CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Ceriwis


__ADS_3

Ada apa lagi??


Pertanyaan membosankan itu terbersit di kepala Nara saat melihat mobil perusahaan yang biasa di pakai Kevin terparkir apik di halaman rumahnya.


Pria yang sedang bersandar di sisi mobil sepertinya tidak pantas di sebut sopir. Tampilannya gagah, setara dengan Mister Arion si manusia perdeksionis. Mereka berdua memang tidak ada bedanya, sama-sama angkuh.


"Ada angin apa, sampai anda datang kerumah kumuh ini?" Sindir Nara. Ia sudah siap dengan pakaian kantor lengkap dengan tas usang yang di pakai dari jaman kuliah.


Nara anak mandiri, dia tidak suka meminta, dan sangat pintar memenej pengeluaran. Barang-barang yang di pakainya tidak akan di ganti sebelum benar-benar rusak.


"Mister yang memintaku menjemput mu." Kevin merapikan arloji di tangannya, kemudian kembali ke balik kemudi mobil.


"Pasti ada maunya. Bayi itu lagi." Walaupun dengan wajah merengut, Nara tetap mengikuti perintah atasannya.


Ia langsung duduk cantik di jok penumpang, mengencangkan seatbelt.


"Mister adalah orang yang penyayang, terutama pada anak kecil." Ujar Kevin ketika mobil mulai membelah embun pagi yang berkabut.


"Anda bilang penyayang?? Hoax."


Bisa-bisa nya Nara mengatai atasannya di depan sekretaris kepercayaan. Biar saja, Kevin mengadu macam-macam, ia tidak takut.


"Kamu hanya belum mengenal Mister secara keseluruhan."


Pasti Kevin membelanya mati-matian kan? karena dia mendapat gaji lebih besar dari Nara.


"Kalau memang Mister seseorang yang penyayang, tidak mungkin tega memotong gaji saya hanya karena membantah hal sepele."


Nara mulai mengkalkulasi gajinya yang akan ia terima bulan depan, pasti hanya tinggal separuh.


"Kan saya bilang, dia menyayangi anak-anak. Kalau anda sudah jadi pawang anak-anak."


"Ya berarti dia tidak termasuk penyayang."


"Memangnya sudah pernah di potong gaji???"


Nara seketika bungkam. Mengingat dengan betul. Sepertinya Nara selalu menerima gaji full setiap bulan, tidak pernah ada potongan sepeser pun.


"Aaahh. Jadi itu ancaman Mister saja ya? kenapa saya baru sadar."


Ia baru menyadari sekarang, karena memang pemotongan gaji itu belum pernah terjadi selama hidupnya.


"Dia bukan penjahat seperti yang anda pikirkan."


Masuk akal. Jika benar Arion adalah seorang penjahat, tidak mungkin Kevin rela mengabdi seumur hidupnya pada High Class Corp. Terutama kepada atasan yang super ideal itu. Bahkan keduanya rela melajang bersama.

__ADS_1


"Kalau memang penyayang anak-anak. Kenapa tidak menikah saja, kan bisa punya anak."


Mulut Nara yang terlalu polos tidak mampu mengerem kelancangannya. Ia menutup bibirnya cepat-cepat setelah menyadari kata-katanya barusan.


"Anda terlalu jauh masuk ke area privacy." Kevin langsung menginjak gas dalam-dalam hingga mobil berderu dan melaju kencang di jalan tol.


Sesuai dengan perintah Arion, Kevin tidak langsung pergi ke tempat kerja. Melainkan membawa Nara ke apartemen. Ini tidak akan jauh-jauh dengan urusan bayi.


"Anda ingin mati muda ya?" Omel Nara saat menyamakan langkahnya di koridor apartemen. Selama di Lift ia juga mengoceh hal yang sama, memprotes Kevin yang terlalu kencang saat mengendarai mobil tadi.


"Mana mungkin. Saya bahkan belum menikah," Sahut Kevin santai.


"Kalau begitu, jangan pernah kebut-kebutan lagi seperti tadi."


Siapa dia? Beraninya mengomel seenak usus. Kevin menyunggingkan tawa di bibirnya. Menganggap lucu perempuan yang berjalan terseok-seok menyeimbangkan langkah karena menggunakan rok span sempit. Pantas saja Arion suka mengerjainya. Batin Kevin.


"Katanya Anda bisa di andalkan. Lalu bagaimana kasus bayi ini. Saya bosan, lelah, harus punya pekerjaan double."


Kevin menahan tawanya, perempuan itu selain lucu, polos, dia juga ceriwis.


