CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Nikah Kontrak


__ADS_3

"Apa ini?" Nara melirik tumpukan berkas di atas meja yang sedang di hadapi Arion.


Nara baru selesai menidurkan Edsel setelah rewel seharian. Di depan televisi Arion sudah menunggunya sejak tadi.


Saat menginap di rumah Ruth malam kemarin, Edsel sempat demam. Mungkin karena tidak betah dengan suasana baru. Untung saja tidak berkelanjutan, karena Ruth cepat mengambil tindakan. Mengompres dan memberikan sirup penurun panas untuk bayi.


Nara menjadi merasa bersalah, jika dirinya tidak sakit. Mana mungkin Edsel di biarkan tidur di tempat orang lain.


"Data-data yang harus di isi untuk melengkapi surat-surat pengajuan pernikahan."


Nara meraih beberapa kertas, membacanya dengan seksama.


"Kita kan hanya Nikah kontrak? kenapa harus pakai data asli kependudukan?"


Pernikahan kontrak memang tidak memerlukan berkas-berkas asli. Biasanya mereka menggunakan data-data palsu misal seperti wali nikah palsu, orangtua palsu, atau saksi palsu.


"Urusan Edsel sudah terlalu rumit, saya tidak mau jika ujung-ujungnya data-data palsu akan kembali di permasalahkan."


Arion cukup siaga dalam menghadapi hal-hal yang kemungkinan terjadi di depan. Kepalsuan dokumen bisa jadi masalah besar dalam urusan hak asuh Edsel nantinya.


"Itu berarti pernikahan kita resmi Mister, dan akan tertulis di negara???"


Sebenarnya tidak rugi, di nikahi pria tampan satu ini walaupun kadang menyebalkan dan keras kepala. Hanya saja, Ini pernikahan yang bukan ia dambakan. Jika hanya mencintai tanpa di cintai bukan jalan mulus yang harus di tempuh.


"Tentu saja, Besok kita temui Ibumu di tahanan. Saya akan meminta restu padanya." Arion menyodorkan balpoin kepada Nara agar perempuan itu segera melengkapi berkasnya.


"Apa anda juga berfikir akan menggelar acara pernikahan??"


Tindak tanduk Arion semakin gila dan tidak bisa di pahami oleh Nara. Segitu besarnya pengorbanan untuk Edsel. Bahkan dia rela menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak di cintainya?


"Ya, walau dengan pesta kecil. Saya akan mengundang beberapa relasi kerja dari anak perusahaan High Class Corp."


Dengan santai Arion mengutarakan semua rencana yang sepertinya sudah ia susun sendiri dengan rapi.


"Ya Tuhan. Ini pasti sudah gila. Anda lebih gila dari saya." Nara mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. Ia bahkan lupa kapan terakhir pergi ke salon untuk memanjakan diri.


Rambutnya sudah kasar dengan ujung-ujung yang bercabang. Warna rambut yang sudah pudar dan kusam yang meraja lela. Sejak mengurus Edsel ia hampir tidak punya waktu untuk ke salon. Bahkan ia sudah tidak pernah bertemu dengan teman-temannya lagi.


"Jangan terlalu serius. Ini hanya pernikahan kontrak." Arion bersandar di punggung sofa, menyilangkan kaki sembari menatap pada Nara.

__ADS_1


"Terus kapan kontraknya berakhir?? Satu tahun? dua tahun? lalu kita akan kembali mengurus surat cerai? sidang di pengadilan? Tercoret sudah nama baik saya, dengan lebel janda yang saya dapatkan nanti."


Isi kepala Nara nyaris meledak memikirkan masa depannya yang suram. Ya, karena di takdirkan untuk bertemu dan terjebak dalam ke egoisan seorang Arion Abhivandya.


"Kalau gitu, ya tidak perlu cerai. Kontrak pernikahannya di perpanjang lagi." Kedua alis Arion terangkat seolah sedang menguji kesabaran Nara.


"Saya tidak mengerti jalan pikiran anda, Mister. Bagaimana anda dengan rela menikahi perempuan yang tidak anda cintai hanya karena seorang bayi yang bukan siapa-siapa."


