
Gila!
Arion sudah kehilangan akal sehatnya. Demi mengadopsi bayi yang bukan siapa-siapa itu, dia memutuskan untuk melakukan perkawinan kontrak dengan Nara. Akta nikah yang ia dapatkan nanti akan di gunakan sebagai persyaratan agar pengajuan adopsi lolos ke pengadilan.
Setelah semalaman berkutat dengan pikirannya, Arion hanya menemukan satu cara dan itu memang belum tentu langsung di setujui oleh Nara. Dia tahu gadis itu keras kepala, mendahulukan protes walau pada akhirnya tetap tidak bisa menolak.
"Hentikan permainan yang sudah melewati batas ini, Mister. Anda pikir pernikahan itu hanya sebatas status di atas kertas?? Prosesi sakral hanya di buat sandiwara??"
Seperti dugaan Arion, dia pasti mendapat protes keras dari Nara.
Bagaimana pun juga, Nara menganggap bahwa perkawinan itu suci dan cukup satu kali seumur hidup. Bahkan orangtuanya dulu yang menikah secara sakral saja harus menjalani biduk rumah tangga yang hancur. Apalagi jika hanya bermain-main, Nara tidak mau hal buruk menimpanya karena telah bertingkah sembrono.
"Demi Edsel, kamu tidak mau kan dia kembali terlantar?"
"Edsel. Edsel. Edsel. Selalu dengan alasan anak itu? Kenapa sih terlalu membelanya, padahal jelas-jelas dia bukan anak anda. Biarkan saja pihak panti asuhan yang akan mengambil alih."
Nara naik pitam, karena alasan bayi yang kurang beruntung itu Nara harus menjadi korban atas kekuasaan Arion. Tidak ada yang sanggup ia bantah.
"Dia bayi tidak berdosa! orangtuanya menelantarkannya!! dan saya hanya ingin menolong!"
Jawaban Arion tak kalah bersemangat, setiap ujung kalimatnya penuh kemarahan.
"Itu masalah anda, jangan sangkutpautkan dengan saya, Mister. Saya lelah dengan semua ini."
Beban yang harus Nara bawa di kedua pundaknya sudah terlalu banyak. Bukan hanya raga nya yang lelah, tapi juga hatinya.
"Kamu hanya menolong saya, agar semua bisa cepat selesai. Saya sangat ingin menyelamatkan Edsel agar tidak lagi menyesal untuk kedua kalinya karena telah mengabaikan seseorang."
"Cari saja perempuan lain yang bisa di ajak melakukan pernikahan kontrak tersebut. Saya tidak bisa."
Di nikahi oleh pria tampan yang mapan adalah impian setiap wanita. Lain halnya jika pernikahan itu hanya sebatas kepura-puraan. Walaupun tidak munafik, Nara yang sudah jatuh hati merasa tersanjung saat di ajak menikah secara langsung oleh Arion. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Nara hanya ingin di nikahi oleh pria yang benar-benar mencintai segala kekurangannya.
"Kamu sungguh tidak mau membuka hati? seandai kamu tahu bagaimana rasanya di telantarkan, mungkin keputusan mu akan mudah berubah."
Nara menyeret langkahnya kehadapan Arion, hatinya semakin menggerumung mendengar kalimat yang terucap dengan mudah dan terkesan menyepelekan.
"Saya tahu betul bagaimana sakitnya di telantarkan." Nara mendongak menatap Arion yang tubuhnya jauh lebih tinggi. "Bahkan saya tidak tahu wajah Ayah kandung saya seperti apa? Saya hanya hidup dengan Ayah tiri yang bejad! dan pada akhirnya Ibu yang turun tangan untuk membunuh pria bejad itu! apa hidup saya masih kurang menderita? Saya lelah!! saya capek!!"
Nara menarik napas dalam, genangan air di balik kelopak matanya perlahan tumpah dan mengalir tanpa bisa di hentikan.
__ADS_1
"Sekarang saya hanya bisa berpijak pada kedua kaki saya sendiri. Saya tidak memiliki siapapun!!" Sambungnya lagi. Kini tangisnya mengeluarkan raungan yang begitu menyayat hati.
"Saya tidak ingin berpura-pura dalam pernikahan. Jangan paksa saya lagi, Mister."
"Jika kamu mau menandatangai perkawinan kontrak yang sudah saya buat. Maka Ibumu akan ku keluarkan dari penjara." Arion berlalu tanpa rasa iba ketika gadis di hadapannya menangis dengan hebat. "Saya tunggu keputusan terakhir mu sampai besok pagi."
