CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Alea Sakit


__ADS_3

Dengan hati yang sedang berperang, Nara menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Meneguk beberapa gelas air mineral. Seperti keraksukan, ia menyantap dengan lahap. Air matanya mengalir deras tanpa bisa di hentikan. Ia menangis tanpa suara.


Masih lekat di ingatan, bagaimana Arion tampak begitu panik dan terburu-buru pergi setelah mendapatkan kabar dari Syera. Tidak bisa di pungkiri lagi, kenyataannya memang Syera dan Alea menjadi prioritas utama sekarang.


Sudah sepantasnya Nara sadar diri dan terbangun dari semua mimpi. Bahwa tidak ada apapun yang bisa Arion janjikan dalam kehidupannya, baik itu ketenangan atau bahkan kebahagiaan. Sampai saat ini, perasaan Arion yang sebenarnya masih menjadi misteri. Cinta yang di ucapkan oleh bibirnya bisa saja hanya sebatas racun yang ia pakai untuk memanipulasi keadaan. Nara hanya di manfaatkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Terdengar begitu jahat, tapi sejatinya di dunia ini memang tidak ada yang dapat di percaya.


Malam ini ia lalui dengan perasaan gundah. Berbagai kecurigaan terus menghantui batinnya. Menebak-nebak hal yang akan terjadi diantara Arion dan Syera, bagaimana pun juga mereka pernah saling memiliki.


Di tengah kegundahan hatinya, Tiba-tiba Edsel merengek. Nara baru sadar bahwa hari sudah sangat larut, jam tidur Edsel sudah terlewat sejak tadi.


"Astaga. Maafkan Mama sayang." Nara mengangkat tubuh Edsel dari kereta dorong. Bayi itu menangis sesenggukan, Saking gila nya, Nara bahkan tidak menyadari sejak kapan bayinya meraung.


Dengan penuh penyesalan, Nara segera menggendong dan menidurkan Edsel, ia peluk erat-erat hingga bayi itu tertidur pulas. Pada akhirnya, Ia pun turut terbuai oleh rasa kantuk yang tida dapat lagi di lawan. Hari ini benar-benar terasa begitu lelah.


Sementara di tempat lain, Arion tampak tergesa-gesa setelah turun dari mobil. Ia segera ke ruang IGD untuk mengecek keberadaan Syera dan Putrinya.


Beberapa orang yang lalu lalang nyaris tertabrak oleh pria bertubuh jangkung itu. Sesekali ada yang berdesis kesal karena Arion menyerobot jalan mereka. Tidak peduli dengan itu, ia hanya ingin segera memastikan keadaan putrinya.


"Syera... bagaimana??" dengan napas yang masih tersengal ia berhasil menemukan Syera.


"Alea sudah di tangani dokter, sekarang berada di ruang rawat inap. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Alea terserang demam berdarah." Tutur Syera dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


"Ya Tuhan." Arion mengusap wajahnya dengan frustasi. "Aku ingin menemuinya."


"Sejak tadi ia terus menanyakan keberadaan mu." Timpal Syera lalu membawa Arion menuju ruangan tempat dimana Alea di rawat.


Keduanya berjalan beriringan melewati lorong dan beberapa ruangan. Aroma obat-obatan mendominasi udara di sekitar rumah sakit. Semilir angin malam dengan lancang menerobos kedalam pori-pori. Sesekali bulu kuduk meremang saat melewati ruangan-ruangan kosong yang ada di sana.


Syera mengusap-usap kedua pangkal lengannya karena kedinginan. Karena buru-buru ia bahkan tidak sempat memakai baju hangat. Melihat hal tersebut, Arion segera melepaskan Jaketnya, kemudian meletakkan di atas pundak Syera.


"Pakai punya ku."


"Ah, iya." Syera menunduk menyembunyikan senyum. Ia seperti sedang melihat Arion miliknya sebelas tahun yang lalu. Tapi setelah mengingat bahwa Arion sudah memiliki keluarga, seketika senyum Syera lenyap. Sangat sulit melupakan dan begitu sulit juga untuk mendapatkan kembali.

__ADS_1


Syera menghentikan langkah di sebuah ruangan, kemudian meminta Arion untuk masuk lebih dulu.