Omong kosong dengan alasan embel-embel menebus masalalu. Sekarang tidak ada hubungannya, Urusan dosa seharusnya Arion tanggung sendiri. Silahkan menyesal seumur hidup karena menelantarkan anak kandungnya. Tapi tidak dengan Nara yang jadi korban.


"Lah terus, memangnya siapa pria yang kamu sukai?? Saya kan?? beruntung dong kamu saya cepat nikahi." Arion beranjak dari duduknya, pergi kedapur dan mulai meracik kopi. Suasana perdebatan dengan Nara akan lebih seru jika ada kopi yang menemani.


"Kapan saya bilang suka sama anda?"


"Jangan pura-pura, saya tau apa yang pernah kamu obrolkan dengan Dokter Intan." Arion menahan senyumnya disana.


Sedangkan Nara terperangah dengan denyut jantungnya yang seketika berhenti.


"Mati aku!!!"


...----------------...


Arion mengirimkan perintah kepada Kevin melalui panggilan telepon. Sementara dirinya cukup menikmati malam yang bertabur bintang di balkon apartemen.


Dengan langkah yang setengah berjinjit, Nara menghampiri Arion di balkon.


"Anda jangan besar kepala karena dugaan yang tidak benar itu."


Niatnya, Nara ingin mengklarifikasi tentang tuduhan bahwa ia menyukai Arion. Memang benar. Tapi tidak mungkin Nara mengakui itu secara blak-blakan. Mau di letakkan di mana rasa malunya.


Arion melirik perempuan yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Wajah Nara lurus kedepan, sedang berusaha menghindari tatapan Arion.


"Jadi itu tidak benar? Kamu tidak menyukai saya??" Arion kemudian berdiri, dan menyandarkan tubuhnya di terali besi tepi balkon agar sejajar dengan Nara.


Nara bergeser sedikit, menjaga jarak agar aroma parfumnya tidak menyengat indra penciuman Arion.


"Tidak! anda saja yang terlalu percaya diri. Saat bersama dengan Dokter Intan saya membicarkan anda dengan Syera. Bukan membahas perasaan saya pada anda."


Jangan coba-coba bertingkah bodoh di hadapan si perfect, karena dia sangat pandai menjebak.

__ADS_1


"Sayang sekali. Apa saya kurang tampan ya? Padahal tidak ada seorang pun yang tidak jatuh cinta pada Arion," Katanya berlagak sombong.


Tidak di sangka, selain keras kepala dan egois. Arion nyatanya memiliki tingkat ke-narsis-an level dewa.


"Kekurangan anda itu banyak, Mister. Tidak toleran, egois, sombong, idealis sok perfect dan.... "


Tanpa sadar Nara sudah kehilangan rem saat mengutarakan semua sikap yang ia benci dari atasannya itu. Padahal selama ini ia berusaha memendam dalam-dalam.


"....dan apa???" Arion menghunuskan tatapan tajam pada Nara. Gadis itu perlahan mundur.


"Menyebalkan."


"Lalu apa lagi... "


Arion terus mengikis jarak hingga Nara tersudut ke dinding.


"Anda juga Mesum."


Dadanya berdesir hebat, saat Arion mengurung tubuhnya dengan kedua tangan di sisi dan kanan. Nara semakin tak berkutik. Mencoba mengatur napas dan meremas jemarinya. Wajahnya semakin Kikuk saat Arion menghujani tatapan dengan aura dingin.


"Kamu mau tahu seberapa besar level kemesuman saya pada seorang perempuan??" Arion memiringkan kepalanya, Nara tercekat dengan kerongkongan yang tiba-tiba kering.


Ia melirik jakun seksi milik Arion yang bergerak naik turun, ia juga merasakan hangat saat hembusan napasnya menyapa tengkuk. Masih dengan aroma yang sama, Mint segar menyeruak dari belah bibir Arion.


"Eh, Mister."


Telapak tangan Nara terangkat untuk menahan dada Arion yang semakin tak berjarak dengannya. Kuduknya seketika meremang, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.


BRAAKK!!


Nara mendorong tubuh Arion dengan kuat hingga punggungnya menabrak kursi. Arion mengaduh karena menahan sakit.


"Nara!!! "


Hatcciih!!


Hatcciihh!!!


Arion tidak bisa menahan Nara yang memilih kabur ke kamar. Tidak juga bisa mengumpat, karena terganggu oleh bersinnya yang berulang-ulang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2