CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Syera, lagi.


__ADS_3

Semalaman Nara tidur bersama Edsel di kamar terpisah dengan kamar utama yang biasa ia tiduri.


Arion pun enggan mengganggu Nara, sehingga ia memilih tidur sendiri di kamarnya.


Paginya, Nara beraktifitas seperti biasa, seolah tidak terjadi apapun. Malam tadi ia berusaha untuk mengompres matanya yang bengkak menggunakan air hangat. Ia Mencoba menutupi karena tidak ingin mendengar banyak pertanyaan dari Arion.


Seperti suasana pagi sebelumnya, Roti serta Susu hangat ia siapkan sebelum Arion berangkat kerja.


Walau sulit, setidaknya Nara berusaha berdamai dan mencoba berlapang dada untuk menerima berbagai kemungkinan dalam pernikahan yang masih berusia seumur jagung.


"Pagi sayang..." Arion melingkarkan tangan di pinggang Nara. Ia berbisik manja sembari memeluk punggung istrinya.


"Bagaimana tidur mu, nyenyak?" Sahut Nara hambar sambil mengoleskan selai coklat kacang pada dua lembar roti tawar. Ia bahkan tidak melirik sedikitpun pria yang tengah bermain-main di pundaknya.


Dengusan napasnya berat, Arion mengulas senyum. Ia tahu istrinya sedang tidak baik-baik saja. Semua karena kesalahan fatal yang ia perbuat, mulai dari tidak memberi kabar sampai pulang larut malam.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu." Arion mencoba mendesak persetujuan Nara agar mau mendengarkan.


Dua lembar roti tawar sudah selesai di olesi selai, lalu diletakkan ke atas piring. Kemudian Nara melepaskan tautan tangan Arion, ia membalikkan badan dan mendapati Arion berdiri di hadapannya.


"Ayo sarapan." Nara mengarahkan telapak tangan pada segelas susu dan roti di atas meja yang sedang di belakanginya.


Rasanya Nara ingin menghindar dari pembahasan serius pagi ini. Ia juga terus memalingkan wajah agar tidak bertemu tatap dengan Arion.


Tangan Arion tiba-tiba mencengkram kuat kedua pangkal lengan Nara hingga membuatnya meringis pelan.


"Lihat aku!" Arion sedikit membentak dan berhasil membuat Nara menuruti titahnya. "Aku tahu kamu marah. Aku menyesal atas kejadian kemarin. Itu sebabnya aku ingin kamu mendengar alasannya."


Bola matanya bergerak acak, Nara tak mampu mengimbangi tatapan elang Arion.


"Aku tidak perlu penjelasan apapun." Nara mencoba melepaskan diri, namun Arion menahan pergerakkannya.


"Bohong! Kamu bahkan tidak bisa tidur karena masalah ini. Lihat matamu, merah dan bengkak."


Nara menundukkan pandangan, menggigit sudut bibirnya. Ia tertangkap basah.


Dengan satu tarikan napas, Nara pun akhirnya buka suara atas alasan yang membuatnya jengah sepagian.


"Padahal apa salahnya mengabari ku secara langsung? Kenapa harus melalui Kevin dan apa alasannya ponsel mu tidak bisa di hubungi?" Nara meluapkan satu persatu pemikiran yang berkecamuk di benaknya.


"Awalnya aku khawatir kamu akan marah, tapi ternyata pilihan ku untuk menyuruh Kevin justru salah besar. Ponsel ku kehabisan daya, aku menyadarinya saat perjalanan pulang." Arion menjelaskan satu persatu saat mendapat kesempatan.


"Aku sudah tahu semuanya dari Yeri. Syera datang bersama anaknya, dan kamu sama sekali tidak memberitahu ku sedikit pun. Lalu kalian bertemu hingga lupa waktu? Hahaha." Nara tertawa perih.


Seandainya ia tidak mendengar semua itu dari orang lain, mungkin tidak akan sesakit ini.


