
Upacara sakral pernikahan Arion dan Nara di laksanakan di ruangan tertutup yang hanya di hadiri oleh beberapa kerabat saja. Tidak ada tamu undangan atau pelaminan megah. Keluarga besar itu hanya berkumpul dan menikmati hidangan yang tersedia.
Setelan Tuksedo hitam melekat di tubuh Arion memancarkan aura ketampanan yang tak ada bandingannya. Sementara di sebelahnya, ada seorang perempuan berbalut gaun berwarna putih susu lengkap dengan tiara berkilau di kepalanya. Nara terlihat bak putri raja sehari.
Hari ini negara mencatat bahwa kedua mempelai tersebut resmi menjadi pasangan suami istri.
Edsel adalah orang pertama yang memberikan ucapan selamat kepada kedua orangtuanya yang kini sudah lengkap.
"Mamamama... Papapa.. " Bayi itu tertawa lebar di atas kereta dorongnya. Tangannya terangkat mengais-ngais ingin di gendong ketika Arion dan Nara memberikan ciuman di kedua pipi gembulnya. Edsel tumbuh dan berkembang dengan baik.
"Kamu akan mengotori gaun pengantin Mama, sini gendong sama Oma." Ruth mengambil alih Edsel dari dalam kereta, bayi itu tampak bosan karena tak bebas bergerak sejak acara pernikahan di mulai.
Ruth memberi kode pada Arion dan Nara agar kembali bersantai dan menikmati hidangan bersama beberapa tamu yang datang. Tidak banyak.
"Ini kado dari Ayah." Benjamin mengulurkan kotak persegi panjang berwarna abu tua dengan pita tosca di atasnya.
"Apa ini??" Arion melirik Nara, ia penasaran.
Kalau boleh jujur, ini hadiah pertama yang ia terima dari benjamin seumur hidupnya. Ayahnya memang tipikal orang yang tidak pandai berkata-kata atau bersikap seperti orang-orang di luar sana. Benjamin tidak pernah mengungkapkan perasaan sayang pada putranya, tapi ia hanya melakukannya dengan sebuah tindakan. Bekerja keras membangun bisnis agar putranya bisa menikmati kesenangan di masa depan.
Cinta seorang Ayah memang tersembunyi, tapi semua itu nyata dan bisa di rasakan.
"Buka. Ayah harap kalian menyukainya."
Arion memberikan kotak kecil itu pada Nara, agar istrinya turut melihat apa isi hadiah spesial dari Benjamin.
"Waahh!! " Spontan Nara langsung menutup bibirnya yang menganga lebar. Ia terkejut dengan hadiah dari Ayah mertuanya.
Tiket perjalanan bulan madu ke Maldives.
"Katanya, Ayah ingin segera menimang cucu." Bisik Ruth yang tiba-tiba datang dari arah belakang bersama Edsel.
"Deededede...." Edsel mengoceh, bayi berumur empat bulan itu memang sedang asik berceloteh sepanjang hari. Suasana rumah kini tidak akan sepi lagi.
"Kamu dengar, Edsel juga menginginkan Adik." Benjamin mengedipkan matanya pada Ruth.
Rupanya pasangan suami istri itu berkonspirasi untuk memberikan hadiah bulan madu pada Putra mereka.
"Ayah dan ibu tidak perlu repot-repot begini. Lagipula, kerjaan Arion di kantor sudah menumpuk. Besok kami sudah harus kembali pada rutinitas."
__ADS_1
Sebenarnya Arion sedang mencoba memberi alasan agar tidak jadi pergi berbulan madu.
"Nara juga harus mengantar Ibu pulang ke kampung setelah acara ini selesai." Nara melirik Lisa yang berada tak jauh dari sana.
"Ibu bisa pulang sendiri, pikirkan saja rencana liburan kamu."
Tentu saja Lisa tidak ingin mengganggu moment kebahagiaan Nara.
"Betul, Ibu Lisa dan masalah pekerjaan di kantor biar Kevin yang urus. Jadi, kamu tidak ada alasan untuk menolak." Ruth merangkul besannya dengan ramah.
"Bersenang-senang lah." Benjamin menepuk pundak Arion. "Buktikan bahwa kamu pria sejati kebanggaan Ayah."
Arion mengulum senyumnya malu. Sejak kapan Ayahnya pandai menggoda? ternyata selama ini Arion tidak pernah mengenal Ayahnya lebih dalam. Pria senja itu memiliki jiwa yang begitu hangat.
"Akan Arion buktikan." Ia menarik tubuhnya kedalam dekapan Benjamin.
Tak terasa, air mata haru itu menyapa kedua pipinya.
...----------------...
Nara duduk di depan cermin, mengeringkan rambutnya sembari membersihkan wajah dari sisa-sisa make up.
