CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Kejutan Makan Malam


__ADS_3

Tidak ada yang istimewa, hanya jamuan kecil untuk orang-orang terdekat sebagai bentuk syukur karena Alea telah sembuh dan kembali kerumah. Selain itu, perayaan ini jug merupakan pengharapan agar Syera dan Putrinya bisa menempati rumah lama mereka dengan selamat dan penuh kebahagiaan.


Beberapa menu istimewa sudah di sajikan, ruangan yang indah di tata sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang sederhana namun sangat berkesan.


Gaun violet sebatas lutut itu terlihat begitu lucu saat di kenakan oleh Alea. Rambut curly dengan riasan tipis pada wajah oriental itu adalah salah satu karya Sang Mama yang sangat pandai mendandani agar gadis nya tampak lebih cantik dari biasa.


"Kenapa Papa belum datang?" Alea tampak gelisah, sejak tadi ia hilir mudik di depan pintu menunggu kehadiran Arion.


"Sebentar lagi pasti datang." Ruth menenangkan Alea dengan mengusap pelan pundak sang gadis.


Kebetulan Ruth dan Benjamin datang lebih awal. Sudah lama sejak perpisahan kala itu, banyak hal yang ingin Ruth obrolan bersama Syera dan Cucunya. Termasuk meminta maaf karena saat itu belum sempat terucap untuk Syera.


"Apa bayi Edsel dan Tante Nara datang juga?" tanya Alea.


Pertemuan yang singkat di rumah sakit membuat Alea sangat ingin bertemu lagi dengan Edsel dan Nara. Alea sangat suka melihat anak bayi, bahkan Syera pernah di tuntut untuk mencarikan adik untuk dirinya. Untung saja Syera pandai berdalih agar putri kecilnya mengerti bahwa memiliki adik tidak semudah yang di bayangkan.


"Tentu saja. Kalian harus sering bertemu dan bermain bersama." Ruth tersenyum.


"Oma lebih sayang Edsel atau Alea?" Pertanyaan mengejutkan itu membuat Ruth menahan napas sejenak.


"Tentu saja Oma lebih sayang Alea, Alea cucu Oma paling cantik." Tiba-tiba Syera menimpali dan bergabung dengan obrolan Ruth dan Alea di sana.


Ruth terkejut mendengar jawaban Syera yang terdengar kurang tepat untuk di ungkapkan pada anak seusia Alea.


Sementara Alea melempar tatapan penuh tanya kepada Ruth dan Syera bergantian.


"Oma sayang kedua nya. Sayang Alea, Sayang juga pada Adik Edsel. Kalian berdua cucu kesayangan Oma dan Opa." Ruth mencoba meluruskan hal-hal yang mungkin akan menimbulkan rasa cemburu pada Alea.


Tidak sepantasnya Syera berkata demikian. Walau Edsel bukan cucu kandung Ruth, tapi wanita paruh baya itu tidak membeda-beda kan bentuk kasih sayang pada keduanya.


"Bukan hanya Arion yang berubah, Tante juga." Bisik Syera penuh dengan intonasi kesal, ia berbalik dan berlalu begitu saja.


"Alea tunggu di sini ya, Oma mau berbicara dengan Mama."


"Baik, Oma."


Ruth membiarkan Alea menunggu Papanya, kemudian ia mencoba mengejar Syera yang berjalan menuju ke ruang tengah.

__ADS_1


"Tolong bersikap dewasa Syera. Alea masih anak-anak, belum sepenuhnya mengerti."


Langkah Syera berhenti, ia menoleh Ruth yang tengah menatap kearahnya.


"Ada yang salah? Aku hanya menjelaskan bahwa posisi Alea yang sebenarnya di keluarga Abhivandya."


Terdengar begitu egois, tapi kenyataannya Syera sudah kehilangan banyak hal selama ini. Ia sedang menuntut hak nya kembali.


"Bukan begitu caranya. Saya tidak ingin hal seperti tadi akan membentuk karakter yang buruk bagi perkembangan Alea."


"Bagaimana Tante peduli tentang perkembangan Alea, bahkan kalian menelantarkannya sejak dalam kandungan."


Merasa tertohok, Ruth berhasil di tertampar oleh fakta. Tidak bisa mengelak lagi, Perkataan Syera memang benar adanya.


Di tengah obrolan Syera dan Ruth yang sedikit tegang, Kedatangan Arion berhasil menyela percakapan serius dua orang yang sedang berdiri berhadapan disana.


"Bolehkah aku bergabung. Kalian berdua tampak bersemangat dalam membicarakan sesuatu. Apa itu?" Arion yang tidak tahu apa-apa langsung menebar senyum kecil.


