CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Arion saat berjalan di koridor setelah keluar dari lift. Di ujung sana, tepat di depan pintu Apartemennya ada sang Ibu yang sedang berdiri tengah menunggu.


Kakinya mengerem mendadak, di ikuti oleh Nara yang hanya di buat bingung.


"Ada apa?? "


"Ibuku di sana."


Tidak mungkin mereka menemui Ibunya bersama-sama, belum lagi jika Ibunya nanti mengetahui keberadaan bayi yang di gendong oleh Nara. Bisa kacau dunia.


"Kita harus pura-pura tidak kenal. Saya akan mencari akal agar Ibu segera pergi."


Keduanya sudah terlanjur tertangkap oleh tatapan sang Ibu, tidak mungkin bagi Nara untuk berbalik arah. Kesannya akan lebih mencurigakan nanti.


"Tapi, Mister." Nara menarik lengan jas Arion, namun langsung di tepis karena Arion berlalu dan langsung menyapa Ibunya.


Panik pun langsung menyerang, Nara tak tahu harus bagaimana cara mencari jalan keluar. Tidak ada ide sedikitpun yang terpikirkan sekarang. Nara berjalan pelan sembari menggigit bibir bawahnya.


"Bu, kenapa datang tiba-tiba tanpa menghubungi ku?" Bertingkah seperti biasa, Arion menampakkan wajah ramah di depan Ruth, Ibunya.


"Terserah Ibu dong, mau datang kapan aja. Tumben lama pulangnya?"


"Ada urusan sedikit di kantor."


Ruth memang sudah paham betul dengan jadwal kepulangan Putranya. Tapi Karena harus menjemput Edsel, otomatis Arion pulang terlambat. Tidak menyangka jika Ruth hari ini juga berkunjung.


"Ibu mau apa?" Arion semakin tidak nyaman dengan keberadaan Ibunya, matanya sesekali melirik Nara yang berpura-pura berdiri di depan pintu apartemen yang terletak di seberangnya.


"Ibu kangen kamu dong, lihat Ibu bawakan makanan kesukaan kamu. Kita makan bersama ya?"


Tangan Arion menyaut kantong yang di jinjing Ruth.


"Terimakasih banyak, tapi sebaiknya Ibu secepatnya pulang. Ini sudah terlalu petang." Wajah gugupnya tak mampu di sembunyikan.


Spontan Ruth langsung menaruh curiga pada Putranya. Karena Arion bertingkah aneh hari ini.


"Kenapa mengusir Ibu?? kamu menyembunyikan perempuan di dalam??"


Kecurigaan Ruth langsung tertuju ke sana.


"Bukan begitu." Arion di skak mat, tidak di beri kesempatan untuk berdalih.


"Ya sudah, buka pintunya. Kaki Ibu pegal sejak tadi berdiri."


Bukannya menekan pasword apartmennya sesuai yang di perintah Rurh, Arion justru terus memperhatikan punggung Nara dengan khawatir disana. Nara terjebak dalam situasi serba sulit ini.


Mendapati Arion yang mengacuhkannya, Ruth langsung mengikuti arah pandang ke seberang sana.


Nara menggertakkan kakinya, sejak tadi berdiri dengan beban berat yang ia bawa. Batinnya terus berontak. Kapan ini berakhir.


"Selamat sore, Nona? apa anda tetangga Arion?" Ruth menyapanya dan Nara langsung menoleh dengan wajah pucat.

__ADS_1


Bukan hanya Nara, Arion pun di landa was-was karena takut tertangkap basah.


"Ah, Iya. Benar Bibi." Nara memaksakan senyum di bibirnya.


"Apa itu anak mu?"


"Hemm keponakan."


Edsel yang menggeliat di dalam gendongan Nara langsung menarik perhatian Ruth.


"Kenapa tidak masuk? ada masalah? atau mau bergabung dengan kami. Bibi bawa banyak makanan." Tawarnya ramah.


"Saya lupa pasword nya." Nara mengangguk-angguk dengan cengiran khas dari seorang pembohong.


Rasa iba itu di rasakan Arion sekarang. Bagaimana pun juga dia masih berhati manusia.


"Bu, ayo kita masuk."


Khawatir jika obrolan Ruth dan Nara berlanjut, Arion pun segera mengajak Ibunya masuk kedalam.


Pppffuuhhhh!!!


Nara mengehempaskan nafasnya lega, setelah berurusan dengan Arion, dia semakin banyak berbuat kebohongan. Tapi bagaimana ia melepaskan diri dari sini. Nara juga tidak tega jika membiarkan bayi malang ini terlantar tanpa ada yang mengurus.


"Astaga!! " Nara hampir tersungkur ke belakang, tersandung hak sepatunya sendiri.


Seseorang tiba-tiba muncul di hadapan Nara, sepertinya pemilik rumah yang asli.


