CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Masih Ada Cinta


__ADS_3

Sebuah pertemuan tak terduga telah membuka kenangan yang lama tersimpan. Perasaan samar itu seperti sedang mencari kepastian apakah hati akan kembali berlabuh atau tetap terombang ambing.


Bunga yang sejak lama kekeringan akan kesulitan untuk kembali tumbuh dan mekar walau sudah di siram air.


Jantung Arion tak lagi berdetak hebat, tubuhnya tak lagi meremang, walau dalam dekapannya kini ada seorang perempuan yang dulu pernah menjadi tokoh utama dalam cerita indah masa SMA. Kendati demikian, ia tetap menyuguhkan pelukan ternyaman untuk seseorang yang kini ia anggap cukup menjadi seorang sahabat.


Arion menarik diri setelah memberikan sambutan kecil kepada Syera.


"Parfum yang kamu pakai masih sama." Tatapan Syera enggan beralih dari pria jangkung di hadapannya.


"Aaaa ... kamu masih ingat rupanya." Arion kikuk, kemudian ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Alea. "Anak papa sudah kelas berapa?"


"Sudah kelas empat. Aku baru saja memenangkan olimpiade sains. Nanti akan ku tunjukan piagamnya pada Papa." Alea begitu antusias berbagi cerita bahagia kepada Arion.


"Keren!" Arion mengangkat kedua jempol sebagai bentuk apresiasi atas prestasi putrinya.


Ayah dan anak itu baru saja bertemu. Namun ikatan batin keduanya begitu kuat. Keakraban langsung terjalin tanpa rasa canggung. Arion yang bersikap hangat serta Si cantik Alea yang ceria sehingga keduanya tampak sangat interaktif.


"Aku sudah memesan tempat di sebuah cafe untuk kalian bertiga. Pergilah setelah pulang dari kantor." Yeri dengan mudah mengatur segala nya demi kelancaran pertemuan Syera dan Arion.


"Tidak bisa, Yeri. Aku bahkan belum menceritakan apapun pada Nara." Arion merespon topik yang lebih serius kali ini.


"Telpon saja dia. Katakan padanya bahwa kak Arion pulang telat. Selesai kan?? " Entengnya.


Sekeras apapun Yeri akan tetap mencuri waktu untuk Arion dan Syera.


"Tidak segampang itu." Arion khawatir akan ada salah faham diantara dirinya dan Nara. "Aku akan kembali mengatur jadwal di waktu yang tepat."


Mimik wajah Syera tampak murung. Tidak bisa di pungkiri bahwa ia menahan kecewa setelah mendengar penolakan halus dari Arion. Dia bukan Arion yang di kenal dulu. Syera tidak lagi menjadi prioritasnya. Hanya saja hati kecil Syera menolak untuk sadar.


"Bagaimana Alea? Tidak masalah kan?" Syera minta pendapat pada gadis berusia sepuluh tahun di sebelahnya. Lebih tepatnya berharap pembelaan agar Putrinya itu bisa menghoyahkan keputusan Arion.


"Papa tidak suka ya di repotkan Alea?" Tutur kata Alea tersirat sebuah permohonan. Anak pintar itu berhasil menyelesaikan tugas. Sehingga membuat Arion semakin bimbang.


Arion menggeleng berulang. Tidak biasanya ia lemah seperti ini.


"Jangan di paksakan kalau kamu tidak ada waktu," Ujar Syera lagi.


Ucapan Syera jelas tidak sejalan dengan apa yang ia rasakan dalam batinnya.


"Kak Arion. Apa kamu masih kurang cukup untuk berbuat jahat pada Syera dan anak kalian? Bahkan dalam keadaan seperti ini saja kamu masih tidak mau memikirkan perasaan mereka." Yeri langsung pasang badan untuk membela Syera secara terang-terangan.


Berulang kali Arion membuang napas berat. "Yeri, tolong jangan menambah suasana menjadi semakin rumit."

