
Sesuai janji. Pulang dari kantor, Arion membawa Nara berkunjung ke rumah orangtuanya. Sebelum ini, Arion sudah melakukan panggilan dan mengabarkan bahwa Mereka akan bertemu dan membicarakan hal serius.
Ternyata, reaksi yang berbeda justru di tunjukkan oleh Ruth dan Benjamin. Mereka tidak terkejut saat Arion memlerkenalkan Nara sebagai calon istri.
Sudah lama pasangan suami istri itu mengidamkan kehadiran seorang menantu di kehidupan mereka. Putra semata wayangnya sudah pantas untuk membangun bahtera rumah tangga. Di usia yang matang dan kehidupan sosial yang sudah mapan.
Keterpurukan Arion akibat masa lalu sempat membuat Ruth dan Benjamin di selimuti rasa takut. Sedikit banyak, mereka sangat menyesali keputusan untuk memisahkan Arion dan Syera. Hingga membuat putranya ketergantungan pada obat penenang. Sebab Arion selalu dilanda ketakutan berlebihan, sulit mengontrol emosi dan mudah tersinggung. Arion juga berusaha menjauhkan diri dari penyebab trauma tersebut. Hampir satu dekade ia tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Hal itu tentu saja membuat Ruth dan Benjamin kehilangan akal.
Arion juga pernah menjalani beberapa terapi, dengan begitu ia mulai terlihat baik dan menjalani kehidupan normal seperti biasanya, Walaupun harus tetap di awasi. Sampai Arion berhasil menyelesaikan kuliah lalu di percaya untuk meneruskan perkembangan perusahaan milik Benjamin.
Trauma berat di masa lalu itu tidak seutuhnya pudar. Kadangkala ada hal-hal tertentu yang membuat Arion terpaksa mengingat kisah kelamnya lagi. Kemudian hal itu akan kembali memicu kemarahan yang tak terkontrol.
"Ibu tau ini tidak akan mudah, menghadapi Arion. Anak itu keras kepala." Ruth menyiapkan empat gelas teh hangat yang di bantu oleh Nara.
"Walau begitu, Mister orang yang baik, Bu."
"Ibu senang, akhirnya Arion bisa memulai kembali hidup yang normal. Tolong jaga dia." Nada permohonan itu di sertai tatapan sendu.
"Nara akan berusaha." Tak banyak yang bisa Nara janjikan, hingga detik ini Ia hanya mengikuti arus perjalanan hidupnya tidak tau akan bermuara dimana.
Sementara dua orang lelaki yang berada di ruang keluarga juga tengah membicarakan perihal perencanaan pernikahan Arion dan Nara.
Benjamin kini mampu menatap putranya dengan bangga. Kecemasan yang bersarang di sisa hidupnya kini musnah saat Arion membawa kabar baik.
Benjamin menepuk pundak Arion. "Apa Kamu ingin pesta yang besar untuk pernikahan ini? "
Pihak keluarga tentu ingin melaksanakan perhelatan akbar, agar bisa mengundang sanak saudara dan kolega kerja. Benjamin dan Ruth pun begitu, tapi kali ini mereka lebih memilih untuk mengikuti apa yang sedang di kehendaki Arion. Sudah Tiba pada titik terbaik dalam hidup putranya seperti sekarang pun, mereka sudah sepantasnya bersyukur.
"Tidak perlu Ayah, waktunya sudah terlalu mepet. Kita laksanakan acara sakral yang hanya di hadiri beberapa orang saja. Terutama Ayah dan Ibu juga orangtua Nara."
"Apapun itu, Ayah akan dukung."
Sejak awal, pernikahan ini tidak ada dalam daftar perjalanan antara boss dan sektretaris. Pesta besar pun tidak terpikirkan sama sekali, karena pada awalnya semua ini hanya sebatas formalitas. Walaupun faktanya begitu, tetap saja pernikahan ini tidak bisa di rahasiakan dari keluarga Arion dan Nara. Mereka tidak mungkin tinggal bersama selamanya tanpa ada ikatan resmi apapun.
Pernikahan ini tercatat resmi dalam Negara, di akui oleh dua keluarga.
Apa mereka berdua masih mengganggap ini pernikahan palsu? sebatas topeng?
Isi hati seseorang tidak bisa di palsukan, tidak bisa di sembunyikan. Ada waktu yang sudah di tentukan, kapan semua yang tersembunyi akan terkuak. Termasuk perasaan Arion kepada Nara saat ini.
Hatinya mulai mengakui bahwa, Dia jatuh cinta lagi.
