CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Berdebat Lagi


__ADS_3

"Berhenti Arion. Jangan gila!!" Bentak Nara saat Arion hendak menanggalkan baju yang dikenakan olehnya.


Nara berhasil menghentikan aksi brutal Arion dengan meninju keras ulu hatinya, hingga membuat pria itu mengaduh dan mundur beberapa langkah.


"Ini Kantor ku, aku bebas melakukan apa yang aku mau." Arion menyeka sudut bibirnya yang basah oleh saliva.


"Kamu sudah kehilangan akal. Siapa saja bisa melihat tindakan tak seronoh tadi. Dasar tidak sopan." Nara cepat-cepat merapikan penampilannya yang sudah berantakan.


"Kalau kamu mau, aku bisa membubarkan seluruh karyawan sekarang juga. Sehingga kita berdua bisa bermain bebas di sini."


Plak!!


Nara memukul pipi kiri Arion, tidak terlalu keras tapi cukup untuk memberikan sebuah peringatan.


"Kamu semakin terlihat Breng*sek akhir-akhir ini."


Kemarahan Nara yang semalam belum berhasil reda, Arion justru kembali membuat emosi nya meledak-ledak.


"Kamu yang membuat ku gerah. Ini hukuman karena kamu sok akrab dengan laki-laki lain." Arion meregangkan dasi, agar ia bebas bernapas.


"Itu Kevin! Tolong jangan membuat kekacauan yang tidak penting ini Arion. Kamu bahkan tidak pantas mencemburuinya."


Lagipula, pikiran Nara masih sangat normal. Mustahil baginya untuk menjalin hubungan gelap dengan tangan kanan suaminya itu. Mereka memang sempat dekat, tapi itu hanya sebatas relasi kerja, tidak ada perasaan lebih di hati Nara.


Akhir-akhir ini Arion memang kerap kali bersikap menyebalkan, menuduh sesuatu yang jelas tidak benar. Terkadang hal ini pula yang membuat perasaan Nara semakin jenuh, di tambah lagi kedekatan Arion dan Syera yang selalu memicu rasa cemburu.


"Seharusnya justru aku yang marah padamu karena hubungan mu dengan Syera," Ungkap Nara jujur.


"Syera lagi. Syera lagi. Hubungan kita sudah lama selesai, Nara. Berulang kali ku katakan semua hanya karena Alea." Arion tak mau kalah berdebat.


"Hubungan mu memang sudah selesai, tapi tidak dengan perasaan mu."


Dalam hal ini, Lagi-lagi tidak ada bantahan dari Arion. Nara pun langsung mendengus kesal mengasihani dirinya sendiri.


Penampilannya sudah kembali rapi, Nara enggan meneruskan perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya ini. Ia meninggalkan ruang kerja Arion.


"Aku pulang."

__ADS_1


"Kita belum selesai bicara," Cegah Arion.


"Pulang lah tepat waktu nanti, kita bicarakan semua dirumah. Ada hal lain yang ingin ku sampaikan juga pada mu," sahut Nara tanpa menoleh.


Terlalu banyak hal-hal yang harus di pikirkan oleh Nara. Namun berbicara dengan Arion selalu berakhir dengan sebuah perdebatan yang tidak menemukan solusi. Masing-masing memiliki ego yang besar.


"Baiklah. Aku minta maaf atas kekacauan hari ini." Arion melemah.


Tak cukup dengan itu. Batin Nara berteriak. Namun ia memilih acuh dan melanjutkan langkahnya.


Belum sempat ia membuka gagang pintu, seseorang lebih dulu mendorong pintu tersebut dari luar.


"Oppss Sory. Ada tamu spesial rupanya." Yeri bertingkah centil di hadapan Nara dan Arion. "Apa aku mengganggu acara meeting kalian berdua?" Ia lanjut berasa basi.


"Tidak. Aku sudah selesai," Ucap Nara sedikit ketus.


"Oh, tapi tunggu dulu. Karena kebetulan kamu lagi di sini. Aku ingin menyampaikan pesan bahwa Syera akan mengadakan party dalam rangka acara kepindahannya. Kamu dan Arion harus datang. Bisa?"


Seketika Nara menatap ke arah Arion. "Arion sudah pasti datang." Kalimatnya sedikit menyindir. "Mereka bahkan sudah merencanakan semuanya di belakang ku."


Arion terkejut mendengar pernyataan Nara. Benar adanya, semalam saat melakukan panggilan Video, Syera memang sudah membahas perihal party kecil ini dengan nya.


...----------------...


