
Sampai di rumah. Nara langsung membaringkan Edsel di tempat tidur, kemudian ia meraih tas besar di dalam lemari dan memasukkan beberapa potong baju ke dalamnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan ini semua??" Arion murka saat memergoki Nara yang sedang berkemas.
"Aku akan pulang ke tempat Ibu untuk sementara waktu." Ia bahkan tak menghiraukan suaminya.
"Kemarahan kamu ini sungguh tidak berdasar. Hanya karena melihat aku dan Syera padahal itu semua tidak sengaja. Kalau bukan karena Alea, aku juga tidak mungkin menghabiskan waktu disana." Tutur Arion panjang lebar, berharap Nara bisa mengerti semua alasan yang ia utarakan.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun. Aku tahu semuanya demi Alea. Demi anak kandung mu, kan??" Kini Nara menatap lekat kedua mata Arion.
"Nara, tadi itu Syera tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mu. Tolong bersikap lah dewasa."
Nara berdecih seraya memalingkan wajah. Bahkan dalam situasi seperti ini pun Arion lebih membela mantan kekasihnya. Apakah sekarang Nara seasing itu di mata nya?
"Terlepas dari masalah ini, aku akan tetap pulang ke tempat Ibu. Kalau kamu tidak bisa antar, aku bisa menghubungi Kevin atau naik kendaraan umum." Ia menarik resleting tas besar itu setelah semua perlengkapan nya selesai di kemas.
Arion frustasi karena tidak berhasil membujuk Nara. Ia semakin serba salah dalam bersikap.
"Tolong jangan pergi sekarang. Aku akan mengantar pulang ke desa jika suasana hati mu sudah membaik. Jangan menghindar seperti ini, karena hanya akan membuat aku semakin merasa bersalah." Arion menangkup wajah Nara, mengusap lembut di sana.
Terkadang rasa cemburu di hati Nara yang memancing amarahnya semakin meledak-ledak. Ia juga tak mau egois, tapi nyatanya sulit untuk mengendalikan perasaan curiga dan cemburu saat Arion meluangkan waktu untuk Alea. Sebenarnya Nara sangat takut kehilangan.
"Kamu tahu kan, aku melakukan semua karena Alea. Cukup lama menanggung penyesalan yang tidak berujung. Hingga akhirnya kabar baik itu terdengar, bahwa Syera menjaga buah hati kami dengan baik. Perempuan yang kamu temui tadi itu sudah melalui masa-masa sulit. Aku hanya melaksanakan tanggung jawab ku sebagai seorang Ayah."
Penjelasan Arion memang membuat marah di hati Nara mereda. Tapi tetap saja, pemikiran buruk tentang Syera yang memanfaatkan Alea untuk mencuri perhatian Arion itu terus menggerogoti isi kepalanya. Nara meyakini bahwa kedatangannya bukan hanya untuk mempertemukan Alea dan Ayahnya. Tapi bisa saja, mereka akan kembali berharap untuk bersama lagi.
"Jangan berpikir macam-macam." Arion mengecup kening Nara, seolah tahu semua yang sedang bergelayut di pikiran Istrinya.
"Apa semuanya akan baik-baik saja?" Nara hanya butuh satu kata penenang saat hatinya gundah.
__ADS_1
"Tentu saja, jangan khawatirkan apapun yang belum tentu terjadi. Kamu akan lelah dengan hal-hal negatif yang terus meracuni isi kepala mu."
Nara mengangguk.
"Butuh pelukan?" Arion merentangkan kedua tangan.
Malu-malu Nara menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan Arion. Menghirup aroma relaksasi menenangkan yang menguar dari setiap sudut tubuh atletis suaminya.
Dalam detik yang sama, Arion melepaskan pelukan Nara, beralih menatap manik hitam yang berkaca-kaca di hadapannya. Ia mendukung lalu mendaratkan cumbuan hangat pada bibir Nara, melesakkan lidahnya dalam-dalam lalu menari bersama decak saliva yang selalu membuat candu.
Jemari tangan Arion mulai menyasari bagian-bagian sensitif milik Nara. Kemudian sentuhan demi sentuhan pun semakin intens hingga membuat keduanya terlena. Sampai lupa bahwa ada sepasang mata lucu yang sedang memperhatikan.
