CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Usai Honeymoon


__ADS_3

Arion dan Nara kembali, setelah menghabiskan bulan madu selama tiga hari di Maldives.


"Seharusnya kita tidak perlu kesana, kalau kamu tidak menyukai tempatnya." Celoteh Nara saat mereka sedang merapikan beberapa barang bawaan.


Nara Menyusun kembali baju bersih ke dalam lemari, dan memilah pakaian kotor. Sementara Arion duduk berselonjor di atas ranjang tidur setelah menyelesaikan ritual mandinya.


"Siapa bilang tidak suka? itu tempat terbaik yang berhasil aku kunjungi." Arion tidak mengalihkan fokus pada layar ponselnya.


"Tapi sejak hari kedua kita disana, sampai hari ini kamu tampak begitu gelisah. Makan sedikit, kurang tidur."


Itu lah kira-kira yang Nara rasakan atas perubahan sikap Arion selama berlibur di Maldives. Arion seperti kembali pada suhu semula, dingin seperti kutub utara.


"Aku hanya memikirkan pekerjaan." Dalih Arion. Nara tahu itu hanya sebatas alasan yang bukan sebenarnya.


"Istirahatlah. Besok kita sudah mulai masuk kantor."


Nara menggampiri Suaminya setelah selesai berbenah. Ia menarik selimut hingga ke batas dada Arion.


"Kamu juga." Arion menarik tengkuk Nara, lalu mendaratkan kecupan.


Arion meletakkan ponselnya, lalu mengubah posisi. Meringkuk sembari memejamkan matanya.


Nara belum bisa tidur, sebenarnya ia juga memikirkan beberapa pekerjaan selama liburan. Untuk mengisi kekosongan malam ini, Nara memilih lembur dengan pekerjaannya. Kebetulan, Edsel masih di titipkan di rumah Ruth. Mereka akan menjemputnya besok.


Kedua matanya mulai menyipit saat layar monitor menampakkan serentetan berkas-berkas penting milik kantor. Nara memijat pangkal hidung, lalu menarik punggungnya ke kursi.


Dalam hening, pikirannya berjelajah ke segala arah. Mengingat kejadian saat di Maldives.


Nara memergoki Arion tengah berbincang serius dengan seorang resepsionis. Wajahnya menggambarkan rasa ingin tahu. Hati Nara bertanya-tanya dengan segala yang mencurigakan tersebut. Ada hal yang tidak ia ketahui, atau justru Arion memang sengaja menyembunyikannya.


"Apa yang di tanyakan suami saya tadi?" Nara pun akhirnya memberanikan diri untuk menginterogasi pekerja Resort tersebut.


"Oh, Tuan Arion menanyakan pengunjung kamar nomor 888."


"Memangnya siapa?"


"Nama pengunjung itu Syera Lamia, namun beliau sudah cek out pagi-pagi sekali."


Syera. Jadi gara-gara perempuan itu sikap Arion berubah murung. Moodnya seketika anjlok, ia bahkan tidak bersemangat untuk makan dan beraktifitas yang lain. Nara berkelumit dengan isi kepalanya.


Walau tahu kebenarannya, Nara memilih untuk bersikap bodo amat. Di dalam hatinya memang merasakan sesuatu yang mengganjal, tapi Nara tidak ingin masuk ke dalam privacy Arion lebih jauh, kendati mereka sekarang sudah menjadi pasangan suami istri. Tapi setiap orang, pasti ingin memiliki ruang untuk menyimpan sebuah rahasia.


Di tengah renungan malam, Nara di kejutkan dengan vibrasi ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sebuah panggilan telepon dari Lisa.


Nara menekan tombol hijau, menerima telepon dari Ibunya. Dengan langkah mengendap-endap, ia keluar kamar agar tidak mengganggu tidur Arion.

__ADS_1


"Gimana bulan madunya?" tanya Lisa di seberang sana.


"Semuanya lancar. Nara suka, ini kan pertama kalinya anak Ibu jalan-jalan keluar negeri." Nara melebarkan senyumnya. Kehidupan sosial mereka yang rendah, mana mungkin sanggup pergi ke luar negeri, keluar kota saja jarang.


"Kamu pasti bersenang-senang." Lisa turut merasakan kebahagiaan putrinya.


"Kapan-kapan Nara akan ajak Ibu kesana, pantainya bagus."


"Bener loh ya? Nanti Ibu tagih."


Perbincangan sederhana itu berhasil membuat tawa itu tak memudar di wajah keduanya.


