
Di luar masih tampak gelap, namun Nara terbangun lebih cepat dari biasanya. Pusing tiba-tiba menyerang kepala, rasa mual menyelinap di bagian ulu hatinya. Gegas Nara berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Keringat dingin langsung membasahi pelipis dan bagian punggung. Tenggorokkannya tercekik akibat muntah yang berulang-ulang. Tidak ada makanan yang ia muntahkan, hanya ada cairan berwarna kuning dan berlendir yang keluar dari kerongkongan.
Suara berisik yang berasal dari kamar mandi tersebut pun mengganggu tidur Arion. Setelah beberapa menit ia mengumpulkan nyawa dan memastikan bahwa suara tersebut adalah istrinya, Arion segera turun dari tempat tidur dan menemui Nara di kamar mandi.
"Kamu sakit?" Ia melihat istrinya mengukung di depan washtafel. Dari pantulan cermin di hadapannya, Arion bisa melihat wajah Nara yang terlihat begitu pucat.
Nara menggeleng, ia tak mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan Arion akibat muntah yang terus-terusan.
Dengan sergap, Arion mengecek keadaan Nara yang terlihat begitu buruk. Di usap peluh yang bercucuran pada wajah itu, surai hitam nya di singkap dan di rapikan.
"Aku akan antar kamu ke Dokter." Arion tidak yakin jika keadaan istrinya akan membaik dengan cepat tanpa ada penanganan kesehatan. Nara sedang tidak sehat sekarang. "Mungkin kamu masuk angin."
"Tidak perlu ke Dokter, aku hanya perlu mengoleskan minyak kayu putih." Nara terlihat lemas, ia berusaha menopang tubuh dengan kedua tangan pada tepi washtafel.
"Kapan kamu berhenti jadi wanita pembangkang?" Arion melotot, Tanpa meminta persetujuan ia langsung mengangkat tubuh Nara ala pengantin. "Kita ke Dokter sekarang."
"Lepas. Arion.. Aku mual... " Nara berontak dari gendongan Arion.
Mualnya belum mereda sehingga ia pun kembali memuntahkan cairan itu tepat di dada Arion.
"Aissshhh... " Arion berdesis merasa jijik.
"Sudah ku bilang aku.... Oeeekkkk... "
"Lagi??? Owh No... "
Baju pajamas yang di kenakan Arion langsung basah di bagian depan. Aroma menyengat dari cairan itu berhasil mengaduk-aduk isi perut Arion hingga ia pun seketika merasakan mual.
Segera mungkin Arion kembali menurunkan Nara dari gendongannya, Nara kembali ke depan washtafel untuk berjaga-jaga, sementara Arion langsung melepaskan pakaiannya yang sudah kotor, ia juga segera mencuci bagian dada dan perutnya untuk menghilangkan bau tidak sedap tersebut.
Setelah keadaan mulai mereda, Nara kembali ke tempat tidur di bantu Arion. Selain itu Arion juga mengoleskan minyak hangat ke bagian tubuh Nara.
Menunggu sampai pagi datang, Nara di biarkan beristirahat sebentar sebelum keduanya mengatur jadwal bertemu dengan Dokter.
Nara terbaring di atas ranjang, sementara Arion segera ke kamar Edsel karena mendengar rengekkan bayi mungilnya yang sudah bangun.
Sembari menggendong Edsel dari tempat tidur, tangan yang satu sibuk menekan layar ponsel, Arion melakukan panggilan kepada seseorang.
"Ibu. Apa hari ini sibuk?"
__ADS_1
"Tidak. Ada apa? sepertinya kamu perlu bantuan Ibu." Suara Ruth mendayu di seberang sana.
"Nara sakit. Aku berencana membawanya ke Dokter. Ibu bisa datang kemari untuk menjaga Edsel?"
Bayi yang di sebut namanya itu bermain-main dengan ujung ponsel yang di gunakan Papanya.
"Papapapapa... " Katanya mengoceh.
"Tentu saja, dengan senang hati. Ibu juga sudah rindu dengan si gembul itu." Mendengar ocehan cucunya yang begitu ceria, Ruth sangat bersemangat untuk mengasuh. "Setelah sarapan nanti, Ibu kesana bersama Ayah. Dia juga Rindu Edsel katanya."
"Baiklah kalau begitu Bu."
