CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Tak Terduga


__ADS_3

Rencana yang tertunda untuk bertemu Kevin akhirnya terlaksana hari ini sepulang dari kantor tahanan. Lagipula, weekend seperti ini sudah pasti Kevin punya waktu senggang.


"Kenapa nggak nanti malam aja."


"Nanti malem saya sibuk."


Akhirnya, mereka bertemu di Everjoy Cafe. Nara yang memilih tempat ini. Karena ia ketagihan menu makanan yang di pesan bersama Arion kemarin.


"Sok sibuk." Celetuk Kevin yang mulai menyeruput minumannya.


"Memang. Pekerjaan ganda, anda pikir tidak akan menguras otak dan otot."


Tapi ini bukan tentang mengeluh, Nara yakin usaha tak akan mengkhianati hasil. Dirinya bukanlah Nara Melody kecil yang hanya pandai merengek minta yang jajan pada ibu untuk membeli es krim. Sekarang Nara sudah menjadi perempuan mandiri yang sudah berjanji pada dunia akan membahagiakan Lisa, Ibu tercintanya.


"Hebat." Kevin mengacungkan jempol. "Apa tidak terlalu repot kerja dan mengurus bayi sedangkan kamu tinggal terpisah."


"Kami akan tinggal bersama."


"Di apartemen Mister??"


"Iya. Kenapa terkejut, seharusnya anda lebih dulu tahu akan hal ini kan?"


"Ya mungkin dia lupa memberi kabar."


Wajah Kevin seketika mengerucut dan hilang semangat setelah mendengar cerita Nara. Ada kecewa yang mampir di hatinya, Arion tidak pernah seperti ini sebelumnya. Segala yang terjadi di kehidupannya Kevin lah orang pertama yang di beri tahu. Tapi kali ini tidak dengan kepindahan Nara.


"Seharusnya titipkan saja Edsel ke panti asuhan terbaik yang bisa menjamin segala rupa nya. Jadi tidak merepotkan kayak gini kan? pake adopsi segala."


Nara memang masih suka mengomel dalam hal ini, sebenarnya lebih ke rasa penasaran saja, Arion memang tidak mudah di tebak.


"Sudah saya bilang, dia sayang anak kecil."


"Begitu. Nggak ada alasan lain?"


Kevin menggeleng sambil menghabiskan hingga tandas sisa-sisa jus jeruk miliknya.


"Mister punya kekasih??"


Pertanyaan Nara berikutnya berhasil membuat Kevin tersedak. Ia batuk berkali-kali lalu Nara menyodorkan minuman miliknya yang masih tersisa.


Nara kemudian menyimpulkan sepihak tentang masalalu Arion yang penuh dengan misteri. Ini pasti berhubungan dengan rasa trauma yang di deritanya.


"Saya sarankan agar anda tidak membahas masalah pribadi Arion, terutama dalam hal itu. Jika anda benar-benar ingin selamat."

__ADS_1


"Memangnya ada yang salah. Saya kan hanya bertanya."


"Sebaiknya jangan tanyakan lagi."


Memang dua orang yang aneh. Saat Nara menanyakan kekasih Kevin, Arion tidak mau menjawab. Begitu juga sebaliknya.


Memiliki kekasih itu bukan masalah kan? tentu saja bisa jadi bukti bahwa dua pria ini masih normal. Tapi kenapa harus menjadi pertanyaan yang tabu.


Pertemuan dengan Kevin pun tidak menghasilkan informasi penting apapun tentang Arion.


Seharusnya Nara tidak ambil pusing dalam urusan pribadi orang lain. Tapi isi kepala dan hatinya sangat ambisius untuk mencari tahu lebih dalam tentang Arion.


Kehidupan Arion memang menarik perhatian dia memang benar-benar sempurna. Tampan dan kaya, paket kumplit.


...----------------...


"Bagaimana kabar Ibu?"


Sore hari Arion menjemput Nara beserta barang-barangnya di rumah lama.


"Baik. Beliau senang kalau saya dapat kerjaan tambahan," Sahut Nara sembari memposisikan dirinya dengan nyaman di samping Arion.


"Sukurlah. Sampaikan salam saya pada Ibu. Apa kamu berbicara juga dengan Ayah?"


Jelas-jelas Nara malas jika itu membahas tentang seseorang yang di sebut Ayah olehnya, tapi Arion tidak tahu apapun tentang kehidupannya, sehingga Nara memilih menjawab walau terasa membosankan.


"Oh maaf. Saya tidak bermaksud membuat kamu sedih."


Nara mengangguk, mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil menahan air yang bersembunyi di pelupuk mata.