Sore itu Arion pulang kantor tepat waktu. Sesuai dengan apa yang Nara pesan kan siang tadi di tempat kerja, bahwa ada beberapa hal yang ingin di bicarakan.


Begitu juga dengan Arion yang akan mengklarifikasi tentang panggilan Video bersama Syera.


"Aku minta maaf Tentang panggilan video tadi malam itu. Tidak bermaksud untuk bermain-main di belakang mu." Arion lebih dulu membuka percakapan. Ia bahkan baru saja sampai di rumah, belum sempat berganti baju atau sekedar menanggalkan dasi kerja nya.


"Mandi saja dulu, jangan terburu-buru membahas ini." Nara meraih tas kerja suaminya lalu meletakkan di atas nakas.


"Tapi kehadiran Syera selalu membuat kita salah faham lalu bertengkar. Aku tidak suka melihat muka cemberut mu." Arion duduk tepi ranjang seraya melonggarkan kerah baju nya.


"Ada hal lebih penting yang ingin ku bahas." Nara kembali mengalihkan. Bosan jika terus membahas perempuan itu dalam kehidupannya.


"Oke.oke." Arion bisa membaca raut wajah Nara yang kurang suka saat masa lalunya kembali di kait-kaitkan.

__ADS_1


"Kakek dan Nenek Edsel sudah bertemu dengan Kevin, dan mereka. meminta cucunya kembali."


Jelas saja Arion langsung terkejut mendengar berita tak terduga tersebut.


"Kenapa Kevin tidak mengatakan langsung pada ku?"


"Itu tidak penting sekarang, yang jelas bagaimana kelangsungan hidup Edsel setelah ini. Ku pikir mengembalikannya pada Orangtua Ceta bukan hal yang buruk."


Edsel memang sudah seperti anak kandung sendiri, dan Nara begitu menyayanginya. Apalagi sekarang bayi lucu itu sudah pintar berbicara walau hanya satu atau dua kata. Nara berhasil merawatnya dengan baik.


"Tidak semudah itu memberikan Edsel pada mereka. Edsel sudah menjadi anak kita. Tidak ada yang bisa mengambilnya." Tegas Arion yang juga sangat keberatan jika Edsel di kembalikan kepada keluarga kandungnya.


"Tapi kita bisa di tuntut jika Keluarga mereka tidak terima." Nara mengkhawatirkan banyak hal.


"Aku akan menawarkan sejumlah uang agar mereka mau menyetujui pengadopsian Edsel seumur hidup."


Nara mendelik. "Apa semuanya harus selalu di selesaikan dengan uang? kamu bahkan tidak peduli dengan perasaan keluarganya?"


"Lalu apa? yang penting Edsel tidak kekurangan kasih sayang, terlebih hidupnya akan terjamin seumur hidup bersama kita. Selain itu pihak keluarganya masih bisa bertemu Edsel kapanpun mereka mau."


Mungkin Arion memang memiliki segalanya dalam segi materi, sehingga menganggap semua perkara akan selesai dengan mudah.


"Kasih sayang?" Nara tertawa meledek. "Kamu bahkan tidak lagi menggendongnya dalam waktu terakhir ini."


"Kamu tahu aku sibuk." Arion melepas kemeja nya dan memperlihatkan punggung jenjang yang mulus.


"Ya benar, kamu memang sangat sibuk. Itu mengapa lebih baik Edsel kita kembalikan pada Orangtua Ceta. Lagipula, Alea butuh perhatian lebih darimu tanpa harus berbagi dengan orang lain." Permasalahan yang sama akan terus di bahas berulang oleh Nara.


"Sudah ku bilang stop! berhenti mencemburui Syera ataupun keberadaan Alea. Aku ingin kalian berdamai dengan keadaan ini. Pekerjaan kantor sudah membuat ku pusing tolong jangan menambah dengan hal lain."


Egois. Nara mengecam dalam hatinya.


"Kembalikan Edsel pada keluarga nya dan kembalikan aku pada Ibuku. Setelah itu kamu tidak akan lagi di buat frustasi dengan banyak masalah. Karena Dua masalah mu sudah pergi. Selesai."


Manik hitam Arion melebar, memeta wajah Nara yang telah lancang dalam berucap.


"Tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini. Baik itu Edsel ataupun Kamu, Nara!!"

__ADS_1


Aura di sekitar Nara berubah menjadi dingin dan terasa sedikit mengancam. Pria dengan dada telanjang itu tampak mengencangkan otot-otot tangannya seolah siap untuk mengha*bisi Nara di atas tempat tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2