
Perjalanan hidup sejatinya tidak sesulit apa yang di pikirkan. Setelah di jalani, segala sesuatunya akan terasa begitu mudah karena di setiap permasalahan akan selalu ada jalan keluar.
Nara si Ibu muda, kini mulai terbiasa dengan kehidupan yang ia jalani bersama Arion dan Edsel. Hari kehari pun ia lalui dengan mengamati tumbuh kembang Edsel yang mulai pandai bergerak maju mundur serta berguling di kasur.
Setiap hari libur, Nara akan menyempatkan diri untuk bermain bersama Edsel seharian penuh. Baik itu bercengkrama di rumah atau sekadar berjalan-jalan di sekitar taman tempat tinggal mereka.
Sempat ingin memutuskan untuk berhenti mengurus Edsel, tapi pada akhirnya Nara tidak akan di gantikan oleh siapapun. Arion sudah memilih dirinya.
Pagi ini, seperti biasa mereka akan pergi keluar untuk mencari udara segar. Edsel sudah berpakaian rapi dan wangi, ia dengan sabar duduk di kereta dorong bersama mainan baru yang dibelikan Arion saat dinas keluar kota beberapa waktu yang lalu.
Mereka berencana untuk pergi berdua saja, karena Arion sudah pergi dengan urusannya sendiri. Saat sarapan tadi, ia menerima panggilan telepon dari Kevin lalu keduanya merencanakan untuk bermain Golf.
Sebenarnya, Nara dan Edsel juga mendapat tawaran untuk ikut. Tapi Nara menolak tanpa harus pikir panjang. Dia bukan penguntit yang harus ikut kemanapun Arion pergi.
Bel apartemen berbunyi ketika Nara tengah mempersiapkan botol susu untuk bekal jalan-jalan bersama Edsel.
"Ada tamu, tunggu sebentar ya?" Nara menyapa Edsel, seolah-olah bayi itu sudah mengerti bahasa orang dewasa.
Banyak hal yang harus Nara pelajari dari berbagai sumber di internet tentang bagaimana mengurus bayi yang baik. Salah satunya dengan mengajak si bayi mengobrol agar dapat menunjang perkembangan otak.
Bukan orang asing, Karena Tamu nya kali ini sangat dikenal oleh Nara.
Ruth menyapa dengan senyum ramah, kedua tangannya terisi penuh oleh kantong belanjaan.
"Selamat pagi, Bu. Mister sedang tidak ada di rumah." Nara membalas senyuman Ruth jauh lebih hangat. Ia juga langsung mengambil alih barang bawaan Ruth dan meletakkannya di meja.
Ruth mengikuti Nara, dan ia bertemu Edsel yang sedang mengoceh di atas kereta dorong. Tangannya mengais-ngais minta di gendong.
"Iya, Ibu tau. Tadi Arion telepon." Ruth bersimpuh di lantai, menyamakan tinggi dengan Edsel. Ia menyentuh tangan mungil itu dan bermain-main disana. "Kalian berdua mau pergi juga ya? kemana?"
"Tatata.. dadadaa.. " Edsel spontan menyahuti Ruth yang sedang berbicara dengan Nara. "Hei, kenapa pintar sekali ngoceh." Konsentrasi Ruth langsung teralihkan, dan pipi gembul Edsel mendapat cubitan kecil.
__ADS_1
Nara tersenyum bahagia melihat komunikasi antara keduanya, walaupun dulu Nara sempat berpikir bahwa Ruth akan menolak keberedaan Edsel. Tapi nyatanya semua baik-baik saja sampai sekarang.
"Kita mau jalan-jalan di taman, Edsel sangat suka karena bisa melihat dedaunan bergoyang dan kupu-kupu yang terbang." Nara bergabung dan menyapa Edsel dengan kecupan lembut.
Nara memang gadis yang tidak pernah merasakan bagaimana melahirkan dan memiliki bayi yang sebenarnya. Namun dengan situasi sekarang, ia mulai terlatih untuk menjadi seorang Ibu. Kelak ketika sudah berumah tangga, ia tidak akan lagi kesusahan karena sudah mendapatkan ilmu yang banyak. Edsel mengajarkan segalanya, bayi tak berdosa itu benar-benar sebuah keajaiban.
"Ibu boleh ikut?? " Ruth menawarkan diri.
"Dadadada.. bububu.." Edsel. mengoceh lagi, ia tertawa sambil menatap kearah Ruth, liurnya yang mengalir tampak lucu bersama gusinya yang merah.
"Nenek mau jalan-jalan bersama Edsel, boleh??"
Edsel menepuk-nepukkan telapak tangan di wajah Ruth. Ruth pun semakin merasa gemas melihat tingkah [cucu] nya.