__ADS_1
Kepada Nara, perempuan manis yang bawel sejagat.
"Dia cantik juga," Bisik Benjamin yang juga memiliki selera yang tinggi.
Dulu, Ruth merupakan bintang kampus dengan berbagai penghargaan yang di raihnya. Perempuan itu masih terlihat cantik walau di usianya yang tak lagi muda.
"Seperti Ibu kan?"
"Kamu bisa saja." Benjamin meninju pangkal lengan Arion. "Sebagai pria sejati, kita punya selera yang sama," katanya lagi.
...----------------...
"Saya pikir situasi nya akan menegangkan seperti saat Interview kerja."
Nara bernapas lega setelah bertemu dengan kedua orangtua Arion. Walau ini pertama kalinya bertemu Benjamin, tapi pria berkacamata tadi itu berhasil menunjukkan kehangatan dalam sikapnya yang sangat ramah.
"Bagaimana? senang bertemu Ayah?"
"Ayah sangat terbuka, dan dia baik sekali."
Tutur kata Benjamin yang lembut, dapat menggambarkan kepribadiannya yang baik. Ketika mereka berada di dapur, Ruth sempat menceritakan sedikit kisah tentang Benjamin yang keras kepala dan tidak suka di bantah. Namun hal tak terduga telah mengubah karakternya yang egois.
Segala sesuatu yang terjadi di kehidupan, pasti ada nilai positif yang bisa di ambil sebagai pelajaran. Ada hikmah di balik segala ujian.
"Bagus lah kalau kamu senang. Lebih senang lagi kalau kita sudah menikah nanti."
"Senang apa nya? menikah atau tidak, keadaan kita tetap sama. Saya mengurus Edsel dan rumah anda."
Kebiasaan setelah menikah tidak akan jauh berbeda dengan sekarang. Karena keduanya memang sudah lama tinggal bersama, yang membedaakn saat ini hanyalah status di atas akta nikah. Nara menjadi Istri dan Arion menjadi suami.
"Senang karena kamu juga akan mengurusi saya. Sepertinya saya harus membeli tempat tidur ukuran besar agar muat untuk di tempati bersama. Sedangkan Edsel, kita belikan box tidur yang baru. Ooh.. Renovasi kamar juga harus segera di lakukan, di buat lebih lebar dan leluasa, dengan dinding kedap suara dan kamar mandi transparan yang langsung menghadap ke ranjang utama. Bagaimana??"
Setelah berceloteh panjang, Arion langsung meminta pendapat Nara.
Mata Nara membulat, ia mengangkat telapak tangan dan meletakkan pada dahi Arion untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Saya tidak sakit." Arion menyahuti dengan santai.
"Anda tidak waras! itu sebabnya saya sarankan agar anda tidak berpikir bahwa kita akan tidur sekamar!"
"Kenapa tidak? suami istri memang tidur sekamar kan?"
__ADS_1
"Tidak boleh!!" Nara berteriak kencang.
"Dasar calon istri aneh."
"Dasar calon suami Mesum."
"Bukan mesum! ini kewajiban." Seperti biasa, Arion tidak mau kalah berdebat.
"Saya juga tidak aneh, tapi.... "
"Tapi apa??"
"Pernikahan palsu tidak perlu tidur sekamar."
Cup!! Cup!!
Arion ******* bibir bawel itu berulang kali, ia menyesap dan melesakkan lidahnya dengan paksa, menyapa rongga hangat mulut milik perempuan yang kini matanya terbelalak nyaris sebesar kelereng.
Entah sejak kapan mobil yang mereka tumpangi sudah menepi di pinggir jalanan yang sepi.
Ciumannya terlepas, Arion membiarkan Nara meraup udara. Cumbuannya yang tiada jeda berhasil membuat Nara kehabisan napas.
"Jangan panggil saya Mister saat di luar kantor. Panggil saya Arion."
Ibu jari Arion menyeka belah bibir Nara yang sudah ternoda. Kedua kalinya.
"Tapi jarak umur kita terlalu jauh, sangat tidak sopan jika saya hanya memanggil nama."
"Memang! tapi saya belum setua yang kamu pikirkan. Panggil Arion saja. Titik." Arion menekan telunjuknya di dahi Nara hingga membuat gadis itu mendongak. "Satu lagi, jangan berbicara formal."
"Saya.... "
Cup!!!
Arion mendararkan kecupan lembut di pipi kiri Nara, yang berhasil membuat wajahnya memerah seperti udang rebus.
"Turuti saja, atau aku cium lagi."
Aku, katanya?? aaah, tidak boleh berbicara formal ya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1