
Sudah hampir tigapuluh menit Kevin berdiri di depan pintu apartemen Arion. Bel di tekan berulang kali, namun tidak ada jawaban apapun dari dalam. Kevin memang tau pasword Apartemen Arion. Tapi tetap saja ia harus menjaga adab karena pemiliknya tidak dirumah maka Kevin memilih untuk menunggu.
Ketika kakinya mulai kebas dan kesemutan akibat berdiri terlalu lama, dari ujung koridor barulah muncul Arion yang di ikuti Nara. Edsel mendengkur dalam gendongan pengasuhnya.
"Absen kerja hanya untuk pergi bertiga? sungguh keluarga yang harmonis." Gerutu Kevin lirih.
Hari ini Kevin terpaksa menghandle semua pekerjaan di kantor akibat dua orang yang berjalan kearahnya sengaja tidak masuk kerja dengan alasan ada urusan. Memangnya tidak ada weekend? sampai harus menyita jam kerja.
Namun pimpinan tetaplah bos dari segalanya, semua kata-katanya adalah perintah yang harus di patuhi.
"Jangan berpikir bahwa saya hanya pergi bersenang-senang." Arion membuka pintu apartemennya.
Sementara Kevin langsung mengangguk karena Arion berhasil menebak apa yang sedang ia pikirkan.
Nara langsung menuju ke kamar, membaringkan Edsel yang sudah terlelap sejak dalam perjalanan. Pundaknya hampir mati rasa akibat menggendong terlalu lama.
Di depan televisi Kevin mulai berbincang serius dengan Arion. Karena kedatangan Kevin selalu dengan alasan yang kuat. Karena dua manusia es itu tidak akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk membahas perihal yang tidak penting.
"Berkas-berkas adopsi Edsel di tolak oleh pengadilan." Katanya, Kevin menyodorkan amplop besar berwarna coklat di atas meja.
"Loh, kurangnya saya apa? materi berlimpah, rumah tersedia, pekerjaan mapan, sudah pasti Edsel akan sejahtera jika di adopsi. Jangan bilang karena saya masih lajang???"
Mengadopsi seorang anak memang harus melalui beberapa tahap. Banyak persyaratan yang haruals di penuhi sampai pengajuan adopsi dapat di lolos sampai ke meja persidangan.
"Sebenarnya tidak masalah dengan status anda yang masih lajang, tapi pihak pemeriksa berkas mendapatkan fakta bahwa anda sibuk bekerja di kantor. Otomatis akan sedikit waktu dengan anak. Jika hanya di percayakan pada pengasuh yang anda bayar, mereka belum bisa meloloskan pengajuan adopsi ini."
"Lalu saya harus menikah dulu, begitu?? Kenapa sih, ingin berbuat baik saja masih di persulit."
Keduanya mulai menemukan jalan buntu. Sejak awal Arion memang mati-matian ingin mengadopsi Edsel, terlebih setelah melihat kondisi Ceta sekarang.
Ketika pertama kali ia menemukan bayi yang masih merah di dalam bagasi mobilnya, ada rasa penyesalan yang terus menyeruak dan menyesakkan dada.
Rasa bersalahnya tidak mampu ia tebus sampai sekarang. Sudah sepuluh tahun lamanya, Tapi Arion belum bisa mengetahui kabar dari Janin yang pernah meninggalkannya dulu.
__ADS_1
Naluri seorang Ayah datang begitu saja dalam jiwa Arion, Saat sorot mata bayi tak berdosa itu menatapnya lekat. Dia berpikir bahwa Tuhan memberikan kesempatan untuk berbuat baik pada bayi yang ia temukan, sebagai tebusan atas segala dosa di masa lalu.
Tidak mudah mengurus bayi, apalagi Arion tidak memiliki pengalaman apapun dalam hal ini. Orang yang paling ia percaya kala itu adalah Nara, karena dia seorang perempuan. Walaupun mereka harus banyak berdebat dalam segala hal, Arion tidak pernah merasa terusik selama Edsel berada dalam asuhan orang yang tepat.
