Arion. Namun kenyataan harus terbalik.
"Arion sudah menikah, aku tidak mau kehadiran ku justru berakibat buruk nanti."
Getar-getar rasa itu mungkin masih tersisa di lubuk hati Syera yang paling dalam. Apalagi saat melihat putri mereka tumbuh besar, wajah Elea yang hampir sembilan puluh persen berasal dari genetik Papa nya, membuat Syera tak mampu melupakan Arion.
Hal yang Syera takuti adalah, perasaan yang selama ini berusaha ia pendam. Takut kembali berontak jika harus bertemu lagi dengan Arion secara langsung. Arion bukan miliknya lagi. Dia sudah beristri.
"Syera, kamu itu Ibu dari Elea. Kamu masih memiliki hak untuk mempertemukan putrimu dengan Papa kandungnya."
"Bagaima dengan Arion? atau istrinya? apa dia bersedia menerima kedatangan Elea?"
Bahkan Arion tidak pernah mendapatkan kabar tentang anaknya sejak sepuluh tahun terakhir. Dia tidak tau, apakah janin yang di kandung Syera di biarkan hidup hingga tumbuh menjadi putri cantik.
"Dia begitu merindukan mu selama ini, Syera. Dia bahkan menjalani terapi ke psikiater setelah kamu tinggalkan. Saat bertemu dengan kalian nanti, itu akan menjadi kabar baik untuknya." Yeri meyakinkan Syera.
"Tapi aku tidak yakin jika perasaan itu masih sama."
"Kamu juga tau, Syera. Arion tidak akan mudah melupakan cinta pertamanya."
Syera tersenyum pahit. Ragu dengan kalimat yang di utarakan oleh Yeri.
Semua nya bisa berubah seiring berjalanannya waktu kan?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...