
Nara membaringkan Edsel di tempat tidur, dia mulai meulucuti pakaiannya. Bayi itu akan segera di mandikan agar malam nanti bisa tidur nyenyak.
Ada kamar kosong yang tak terpakai di apartemen Arion, dan kini di jadikan tempat tidur serta menyimpan peralatan Edsel. Kamar tersebut akan terkunci dengan aman jika mereka pergi, berjaga-jaga agar tidak di ketahui oleh Ruth yang kadang berkunjung tiba-tiba.
Selesai mandi, Nara juga memberikan satu botol susu untuk Edsel sampai akhirnya bayi itu terlelap.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berpamitan pulang. Nara sudah gerah dengan tubuhnya yang lengket karena keringat. Berendam di air hangat pasti akan membuat tubuhnya kembali rileks.
Belum sempat ia berpamitan pada Arion, lebih dulu atasannya itu melayangkan omelan.
"Dasar ceroboh. Bisa-bisa nya kamu berkunjung kerumah orang tak di kenal."
Arion duduk bersilang kaki di atas sofa, Pandangan matanya tertuju pada buku yang sedang di baca. Namun jelas-jelas ia sedang berbicara dengan Nara sekarang.
"Kenapa jadi saya yang salah. Suruh siapa anda membiarkan saya berdiri kecapekan." Nara yang sedang kelelahan masih berani melakukan perlawanan.
"Bukan menyalahkan kamu, tapi saya hanya menyarankan agar lebih hati-hati." Sangkal Arion.
"Tapi perkataan anda menyinggung saya." Nara pun tak mau kalah, merasa paling benar.
"Kamu itu di kasih tau kok ngeyel. Bisa aja dia orang berbahaya."
Buku itu kini di letakkan, kemudian pandangan Arion beralih pada Nara yang masih berdiri menghadap kearahnya.
"Berarti saya juga bahaya saat berada di sini, karena kita juga belum saling mengenal. Kalau begitu saya izin pulang." Nara berlalu menuju pintu utama.
"Mau kemana kamu? " Cegah Arion dan langsung menghampirinya. "Bayi itu bagaimana?"
"Dia sudah tidur, jika malam nanti terbangun berikan saja susu. Saya sudah takar dan siapkan di lemari es, anda tinggal menyeduh pakai air hangat." Nara menjelaskan dengan detil seolah kini dia sudah menjadi pengurus bayi profesional.
"Jangan nambahin tugas saya ya. Saya akan bayar kamu atas pekerjaan ini. Jadi selesaikan sampai tuntas. Bayi itu urusan kamu."
"Terus saya harus bagaimana, sampai jam segini saja saya belum mandi." Nara mengabsen keadaan tubuhnya yang bau masam dengan gerak mata.
"Tidur di sini."
"Nggak!! "
Nara pikir pria di hadapannya itu memang sudah gila.
__ADS_1
"Kamu itu kerja sama saya, jadi saya yang memutuskan."
Ini termasuk pemaksaan hak-hak Nara. Tapi Arion sangat anti untuk di bantah.
"Mister nggak berniat buat nidurin saya kan?" Sebagai anak perawan, sudah pasti hal itu menjadi momok yang paling menakutkan. Harus siap siaga saat ada pria yang akan merusak masa depannya.
"Astaga! perempuan mesum. Saya bilang saya tidak napsu. Di sini ada dua kamar, kamu bisa kunci kamar kamu kalau takut saya tiduri."
Urat-urat leher Arion nyaris keluar semua. Mencoba meyakinkan Nara bahwa dia tidak akan berbuat macam-macam.
"Saya kurang yakin."
"Kalau itu yang ada di pikiran kamu. Tidak masalah, saya bisa tiduri kamu malam nanti." Arion kesal karena tuduhan tidak benar terhadapnya, lalu ia sengaja mengerjai sekretarisnya itu.
"Anda mesum, Mister!" Nara langsung pergi begitu saja dari Apartemen Arion, tak peduli saat namanya terus di panggil.
Sesaat sebelum pintu lif tertutup, Arion berhasil mengejarnya.
"Saya akan hubungi kamu saat bayi itu menangis."
Nara tak sempat menyahut, karena lift dengan cepat menelan dirinya.
...----------------...
Malam ini Nara merasakan kebebasan yang sempurna tanpa harus mendengar rengekan bayi.
Biar saja Mister perfeksionis itu yang menghandle urusan Edsel. Toh dia juga yang bersikeras untuk merawat bayi itu.