"Bukan apa-apa, hanya membicarakan Alea yang tampak cantik hari ini." Ruth menjadi yang terdepan untuk menutupinya. Ketiganya berbarengan melempar pandang kearah gadis kecil yang sedang menyapa Nara dan Edsel di depan pintu.


"Maaf kalau kami sedikit terlambat." Sesal Arion pada Syera.


Kekuarga Besar itu berkumpul di satu meja. Alea duduk diantara Ruth dan Benjamin, Ia sedang ingin bersama Oma dan Opa nya. Sementara Arion bersanding dengan Nara, serta Edsel yang duduk di diatas Booster seat tepat di sebelah Nara. Di Seberang sana, Ada Tuan rumah yaitu Syera yang duduk sejajar dengan Yeri. Di sebelah Yeri, ada pria tampan yang juga turut di undang. Ya, Kevin ikut hadir malam ini.


Ada tiga orang Chef yang bertanggung jawab untuk membuat menu utama serta berbagai desert. Walau pertemuan sederhana namun tetap terasa ekslusif.


Selesai makan bersama di lanjutkan dengan obrolan ringan, banyak hal yang dibicarakan agar bisa saling bertukar wawasan baik tentang keuangan, pekerjaan bahkan asmara.


"Dalam kesempatan ini, sebenarnya Aku ingin memberitahu sesuatu." Yeri tampak malu-malu saat akan memulai percakapan itu.


"Tentang apa? Kamu bahkan tidak merencanakan ini Yeri." Syera di buat sedikit kaget oleh penuturan Yeri.


"Aku sengaja ingin memberikan kejutan untuk kalian." Yeri tersenyum sembari melempar pandang pada setiap orang yang ada di sekitarnya.


"Katakan. Jangan sampai membuat aku menunggu. Membosankan." Celetuk Arion yang baru saja meneguk jus jeruk di hadapannya.


"Kamu yang selalu menyebalkan Kak Arion!" Yeri mengomel.

__ADS_1


Semua orang hanya menarik napas melihat kucing dan tikus itu berdebat. Hal ini sudah biasa terjadi sejak jaman dahulu kala. Arion dan Yeri sering berbeda pendapat dalam hal apapun, perbedaan karakter dan kebiasaan adalah hal yang selalu memicu perdebatan diantara mereka.


"Aku dan Yeri Berkencan." Kevin yang sejak tadi tidak terdengar suaranya akhirnya berhasil menarik perhatian.


Semua mata tertuju padanya. "Sungguh??" Mereka terdengar sanksi.


Kevin dan Yeri saling memandang lalu senyum simpul itu cukup mengartikan perasaan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara.


"Ku harap kamu tidak menyesal memilih dia." Arion tak henti menggoda Sepupu nya itu.


"Kamu harus mendukungnya, Calon adik ipar mu adalah sekretaris mu." Nara turut menimpali.


"Ya. Ya.. bisa.. bisa.. " Arion mengangguk kecil secara berulang.


Nara hanya bisa memberikan dukungan atas hubungan Kevin dan Yeri. Walau batinnya masih bertanya bagaimana Kevin jatuh cinta pada perempuan berbahaya itu.


Manusia itu seperti lautan, dalamnya tidak mudah di tebak. Tidak ada yang tahu kebaikan dan kelebihan apa yang di miliki Yeri hingga membuat Sang Sekretaris tampan itu jatuh Cinta.


Sebenarnya Yeri itu cantik, penampilannya selalu menonjolkan wanita mahal. Hanya saja seringkali ia kehilangan arah dalam bertindak. Semoga setelah menjalin hubungan dengan Kevin, pria baik itu bisa menularkan sisi positif untuk Yeri.


"Ini kabar baik. Kamu harus mentraktir kita semua Yeri." Ben turut menggoda keponakannya.


"Siap, Om!" Yeri menegapkan badan sambil hormat.


Semua tertawa lepas menyaksikan lelucon Yeri.


Benarkan? Nara bahkan baru pertama kali melihat Yeri menunjukkan sisi lucu nya.


"Oya, kamu bilang kemaren Nara berobat kerumah sakit. Memangnya sakit apa, Kamu belum cerita Loh." Ruth menodong Arion.


"Oh itu... " Kalimat Arion terpotong.


Nara diam-diam mencubit pinggang Arion untuk memberi kode agar tidak mengatakan nya sekarang.


"Hanya pusing biasa." Nara melanjutkan.


"Nara hamil." Arion seketika menggemparkan suasana jamuan makan malam. Hal itu berhasil membuat Nara tak berkutik.

__ADS_1


Sementara di sana, wanita dengan balutan gaun berwarna hitam tampak ekspresif. Manik hitam itu melebar, senyum tipisnya seketika lenyap. Ia mere*mas jemarinya yang sudah berkeringat. Degup jantungnya seperti bo*m yang siap meledak*.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2