CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Deal


__ADS_3

Perjalanan menuju kantor di selimuti oleh keheningan. Baik Nara ataupun Arion, tidak ada satu pun yang mau membuka suara.


Keduanya sama-sama menahan diri setelah praduga yang terjadi pagi ini.


"Tolong jangan salah paham. Malam tadi, kita tidak melakukan apapun."


Akhirnya setelah mobil mereka berhenti di basement, Arion langsung membuka suara.


Nara menggigit bibir, merasa tidak enak juga karena sudah menuduh hal yang bukan-bukan pada Arion. Sebenarnya itu hanya bentuk rasa khawatir yang berlebihan.


"Saya takut, karena saya memiliki trauma masa lalu." Nara memilih jujur, berharap Keduanya bisa saling memahami.


"Saya tertidur di ranjang kamu, bukan di sengaja. Itu sungguh karena kamu terus mengigau memanggil Ibu, dan.... Bapak." Arion menjeda kalimat terakhirnya.


Atensi Nara langsung teralihkan, ia menoleh dengan linangan air mata yang siap tumpah.


"Ibu membunuh Bapak, karena... "


Kalimat itu menggantung, Nara menunduk dan kembali menangis.


"Ayah tiri mu melakukannya...." Arion pun ragu untuk menduga, khawatir dengan kalimat yang nanti bisa membuat Nara kembali terluka.


"Hampir." Nara kemudian mengangguk, membenarkan bahwa dugaan Arion tidak salah. Pria itu langsung menghela napas panjang. Mengusap pucuk kepala Nara.


"Semuanya sudah berlalu, kamu terlahir untuk jadi perempuan hebat." Kata-kata itu keluar begitu saja, padahal dirinya pun tidak sehebat yang mereka kira. Arion masih terjebak dalam trauma masa lalu.


Tapi tidak seharusnya berlarut-larut.


"Maaf." Nara cepat-cepat menyeka air matanya. "Hari ini saya terlalu banyak menangis."


Buru-buru ia keluar dari mobil, mengingat banyak berkas yang harus di kerjakan di ruangannya.


Arion datang menyusul, menyamakan langkahnya. "Ruangan kita arahnya sama, ayo barengan."


Tangan Arion tiba-tiba melingkar pada pundak Nara, seketika perempuan yang lebih pendek itu mendongak dan berusaha mengelak.


"Jangan dekat-dekat. Nanti karyawan menduga hal-hal buruk pada kita." Nara menggeser jarak, dan rangkulan itu terlepas.


Krep!!


Arion menahan pergelangan Nara. Menghentikan langkah mereka tepat di depan pintu Lift.


"Kenapa harus peduli? mereka juga sudah tau kita tinggal bersama dan mengurus bayi."


Kini mereka saling berhadapan.


"Saya pakai parfum aroma melati, Mister. Jangan dekat-dekat karena Mister bisa... "


HATHCCI!!!!!!


Kalimat Nara terpotong karena Arion sudah bersin lebih dulu.

__ADS_1


"Bukan salah saya loh.." Nara menyelinap ke dalam elevator setelah pintunya berdenting terbuka.


"Kenapa harus aroma melati?? bikin merinding saja?" Gerutu Arion saat menyusul Nara ke dalam Lift.


"Sorry!" Nara melebarkan tawanya.


Hatcciih!!!!


Hatcciiih!!!


Hatcciihhh!!!


...----------------...


"Ada berita penting apa, hingga kamu menerobos rumah orang pagi-pagi buta?"


Arion meminta Kevin datang mengadap ke ruang kerjanya. Ia masih sangat geram karena Kevin pergi begitu saja setelah menyebarkan berita tidak benar di depan Nara.


"Sebenarnya bukan urusan kantor, itulah mengapa saya ingin membahas perihal ini di rumah. Tapi saya justru memergoki anda berdua..."


"Katakan!" Arion memotong kalimat Kevin yang sudah merembet kemana-mana.


"Oke, oke." Kevin kembali serius jika Arion sudah mulai menunjukkan kedua tanduknya. "Pengadilan tetap tidak bisa meloloskan berkas adopsi Edsel. Cek yang anda berikan langsung di tolak mentah-mentah dan saya justru mendapat ancaman pelaporan suap."


Arion menarik diri, bersandar di kursi kerjanya. Menekan pangkal hidungnya pelan.


"Apa menurutmu, saya harus melepaskan Edsel?? meninggalkannya di panti?"


"Jika anda mau, saya akan carikan panti asuhan yang kualitasnya bagus. Lalu anda bisa jadi donatur disana sehingga kesejahteraan Edsel juga terjamin."


