CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Tidur Bersama?!?


__ADS_3

Pagi-pagi buta Kevin sudah datang ke apartemen Arion, mampir sebentar sebelum menuju ke kantor yang kebetulan berada dalam arah yang sama.


Kali ini rasa tidak sabarannya memaksa Kevin untuk menekan enam digit angka pasword apartemen Arion. Karena sejak tadi bel yang di tekannya berulang tidak mendapatkan respon apapun dari si pemilik rumah.


"Ini sudah mendekati jam kerja, apa mereka masih tidur?" Gerutunya, setelah melepas sepatu ia langsung menuju kamar Arion.


Pintu kamar Arion terbuka lebar dan yang paling mengherankan, ranjang besar itu tidak berpenghuni.


"Ku kira belum bangun. Mungkin sekarang Mister sedang mandi," pikir Kevin.


Tidak seperti hari-hari sebelumnya saat Kevin berkunjung. Keadaan rumah sangat sepi, tidak ada suara bayi, juga tidak terdengar celotehan perempuan bawel yang biasa menghiasi hari-hari mereka seperti di kantor.


"Sudah dua hari aku tidak mendengar perempuan itu mengoceh." Monolog Kevin yang tiba-tiba merindukan Nara. "Apa dia juga masih tidur?"


Leher Kevin memanjang seperti bangau, diam-diam melirik pintu kamar sebelah yang juga terbuka.


Coba-coba Kevin melangkah untuk mendekati kamar Nara.


"Ghost!! " Spontan Kevin terkejut melihat dua orang yang meringkuk saling berhadapan di atas satu ranjang. "Kalian? kalian berdua melakukannya??"


Pikiran Kevin sudah melayang entah kemana melihat sepasang manusia yang kini juga terkejut karena mendengar suara Kevin yang berteriak lantang.


"Kevin? apa yang kamu lakukan di sini?" Arion langsung turun dari atas tidur, matanya memerah karena kantuknya belum sepenuhnya pergi.


Nara yang terbaring di sisi lain juga terbangun mendapati keributan di pagi hari.


"Saya yang harus bertanya pada anda, anda melakukannya malam tadi?? tanpa Edsel??" Kevin mengedarkan pandangan kepenjuru kamar Nara, dan bayi itu memang tidak ada.


"Sssttt!! bicara apa kamu ini!" Arion melotot sembari meletakkan telunjuknya di depan bibir. Khawatir kalau Nara terbangun, tapi terlambat karena perempuan itu kini sedang menyimak obrolan mereka.


"Ada apa? melakukan apa?" Nara di buat bingung, rupanya ia tidak mendengar obrolan Arion dan Kevin seluruhnya. Dan atau Nara juga tidak tahu bahwa Arion.....


"Kalian tidur berdua?? Kalian anu.. " Kevin mempertemukan dua telunjuknya, memberi kode.


"Issshhh sialan!!" Arion membungkam mulut Kevin dan menyeret tubuhnya keluar kamar. "Nara, jangan dengarkan omong kosong laki-laki ini."


Alis Nara bersatu, keningnya bekernyit. Menelaah kalimat yang baru saja ia dengar baru saja. Tanpa menunda lagi, tanpa peduli pula kepalanya yang masih pusing, Nara menyingkap selimut dan berlari menyusul Dua lelaki yang sedang berbisik-bisik di luar.


"Mister, apa benar apa yang Kevin katakan?? Anda meniduri saya? "


Dua lelaki yang sedang berbincang itu langsung menoleh bersamaan.

__ADS_1


"Iya, aku melihatnya dengan jelas." Kevin percaya diri dengan pendapatnya.


"Tidak Nara, bukan seperti itu." Arion menampik segala tuduhan itu.


"Tapi anda tidur di atas ranjang Saya!!" Nara mulai merengek takut.


"Iya, tapi tidak meniduri kamu. Hanya tidur dengan kamu." Urat-urat leher Arion seolah turut menjelaskan.


"Jadi benar??" Nara semakin menuntut.


"Ya hanya tidur. Tidak. Maksudku ketiduran."


"Sudah berapa kali saya katakan! jangan lakukan itu pada saya, Mister! anda jahat! jahat!! " Nara berlari menyerang Arion, dadanya terus di pukuli.


"Bukan begitu, tolong jangan salah paham."


Kedua tangan Nara yang mengepal di dadanya langsung di hentikan dengan cengkraman kuat.


Pelaku penyebar hoax hanya terkekeh melihat tingkah kucing dan tikus itu.


