
Nara menemui Arion di ruang kerjanya. Menyampaikan beberapa persiapan yang akan menjadi agenda seminar besok pagi dengan para karyawan. Termasuk pidato dan beberapa bahan keterangan lain.
"Kinerjamu semakin hari semakin meningkat. Tidak sia-sia Kevin membimbing selama ini."
Arion memberikan pujian kepada sekretarisnya. Gadis pekerja keras itu memang tidak pernah lalai dalam mengemban tugas. Walaupun harus berhadapan dengan Atasan yang selalu menuntut kesempurnaan tapi hal tersebut memicu dirinya agar selalu bekerja sepenuh hati agar hasilnya memuaskan.
"Terimakasih, Mister. Ini tak lepas juga dari bimbingan anda sebagai pimpinan perusahaan." Nara membungkuk hormat.
Kalau bisa jangan hanya pujian. Naik gaji misalnya. Nara berharap besar tentang kenaikan gaji, uang menjadi barang paforit semua orang. Mustahil jika tidak menaruh harap pada benda berkilau yang satu itu.
"Bulan depan naik gaji."
Kepalanya langsung terangkat. Tidak menyangka bahwa Arion akan mengabulkan apa yang ia inginkan. Jangan-jangan dia bisa membaca pikiran.
"Sekali lagi terimakasih." Nada bicaranya mendayu-dayu. Uang bisa meluluhkan segalanya.
"Masalah mengurus bayi, saya akan berikan bayaran di luar gaji." Arion menutup laptop menyudahi pekerjaannya karena jam makan siang sudah tiba. "Sekarang kamu boleh keluar."
"Yes!! " Nara berseru, pemasukkannya akan berlipat-lipat mulai sekarang. Sepertinya tas kantor yang sudah usang itu akan segera pensiun.
"Oya, kamu mau makan dimana?"
Langkahnya yang baru samapai di ambang pintu, seketika terhenti. Nara menoleh penuh selidik ke arah Atasannya. Sejak kapan dia peduli dengan jadwal makan Nara?
"Di ruang kerja saja, Mister."
"Kenapa?"
Biasanya saat jam makan siang, para karyawan akan menghabiskan waktu istirahat di kantin atau di kedai seberang kantor yang menyediakan berbagai menu makanan.
Kali ini, Nara akan memilih makan di ruang kerja karena ada makanan gratis jadi tidak boleh di lewatkan.
"Kevin sudah memesan makanan, jadi kami tidak akan keluar."
Kevin sepertinya dapat uang seseran. Tidak biasanya dia membagikan makanan gratis seperti hari ini. Terang saja Nara sangat senang, uang jajannya aman di dompet.
"Kalian berdua saja?"
"Iya."
Nara dan Kevin memang berada dalam satu ruangan yang sama. Hal itu di lakukan agar memudahkan dalam menyelesaikan beberapa pekerjaan, selain itu akan mudah juga bagi Kevin untuk mengontrol dan membimbing cara kerja Nara sebagai Sekretaris uji coba.
"Ya sudah." Arion mengibaskan tangannya, menyuruh Nara keluar dari ruangan.
Nara kemudian pamit dan kembali ke ruang kerjanya.
Disana, ternyata Kevin sedang duduk di sofa sembari menata makanan di meja. Ada dua porsi kentucky+nasi dan dua kaleng soft drink.
__ADS_1
"Makan bareng di sini saja, kan biar seru." Sela nya kemudian, padahal Nara lebih suka makan menyendiri di meja kerjanya, tapi karena harus mengahargai Kevin yang sudah berbelanja, akhirnya Nara patuh.
Nara mengambil posisi di seberang Kevin, mereka sudah siap dengan hidangan sederhana tersebut.
"Lain kali, saya yang akan membayar makanan untuk anda."
Anggap saja balas budi, Nara tidak enak hati juga saat mendapat gratisan seperti ini.
"Pasti dong.. Saya tunggu, tapi jangan di kantor ya. Kita makan di luar."
Kevin membantu membuka minuman kaleng lalu menyodorkan kehadapan Nara.
"Tapi, jangan yang menu nya mahal." Nara menutup bibirnya malu. Anak kost memang kuat dalam menghitung pengeluaran.
"Tenang aja, murah nggak apa-apa yang penting ada kamu nya." Kevin terkekeh dan siapa menggigit potongan dada Ayam.
"Iya dong, kan saya yang bayar."
Bibirnya baru saja terbuka sedikit, namun dada ayam yang siap di santapnya langsung di sambar oleh seseorang lalu melahap tanpa basa basi.