...----------------...
Tempat yang biasa Nara kunjungi bersama Edsel adalah pekarangan asri tempat bersantai yang tersedia di sepanjang halaman belakang Apartemen.
Ada jalan setapak beralaskan kerikil putih yang cantik. Di sisi kanan dan kiri di penuhi oleh tanaman perdu dan bonsai. Beberapa pohon rindang juga berjajar lengkap dengan kursi kayu yang di sediakan untuk bersantai. Ada juga gazebo yang terbuat dari bambu yang menjadi pilihan paling aman jika tiba-tiba terjadi hujan atau ketika hari terasa terik dan menyengat.
Ketimbang duduk di Gazebo, Nara memilih berteduh di bawah pohon rindang di dekat air mancur. Ada kursi panjang yang cukup untuk di duduki oleh dua orang.
"Jadi kalau libur kalian berdua di sini?" Ruth mengedarkan pandangannya ke sekitar taman. Ia juga menikmati sensasi kehangatan dari mentari pagi yang mengendap-endap di balik gumpalan awan putih.
"Kadang-kadang, kalau Saya tidak ada acara."
Biasanya Nara akan mengunjungi Lisa di kantor tahanan, Jika memang ada waktu libur. Meskipun tidak harus setiap minggu, Saat Nara rindu Ibunya, bahkan bukan hari libur kerjapun dia rela mengambil cuti untuk menemui Lisa. Walap pada akhirnya ia mendapat omelan panjang. Karena Lisa tidak mau pertemuan dengan putrinya harus mengganggu jam kerja.
"Pasti mengunjungi orangtua mu ya?"
Ruth menebak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Anak yang tinggal terpisah dengan orangtua pasti akan memgunjungi mereka saat libur.
__ADS_1
"Iya." Nara menyahut takut-takut. Ada rasa khawatir yang datang, ia berharap Ruth tidak menanyakan lebih jauh tentang keluarganya.
"Orangtuamu pasti bangga." Ruth melirik gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya. "Memiliki putri yang pekerja keras."
Ruth memandangi lekuk wajah Nara yang terlihat sempurna dari samping. Hidungnya yang kecil tapi mancung, kelopak mata ganda dan bibir tipis berwarna merah jambu. Nara gadis yang manis. Di detik yang sama pula, ia teringat tentang seseorang.
"Kamu mau dengar cerita Ibu?"
Sambil memperhatikan Edsel yang anteng bermain di atas kereta dorong, Nara juga tetap memfokuskan diri pada lawan bicaranya.
"Tentu saja, Ibu mau cerita apa?"
Saat dua perempuan beda generasi itu saling memandang, Nara juga langsung teringat pada seseorang. Tentu saja Ibu yang sangat ia cintai. Lisa selalu menceritakan kisah masa lalu, pengalaman hidup dan kiat menjadi orang jujur. Nara suka mendengar penuturan Lisa saat akan tidur, dan setelaha bercengkrama mereka akan saling memeluk di atas ranjang sempit kemudian terlelap sampai pagi. Disaat seperti itu Nara selalu berjanji di dalam hati bahwa suatu saat ia akan membahagiakan Lisa.
"Ini tentang Syera." Intonasinya bergetar. Ruth menatap lurus kedepan seraya memganyam jari-jari tangan.
"Kekasih Mister Arion."
"Kamu sudah tahu rupanya." Di balik pelupuk mata senja itu ada kubangan air yang tertahan dan siap tumpah hanya dengan satu kedipan.
"Hanya itu, Selebihnya Nara tidak tahu. Lagi pula itu kan urusan pribadi Miater. Lalu mengapa Ibu mau bercertia tentang Syera?"
Lama sekali Nara penasaran dengan informasi ini. Karena tidak dapat sumber yang akurat, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti mencari tahu. Tapi hari ini, sepertinya semua akan ia dapatkan jawaban dari Ruth.
"Mereka melalui masa yang sulit, Arion dan Syera bukan hanya sebatas pasangan kekasih. Karena dari hubungan itu lahir seorang bayi perempuan."
Tubuh Nara terasa melayang di udara, kedua kakinya seperti sedang tidak menapak. Rasa nyeri itu datang bersama dengan jantungnya berdenyut kencang.
Kali ini tidak ada lagi keraguan atas fakta masalalu Arion. Pria mapan yang Nara duga seorang pria lajang, ternyata sudah memiliki anak.
Apa ini ada hubungannya dengan alasan Arion saat memutuskan mengadopsi Edsel?? Menyayangi Anak kecil? Karena dia teringat putrinya?
__ADS_1
Lalu dimana mereka sekarang? kenapa tidak tinggal bersama?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...