"Ini urusan rumah tangga, sebaiknya Saya pergi sekarang.." Kevin setengah berlari, ia memakai sepatunya dengan tergesa dan meninggalkan Arion dan Nara.


Deru napas Nara terdengar berat, emosinya tertahan di sana dengan ekspresi wajah yang menakutkan.


"Bagaimana kalau saya hamil??" Rengekan yang tadi kini berubah menjadi tetesan air mata.


"Ya Tuhan. Kamu tidak mungkin hamil Nara. Saya tidak melakukan apa-apa padamu."


Entah harus bagaimana cara menjelaskan kesalahpahaman ini pada perempuan yang keras kepala.


"Tapi anda meniduri saya kan??" Yang polos terus ngotot.


"Hanya tidur. Tidak meniduri. Paham. Searching dong di internet, proses terjadinya kehamilan itu bagaimana???????"


Arion benar-benar geram dengan tingkah Nara yang benar-benar terlihat bodoh.


Bukan hal yang mudah meniduri anak orang. Arion masih waras.


Malam tadi, Nara mimpi buruk. Keadaannya kacau dan perempuan itu tampak ketakutan.


Arion datang memeluk dan menenangkannya hingga Nara kembali tertidur. Saat akan beranjak pergi, Nara menahan genggaman Arion sehingga ia pun ikut terlelap di atas ranjang yang sama.

__ADS_1


Siapa yang tahu jika Kevin datang tanpa permisi dan melihat adegan itu. Padahal kenyataannya tidak sejorok yang ia pikirkan.


Memikirkan hal ini tidak akan ada habisnya, daripada mendapat serentetan ocehan dari Nara, Arion memilih pergi menuju kamarnya. Mandi, berendam dan siap berangkat ke kantor.


Waktu lima belas menit Arion habiskan untuk bersiap. Sambil merapikan dasinya, ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Sebenarnya dirinya pun sedang meyakinkan bahwa tidak terjadi apapun selain tidur malam tadi.


"Iya kan?? aku tidak melakukan apapun padanya???" Arion bertanya pada bayangannya.


"Aaah, kenapa aku tidak percaya diri. Aku memang tidak melakukannya." Sambungnya lagi.


Cepat-cepat Arion menepis segala pikiran buruk yang meraksuk di otaknya. Ada pekerjaan kantor yang sudah menunggu, dia harus segera pergi.


Di ruang tamu, Arion bertemu lagi dengan Nara. Perempuan itu juga sudah siap dengan pakaian dan tas kantor. Wajahnya yang pucat kini tampak merona karena tertutupi oleh make up natural.


"Sudah mau kerja? kamu kan lagi sakit. Istirahat saja di rumah."


Arion tidak yakin, karena orang sakit biasanya sedikit merepotkan. Ya, seperti kejadian malam tadi. Lalu paginya, ia harus menerima fitnah yang kejam.


"Saya sudah dua hari tidak masuk kerja, jangan sampai ini menjadi hari ketiga. Bisa habis gaji saya di potong." Acuh Nara, ia memakai sepatu dan siap membuka pintu.


"Saya tidak sejahat yang kamu kira." Arion yang juga sudah siap, kini berbalik arah. Melangkah menuju kamar Nara lalu kembali membawa sesuatu. "Kalau kamu memaksakan diri, jangan lupa obatnya di bawa agar tetap rutin di minum sesuai jadwal."


Nara meraih kantong obat dan memasukkannya ke dalam tas.


"Ini bukan bentuk suap karena anda telah meniduri saya kan??"


"Astaga!! tolong jangan katakan itu Lagi. Kita hanya tidur. Titik." Tidak bosan-bosannya Arion menarik napas panjang untuk mengumpulkan rasa sabar.


"Kalau terjadi apa-apa dengan saya, anda harus bertanggung jawab!!"


"Nggak mungkin, Nara. Semua baik-baik saja! yang tidak baik itu adalah tas kerja kamu. Sudah butut masih aja di pake. Kurang gede ya gaji yang saya beri???" Tunjuk Arion pada tas usang yang memang belum sempat di ganti itu.


"Mister...."


Nara sudah ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus omelan. Tapi dengan cepat Arion menyela.


"Kita sudah terlambat, ayo berangkat kerja."


Nara masih dengan posisi diam mematung, dadanya bergerak naik turun, sedangkan Arion meninggalkannya begitu saja. Menyusuri koridor hingga sampai ke depan Lift. Sebelum pintu Lift tertutup, Nara datang menyusul seraya berlari kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2