Lisa sekarang tinggal di kampung, menempati rumah peninggalan Nenek Nara. Lisa juga sudah mulai menggeluti pekerjaan barunya sebagai petani sayur mayur dan ternak domba.


"Oya, kemarin Saguna datang ke rumah. Dia bertanya banyak tentang kamu. Ibu jawab saja bahwa kamu sudah menikah."


"Saguna??"


"Iya, Anak kepala Desa yang dulu suka padamu. Dia jadi pengusaha pertanian yang sukses. Tapi sayang,dia belum menemukan jodoh."


Saguna. Mengingat namanya yang singkat itu, seketika memory lama di kepala Nara berputar kembali.


...----------------...


Yeri baru saja tiba di lobi kantor, bersamaan dengan itu ponselnya berdering. Nomor tidak di kenal menghubunginya.


"Apa?? kamu mau datang kesini?? kapan??"


Intonasi bicaranya terdengar bersemangat setelah Yeri mendapat jawaban dari sana.


"Jemput di Bandara? tentu saja. Oke, hubungi aku lagi nanti ya?"


Yeri kembali berjingkrak-jingkrak. Sepertinya ada kabar baik yang ia terima pagi ini.


Arion dan Nara yang juga baru tiba di lobi kantor hanya memperhatikan dengan dahi mengkerut.


"Kamu menang lotre??" Arion menoyor kepala belakang sepupunya itu.


Korban langsung mengaduh dan memutar tubuh. Bukan marah, Yeri justru tersenyum dengan sangat manisnya.


"Ini lebih dari sekedar menang lotre, Mister." Goda Yeri, padahal biasanya dia paling malas memanggil Arion dengan sebutan Mister.


"Kenapa kamu ini? stress." Arion mengabaikan tingkah laku Yeri yang aneh. Ia berlalu begitu saja sambil menautkan jemari tangan dengan seseorang yang berjalan di dekatnya. Nara memilih tidak banyak bicara kali ini.


"Akan ada kejutan untuk, Mister. Tunggu saja!! " Teriak Yeri setelah Arion dan Nara terlihat mengecil di ujung sana.

__ADS_1


Arion merespon dengan gidikkan dari kedua bahunya.


"Memangnya kamu ulang tahun?" Kali ini Nara mengawali pembicaraan saat mereka melesat di dalam Lift.


"Ulang tahun ku masih jauh, Bulan maret." Arion menyempurnakan posisi arlojinya yang sedikit miring.


"Tapi Kenapa Yeri mau memberi kejutan??" Nara penasaran dengan sikap Yeri pagi ini.


Lagipula, Nara memang belum tahu kapan tepatnya Arion merayakan ulang tahun. Ia hanya takut telat memberi hadiah dan ucapan selamat.


"Jangan dengarkan perempuan itu, kamu tau kan dia agak..... " Arion meletakkan telunjuknya di depan dahi dengan posiai miring.


Jahat sekali. Sepupunya saja di anggap sinting. Nara menelan ludah, miris.


Dentingan pintu lift berbunyi setelah tiba di lantai utama milik CEO perusahaan High Class Corp. Nara berjalan lebih dulu, menuju ruang kerja barunya. Berada dalam ruangan yang sama dengan Arion sekarang.


Sembari berjalan, Arion merogoh ponsel di dalam saku jasnya. Karena bergetar sejak tadi. Enam pesan di terima dari Yeri.


|| Apa Kamu penasaran dengan kejutan yang aku maksud?? ||


|| Akan ku beritahu sekarang.||


|| Kamu akan kaget, Mister.||


|| Syera akan datang. ||


|| Bersama anak kalian. ||


|| Ngomong-ngomong. Putri mu sangat cantik, dia sudah berumur sepuluh tahun. ||


"A-anakku perempuan?" Lirihnya dengan bibir yang bergetar.


Jantung Arion seketika berpacu dengan kencang, darahnya berdesir hebat hingga keseluruh tubuh.


Syera akan kembali??


Sebutan apa yang pantas untuk semua ini. Kabar buruk? atau kabar baik?


"Ada apa?"


Pertanyaan Nara berhasil membuat Arion terkesiap. Kepanikan tergambar jelas di wajah Arion. Kemana lagi ia akan menyembunyikan rahasia itu sekarang?


"Bukan apa-apa. Pesan dari Ibu. Beliau mengirimkan foto Edsel sedang berendam di bathtube dengan Ayah." Bohong Arion di sertai tawa yang di buat-buat.


"Owh." Nara melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Arion menghela napas panjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2