CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Nara dan Syera


__ADS_3

Pagi ini, Lagi-lagi Nara di suguhkan sebuah pesan dari Arion yang membuatnya berdengus kesal. Tidak bisa pulang, dan menginap semalaman di rumah sakit bersama mantan kekasihnya. Menjaga buah hati mereka bak keluarga kecil bahagia.


"Kalian bersenang-senang?" Senyum kecutnya adalah penggambaran rasa cemburu yang terus menyeruak mengajak berontak. "Akan ku pastikan kalian berdua tidak berbuat semau nya di sana hanya dengan sebuah alasan menunggu Alea yang sakit." Nara terus menggerutu.


Sejak kedatangan Syera, Arion bahkan tidak punya inisiatif untuk memperkenalkan keduanya. Nara belum pernah bertemu atau sekedar melihat foto Syera sekalipun. Hal itu cukup membuat tanda tanya besar di benak Nara. Akhir-akhir ini pun Arion sedikit sibuk mengurusi Alea sehingga waktu kebersamaan Nara perlahan mulai tersita.


Jari-jari nya cekatan mengetik di atas layar ponsel. Nara mengirimkan sebuah pesan kepada Kevin untuk mencari tahu alamat rumah sakit tempat dimana Alea di rawat. Ia bisa saja menanyakan hal ini langsung kepada Arion, tapi karena suasana hati nya sedang tidak baik, akhirnya ia mencari tahu dari Kevin. Lagi pula, ia berniat mengunjungi Alea tanpa memberi tahu Arion.


"Dapat!" Seru Nara setelah mendapat balasan dari Kevin, sebuah alamat lengkap bersama ruang inap tempat Alea di rawat sehingga nanti ia tidak akan kesulitan untuk mencarinya.


Cepat-cepat Nara mempersiapkan diri, tak lupa ia juga akan membawa Edsel bersama. Setelah ia berhenti bekerja, Edsel tidak pernah di titipkan pada siapapun, karena Nara memilih untuk meluangkan waktu dalam mengurus semuanya sendiri. Kemana pun ia pergi, Edsel akan selalu ada bersamanya.


Sebuah taksi online terparkir di halaman apartemen setelah menerima pesan order dari Nara beberapa saat lalu. Berbekal sebuah alamat, Nara pun meminta sopir untuk segera mengantarkan ke tempat tersebut.


International Medical Center Hospital. Tulisan raksasa itu terpampang pada gedung tinggi berwarna putih. Sebuah rumah sakit bertaraf internasional dengan pelayanan serta kualitas terbaik seantero kota.


Turun dari mobil, Nara langsung menyusuri koridor Rumah Sakit. Perlahan ia membaca lebel ruangan satu persatu untuk mencari ruangan tempat Alea di rawat.


Kelas VVIP A Ruang Dandelion. Akhirnya Nara menemukan tempat yang ia tuju.


Pintu ruang rawat itu ia dorong pelan. Aroma berbagai obat-obatan langsung memenuhi indra penciuman nya. Seorang pasien terbaring di atas ranjang serba putih. Sementara sepasang pria dan wanita tampak tertidur pulas pada sofa yang terletak di sebelah ranjang Pasien.


Wanita cantik dengan bibir merah muda terlelap dengan posisi kepala bersender pada Pria berrahang tegas yang juga tengah terpejam.


Walau dari jauh, Nara sudah bisa pastikan siapa pria yang sedang di gelantungi oleh wanita di sebelahnya.


"Arion... " Lirihnya dengan senyuman sinis di bibir. "Bukan kah kamu alergi aroma parfum orang lain? Kamu yang selalu menjaga jarak dengan orang lain? Arion yang tidak suka dekat-dekat? Tapi apa ini?" Berulang kali Nara menggelengkan kepalanya. Tidak habis fikir dengan perubahan Arion yang begitu kontras.


"Oh, atau mungkin semua itu pengecualian jika orang di dekat mu adalah Syera." Celoteh nya lagi. Ia tidak sadar sudah seperti orang gila yang meracau sendiri di hadapan dua orang yang tertidur pulas.


Melihat pemandangan yang tidak mengenakkan, Nara berbalik badan untuk segera pergi dari ruangan yang tiba-tiba terasa begitu panas. Namun suara parau gadis kecil yang terbaring disana seketika menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tante... " Alea terbangun dan mendapati seseorang yang tidak ia kenal tengah berdiri disana bersama seorang bayi dalam gendongan. "Apakah tante teman Mama?"


"Oh... Hai... " Dengan kikuk Nara mencoba menatap lawan bicaranya, ia sudah tidak bisa kabur sekarang. Ia mencoba mengedarkan pandangan dan mengetuk ujung kakinya ke lantai. Terasa begitu canggung, padahal ia hanya berbicara dengan anak kecil. "Nama ku Nara." Nara mengulurkan tangan, mencoba mengusir perasaan anehnya.


"Aku Alea Abhivandya." Alea menjabat tangan Nara.