Katanya dia punya sekretaris hebat, Kevin Ardhana. Seharusnya masalah terselesaikan dengan cepat.
Cih! Nara kesal saat namanya di sandingkan dengan sekretaris senior yang selalu di elu-elu kan oleh Arion.
Bukan iri, hanya kesal saja. Kadang Kevin sering menampakkan keangkuhan pada dirinya. Memandang Nara seolah tidak memiliki kemampuan.
Sudahlah. Kenapa harus memikirkan dua manusia es itu. Ketika di rumah sudah seharusnya Nara mendapat hiburan yang menyenangkan. Nonton drakor misalnya.
Nara bermain-main di atas kasurnya sambil menikmati drama korea.
"Ah, lapar sekali."
__ADS_1
Cacing di perutnya sudah mengadakan konser. Nara baru ingat kalau belum makan malam. Ia juga lupa membeli makanan di luar saat pulang.
Mendapat ide dadakan, akhirnya Nara memasak mie rebus instan pakai telor.
Selesai menyantap Mie rebus, seketika rasa kantuk itu langsung menyerang. Sepertinya itu efek kekenyangan.
"Nonton drakornya sambung besok saja."
Nara bersiap untuk tidur. Matanya terasa sangat berat, hari ini dia memilih tidur lebih awal.
Di tempat Arion.
Pria itu juga sedang menikmati masa santainya, menyeruput teh hangat untuk menyamarkan cuaca dinging di balkon apartment. Gemerlap lampu kota tak kalah megahnya dengan kerlip bintang yang bertabur di langit malam.
Namun ketenangannya terganggu saat teriakan bayi yang berasal dari kamar langsung memekikkan telinga.
"Aissshhhh!!" Arion mendesah menahan emosinya. "Kenapa harus Bangun. Harusnya tidur saja sampai pagi. Dasar alien pengganggu!"
Arion mendatangi kamar Edsel. Wajah bayi itu sudah memerah akibat menangis yang cukup lama. Dengan hati-hati, Arion menggendong dan menimangnya. Mengajak jalan-jalan ke tengah rumah.
"Ssssss... bobo yah.. sudah malam." Arion berdesis seperti ular, seingatnya Nara melakukan itu untuk menenangkan bayi makanya dia ikuti cara tersebut.
Tangisan Edsel belum juga berhenti, namun tidak sekeras yang pertama. Buru-buru Arion pergi ke dapur untuk menyeduh susu yang sudah di takar oleh Nara. Ia kemudian kembali dan menyusui Edsel di sofa ruang keluarga.
"Merepotkan sekali. Kapan sih Kevin berhasil mendapat info tentang pembuang bayi ini."
Arion mencoba menepuk-nepuk bokong Edsel, berharap dia bisa kembali tidur. Namun tetap saja gagal, bayi itu malah mengoceh dengan bola mata yang bersinar. Edsel memang sudah tidak menangis lagi, tapi Arion ragu kapan bayi itu akan kembali tidur.
Karena sudah tidak menangis, Edsel di biarkan bermain sendiri di atas sofa. Ia meremas-remas selimutnya yang berwarna warni. Arion berinisiatif untuk menghubungi Nara, untuk meminta saran. Tapi dia berharap bahwa Nara bisa kembali ke apartemennya malam ini untuk menjaga Edsel.
Tunggu. Sejak kapan dia ketergantungan pada orang asing, maksudnya selain Kevin. Ah, kalau bukan karena bayi itu, tidak mungkin kan dia meminta bantuan dari Si pembangkang Nara.
"Heeemmm... halo.." Suara khas seseorang yang masih mengantuk terdengar disana, itu Nara. Arion serius menelponnya tepat di jam dua belas malam.
"Nara, bayi mu tidak mau tidur. Kamu bisa kesini??" Arion berbicara pelan, khawatir akan mengusik jam istirahat Nara. Walau memang benar.
"Hei!!! tau ini jam berapa?? mana ada Taksi. lagi pula itu bukan bayi ku!"
Gendang telinga Arion nyaris meledak karena mendapat omelan yang kekuatannya setara dengan bom atom. Panggilan langsung terputus. Nara mematikannya sepihak.
__ADS_1
"Nara!! sekeretaris lancang! beraninya dia mengomeliku." Gerutu Arion kesal. Ia melakukan panggilan lagi, namun berkali-kali tidak bisa. Nara sudah mematikan daya ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...