"Nara... Aku hanya bingung cara menyampaikan semuanya padamu. Itu sebabnya aku belum memberitahu kabar ini." Arion sadar sudah teledor dalam bersikap.


Salah langkah dalam mengambil Keputusan jelas akan membuat segalanya menjadi runyam. Jujur sejak awal pasti lebih baik, Namun sudah terlambat. Kesalahan Arion berhasil menyulut amarah.

__ADS_1


"Anggap saja aku patung yang tidak pernah ada guna nya di rumah ini." Amarah Nara meledak-ledak.


Telinga Arion seketika berdenging hebat mendengar ungkapan marah Nara yang jelas-jelas tidak ia sukai.


"Kau.... " Kalimat Arion tertahan. Ia mengikis jarak antara keduanya lalu mencumbu Nara dengan hebat.


"Hemmmppff... " Nara bungkam saat mendapat serangan hebat tepat pada mulutnya yang masih ingin mengomel.


Bibir mereka bertaut, Arion melesakkan lidahnya hingga decakan saliva terdengar semakin intens.


Betapa Arion begitu membenci diri sendiri. Menjadi manusia paling jahat yang selalu menyakiti perasaan wanita. Syera, kemudian Nara. Banyak air mata yang mereka tumpahkan karena laki-laki brengsek seperti dirinya.


"Aku benar-benar menyesal." Arion mengusap surai hitam pada wajah Nara setelah melepaskan cumbuan.


...----------------...


Demi menebus kesalahannya, sore ini Arion pulang lebih awal. Sebelum sampai ke rumah, ia lebih dulu mampir ke market untuk berbelanja berbagai macam bahan-bahan yang akan di gunakan untuk barbeque.


Perdebatan yang menguras emosi pagi tadi berakhir damai, karena Nara memilih menurunkan ego dan memaafkan Arion dengan syarat hal ini tidak akan kembali terulang. Segala sesuatu harus di bicarakan terlebih dahulu, baik nantinya akan di Terima atau tidak.


Pesta barbeque bersama keluarga kecil tentunya menjadi pilihan tepat. Arion berjanji akan membuatkan makanan paling enak sedunia. Saat mendengar itu hanya kekehan kecil yang keluar dari bibir Nara. Ia bahkan tidak yakin jika suaminya bisa memasak.


"Aku akan bantu siapkan bahannya." Nara membongkar belanjaan Arion yang berisi seafood dan daging serta bahan lainnya. Tidak disangka Pria yang setiap hari berkutat dengan layar komputer itu ternyata pandai berbelanja.


"Tidak perlu sayang... " Arion segera merebut bahan olahan barbeque itu dari tangan Nara. Lalu ia berhasil mencuri satu kecupan di pelipis istrinya. "Tuan Ratu duduk manis saja disana. Akan aku jemput dengan kuda putih jika semuanya siap." Goda nya.


"Memangnya kamu bisa sendiri?"


Nara mendengus melihat tingkah Arion yang sok jagoan. Seketika amarah yang sempat membuat keretakkan dalam hubungan mereka kini berubah menjadi canda.


Dengan memenuhi perintah Tuan Raja. Tak jauh dari sana, Nara memilih duduk sembari memperhatikan Arion yang berkecimpung dengan dunia perdapuran. Dalam pandangan Nara, Arion bahkan sudah seperti koki asli.


Sadar sedang di perhatikan, sesekali Arion menoleh pada Nara lalu saling melempar senyum.


Tak terasa setelah beberapa menit berlalu, aroma bakaran sudah memenuhi indra penciuman Nara. Perutnya langsung menimbulkan suara kruyuk-kruyuk.


"Sudah lapar ya?" Tanya Arion saat melihat Nara tengah mengusap-usap perutnya.


"Nara menggangguk. " Memangnya masih lama?"


"Sebentar lagi."


Rasa penasaran Nara akhirnya memaksa ia untuk bangkit dan kembali mendekat ke arah Arion yang tengah sibuk menyelesaikan tugasnya.


"Boleh aku bantu siapkan piring?" Tidak nyaman juga jika hanya duduk manis, itu membuat Nara jenuh.