Hari dimana ia bertemu dengan Ceta, gadis belia dalam keadaan gila karena di tinggal kekasihnya dalam keadaan hamil. Dalam detik yang sama pula, Arion merasa sangat terlambat untuk memahami perasaan Syera saat harus menerima kenyataan pahit yang sama persis.
Apa kabar dia sekarang??
Syera menghilang setelah satu minggu kepergiannya ke Eropa.
Sudah satu dekade lamanya Arion tidak pernah lagi mendengar kabar apapun, apakah bayi dalam kandungannya di biarkan hidup? atau justru di aborsi?
Kenyataan pahit itu semakin hari semakin tumbuh menjadi duri tajam yang terus melukai hati Arion. Semakin kuat ia menggenggam masa lalu itu, semakin banyak pula duka yang harus ia tuai.
...----------------...
Sampai tengah malam, Arion belum juga memejamkan matanya. Berulang kali mengecek ponselnya hanya untuk menggulir beranda sosial media. Lalu kemudian close tanpa mendapatkan apapun.
Kepalanya mulai berdenyut, memikirkan jalan keluar untuk masalah ini. Ia sudah memberikan perintah kepada Kevin agar mengadakan negosiasi ulang dengan pihak pengadilan, Berharap dengan sejumlah cek yang ia tanda tangani bisa melicinkan urusan pengadopsian Edsel.
Arion turun dari tempat tidurnya, mencoba untuk mencari udara segar di luar kamar. Menenggak sebotol soft drink mungkin bisa membuat suasana hatinya sedikit rileks. Karena tidak mungkin minum kopi saat malam seperti ini.
Dalam remang cahaya dapur, Ia menemukan Nara yang sedang duduk termangu. Secangkir kopi hangat di hadapannya masih mengepulkan asap dengan aroma creamer yang kuat.
Klik!!
Arion menyalakan lampu dapur karena Nara sengaja memilih gelap-gelapan. Rambutnya dibiarkan terurai dan acak-acakan. Untung saja perempuan itu tidak memakai dress putih, bisa di sangka hantu oleh Arion.
"Belum tidur??" Sapa Arion yang langsung membuka lemari pendingin untuk mengambil sebotol cola.
"Belum ngantuk." Nara menyeruput dengan tatapan kosong.
"Nggak bisa tidur, malah minum kopi." Arion mengambil posisi di sebelah Nara, perempuan itu hanya melirik lalu kembali menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Cuma segelas kopi yang bercerita kepadaku bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan."
Lantunan kalimat Nara yang sangat puitis langsung membuat Arion bengong. Bibirnya membulat menyerupai huruf O.
"Woaahh!!"
"Hanya motivasi untuk diri sendiri agar selalu positive thinking."
Jangan pernah menilai seseorang dari luarnya. Kenali orang lain lebih dalam, siapa tahu yang terlihat mengerikan dan buruk itu ternyata baik.
"Bener. Bener." Arion mengangkat Ibu jarinya.
Nara menoleh dengan senyum simpul yang membuat lesung pipinya terlihat manis.
Kemana saja Arion selama ini, kenapa baru sekarang lubuk hatinya mengakui bahwa Nara adalah gadis yang cantik. Bukan hanya itu, dia juga pintar kan?
Usianya memang terpaut jauh, dia masih terlalu muda untuk menjalani hidup yang penuh lika liku. Namun Nara berhasil tumbuh menjadi perempuan kuat dan mandiri. Dia juga bisa diandalkan.
Arion merasa dirinya tak bisa sehebat Nara. Ia harus banyak belajar dari gadis itu.
"Ada apa?? muka saya kayak hantu??" Nara langsung merapikan rambutnya yang berantakan menggunakan jari karena Arion tak berhenti memandanginya.
"Ah, itu... " Arion langsung panik karena sudah tertangkap basah. "Emang kayak hantu." Arion tertawa geli mencoba menyamarkan rasa gugup nya.
"Enak aja!! " Nara spontan menepuk bahu Arion, tawa itu kemudian menular.
Detik berikutnya mereka kembali terdiam, menikmati minuman masing-masing.
"Nara... " Panggil Arion kemudian, Nara langsung mendongak.
"Hemm."
"Menikahlah dengan saya."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...