"Mister tidak mau jika anak itu nantinya mendapat tempat yang tidak memadai, di Panti asuhan misalnya yang keperluannya belum tentu terjamin seutuhnya. Jadi selama identitas si pembuang bayi belum di temukan, ia akan merawatnya."


"Laporkan pada polisi dong. Jangan sombong, berlaga akan mencari tahu sendiri."


"Sudah Nona." Katanya membungkuk di hadapan Nara.


"Kenapa aku tidak tahu? kenapa Mister tidak bilang??"


Ya karena anda cerewet. Ingin rasanya Kevin mengatakan itu dengan lantang. Tapi dia tidak ingin mendapat sumpah serapah dari Nara.


Kevin menekan beberapa digit angka pada pintu apartemen Arion.


"Tunggu. Anda juga tahu pasword apartemen Mister??" Nara menahan pergelangan tangan Kevin yang siap mendorong pintu.


"Bahkan nomor ****** ******** saja saya tahu." Kevin semakin suka menggoda nya.


"Kenapa aku tidak tahu? kenapa Mister tidak memberitahu ku??" Kalimat yang sama lagi. "Aku kan sering mengunjunginya."


"Sering??" Kevin mendelik. Mulai curiga dengan hubungan mereka berdua.


"Tidak juga, maksud saya karena ada bayi itu yang harus di urus." Intonasi Nara berubah datar.


Perbincangan itu terus berlanjut, sampai mereka tidak sadar ada yang memperhatikan dari arah sana. Seorang pria yang sudah siap dengan jas kerja berwarna abu-abu, namun harus menggendong bayi sambil menyusuinya.


"Kalian asik berbincang, dan lupa dengan tugas! " Gertaknya.

__ADS_1


"Maaf." Kevin membungkuk lalu di ikuti oleh Nara.


Edsel langsung berpindah tangan kepada Ibu angkatnya. Anggap saja begitu, walau Nara pasti tidak mau di sebut Ibu. Dia masih muda, katanya.


"Berangkat sekarang kita, jangan lupa mampir ke tempat penitipan bayi."


Setelah Edsel di ambil alih oleh Nara, Arion pun bergegas meraih tas kerjanya. Bukan hanya itu, dia juga mencangking tas yang berisi persediaan susu serta diapers milik Edsel. Bekal yang selalu di bawa saat Edsel di titipkan.


Diam-diam Nara tersenyum saat memperhatikan hal tersebut. Rupanya Arion memang pantas di panggil Mister si penyayang.


"Kenapa masih di sana? mau bolos kerja?"


Arion dan Kevin yang sudah hampir tiba di ambang pintu kemudian menghentikan langkahnya karena Nara yang masih mematung bersama lamunannya disana.


"Tunggu."


"Apalagi? pekerjaan sudah menunggu." Arion menghela napas.


"Mister pilih saya atau Kevin?? "


Entah pertanyaan macam apa yang sedang Nara ajukan. Alasannya adalah karena perlakuan Arion yang dirasa tidak adil kepadanya. Padahal sudah jelas-jelas Nara lah yang paling di repotkan dalam hal ini.


"Pertanyaan bodoh macam apa ini, Nara??"


"Ya karena anda lebih percaya pada Kevin dari pada saya. Anda melapor polisi tanpa saya tahu, dan Kevin tahu pasword apartemen anda sedangkan saya tidak."


Kevin langsung menutup mulutnya, agar tawa nya tidak di ketahui. Satu lagi yang Kevin dapatkan tentang diri Nara yang sebenarnya, Jujur dan bodoh merangkap jadi satu.


"Karena dia memang orang kepercayaan saya."


"Lalu saya anda anggap apa? saya rela mengurus bayi anda. Capek, lelah, semua saya lakukan demi mematuhi perintah anda." Mulut ceriwisnya memang kadang tidak mengenal tempat.


"Apa maksudnya? kamu mau saya anggap istri??"


Arion berlalu meninggalkan Nara, jika meladeni si ceriwis itu mungkin tidak akan kelar sampai bertemu lagi malam.


"Istri???" Nara melotot. "Bukan begitu..... " Sangkal Nara, ia berusaha berlari kecil untuk mengejar Arion dan Kevin yang hampir sampai ke depan Lift.


"Lalu apa?? Jangan berbicara yang tidak penting. Cukup patuhi perintah saya, urus bayi itu dan saya akan bayar sebanyak yang kamu mau." Arion merapatkan selimut Edsel di dalam gendongan Nara. Khawatir bayi itu akan kedinginan.


Nara mengerucutkan bibirnya, tidak ingin menjawab lagi karena Arion sedang menatap tajam kedua matanya. Mirip seperti sebuah ancaman.


Selanjutnya, mereka memilih diam selama lift melaju menuruni gedung bertingkat tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2