Lagi-lagi senyum kecut itu terukir saat gadis kecil di hadapannya menyebut nama panjang yang tak lain bahwa Abhivandya adalah nama belakang Arion. Wajah mereka pun benar-benar sangar mirip, hal itu jelas membuat Nara tidak pantas merasa cemburu, karena memang mereka memiliki ikatan darah.


Bagaimana mungkin Syera dengan mudah melupakan masa lalunya, sementara buah cinta mereka terlihat begitu mirip. Kenangan indah itu jelas akan terus membekas di hatinya. Nara menatap lagi wanita yang bersandar pada bahu suaminya.


Cantik. Sempurna. Ia merasa rendah diri ketika berhadapan dengan Syera. Nara hanyalah perempuan biasa yang mungkin tidak memiliki kelebihan apapun di bandingkan dia.


Tiba-tiba saja dada nya terasa seperti di tusuk-tusuk jarum. Pangkal kepalanya terasa memanas.


"Tante pamit pulang ya, Alea cepat sembuh. Ini ada sedikit oleh-oleh." Nara meletakkan bouqet buah dan boneka yang sengaja ia beli di tengah perjalanan tadi. "Tidak usah membangunkan Mama dan Papa. Mereka kelelahan." Nara berbisik di telinga Alea.


"Kenapa buru-buru. Tante belum ngobrol dengan Mama dan papa." Alea menahan tangan Nara. "Aku juga belum kenalan dengan bayi ini." Edsel yang mendapat sentuhan dari Alea langsung bereaksi lucu. Ia bergerak aktif lalu tertawa menampakkan gusi merahnya.


"Baiklah kalau begitu." Jawab Alea tak bersemangat.


Sebenarnya Nara tidak tega bersikap seperti ini kepada Alea, karena dia hanya anak kecil yang tidak mengerti apapun tentang seluk beluk kisah orang tuanya. Tapi, tidak bisa di pungkiri juga bahwa perasaan Nara semakin tidak menentu saat melihat Arion dan Syera terlalu dekat disana. Ia juga tidak ingin jika nantinya akan ada keributan, sementara ini adalah rumah sakit. Sebaiknya, ia memutuskan untuk pulang sebelum Syera dan Arion menyadari keberadaannya saat ini.


Nara melambaikan tangan pada Alea, ia perlahan menjauh kearah pintu.


"Mau kemana?"


Suara bariton itu menghentikan langkahnya, Nara paham betul siapa pemilik suara deep tersebut.


Nara menggigit bibir bawah. Sekarang justru semakin kacau.


"Sial." Ia menyesali saat dirinya tertangkap sebelum melarikan diri.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu lihat?" Suara itu terdengar sangat dekat sekarang. Arion berdiri tepat di belakang punggung Nara. "Itu tidak seperti yang kamu pikirkan."


Arion sadar saat ia terbangun dengan posisi berdekatan dengan Syera, bahkan mantan kekasihnya itu dengan bebas membaringkan kepala tepat di pundaknya. Sehingga ia sangat mudah menebak isi kepala Nara sekarang. Selain datang tanpa memberi kabar, Nara juga nyaris melarikan diri karenanya.


"Aku hanya menjenguk Alea, dan sudah selesai, jadi sekarang sebaiknya aku pulang. Kebetulan Edsel juga tidak membawa bekal susu." Tanpa menoleh suaminya, Nara berusaha mencari-cari alasan untuk pergi.


"Ayo kita bicarakan ini di luar." Arion meraih tangan Nara.


Belum sempat keduanya keluar dari ruangan. Langkahnya kembali di urungkan saat Syera mencoba bergabung dengan obrolan mereka.


"Apa kamu Nara?? Kita bahkan belum berkenalan."


Serentak Nara dan Arion menoleh pada wanita yang tengah berdiri disana.


Wanita dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam itu melangkah gontai ke arah Nara.


"Syera Lamia." Ia mengulurkan tangan. Nara tak langsung menyambut. Ia tertegun cukup lama.


"Nara." Tanpa menyebut nama lengkap, juga tidak menerima uluran tanga Syera, Nara memalingkan wajah setelahnya. Lalu berpura-pura menatap Edsel yang anteng dalam gendongan.


Wajah Syera memerah, ia pasti merasa tidak nyaman atas penolakan Nara walau secara tidak langsung.


"Oh.. Ini anak kalian??" Tanpa izin, ujung telunjuk Syera menyentuh pipi tembam Edsel. "Maksud ku, anak adopsi. Benar?" Syera tersenyum memandang remeh.


Manik hitam Nara melebar setelah mendengar pengucapan Syera yang berhasil membuat percikan amarah berkobar di dadanya. Nara benar-benar di buat marah. Wajahnya terasa begitu panas, matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku Permisi."


Tanpa ingin menimpali lebih banyak ucapan Syera yang telah menyakiti hati nya, Nara pun pamit untuk pergi dari tempat itu. Kesalahan terbesar nya adalah bertekad menemui mereka padahal jelas-jelas ialah yang akhirnya tersakiti.


"Nara tunggu..." Arion mengejar Nara yang berjalan cepat dan semakin menjauh. "Nara.... " Teriakkannya tidak lagi di dengarkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2