CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Syera Bertemu Arion


__ADS_3

"Aku tidak yakin dengan ini. Sebaiknya jangan sekarang, Yeri." Syera menahan tangan Yeri yang sedang mengemudikan mobil.


"Kamu lupa tujuan mu kemari?" Yeri tak hiraukan apapun yang di katakan Syera. Pertemuan Syera dan Arion setelah kurang lebih sepuluh tahun adalah hal yang paling ia nantikan. Berharap cinta mereka akan kembali bersemi. Siapa peduli dengan istri Arion sekarang, Yeri berada di pihak Syera.


"Mungkin besok atau lusa. Sekarang Aku belum siap." Ada keraguan yang masih bersarang di hati Syera.


Yeri menggeleng tak peduli. "Aku akan tetap membawa mu bertemu dengan Arion di kantor." Laju mobilnya sedikit di percepat. Yeri melirik Elea yang tengah asyik melihat pemandangan jalan. "Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Papa nya kan?"


Syera mengikuti arah pandang Yeri. Melihat gadis kecil manis yang hidup tanpa seorang Ayah hingga di usia ke sepuluh. Mereka sudah melewati banyak hal bersama.


Elea lahir dari gadis belia yang belum siap menjadi seorang Ibu. Di tentang penuh kehadirannya oleh pihak keluarga. Sempat akan di aborsi karena kelahiran bayi tak ber-Ayah itu akan mencoreng nama baik keluarga. Namun di urungkan setelah Syera memohon-mohon kepada orangtuanya. Ia mengancam balik, jika bayi itu di aborsi maka ia juga akan ikut mengakhiri nyawa bersama. Janin di dalam perutnya itu tidak bersalah. Bayi itu satu-satu nya cinta yang masih ia miliki. Setidaknya kenangan indah bersama Arion akan terus mewarnai hidupnya hanya dengan melihat Elea berhasil tumbuh sehat menjadi gadis cantik dan pintar.


"Menurut mu apakah keputusan ku sudah tepat." Syera menatap Yeri.


"Tentu saja. Sudah saatnya Elea mengetahui semua. Lagipula rahasia ini tidak akan bisa di sembunyikan seumur hidupmu. Kamu akan terus di hantui perasaan bersalah." Yeri membalas tatapan Syera walau ia harus tetap fokus saat mengendarai di jalanan ramai.


"Benar juga. Tapi masalahnya Arion sudah beristri, aku khawatir kehadiran kami akan menjadi perkara besar."


Jauh dari dalam hatinya, ada kecewa yang menggunung dalam dada Syera. Ia tidak menyangka bahwa Arion akhirnya bisa melepaskan diri dari penjara masalalu.


Jika harus jujur, Syera berharap Arion bisa menunggunya sepuluh atau bahkan dua puluh tahun sekalipun. Rupanya ia salah menilai. Padahal sudah jelas, alasan ia melajang hingga kini hanya karena satu alasan. Arion Abhivandya, pria teristimewa itu tak akan terganti di hatinya. Syera bahkan tidak mau mencarika Ayah pengganti untuk Elea walau ada banyak pria tampan dan mapan yang bersedia membahagiakannya.


"Hei... Dia menikah hanya formalitas. Kamu harus tahu itu!" Yeri merasa yakin. Dia memang berbakat menjadi wartawan karena sangat lihai mengorek serta mendapatkan berbagai informasi dari kehidupan orang lain.


"Sungguh? Tapi apa alasannya?" Mungkin dengan begitu, Syera merasmerasa mendapatkan setitik harapan.


"Ya benar. Dokumen pernikahannya hanya untuk elengkapi persyaratan saat mengadopsi bayi."


"Untuk apa mengadopsi bayi?" Syera yang tidak tahu apapun menjadi semakin bingung dengan cerita Yeri.


"Nanti akan ku ceritakan dengan lengkap. Jadi intinya, dia menikah bukan karena mencintai perempuan jelek itu. Aku yakin dia pun masih mencintai mu sama seperti yang dulu." Yeri menepuk pundak Syera yang duduk di sebelahnya.


"Jangan memberikan harapan palsu padaku, Yeri." Syera tersipu.


"Tentu tidak calon kakak Ipar." Yeri tertawa jahil.


Lagi-lagi kenangan itu menari-nari di pelupuk mata Syera. Suasana kota yang tidak banyak berubah. Beberapa tempat yang menyimpan kenangan itu berhasil menciptakan mesin waktu menuju masalalu. Taman kota yang sering ia kunjungi saat pulang sekolah bersama Arion, Bioskop yang menjadi pilihan tempat nonton terbaik saat malam minggu, atau Danau di tepi kota yang selalu menemani sore-sore mereka melihat sunset.

__ADS_1


Kedua sudut bibirnya melengkung, ada bahagia dan haru yang menyapa bersama.


"Mama, berapa lama lagi perjalanan kita? Aku tidak sabar ingin bertemu papa." Elea tampak mulai bosan.


"Sebentar lagi, sayang," sahut Syera disana.


...----------------...


Yeri menerobos masuk ke dalam ruangan Arion. Di ikuti Syera dan Alea di belakangnya. Kevin sudah berusaha mencegah, tapi gagal.