Masih sulit melepaskan kepergian bayi itu, walau pada awalnya kehadiran Edsel tidak di hendaki sama sekali. Tapi ketika melihat tumbuh kembangnya yang menggemaskan setiap hari. Akan membuat Arion ragu untuk berpisah dengan bayinya.


"Saya akan kabari lagi nanti, silahkan kembali bekerja."


...----------------...


"Nara, ada berita penting untuk mu."


Kembali dari ruangan Arion, Kevin langsung berbicara pada Nara yang sejak tadi fokus pada layar monitornya.


"Kenapa? ada apa? mau traktir makan lagi??" Nara bersemangat karena sebentar lagi jam makan siang.


"Bukan, ini lebih penting dari sekedar makan."


Wajah Kevin sangat meyakinkan, Nara menyimak lawan bicaranya dan meninggalkan pekerjaannya sejenak.


"Memang nya apa?"


"Edsel akan di serahkan ke panti asuhan, karena berkas adopsinya tidak lolos. Kamu bisa bebas sekarang, tidak kelelahan lagi mengurus bayi dan harus tinggal bersama Mister."


Kevin sering mendengar Nara berkeluh kesah tentang kepadatan jadwal kerjanya di kantor dan di rumah. Arion dan Nara juga sering berdebat perihal mengurus bayi. Maka tidak salah jika Kevin mengira ini menjadi berita bahagia bagi Nara, karena perempuan itu akan kembali pada fitrahnya. Bebas untuk melakukam apapun di luar jam kerja.

__ADS_1


"Mister sudah memutuskan?? merelakan Edsel??"


"Iya, saya yang akan mencari panti terbaik untuk bayi itu."


Nara bangkit dari duduknya, menghiraukan Kevin yang masih berbicara.


"Mau kemana??" tanya Kevin.


Nara melengos begitu saja, langkah kakinya tergesa-gesa menuju ruang kerja Arion.


Brak!!


Nara mendorong pintu sedikit kasar tanpa permisi. Tidak peduli bahwa ada tamu yang sedang berbincang dengan Arion.


"Hei! tidak sopan, kamu nggak tau tata krama ya?" Yeri melotot tidak suka karena obrolan mereka terganggu.


Arion berdiri dan mendekat ke arah Nara, begitu juga Yeri yang memasang wajah marah seolah ingin menjambak rambut Nara yang terurai.


"Kak, beri pelajaran dong karyawan kamu. Kok bertindak seenaknya." Omel Yeri seraya menarik lengan kemeja Arion.


Arion menepis tangan Yeri, meminta untuk diam dengan kode telapak tangannya.


"Ada apa? kenapa tidak mengetuk pintu dulu." Intonasi datar itu terdengar dari belahan bibir plum merah jambu milik pria jangkung yang menatap Nara dengan tajam.


"Biarkan Edsel bersama kita. Saya akan tanda tangani surat perkawinan itu," ucap Nara tanpa ragu.


Mendengar kalimat Nara yang begitu jelas, kembali mengundang emosi Yeri yang semakin bergulat di hatinya.


"Perkawinan apa? kalian akan menikah?" Yeri datang menyerang Nara, menarik kerah baju dengan bringas. "Mimpi kamu ya, mau nikah dengan Kak Arion!!!" Bentaknya.


Nara menghempaskan tangan Yeri tak kalah kasar. Lalu mendorong dadanya hingga nyaris terjerambab.


"Mister yang mau menikah dengan ku." Nara menjawab dengan penuh percaya diri, sebenarnya dia hanya sedang ingin menyelamatkan diri dari intimidasi perempuan kurus di depannya itu. Yeri memang terlihat menyebalkan. Selalu ikut campur urusan Nara.


"Asal kamu tau. Bahwa Kak Arion masih mencintai Syera, mereka sudah memiliki anak."


"Diam!!!" Bentak Arion kemudian. "Keluar dari ruangan saya, Yeri."


Nara bergeser turut memberi jalan kepada Yeri.


"Kak Arion, kenapa harus menikah dengan Nara?? apa karena bayi itu?" Yeri masih tetap ikut campur.


"Saya bilang keluar, ini bukan urusan kamu." Usir Arion sekali lagi.


Dengan kesal Yeri mengentakkan kakinya dilantai dan pergi begitu saja.


"Kamu yakin akan melakukan kawin kontrak dengan saya demi Edsel??" Kini Arion datang pada Nara.


"Bukan hanya demi Edsel. Tapi demi Ibu. Tepati janji anda untuk mengeluarkan Ibu dari penjara jika saya setuju."


"Oke, Deal!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2