Panggilan singkat itu pun berakhir setelah keduanya mendapatkan kesepakatan.
...----------------...
Perasaannya gusar saat menunggu informasi dari Dokter yang sedang memeriksa Nara. Arion mondar mandir dengan raut wajah yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Istrinya.
"Selamat ya Tuan. Anda berhasil menjadi seorang Ayah." Ujar Dokter tersebut setelah menunjukkan beberapa catatan pemeriksaan. "Janinnya sudah berusia Empat minggu," turturnya lagi.
Diam. Nara dan Arion hanya melempar pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Masih tidak percaya atas apa yang sudah mereka dengar.
"Hamil?" ucap Nara dan Arion serentak.
"Ini reaksi normal bagi orangtua muda." Katanya.
"Dokter tidak salah Diagnosa kan?" Nara masih merasa ngambang.
"Tidak Nona, jadi mulai hari ini tolong di jaga kesehatan dan pola makan. Tidak boleh stress." Jelas Dokter lagi.
Arion masih terpekur kehilangan kata-kata. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum tak percaya. Pantas saja akhir-akhir ini Nara begitu sangat sensitif, hari ini ia mendapatkan jawabannya.
"Kamu dengar, tidak boleh sering marah-marah." Arion mencuil pinggang Nara.
"Kamu penyebabnya. Menyebalkan." Nara mendengus.
"Maka dari itu, Tuan harus sangat menjaga mood Ibu muda ini agar tidak rusak." Dokter menimpali.
"Saya akan berusaha sebisanya Dok, terimakasih atas bantuannya."
Pemeriksaan selesai, Dokter memberikan resep vitamin yang harus Nara minum secara rutin.
__ADS_1
Bahagianya sulit di ungkapkan, Sepanjang jalan, Arion terus mendekap Nara dengan hangat.
"Aku masih sanggup jalan." protes Nara karena Arion terlalu kuat mengekang pinggangnya.
"Aku hanya melindungi mu sayang, dan baby kecil di sini." Arion mengusap perut Nara.
Diam-diam Nara juga merasakan hal yang sama. Antara mimpi dan nyata, walau masih merasa tidak percaya tapi Nara yakin ada keajaiban yang hidup di dalam rahimnya. Ia akan selalu menjaga itu sampai si buah hati membesar dan lahir ke dunia.
Dengan begini, Nara pun sudah tidak merasa khawatir akan perasaan Arion. Kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya tentu akan membuat hubungan mereka semakin erat.
Nara tidak perlu takut lagi untuk kehilangan. Pria yang sangat di cintainya itu tidak akan pergi kemana pun. Nara sekarang memegang kunci yang sama.
"Aku mau makan sate domba." Celetuk Nara tiba-tiba.
"Oke."
"Aku juga mau makan ayam gulung keju asparagus." Imbuh Nara lagi.
"Siap."
"Salad Bebek."
"Beres."
"Sup pangsit."
"Dengan senang hati sayang. Aku akan menyewa restoran lengkap degan Chef khusus yang akan memenuhi semua keinginan Baby kecil kita."
Seisi dunia pun akan Arion berikan kepada Nara. Demi apapun, bahagianya kali ini terasa begitu berbeda.
"Kenapa kamu mau melakukannya?"
Ini pertanyaan yang tidak penting untuk di jawab, tapi Arion sadar bahwa Mood Ibu hamil bisa menghancurkan dunia beserta isinya.
"Karena aku bahagia. Aku akan segera menjadi Ayah dari anak mu." Arion menatap Nara penuh keseriusan. "...dan ini juga mengartikan semuanya, bahwa tidak ada lagi keragu-raguan dalam hubungan kita. Jadi berhenti berpikir hal aneh yang akan membuat kamu stress."
"Tetap saja... " Nara mengerucutkan bibir merah jambu nya.
"Dasar pembangkang!" Arion menangkup wajah Nara, mendaratkan kecupan di dahi lalu berakhir dengan cumbuan lembut pada bibir merah jambu itu.
Kelopak matanya mengatup, ada tetesan bening yang meneyelinap keluar cukup menjelaskan seluruh perasaan Nara saat ini. Ia menikmati belaian penuh kasih dari Arion.
__ADS_1
"Dia milikku Selamanya." Nara berteriak mengagungkan sebuah kemenangan didalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...