Pria itu sangat ramah, Nara merasa jauh lebih tenang saat di sapa dengan hangat.


"Iya, aku terkejut. Sebenarnya aku akan berkunjung kerumah teman, tapi sepertinya dia belum pulang kerja." Tunjuk Nara ke araha pintu Apartmen Arion. Dia berbohong lagi.


"Kamu bisa menunggu di rumahku, kasian bayi mu."


Di dunia ini memang masih banyak orang baik, terkecuali Arion. Berada di dekatnya saja, membuat jiwa kriminal Nara meronta-ronta. Ingin menjambak bahkan meninju batang hidungnya karena geram.


"Terlalu merepotkan." Nara berbasa-basi padahal sudah jelas-jelas kakinya kebas dan kesemutan karena terlalu lama berdiri.


"Tidak apa-apa. Jangan sungkan. Ayo masuk."


Nara melirik saat pundaknya di usap oleh pria itu dan di ajak masuk.


"Ngomong-ngomong panggil aku Rexa."


"Baik, terimakasih banyak, Rexa."


...----------------...


Sementara di apartemen Arion. Ibunya berjelajah penuh selidik. Mencurigai putranya. Wajar saja karena memang sejak tadi Arion terlalu menampakkan wajah tidak nyaman saat bersama Ruth.


"Ibu curiga ada sesuatu."

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Bu. Jangan berpikir macam-macam."


Untung saja segala peralatan bayinya sudah di tata di dalam kamar, dan jangan sampai Ruth membuka lemari es miliknya, karena disana berjejer susu formula.


"Ya sudah. Awas kamu kalau berani berbohong." Ruth mengacungkan tinju yang lansung di balas dengan dua ibu jari oleh Arion.


"Oke."


Berbohong sekali saja, mungkin masih bisa di toleransi karena ini demi kebaikan. Pikir Arion dalam hati.


Ruth membawakan makanan kesukaan Arion yaitu kebab. Penganan cepat saji terdiri atas daging sapi yang dipanggang seperti sate kemudian diiris-iris ditambah dengan sayuran segar dan mayones, lalu dibalut dengan kulit tortila.


Sudah lama sekali mereka tidak memiliki waktu seperti ini, karena kesibukan Arion di kantor. Juga Ruth yang memiliki kesibukan dengan mengurus butiq. Sehingga jarang sekali ada kesempatan untuk makan bersama.


Sore ini Ibu dan Anak itu menyantap kebab dengan lahap. Moment hangat yang selalu dirindukan.


Hari sudah hampir malam, Ruth akhirnya pamitan untuk pulang. Dengan lapang dada Arion langsung mengantar kedepan pintu.


Bertepatan dengan itu, Nara juga keluar dari apartmen di seberang sana dan mereka kembali bertemu di koridor.


"Apa dia suamimu?" Ruth menyapa Nara lagi, kali ini dengan Rexa yang berdiri di belakangnya.


Arion mengunci tatapan pada lelaki disana itu, bagaimana bisa Nara keluar dari rumah orang asing. Dasar perempuan itu memang ceroboh. Arion bahkan tidak mengenal siapa Rexa. Bisa-bisanya Nara dengan santai berkunjung kesana.


"Ibu pulang saja, sudah hampir gelap." Cepat-cepat Arion mengalihkan topik pembicaraan Ruth dengan tetangganya itu.


"Ya sudah, Ibu pulang. Kamu jangan begadang ya?"


Arion mengantar Ruth sampai keujung koridor, melambaikan tangannya saat Ibu tenggelam di balik pintu Lift.


Kemudian Arion kembali menemui Nara dan Rexa disana.


"Apa kamu penghuni baru?" tanya Arion pada Rexa. Karena ini kali pertama mereka bertemu.


Nara meandang dua pria dewasa itu secara bergantian. Dia sama sekali tidak tahu jika Rexa orang baru disini. Awalnya Nara pikir mereka saling mengena, sehingga Nara menerima ajakan Rexa tadi.


"Aku sudah lama di sini." Rexa berkacak pinggang, menyandarkan tubuhnya di ambang pintu.


"Setahuku, pemilik apartemen itu seorang mahasiswi."


Arion pernah bertemu beberapa kali dengan mahasiswi tersebut sebelumnya di dalam lift, Walaupun tidak saling sapa.


"Aah, rupanya anda memperhatikan kekasih orang." Celetuk Rexa, kalimatnya tidak enak di dengar.


"Hati-hati Bung, kalau bicara." Arion melangkah maju.


Melihat situasi yang memburuk, Nara cepat-cepat melerai perdebatan itu.


"Ayo masuk, Edsel sudah kelelahan." Nara menyeret tangan Arion menuju apartemennya.


Rexa hanya menyeringai, Tatapannya berubah menakutkan. Nara langsung merinding mengingat bahwa baru saja ia berkunjung kesana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2