"Oke." Arion mengangkat tangannya sebagai kode.


Sementara Nara menunggu menu spesial buatan Arion matang. Tak lupa ia juga mengajak Edsel untuk duduk bersama mereka. Walau bayi kecil itu belum bisa menikmati makanan orang dewasa, tapi Edsel selalu di ikut sertakan dalam beberapa kegiatan rumah kecuali jika memang sedang tidur.

__ADS_1


Keluarga kecil itu duduk melingkar di meja makan dengan Daging dan seafood panggang yang mengepul dan mengeluarkan aroma masakan dari resto bintang lima.


Arion menyuapi beberapa makanan kepada Nara, dan langsung di cicipi olehnya.


"Bagaimana?"


Nara masih sibuk mengunyah hanya membalas dengan anggukan kepala berulang.


"Enak?"


"Enak banget.... " Ia mengangkat dua jempol.


"Yes!" Arion girang bak anak balita yang berhasil menyelesaikan game.


"Besok buat lagi ya... " Nara ketagihan.


"Siap Tuan Ratu." Lagi-lagi Arion mencuri kecupan di bibir Nara yang belepotan oleh saos dan kecap. "Manis." Arion menjilat sisa-sisa yang menempel di bibirnya.


"Genit." Pinggang Arion langsung menjadi sasaran empuk cubitan kecil dari Nara. "Malu, ada Edsel."


"Mamam...mamamm..." Seolah mengerti, bayi lucu itu merespon dengan gaya nya yang selalu menggemaskan.


"Anak pintar." Orangtua muda itu menyahut bebarengan.


Banyak kebahagiaan yang ingin di ciptakan dalam sebuah pernikahan. Pertikaian kecil hanyalah bumbu-bumbu yang akan menambah cita rasa hingga arti dari sebuah kasih sayang dan pengertian itu akan benar-benar terasa jauh lebih nikmat.


Di tengah-tengah jamuan malam yang indah, ponsel Arion berdering beberapa kali. Awalnya ia mengabaikan karena tidak ingin mengganggu acara kencan bersama Nara dan Edsel. Tapi panggilan tersebut terus berulang, berasal dari nomor yang belum memiliki nama.


"Angkat saja, mungkin ada hubungannya dengan urusan kantor." Saran Nara, karena ia pun sedikit terganggu oleh suara berisik tersebut.


"Hallo, dengan siapa?" Arion menjawab panggilan.


"Syera... Hei ada apa.. Kenapa menangis??" Sambung Arion kemudian.


Garpu yang tengah di genggam Nara seketika membentur piring dengan spontan. Makanan yang sedang ia telan seolah mencekik di tenggorokan.


Bibir Nara gemetar, memperhatikan Arion yang tampak ekspresif saat berbicara dengan seseorang di seberang sana. Kekesalan serta kecewa yang sudah padam kini kembali berubah menjadi bara yang siap berkobar kembali.


"Oke, Oke. Kamu tenangkan diri dulu. Aku akan segera kesana." Arion mengusap peluh di pelipisnya.


Nara masih belum mengerti hal apa yang sedang mereka bicarakan. Ingin rasanya ia melempar piring di hadapannya itu ke lantai. Lagi-lagi Syera. Syera dan Syera.


"Sayang... " Arion sudah menyelesaikan panggilannya. "Alea masuk rumah sakit. Dia demam tinggi. Aku akan segera mengecek keberadaannya." Papar Arion.


"Kalian berdua baik-baik di rumah ya? Nanti aku kabari setelah sampai di sana." Arion bergegas menuju kamar, lalu keluar dengan jaket hitamnya.


Dari kejauhan, Nara memperhatikan gerak gerik Arion yang terlihat sangat panik. bahkan ia belum menyahuti satu kata pun atas penuturan Arion. Tapi pria itu memutuskan pergi begitu saja di tengah-tengah acara makan yang belum selesai.


"Nyata nya aku memang tak sepenting itu." Nara mengeratkan gigi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2