__ADS_1


"Kakak sendiri yang membuat semuanya rumit. Kalau perlu, aku bisa mengatakan semua nya kepada Nara. Agar kalian bisa mendapatkan waktu bersama lebih banyak. Kapan lagi?"


"Diam!" Arion membentak. Ia seperti sedang intimidasi sebagai pelaku utama. Arion tidak suka itu. Tidak ada satu pun yang boleh mengatur hidupnya.


Melihat perdebatan disana. Kevin yang sejak tadi hanya menjadi pendengar. Ia mulai menjadi penengah.


"Mister, aku bisa bantu menjelaskan semuanya pada Nara. Setelah pulang kerja, akan ku temui ia di apartemen."


Mendengar orang kepercayaannya memberikan usul demikian, membuat Arion sedikit tenang dan pelan-pelan mempertimbangkan dalam benaknya.


"Kau yakin ini baik-baik saja?"


"Anda pasti mengenal seberapa baiknya Nara. Lagipula, pertemuan kalian memang memiliki alasan yang jelas. Demi Alea, putri anda yang selalu dinantikan kabarnya setiap waktu. Benar?" Kevin mentap Arion dengan tenang. "Dan Nara, akan mengerti nanti."


"Aku belum yakin, tapi tidak ada pilihan lain."


Dalam hati kecilnya yang tidak ada satupun orang tahu, Arion telah mengikrarkan janji bahwa ia ingin menebus segala kesalahannya di masalalu. Jalan hidup seseorang memang tidak ada yang bisa menebak, hingga Arion harus di hadapan kan dengan sebuah keadaan yang pelik.


Salahkah Arion yang tidak mampu menjaga hati, karena jatuh cinta pada perempuan lain? Atau justru kedatangan Syera seharusnya tidak terjadi sekarang? Tapi, bukan kah itu terlalu jahat?


...----------------...


Akhirnya Arion mengalah. Setelah pulang dari kantor ia memutuskan untuk pergi bersama Syera dan Alea.


Arion dan Syera seketika Dejavu ketika berjalan-jalan menyusuri tepian taman yang di kelilingi bunga-bunga dan lampu yang tidak terlampau terang. Ada gazebo yang kondisi tidak berubah dari dulu. Biasanya mereka akan duduk semalaman menikmati keindahan bintang di temani cemilan dan soft drink paforit di sana.


Sejak tadi, tidak banyak topik yang di bicarakan oleh Arion dan Syera. Selama makan-makan dan perjalanan menyusuri kota, Arion lebih sering berbincang bersama Putrinya. Banyak hal yang ingin Arion ketahui untuk melupakan rasa rindu serta menebus sedikit demi sedikit kesalahannya di masa lalu pada Anak tak berdosa itu.


"Semuanya masih sama. Taman ini, jalanan kota, tak berbeda setelah aku tinggalkan lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Mungkin hanya satu yang sudah berubah... " Syera menggantungkan kalimatnya.


Keduanya Menepi untuk duduk di bangku panjang. Sementara Alea memilih untuk mencoba berbagai permainan yang tersedia di taman.


"Lalu apa menurut mu yang berubah?" Arion melirik wanita ramping yang duduk di sebelahnya.


Syera enggan mengalihkan pandangan dari Arion, ketika pria itu memeta wajahnya. Tatapan mereka bertemu.


"Kamu dan perasaan mu." Kalimatnya bermakna begitu dalam.


"Semua akan berubah pada waktunya." Arion mengalihkan pandangannya ke ujung sana. Gadis kecil itu tampak asyik bermain dengan seorang teman yang baru saja ia temui.


"Ternyata memang semudah itu. Awalnya aku pikir tidak akan secepat ini." Syera tercekat. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa begitu kering.


Kesetiaan Syera tidak mungkin diragukan lagi. Ia bahkan masih rela melajang dan membesarkan seorang putri dengan status single parent. Ada banyak alasan yang membuatnya terlambat untuk mempertemukan Alea dan Ayah biologisnya. Tapi dengan waktu yang ia punya, Syera berharap masih ada secercah harapan yang selama ini ia impikan. Kembali bersama Arion, misalnya.