Beberapa menit kemudian Arion juga keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Air dari ujung rambutnya menetes lalu mengalir melalui lekuk tubuh Arion yang padat berisi. Nara bisa melihat dengan jelas dua biji ketumbar yang tak tertutup apa-apa menempel pada dada suaminya.
Mereka berada dalam kamar yang sama, kamar Arion. Lisa bertugas memantau malam pertama pengantin baru itu. Sehingga keduanya memutuskan untuk tidur bersama malam ini agar Lisa tidak menaruh curiga.
"Apa kita harus menerima kado dari Ayah??" tanya Nara.
Arion menghentikan aktifitasnya, ia bergerak ke dekat Nara berdiri di belakang sambil menumpukan tangan pada Kursi.
"Kita harus menghargainya kan? terima saja, aku juga sudah lama tidak pergi liburan."
"Tapi, pernikahan ini hanya pura-pura. Jadi tidak perlu ada bulan madu kan?" Nara tak berani menoleh, ia menjaga lehernya agar tetap tegap. Sedikit saja bergerak maka ia akan bertemu dengan rahang tegas milik Arion yang kini benar-benar dekat dengan wajahnya.
"Pernikahan ini sah, bukan pura-pura juga bukan perkawinan kontrak," tegas Arion.
Tatapan mereka bertemu pada pantulan cermin. Nara dapat melihat dengan jelas jakun Arion yang bergerak naik turun ketika pria itu mendongak dan menatapnya dengan lekat. Jika tatapannya beralih ke bawah, maka Nara juga dapat melihat beberapa roti sobek yang tertata di perut Arion.
Pria itu masih setengah telanj*ng dengan balutan handuk putih sebatas lutut.
__ADS_1
"Kalau bukan perkawinan kontrak, lalu apa?? anda mempermainkan saya?? " Karena kesal Nara langsung menoleh dan langsung di suguhi hidung mancung Arion.
"Pernikahan kita asli. Bukan pernikahan palsu atau pernikahan kontrak." Arion mendorong wajahnya lebih dekat. Namun Nara memilih menarik mundur wajahnya. Ia khawatir ada serangan mendadak seperti sebelumnya.
"Tapi, anda bilang waktu itu...."
"Aku sengaja melakukannya. Agar kamu mau menikah denganku."
Arion kemudian memberi jarak, ia meninggalkan Nara yang masih bingung.
"Jadi anda berbohong agar saya mau menerima anda??"
Arion yang sedang memilah baju di dalam lemarinya pun melirik.
"Terpaksa, karena saya tidak mau di tolak. Kalau begini kan kamu juga tidak bisa melakukan apa-apa."
Arion sebenarnya sudah menaruh hati kepada Nara, Entah sejak kapan? hanya saja setelah hari-harinya di lalui bersama Nara, Arion merasakan energi baru dalam hidupnya.
Ketakutan pada masalalu yang pernah mengurungnya, perlahan hilang tergantikan oleh canda tawa dan kesibukan bersama Nara dalam mengurus bayi. Banyak hal menyenangkan yang tercipta setelah itu.
Rencana pengajuan pernikahan kontrak untuk memenuhi berkas adopsi Edsel memang benar, tapi setelah mendapat bisikan lain dalam batinnya, Arion justru mengambil kesempatan dalam hal ini. Dengan begini, jika cintanya bertepuk sebelah tangan pada Nara, perempuan itu tetap tidak akan bisa menolak karena mereka terikat dengan pernikahan sah. Ide cemerlang bukan? Pemaksaan tapi halus. Ah, atau apalah namanya.
"Padahal, tanpa berbohong pun aku akan tetap menerimanya." Gumam Nara tanpa sadar. Ia meninggalkan meja rias dan melenggang ke atas tempat tidur.
Acara hari ini sangat padat dan melelahkan, matanya sudah terasa berat. Nara ingin cepat-cepat tidur.
"Apa kamu bilang?? Kamu akan tetap menerima ku walau pun tanpa pernikahan kontrak??" Arion berlari menyergap Nara dengan baju yang belum terpakai sempurna di pundaknya.
"kalau iya, kenapa?"
Bukan kah Nara juga menaruh hati sejak pertama pada Arion? jadi apa yang tidak mungkin?
"Kamu menyukai ku??" Arion meremat kedua bahu Nara, meminta jawaban.
"Aku mau tidur, ngantuk." Nara hendak melarikan diri, Tapi Arion tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Jawab! apa kamu juga mempunyai perasaan padaku??"
"Sudah lama! dasar laki-laki tidak peka! seharunya kamu sadar ini dari dulu." Nara menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Menarik selimut tebal itu hingga menutupi wajahnya. Sebenarnya malu mengakui perasaan ini secara terang-terangan.
__ADS_1
"OMG!!" Arion tak percaya. "Kalau begitu, bisa kita mulai malam pertama kita, Nara??"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...