
"Berapa banyak lagi hal-hal yang kamu sembunyikan dari saya?" Arion mulai mengintrogasi Nara di ruangannya.
Kejadian hebat hari ini cukup menyita perhatian. Arion yang tidak tau apapun tentang kisah hidup Nara, seketika merasa kecewa. Sangat di sayangkan hal yang bersifat pribadi menjadi bocor ke publik dan itu menjadi perundungan yang harus Nara terima.
"Semua orang pasti memiliki rahasia. Anda juga kan?"
Seperti biasa, Nara berani memutar balikkan pertanyaan pada atasannya itu.
"Ya tapi kenapa hanya Yeri yang tau?" Arion semakin menuntut. "Seharusnya kamu mengatakan ini, saat saya menanyakan Ibumu kemarin."
"Karena anda bukan siapa-siapa. Tentu saja anda tidak mempunyi hak untuk tau semuanya."
Nara duduk di seberang meja kerja Arion, sedangkan si pemilik ruangan sedari tadi berdiri layaknya detektif yang tengah memecahkan masalah.
"Sekarang saya sudah menjadi bagian dari hidup kamu. Saya berhak tau, apa yang seharusnya saya tau."
Sejenak Nara menelaah dengan cermat apa yang di ucapkan Arion.
"Kenapa begitu, Maksudnya gimana?"
Seperti sedang tertangkap basah, Arion ingin menarik kembali perkataannya. Namun terlanjur sudah di dengar oleh Nara.
"Ya, saya Boss kamu. Kita tinggal serumah, apalagi sekarang semua orang tahu bahwa kita punya bayi."
Saat kalimat itu selesai di ucapkan, Arion kembali menyesali dalam hati. Ah, bibirnya kadang tidak terkontrol.
"Bayi anda, bukan bayi kita. Saya bekerja di rumah anda, bukan sengaja tinggal serumah." Sangkal Nara.
Urusan dengan satu orang Dihadapannya justru lebih rumit dibandingkan beradu mulut dengan para karyawan yang sedang menggosip di kantin.
"Apa bedanya??"
"Beda! dan ini salah anda. Kenapa harus mengakui semuanya di depan mereka. Ini menimbulkan fitnah yang lebih besar."
Isu yang beredar tentang kebersamaan Arion dan Nara yang juga mengurus bayi, tidak akan mudah lenyap dari permukaan. Ini akan terus menjadi perbincangan setiap waktu oleh penghuni kantor.
"Agar mereka diam kalau saya sudah jelaskan semua. Selesaikan? ." Arion kembali duduk, ia meraih gagang telepon di atas meja. "Antarkan dua es kapucino ke ruangan saya." Perintahnya pada seseorang di seberang sana.
Arion Abhivandya, manusia yang mudah menyepelekan keadaan. Sebaliknya, ketakutan besar justru semakin terkumpul di pundak Nara. Tidak mudah terlibat masalah dengan orang berpengaruh di negeri ini.
"Ya sudah, berarti urusan kita juga selesai. Saya harus kembali kerja, Mister."
__ADS_1
"Keluar ruangan berarti potong gaji limapuluh persen."
Bokong Nara yang baru saja terangkat, dengan terpaksa kembali mendarat di kursi panas tersebut. Limapuluh persen itu tidak sedikit, mana mungkin ia rela kehilangan uangnya begitu saja.
"Kan semua sudah selesai, Mister." Nara mengeratkan gigi-giginya, menahan emosi jangan sampai meluap dan membuat Atasannya mimisan.
Walaupun itu hanya dalam ilusi Nara, karena mustahil baginya mampu untuk melakukan perlawanan pada Arion si idealis. Mengumpat saja tidak berani.
"Tuhh!!" Bibir Arion mengerucut panjang menunjuk ke arah pintu.
Kevin datang membawa dua gelas es kapucino keraha mereka.
"Saya kira ada klien penting." Kevin meletakkan nampan di hadapan Arion dan Nara. "Es kapucinonya kok cuma pesan dua, untuk saya nggak ada?" Kevin memicingkan mata pada Nara.
Nara menyunggingkan bibir dengan bahu yang terangkat, seperti ingin mengatakan; mana saya tahu? tanya sendiri sama dia.
"Kamu nggak ada waktu minum kopi, urus saja karyawan pembuat masalah itu." Arion mengambil es kapucino miliknya, dan menyodorkan gelas yang lain ke dekat Nara.
