
Beberapa waktu lalu, Arion dan Nara sudah membicarakan beberapa hal serius tentang kelangsungan rumah tangganya. Termasuk perihal pekerjaan Nara di High Class Corp, jabatannya sebagai sekretaris akan segera di copot. Arion meminta Nara untuk full menjadi Ibu rumah tangga dan tidak menghabiskan banyak waktu serta tenaga untuk sebuah pekerjaan di kantornya.
Keputusan ini awalnya mendapat protes keras dari Nara. Pekerjaan tersebut sudah ia cintai dan tak ingin di tinggalkan begitu saja. Tapi sepertinya Edsel memang membutuhkan perhatian penuh, agar bayi lucu itu tidak menghabiskan waktu di penitipan.
Kasih sayang dan perhatian dari orang-orang sekitar sangatlah berpengaruh kepada tumbuh kembang sang anak. Meskipun Edsel bukan anak kandung, tetapi Arion sudah menata hidup bayi mungil itu dengan sempurna. Termasuk rencana sekolah Edsel yang bahkan masih entah kapan waktunya. Segala sesuatu nya ia persiapkan dengan sangat baik.
"Baiklah... " Jawaban Nara terdengar tidak bersemangat setelah menyepakati keputusan Arion.
"Jangan khawatir sayang, kamu masih bisa datang ke kantor untuk sekedar mengantarkan bekal makan siang ku." Arion menyentil dagu istrinya.
"Tetap saja beda, aku jadi tidak bisa sering-sering mengomeli Kamu dan Kevin."
"Hahaha betul juga." Tawa Arion renyah, mengingat Si Bawel di hadapannya yang sering menghangatkan suasana kantor.
"Juga tidak bisa memanggil mu dengan sebutan Mister lagi." lanjut Nara dengan irama yang mendayu.
Arion meletakkan Telunjukknya di dagu, bibirnya mengerut, bola matanya berotasi seolah sedang mencari ide.
"Untuk yang satu ini, kamu masih bisa memanggil ku Mister." Katanya.
"Bagaimana bisa? Untuk apa di rumah memanggilmu dengan sebutan se formal itu." Seingat Nara, Suaminya tidak suka berbicara formal jika berada di luar kantor.
"Katakan, Yes, Mister! jika kita sedang di ranjang." Bisiknya seraya menyeringai nakal. Hal itu berhasil membuat Nara bergidik ngeri.
"Dasar mesum!!" Nara menjewer telinga Arion hingga suaminya itu memekik kesakitan.
Kejahilan itu pun berakhir menjadi tawa yang begitu hangat. Mereka bahkan hampir lupa bagaimana cara tertawa lepas tanpa memikirkan beban apapun. Tawa bahagia yang nyaris terkubur bersama masa lalu itu kini kembali hadir menghiasi pernikahan keduanya.
"Apa Edsel sudah tidur?" Arion melirik pintu kamar mereka yang terbuka.
Sebenarnya itu hanyalah pertanyaan bodoh. Sudah jelas-jelas mereka berbincang sejak tadi di ruang televisi setelah menidurkan Edsel bersama.
"Akhir-akhir ini Edsel semakin pintar, dia tidur dengan cepat dan bangun pagi tanpa rewel sedikitpun." Nara merasa berhasil mengurus bayi itu hingga sampai pada titik seperti sekarang.
__ADS_1
"Bukan. Maksud ku, apa kita sudah bisa memulainya?" Arion menarik tangan Nara hingga tubuhnya jatuh kedalam pelukan.
"Arion, Sebaiknya kita tidur sekarang. Aku lelah. Bahkan malam kemaren kamu minta tambah sampai dua kali."
Nara menahan bibir Arion dengan telapak tangan saat akan mencumbu. Namun kemolekkan tubuh istrinya seolah menjadi candu bagi Arion.
"Tapi aku menginginkan kamu lagi malam ini." Arion mendesak sekuat tenaga. Ia mulai menyadari dada mulus milik Nara.
"Hemm... " Nara mengerang ketika gigitan kecil itu menyerang ceruk lehernya.
"Ayo lakukan di sofa malam ini. Pasti akan menjadi sensasi yang lebih nikmat." Dengan Brutal Arion langsung mendekap kedua pipi Nara, lalu m3ncumbu istrinya.
"Sayang... Emmhhh..." Nara menggelinjang menerima sentuhan demi sentuhan yang berhasil membuat libido nya naik.
Kembali menghabiskan malam dengan penuh cinta dan gairah. Deru napas keduanya saling bersahutan. Berpacu dengan tempo yang teratur, Bergerak maju mundur untuk mencapai sweet spot. Pergumul4n panas Arion dan Nara mencapai ******* sesuai yang di inginkan.
...----------------...
Seperti biasa, menu sarapan sudah tertata rapi di meja. Pekerjaan Nara yang biasanya on di depan layar komputer, sekarang beralih posisi di depan kompor. Tidak masalah, keduanya sama-sama mendapatkan point yang penting. Melayani Mister Arion dengan sepenuh hati.