Selama beberapa menit perjalanan mereka hening tak bersuara, untuk mengisi kekosongan Arion memilih lagu di daftar putar ponselnya.


Perjalanan pun berhenti di sebuah penitipan bayi, Edsel langsung di bawa pulang setelah berbincang sebentar dengan perawat dan menyampaikan ucapan terimakasih.


Masih banyak kegiatan setelah ini, karena Nara harus menyusun pakaian yang ia bawa. Malam ini Nara mulai tidur di apartemen Arion. Mungkin tidak akan lagi menjadi hal yang janggal saat mereka memutuskan tinggal di bawah atap yang sama karena hubungan keduanya sudah semakin akrab.


Tidak semua orang acuh dengan aktifitas di sekitarnya. Terbukti saat Arion dan Nara memasuki area apartemen dengan seorang bayi yang terlelap di dalam gendongan. Ada beberapa mata yang menatap penuh tanya, terlebih bagi mereka yang selama ini hanya tau bahwa Arion seorang pengusaha yang masih melajang.


Edsel tumbuh semakin besar, dia bukan lagi bayi yang bisa di sembunyikan di bawah ketiak hanya dengan di tutupi jas kantor. Sehingga keberadaannya sulit untuk di sembunyikan dan hal itu spontan menjadi pusat perhatian oleh sebagian orang.


Pintu lift terbuka, Arion membiarkan Nara berjalan lebih dulu di depannya dan ia mengekor di belakang bersama dua koper besar milik Nara.


Koridor apartemen terasa sangat angker sama seperti beberapa hari kebelakang, terlebih garis polisi pada apartemen Rexa masih membentang.

__ADS_1


"Kenapa diam saja, buka dong pintunya." Arion berdiri di balik punggung Nara, sedangkan perempuan yang di depannya hanya diam mematung bersama Edsel yang mulai berontak karena diapers yang sudah bengkak.


"Saya adalah pengecualian. Karena tidak di beri tahu pasword apartemen anda." Ketus Nara.


"Upss sorry." Arion terkekeh, senang menggoda si bawel itu. "140209, itu paswordnya.. ingat!"


Pintu mengayun terbuka, Arion membantu Menahan pintu agar Nara yang lebih dulu memasuki rumah. Ia sudah kerepotan menggendong Edsel.


"Tanggal apa itu?? keramat sekali."


"14 februari, Masa nggak tau."


"Valentine??"


Kini mereka bertemu tatap setelah selesai melepas masing-masing sepatu dan meletakkan di rak di sudut ruangan.


"Pinter." Arion mengacak rambut Nara hingga berantakan. "Maaf." Katanya lagi karena membuat ujung rambut menusuk ke sudut mata, pelan-pelan surai hitam itu kembali di rapikan oleh Arion.


Nara tertegun, sentuhan itu membuatnya terlena. Ada percikan api asmara yang semakin mendominasi hatinya.


Jangan. Ia tidak boleh jatuh cinta. Perintah Nara pada hati yang mulai bergejolak. Mencintai Arion hanya akan memberikan harapan kosong. Mana mungkin seorang pengusaha sukses membalas cinta seorang gadis miskin seperti Nara.


"14 februari 2009?? Ada apa di tahun 2009??" Nara menggaruk daun telinganya, menepis kikuk yang mulai terlihat mencolok.


"...yang satu itu, kamu nggak perlu tau." Arion tersenyum. Nara percayai bahwa itu adalah senyum manis tapi kosong.


"Ya baik." Nara berlalu, lagipula tidak perlu ia mengorek tentang kehidupan Arion. Toh dia bukan siapa-siapa.


Keduanya berjalan sampai ke tengah rumah, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Seseorang datang dari arah dapur, membawa sepiring makanan.


"Ibu membuat perkedel kentang kesukaan mu."


PRANKK!!


Nampan yang berisi makanan langsung jatuh berhamburan kelantai. Piring berbahan melamin tersebut tidak sampai pecah, tapi perkedel hangat yang baru saja matang harus berceceran.


Jantung Ruth seolah copot dari tempatnya, mendapati Arion berjalan berdampingan dengan seorang wanita dan bayi. Selama ini dia tidak pernah mendengar kabar apapun tentang perempuan yang dekat dengan putranya, apalgi jika mereka sampai memiliki bayi.


"Ibu, dengarkan dulu penjelasan Arion." Arion langung menopang tubuh Ruth yang mulai limbung.


Perempuan paruh baya itu menatap kosong kearah Nara dan Edsel, ia menekan dadanya kuat-kuat.


"Ibu pikir kamu tidak akan mengulangi kesalahan seperti dulu lagi. Kamu pembohong Arion."

__ADS_1


"Ibu harus dengar penjelasan Arion."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2