"Mereka langsung diberhentikan??"
"Tidak perlu, beri saja surat peringatan dan sedikit pelajaran. Tapi jika hal ini terulang lagi, Saya sendiri yang turun tangan."
Hembusan napas Nara terdengar berat, semua orang menjadi terlibat masalah dengan Arion. Ia menjadi sedikit merasa bersalah.
Ketika waktu terus bergerak, Nara pun segera menyeruput es kapucino itu hingga setengahnya. Niatnya hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruang kerja Arion.
"Terimakasih Kapucinonya, Mister." Nara bangkit dan membungkuk. "Saya permisi."
Sebelum Arion menghentikan langkahnya lagi, Nara langsung pergi secepatnya dengan derap langkah yang terdengar harmonis antara hak sepatu dan ubin kantor.
Nara menuju ruang kerjanya, di sana Kevin sedang fokus pada layar monitor.
"Sibuk ya?"
Kevin langsung mengalihkan pandangan kearah Nara yang datang tergesa, napasnya masih sedikit tersengal.
"Lagi bikin surat peringatan untuk temen-temen kamu." Kevin menjauhkan jemarinya dari atas keyboard. "Kenapa?? "
"Ada yang ingin saya tanyakan, tapi sepertinya akan mengganggu." Pelan-pelan Nara mendekati Meja kerjanya yang terletak tidak jauh dari tempat Kevin berada.
"Tanya saja, saya usahakan untuk menjawab."
__ADS_1
"Siapa Syera??"
Tanpa ragu Nara menyebutkan nama yang sudah lama tidak Kevin dengar.
Sejak perbincangan Arion dan Ibunya kala itu. Nama Syera Sepertinya menjadi hal yang berkaitan dengan hidup Arion di masa lalu. Mungkin juga Syera adalah penyebab rasa trauma yang diam-diam di pendam oleh Arion.
"Darimana kamu tahu tentang Syera??"
Kini Kevin memasang wajah serius. Nara semakin yakin kalau Syera mempunyai peran penting dalam hidup Arion.
"Saya tidak tau apa-apa tentang Syera. Justru itu bertanya kepada anda."
Tentu saja Nara hanya sebatas tahu nama yang singkat itu.
"Saya tidak bisa menjawab untuk hal ini." Kevin kembali fokus pada layar monitor yang masih menyala di depannya.
"Selalu seperti ini. Kenapa kalian begitu suka main rahasia-rahasiaan segala."
Nara langsung merasa kesal karena lagi-lagi ia tidak bisa mendapatkan informasi penting apapun dari Kevin.
"Itu urusan pribadi Mister Arion, saya tidak punya hak untuk menjawab. Kalau kamu mau, silahkan tanyakan langsung padanya."
Mesin print di sebelah Kevin mulai bersuara, mencetak beberapa lembar kertas berupa surat peringatan yang akan di berikan kepada karyawan bermasalah. Mereka juga akan menerima potongan gaji sebesar dua puluh lima persen. Ini pelajaran, bahwa mencampuri hidup oranglain akan merugikan diri sendiri.
Arion berharap, mereka yang terkena sanksi bisa memperbaiki diri untuk kedepannya. Jika di dalam kantor, fokuslah hanya pada pekerjaan. Jangan memikirkan hal lain, apalagi sampai merundung sesama pekerja. Apapun alasannya, itu tidak dibenarkan.
"Mister tidak akan memberitahu saya soal ini, anda satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi." Nara masih berusaha mengorek lebih dalam.
Sedangkan Kevin sama sekali tidak terusik, ia mulai merapikan kertas-kertas yang sudah di cetak tersebut.
"Coba saja dulu." Kevin beranjak pergi membawa beberapa berkas di tangannya.
Nara langsung berlari mengejar Kevin dan menghentikan langkahnya.
"Jawab dulu, Siapa Syera?"
Nara menahan pergelangan Kevin, Lelaki jangkung itu hanya mendesah Lesu. Nara memang keras kepala.
"Syera adalah kekasih saya."
Suara berat itu bak dentuman gong yang berhasil menggaungkan bunyi peringatan.
__ADS_1
Nara tersentak, hatinya langsung luruh saat itu juga. Dia tidak salah dengar kan??
...***...