Arion selalu memiliki cara untuk mengalahakan lawannya. Peluang menang selalu mencapai angka 99%. Arion tidak pernah mau kalah dan tidak suka di bantah.
Jika itu menyangkut tentang keselamatan Ibunya, Nara sudah pasti tidak mungkin menolak.
...----------------...
Jam digital di layar ponsel Arion sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Setelan celana dan jas hitam sudah melengkapi ketampanan Arion pagi ini. Meninggalkan aroma Citrus dan mengganti parfum dengan aroma pappermint yang tidak kalah menyegarkan.
Tidak terlihat aktifitas apapun di luar kamar, padahal biasanya Nara sudah menyediakan susu hangat dan sepotong sandwich di atas meja makan. Sekarang, tidak ada sebutir nasi pun yang tersaji di sana.
Samar-samar terdengar suara ocehan Edsel dari dalam kamar.
"Apa dia masih marah?"
Pria jangkung itu tengah berkelumit dengan berbagai pertanyaan di kepalanya, perdebatan dengan Nara semalam di duga sebagai pemicu kemarahan Nara pagi ini. Sepertinya dia merajuk dan enggan keluar kamar untuk mengurusi keperluan Arion.
"Hari ini ada pertemuan penting, apa dia juga mau absen kerja??"
Karena penasaran, Arion memutuskan untuk menghampiri dan mengetuk pintu kamar tersebut.
"Nara, Kamu sudah bangun??" Daun telinga Arion sengaja di tempelkan ke pintu agar bisa mendengar suara dari dalam.
"Dadada.. Tatatata.. " Edsel menyahuti dengan bahasa khas bayi nya.
Tidak biasanya Nara mengacuhkan Arion seperti ini, dia paling takut di ancam potong gaji jika bertingkah tidak sopan.
"Edsel? Mama Nara bobo ya?"
"Mamamamamam... " Edsel menyahut lagi.
Dengan sengaja Arion memanggil Nara dengan sebutan Mama, karena pasti perempuan bawel itu protes karena tidak terima.
Hening.
__ADS_1
Masih dalam situasi yang sama, tidak terdengar suara atau pun pergerakan dari arah dalam. Hanya bayi pintar itu yang terdengar menendang-nendang kakinya keatas kasur hingga menimbulkan bunyi gedebuk.
"Dia benar-benar marah dan mengacuhkan ku?" Arion kembali bermonolog.
Pelan-pelan tangannya terangkat memutar knop pintu.
Klek!!
Tidak terkunci.
Kepala Arion menelusup di balik celah pintu, mengintip dan berjaga-jaga jika Nara mengamuk dia akan mudah melarikan diri.
"Nara... " Panggil Arion lirih.
Disana, tampak Edsel sedang bermain-main dengan selimut. Sedangkan Nara tidur melentang dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Terdengar suara erangan dari mulutnya yang terbuka.
"Apa kamu sakit?" Arion memastikan keadaan Nara yang ternyata tengah menggigil, badannya panas, peluh bercucur dari permukaan kulitnya. "Suhu tubuh mu panas sekali."
"Mamamamamam..." Edsel menoleh kearah Arion, ia tertawa lucu dengan gigi yang belum tumbuh.
"Nara sakit, kenapa tidak bilang pada ku? apa kamu menjaganya semalaman??" Bayi itu lagi-lagi merespon dengan tawa yang menggemaskan.
Arion menggendong Edsel, mengecek popok yang sudah penuh dan menggantinya, lalu bayi itu di lap menggunakan air hangat.
Bayi itu sudah rapi dengan bedak yang memenuhi wajahnya dan bau minyak telon yang menyengat.
"Aku akan mengantar mu ke penitipan bayi."
Tak lupa, Arion juga menyeduh satu botol susu untuk Edsel.
"Vin, tolong wakili saya dalam pertemuan hari ini." Sambil memegangi botol susu Edsel, Arion menelpon Sekretaris kepercayaannya.
"Jangan bilang kalau kalian mau jalan-jalan bertiga lagi," timpal Arion di seberang sana.
"Jaga bicara kamu! Nara sakit, dan saya kerepotan mengurus Edsel." Ditatapnya Nara yang sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang itu. Wajahnya pucat.
"Sepertinya anda mulai mementingkan Nara daripada urusan kantor sekarang, apa Mister sudah berubah?"
Mendengar kalimat Kevin yang memojokkan, Arion langsung mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
Apa yang salah? Semua hal di dunia ini dapat berubah kan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...