"Tolong jangan membuat kerusuhan lagi di kantor ini, Yeri." Pinta Kevin saat menghalangi langkah mereka.


"Kamu tidak lihat, aku datang bersama siapa. Tentu nya kamu tau dia kan?" Tunjuk Yeri ke arah Syera.


"Justru itu masalahnya, seharusnya kamu membuat janji di luar kantor. Karena ini bukan urusan pekerjaan." Kevin akan turut mendapat kecaman dari Arion jika tidak bisa mengatasi masalah ini.


"Apa peduliku. Awas!!" Yeri menyerobot masuk dengan sekuat tenaga.


Kevin mencoba mengejar dan kembali menahan. Lambat, perempuan itu lebih cepat dari hantu. Ia berhasil sampai ke ruangan Arion.


"Kejutan.... " Seru nya saat pintu kaca itu di buka lebar. Arion yang sedang fokus pada layar monitor segera mengangkat kepala. "Kak Arion, coba lihat siapa yang ku ajak kemari."


Arion seketika terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya sekarang. Perempuan dengan rambut gelombang kecoklatan, kulit putih dan tinggi semampai. Syera tampak jauh lebih dewasa, ia tidak lagi mengikat rambutnya seperti ekor kuda seperti masa pacaran dulu.


"Syera... " Lirih Arion.


"Iya, ini aku. Dan ini Elea." Syera mengusap rambut lurus hitam milik putrinya. Rambut yang sama seprti yang di miliki Ayah biologisnya.


"Apa dia...?" Kalimat Arion menggantung.


"Aku membiarkannya hidup." Napasnya tercekat, ada air mata yang melesak keluar dari kelopak.


Arion perlahan meninggalkan meja kerjanya, berjalan mendekat lalu bersimpuh menyamakan tinggi dengan Elea.


"Hai, salam kenal." Arion mengulurkan tangan.


"Aku kemari ingin bertemu Papa." Elea mengabaikan Arion, ia menarik-narik tangan Ibu nya. "Mana Papa??"

__ADS_1


Semua yang ada disana menoleh kearah Elea, kemudian saling bertatap satu sama lain, antara Syera, Arion, Yeri, dan juga Kevin yang tetap tinggal.


"Namaku Arion, panggil aku Papa." Tangan Arion yang sejak tadi di abaikan kemudian beralih mengusap pucuk kepala Elea. "Wajah mu sangat mirip dengan ku."


Elea masih bingung dengan suasana yang tidak ia pahami sekarang. Kemudian Syera angkat bicara mencoba memberikan sedikit penjelasan bahwa apa yang mereka cari selama ini sudah di temukan.


"Ini Papa Elea. Papa yang selama ini kamu selalu tanyakan."


"Sungguh??" Wajah Elea sumringah. Syera mengangguk. "Boleh aku memeluk mu?" Tutur polos itu seketika membuat suasana haru. Ia menatap lekat wajah Arion dengan mata bulat yang berkilau.


Arion mengangguk. "Ayo peluk Papa."


Ada debaran asing yang menyerang dada Arion, separuh jiwa yang hampa kini seolah terisi. Banyak hal yang tidak bisa ia tebus di masa lalu. Detik yang tak terhingga telah ia lewatkan. Hingga kini ia masih tidak menyangka bahwa buah cinta nya terjaga dengan baik oleh Syera. Gadis manis bernama Elea, dia sudah menemukan cinta pertamanya.


"Mengapa kita harus hidup berpisah?" Elea melepaskan pelukannya, ia menangkup dan mengusap air yang jatuh di pipi Arion. "Papa tampan tidak sayang Elea?"


"Papa sayang Elea. Papa janji kita tidak akan berpisah lagi." Bersama tangisnya, Arion tersenyum melihat gadil kecil ini begitu menggemaskan. Rasa bersalah semakin menggerogoti batinnya. Dia cukup jahat karena tidak bisa bertanggung jawab atas segala perbuatannya pada Syera.


Yeri segera memberi pelukan kepada sahabat nya itu. Selama ini Syera sudah berhasil menjadi perempuan yang hebat.


"Papa tidak memeluk mama??" Elea menatap Arion dan Syera bergantian.


Keduanya diam.


"Sekali saja Kak Arion, demi Elea," tawar Yeri.


"Tapi kamu tahu kan tahu Yeri, bahwa aku.... " Arion kembali menegakkan tubuhnya. Berdiri di hadapan Syera.


"Elea, Papa tidak bisa memeluk Mama sekarang. Lain kali saja ya?" Syera yang peka dengan situasi segera menengahi.


"Kali ini saja, Pa, Ma. Demi aku." Gadis kecil itu penuh harap. Ia bahkan menangkup kan kedua tangan untuk memohon.


"Oke.. Oke.. Satu kali saja." Pertahanan Arion runtuh. Ia membuang ego nya, menyamping kan sebentar rasa sungkan nya. Dalam hati ia berucap dengan lantang, meminta maaf kepada Nara. Ia tidak bermaksud menghianatinya seperti ini. Semua karena sebuah alasan.


Deg!


Pelukkan pertama setelah perpisahan menyakitkan lebih dari satu dekade yang lalu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Syera," bisik Arion penuh sesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2