Sarapan bersama keluarga menjadi quality time yang tidak pernah Arion lewatkan, kecuali dalam keadaan yang mendesak. Menikmati santapan buatan istri adalah salah satu cara memupuk benih-benih cinta untuk Nara agar semakin subur.
"Aku berangkat sekarang. Baik-baik di rumah bersama Edsel." Kecupan lembut itu mendarat di dahi Nara.
"Jangan khawatir." Nara membalas dengan senyum termanis yang ia miliki. Kemudian ia mengantar Arion bekerja hingga ke ambang pintu.
Sebelum berpamitan pergi, terlebih dahulu Arion memberikan ciuman kepada Edsel yang masih terlelap di tempat tidur.
Menjadi Ibu rumah tangga tidak terlalu membosankan seperti yang Nara pikirkan sebelumnya. Ada part-part tertentu yang membuatnya asyik berdiam diri di rumah. Terutama melihat perkembangan Edsel yang tumbuh dengan cepat.
Sesekali ia akan memandang foto berbingkai yang terpajang apik di beberapa sudut rumahnya. Dengan riasan cantik dan balutan gaun berwarna putih susu, Nara menatap Arion yang sedang tertawa lepas kepadanya. Nara masih tidak menyangka akan secepat ini berada di titik yang benar-benar membahagiakan. Walaupun terkadang awal dari cerita tersebut banyak yang ngelantur dan tidak terduga. Tapi pada akhirnya ia bisa merasakan cinta yang besar dari Arion, Manusia kutub yang ia sihir menjadi Seseorang paling hangat hatinya.
Belum sampai sepuluh menit setelah keberangkatan Arion, suara bel apartemennya kembali berdenting.
__ADS_1
"Apa ada yang ketinggalan?" Gumam Nara lirih, mengira bahwa Arion kembali.
Tanpa mengecek monitor, Nara langsung membuka pintu. Matanya melotot saat mengetahui tamu nya datang sepagi ini.
"Yeri, ada apa?" Ini pertama kali nya Yeri datang berkunjung selama Nara hidup satu atap dengan Arion. Karena memang Arion hanya mengizinkan orang-orang tertentu saja yang bisa mengunjungi hunian mewahnya.
"Hai Kakak sepupu. Selamat pagi." Sapa Yeri sok ramah. Karena Nara juga tahu bahwa sepupu Arion itu tidak menyukainya sejak awal.
"Ada perlu apa? Arion sudah pergi ke kantor sejak tadi." Ketus Nara. Ingatannya belum pupus saat Yeri membuat kegaduhan di Kantor beberapa waktu lalu dengan membocorkan beberapa privacy nya.
"Kamu salah. Aku memang tidak mencari Kak Arion. Aku hanya ingin menyapa mu dan Edsel." Kakinya melangkah maju memasuki rumah. Namun Nara segera menahan pergerakkannya.
"Tidak seperti biasanya. Kamu. Menunjukkan keakraban seperti ini. Katakan saja apa mau mu?" Nara mulai tidak suka dengan sikap Yeri yang terkesan bertele-tele. Biang rusuh seperti dia tidak mungkin hanya datang untuk sekedar berasa basi. Selalau ada maksud di dalamnya.
"Owh... " Jawabnya sambil memicingkan mata. "Kamu selalu menaruh curiga padaku." Yeri menarik tubuhnya agar lebih dekat dengan Nara. "Edsel akan segera bertemu dengan kakak baru. Syera sudah datang. Apa kau siap untuk bertemu?" Bisikkan maut Yeri berhasil membuat seluruh tubuh Nara bergidik. Seolah ada momok menakutkan yang siap menyerang Nara.
"Syera... " Ulang Nara lirih.
"Ya, kekasih Arion dan dia juga membawa putri cantiknya. Kamu akan segera menjadi Ibu Tiri." Kekehan kecil Yeri seperti jarum yang menusuk-nusuk gendang telinga Nara.
Melihat Nara yang menampakkan wajah tegang, Yeri justru semakin menyukainya. Dia berhasil mengacaukan mental Nara.
Sejak awal, Yeri memang kurang suka padanya. Posisi Sektretaris yang sudah lama ia incar di High Class Corp harus di ambil alih oleh Nara. Belum lagi, saat Arion mengambil keputusan untuk menikahi Nara, padahal jelas-jelas Yeri masih berharap bahwa Sepupunya itu kembali pada Syera teman baiknya semasa Sekolah dulu.
"Silahkan keluar jika sudah selesai." Ujung telunjuk Nara mengarah ke ambang pintu. "Aku sudah tidak bisa Terima tamu."
Semakin lama keberadaan Yeri akan membuat Nara kacau. Mengusirnya secara terang-terangan adalah pilihan paling tepat.
"Baiklah, Calon Ibu tiri." Nadanya mengolok. Yeri melambaikan tangan dengan manja sembari berlalu meninggalkan hunian milik Arion tersebut.
Nara mematung meremas jemari tangannya yang tiba-tiba berkeringat. Ia berulang kali menarik napas dalam-dalam seraya menengadah. Ada sesak yang tiba-tiba menyeruak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1