Gadis manis itu terbaring lemah, dengan wajah pucat serta cekungan mata yang menghitam. Namun semangatnya tidak di ragukan lagi saat Arion datang menghampiri nya.


"Papa datang... " Alea memaksa bangkit dari pembaringan. Arion segera menghentikannya.


"Jangan banyak bergerak. Kamu harus istirahat." Dengan lembut Ia membenahi bantal tidur Alea, menarik selimut di tubuhnya.


"Aku kangen Papa." Tangan Alea merekah meminta pelukan. Arion langsung mengabulkannya.


"Papa juga. Cepat sehat ya sayang. Kasian mama jadi khawatir."


Syera turut bergabung dan mengelus pucuk kepala Alea.


"Kalau sudah ketemu sama Papa, pasti besok langsung sehat." Goda Syera dengan kerlingan mata.


"Sekarang pun aku sudah sehat." Alea menunjukkan barisan giginya yang rapi. Di susul oleh tawa Arion dan Syera yang bersamaan.


Ini adalah moment impian Syera selama bertahun-tahun, hidup bahagia bersama Arion dan Alea. Namun kenyataannya memang tidak akan seindah itu.


Arion tampak mondar mandir di ruang tunggu. Ia beberapa kali meletakkan ponselnya di telinga, lalu berakhir dengan mengetikkan beberapa pesan.


"Istri mu menyuruh mu pulang?" Syera mengagetkan Arion dari arah belakang.


"Sepertinya Nara sudah tidur, dia tidak mengangkat panggilan ku. Pesan ku juga tidak di buka." Arion kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Dia pasti sedang marah. Karena kamu kemari kan?" Sebagai sesama wanita, jelas Syera paham dengan situasi canggung seperti ini.


"Tidak juga. Mungkin dia kecapekan mengurus Edsel."


"Marah nya wanita itu kadang-kadang ditunjukkan dengan diam. Sampai usia sekarang bahkan kamu masih belum memahami perasaan Wanita? Dasar payah." Syera menyikut tubuh Arion.


"Benarkah? Aku masih terlihat bodoh di matamu ya?" Arion menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Syera mengangguk dengan senyum.


Di sela-sela obrolan singkat mereka, terdengar suara Alea yang memanggil dari arah dalam. Keduanya segera mengecek, khawatir jika terjadi sesuatu.


"Kenapa sayang... " Syera merengkuh, mengusap wajah Alea. Suhu tubuhnya perlahan normal. Obat yang di berika Dokter sudah mulai ada reaksi.


"Papa... "


"Papa di sini." Arion mendekat dari arah berlawanan.


"Jangan pulang. Papa tidur di sini temani Alea."


Seketika Arion sulit memberikan jawaban yang jelas sedang di tunggu kepastiannya.


"Hemmm... " Ari0n mendehem untuk mengulur waktu. Berharap bisa memberikan jawaban yang tidak akan menyakiti hati putrinya.


"Kali ini saja." Syera ikut mendesak. Arion semakin terjebak.


"Oke. Asal Alea segera sembuh." akhirnya ia kalah telak. Karena memang tidak ada pilihan lain, toh semua hanya demi kesembuhan Alea.


Setelah ini ia akan kembali mengabari Nara, bahwa memang tidak bisa pulang sekarang. Semoga semuanya akan mudah di mengerti oleh Nara.


"Makasih Pa." Alea menarik lengan Arion ke atas perutnya dan di pertemukan dengan Jemari tangan Syera. "Alea sangat berharap Papa dan Mama bisa bersama. Kita menjadi keluarga yang lengkap." Tatapan polos itu menindai wajah Papa dan Mama nya secara bergantian.


Sementara orangtuanya hanya bisa memberikan senyum dengan sejuta makna yang di sembunyikan. Andai Alea tahu, bahwa permintaannya kali ini benar-benar sulit.


"Alea sekarang tidur lagi ya... " Syera mencoba mengalihkan pembahasan.


"Mama pasti sependapat dengan Alea kan?" seperti nya anak pintar itu sulit di kelabuhi. "Papa tau tidak, Mama masih menyimpan foto kalian berdua saat masih Sekolah."


"Aleaa... " Syera berusaha menghentikan celotehan anaknya.


"Oya??" Arion kini menatap lekat pada Syera menuntut pengakuan. Dia masih setia dan menunggu???

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2