"Mamamama... Papapa..." Celotehan Edsel seketika menghentikan aktifitas panas orangtua nya. Arion dan Nara pun terkekeh menahan malu.
...----------------...
Suhu ruangan di kamar mandi perlahan kembali normal setelah memanas beberapa menit yang lalu.
Arion menggosok pelan punggung mulus istrinya. Mencoba menebus beberapa kesalahan yang terlanjur ia perbuat. Menyakiti perasaan Nara berulang kali, padahal jika tanpa perempuan ini, belum tentu ia mampu menghadapi berbagai rintangan hidup.
Sikap bawel dan pembangkang itu tanpa sadar telah mengubah kepribadian Arion, yang dulu sempat membeku akibat depresi masalalu. Kemudian perlahan mulai menghangat dan menjalani kehidupan normal seperti orang pada umumnya.
Usia pernikahan mereka memang masih terbilang sangat muda, itulah mengapa perasaan Ari0n begitu rawan terguncang oleh kehadiran seseorang dari masa lalunya.
"Sudah sepantasnya aku tidak banyak menuntut. Posisi orang pertama tidak mungkin mudah di gantikan." Nara bermain-main dengan busa sabun di tangannya. Ia selalu merasa tidak percaya diri dari berbagai aspek jika harus di sandingkan dengan kehidupan Arion sebelum bertemu dengannya.
"Berhenti membicarakan hal seperti ini." Arion hanya tidak mau jika suasana yang perlahan membaik kembali rusak oleh berbagai dugaan sepihak dari pemikiran Nara sendiri.
"Bahkan kamu sendiri pun bingung dengan perasaan itu, kan?"
__ADS_1
"Syera hanya masa lalu. Tapi kamu adalah hidup ku saat ini."
Tetap saja. Seberapa keras Ari0n meyakinkan Nara, ia tidak akan mudah mempercayai semuanya. Batinnya selalu berperang, isi kepalanya selalu berisik. Perkataan Arion kadang tidak singkron dengan tindakannya, karena di berbagai kesempatan terlihat bahwa ia masih memprioritaskan Syera dan Alea.
"Mungkin ada baiknya kamu kembali kepada Syera." Kalimat Nara terucap dengan berat. Sementara Arion jelas langsung terkejut saat mendengarnya. Ia membalikkan tubuh Nara yang naked itu agar berhadapan dengannya.
"Berhenti bersikap bodoh dan kekanakan." Arion mencengkram kedua pangkal lengan Nara, menatap tajam kedua manik hitam istrinya yang berkaca-kaca.
"Tidak ada yang bisa memaksa kamu untuk bertahan dengan pernikahan ini. Kita masih bisa kembali menjadi asing. Toh, kita juga belum memiliki anak?"
"Edsel anak kita!"
Nara menggeleng. Walau bagaimana pun, kedudukan Alea jelas lebih penting dalam hidup Arion. Jika harus memilih, Edsel akan tetap menjadi pilihan kedua. Hanya bermodal belas kasihan dan rasa bersalah terhadap anak kandungnya dimasa lalu lah yang menjadikan Edsel berada diantara mereka sekarang.
"Kita akan terus bersama, Nara. Aku tetap bisa bertanggung jawab kepada kehidupan Alea tanpa harus kembali dengan Syera. Alea bisa tinggal bersama dengan kita dan Edsel."
Alasan klise yang terlalu sering di dengar oleh Nara, namun nyatanya Arion sendiri belum tentu mampu membuktikan hal-hal yang jelas tidak bisa di paksakan.
"Aku akan tetap pulang ke Desa. Mari berpisah untuk beberapa saat. Aku akan memberikan waktu agar kamu bisa berpikir lalu memutuskan."
"Ini artinya kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Permintaan Nara untuk berpisah membuat Arion meragukan perasaan perempuan manis di hadapannya.
"Untuk apa mempertahankan cinta sepihak??"
"Tidak, Nara. Karena aku juga mencintai mu."
"Iya. Tapi kamu juga mencintai Syera."
__ADS_1
Seketika hening menyelinap saat perselisihan diantara keduanya yang kembali terulang. Arion masih saja belum bisa tegas dengan perasaannya saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...