"Mister!! " Kevin melongok, geram melihat atasannya yang tidak sopan.
"Kalau makan jangan hanya berdua, ajak saya juga." Arion menyahut dengan potongan ayam yang masih di kunyahnya.
Mana mungkin, dia kan anti makan dengan bawahan apalagi hanya dengan menu sederhana seperti ini.
"Untuk saya saja, saya juga lapar." Arion menggigit lagi ayam tersebut jauh lebih banyak. "Sisanya untuk kamu."
"Mana cukup, ini tinggal tepungnya saja," omel Kevin. Dasar pengganggu.
"Ambil punya saya aja." Nara membagi dua ayam miliknya lalu satu bagin ia berikan kepada Kevin.
Arion hanya memicingkan mata sembari mengunyah makanannya cepat-cepat.
...----------------...
"Sejak kapan kamu dekat sama Kevin?"
Itulah pertanyaan yang pertama kali Arion lontarkan kepada Nara saat berada di dalam mobil.
Seperti biasa, mereka pulang kantor bersama lalu menjemput Edsel di tempat penitipan bayi.
"Sejak hari pertama bekerja." Nara memberikan jawaban santai.
"Sedekat itu??" Ralat Arion, bahkan ia melirik perempun di sebelanya untuk minta di yakinkan.
"Ya karena kita relasi kerja kan?"
__ADS_1
Nara pikir tidak ada yang salah dengan kedekatannya. Sesama karyawan harus akrab kan?
"Maksud saya. Makan berdua seperti tadi."
"Oh, baru hari ini. Kalau ada waktu nanti gantian saya yang traktir Kevin."
"Jangan terlalu mudah di dekati orang lain. Hati-hati."
Ada masalah apa dengan Arion. Nara pikir dia selalu menaruh curiga pada semua orang. Padahal Kevin yang jelas-jelas manusia tunggal yang paling dia percayai.
"Dia bukan orang lain, dia rekan kerja saya. Anda yang bilang kan kalau saya harus bisa banyak belajar dari Kevin."
"Kapan saya bilang begitu?"
Dasar aneh. Nara tak habis pikir dengan perkataan Arion.
Tempat penitipan bayi tidak pernah sepi, ada orangtua lain yang juga menitipkan bayi mereka disana. Terutama bagi para perempuan karir yang masih harus bekerja walau sudah repot dengan anak.
Edsel yang baik, tidak pernah rewel. Dia minum susu dan tidur teratur. Pup dan pipis nya lancar, seperti itulah yang perawat jelaskan saat orangtua angkatnya datang menjemput.
Arion pasti membayar mahal untuk menitipkan Edsel di tempat yang bagus ini. Segala kebutuhan dan kesehatan bayi sangat di perhatikan oleh para pekerjanya.
Dalam perjalanan pulang pun, Edsel kembali terlelap dalam gendongan Nara. Sesekali ia terbangun dan matanya berjelajah memperhatikan interior mobil, dia mulai mengenali keadaan sekitar.
Di lobi apartemen tempat kediaman Arion, orang-orang di hebohkan dengan desas desus kasus pembunuhan. Beberapa aparat berseragam hilir mudik disana.
"Ada apa?" Nara merapatkan kain untuk menutupi Edsel dalam gendongannya. Ia takut ketika para polisi hilir mudik, lalu empat orang polisi berlalu dengan membawa kantong jenazah di atas tandu.
"Tidak tau, katanya kasus pembunuhan." Bisik Arion, Nara bersembunyi di belakang punggung bidang Arion.
Dengan penasaran, Arion mendekati salah satu petugas kepolisian untuk menanyakan peristiwa yang sedang terjadi.
"Ada apa ini, Pak?"
"Seorang mahasiswi terbunuh di apartemennya, di duga pembunuhnya adalah kekasihnya sendiri."
Arion tercengang saat mendengar penuturan singkat dari pihak kepolisian.
Nara yang ikut menguping pun langsung gemetaran. Takut. Terlebih akhir-akhir ini dia sering bersama Arion di apartemen itu.
Seseorang rela membunuh kekasihnya sendiri. Lalu bagaimana dengan dirinya dengan Arion yang hanya sebatas rekan kerja yang notabenenya bukan siapa-siapa. Hal buruk langsung menghantui pikiran Nara, dia mulai berprasangka negatif pada orang-orang sekitar.
"Rexa.. " Gumam Nara spontan, saat melihat Rexa di giring polisi dengan tangan yang sudah di borgol.
Pembunuh itu adalah Rexa. Nara semakin bergidik ngeri, teringat bagaimana ia datang berkunjung ke rumah itu tempo hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1