__ADS_1


Namun, harapannya kembali kosong. Saat ia tahu bahwa Arion telah memiliki pendamping. Bodohnya lagi, Syera seolah tutup mata atas fakta yang ada. Keegoisan dan ambisi nya memaksa untuk tetap melanjutkan perjuangan atas apa yang pernah mereka janjikan kala itu. Ia memiliki Alea yang bisa menjadi tumpuan harapan untuk mengubah takdir.


"Dari awal bertemu, kamu bahkan tidak pernah menanyakan keadaan ku. Sudah sepantasnya kamu tahu, seberapa sulit aku harus menanggung semuanya sendiri saat itu. Disaat ada kesempatan bertemu seperti sekarang, justru kecewa yang aku dapatkan." Syera mendengus kesal.


"Lalu apa yang kamu harapkan dari pertemuan kita sekarang?"


Entah pertanyaan bodoh macam apa yang seketika keluar di bibir Arion. Hal itu semakin membuat Syera geram.


"Kesalahan terbesarku adalah membawa Alea menemui lelaki seperti mu. Bagus jika ku katakan saja bahwa Papa nya sudah mati."


"Apa maksud mu, Syera?"


"Kau memang brengsek Arion!!!" Pekiknya di sertai isakan tangis yang terdengar begitu pilu. Semua pria di dunia tidak peka dan menyebalkan.


Tidak ada lagi kalimat yang berhasil terucap dari bibir kelu Syera. Tangisnya justru semakin pecah. Kecewanya semakin menyesakkan dada. Ia tidak bisa menahannya lagi. Sakit benar-benar sakit.


Pria yang sudah meniduri nya tak mampu bertanggung jawab atas janin yang ia kandung. Mereka harus berpisah dengan paksa, mengorbankan perasaan cinta diantara keduanya. Selama itu pula, tidak ada yang pernah mencari keberadaannya atau bahkan sekedar menanyakan kabar. Namun ia tetap berjuang mempertahan kan bayi tak berdosa itu hingga tumbuh dengan baik.


Disaat waktu telah membuka jalan, Syera justru harus merasakan kenyataan pahit, bahwa Pria yang selama ini ia jaga cintanya sudah berpaling hati pada perempuan lain.


Syera sudah memikirkan hal ini berkali-kali. Jika bukan karena Alea, bisa saja ia mengurungkan niat untuk bertemu lagi dengan Arion.


"Syera tenangkan dirimu." Arion menyentuh pundak Syera yang naik turun akibat tangis.


Syera menutupi kedua wajahnya dengan telapak tangannya. Pil pahit ini ia telan bulat-bulat. Perih menjalar saat seluruh permukaan hatinya retak dan berantakan.


"Aku tidak pernah menggantikan posisi mu dengan orang lain." Bibirnya bergetar bersama kalimat yang terbata. "Arion Abhivandya tetap di sisi selamanya." Tunjuk Syera pada dadanya.


Matanya yang mulai membengkak dan tatapannya yang samar karena air mata. Wajahnya memerah dan suaranya semakin parau.


Arion mematung. Pikirannya kacau. Untuk kesekian kalinya ia menyakiti Syera.


"Kau jahat!!!" Syera meninju dada bidang Arion berkali-kali.


Perlahan-lahan, Arion pun mulai merasakan perih saat luka nya yang hampir sembuh itu terkoyak kembali.


"Syera.... " Ia memanggil lembut wanita di hadapannya. Kedua tangannya menyeka air mata yang membanjiri wajah Syera. "Bunuh saja aku jika kau mau." Arion menyergap tubuh Syera dengan sebuah pelukan. Air matanya turut menetes saat dagu nya menyentuh pundak Syera. Sesalnya tidak akan terbayar sampai kapan pun.


"Aku benci kau, Arion!!" Syera kembali memukul-mukul punggung Arion. Pria itu menerima hukuman dengan lapang dada.


"Aroma parfum mu juga masih sama, Syera." Bisiknya dengan suara bariton yang tiba-tiba meluluhkan amarah Syera.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2