
Sejak sore, Nara sudah sibuk berkecimpung di dapur, membuka chanel memasak hanya untuk melihat resep yang enak. Perabotan sudah seperti kapal pecah. Tapi usahanya tidak sia-sia, Nara berhasil menyajikan beberapa menu di meja. Ia mempersiapkan semuanya untuk makan malam bersama Arion.
Berulang kali Nara mengecek ponselnya sekedar untuk melihat pesan yang ia kirimkan kepada Arion. Namun pesan tersebut bertahan di centang satu. Beberapa panggilannya pun tidak membuahkan hasil.
"Tidak biasanya dia seperti ini." Katanya gelisah. "Mungkin lagi banyak kerjaan di kantor." Nara berusaha menenangkan diri.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur, Nara langsung memandikan Edsel juga dirinya. Penampilan yang wangi dan rapi tentu akan membuat suami senang ketika bertemu istri setelah seharian berkelumit dengan pekerjaan.
Memakai pakaian terbaik dan sedikit riasan di wajahnya. Nara memang kurang pandai mengaplikasikan make up, tapi setidaknya kali ini ia harus melakukan itu demi Arion.
Waktu terus berjalan. Nara mondar mandir di ruang tengah sembari memperhatikan jarum jam yang terus bergerak. Satu jam, dua jam, hingga petang pun mulai menyapa. Di ufuk barat tampak gelap dan kemerahan, Mentari tak lagi terlihat keberadaannya.
"Masih belum ada kabar?" Dengusnya kesal. Ia melempar ponselnya ke atas sofa.
"Papapapa... " Edsel yang sedang bermain di kereta dorong nya tampak melambai-lambaikan tangan ke arah pintu.
"Papa belum pulang sayang." Nara menghampiri lalu menggendong bayi lucu tersebut.
"Mamamama... " Mulutnya yang lucu penuh air liur, Edsel memang sudah pandai mengisap jempol tangannya. Kemudian ia menguap berulang kali, dan rengekkannya mulai terdengar.
"Kamu ngantuk ya. Mama buatkan susu, oke?" Nara menciumi bayi gembul itu. Aroma bayi memang membuat candu.
Nara membawa Edsel ke dapur untuk membuat susu. Lalu mereka menuju ke kamar. Edsel di baringkan bersama pelukan hangat yang selalu Nara berikan pada bayi menggemaskan itu.
Edsel tertidur pulas setelah setengah jam di pok-pok dan di putarkan musik.
Selang beberapa menit terdengar suara bel apartemen. Bergegas Nara turun dari tempat tidur.
"Arion." Nama itu langsung terucap bersamaan dengan pintu yang mengayun terbuka.
"Selamat Malam Nyonya." Pria di hadapannya membungkuk.
Mimik wajah Nara langsung berubah ketika seseorang yang datang tersebut bukanlah suaminya.
"Berhenti memanggilku Nyonya." Protesnya.
"Sekali-sekali saja." Kevin sedikit mengolok.
__ADS_1
Kesalnya masih sebesar gunung. Dalam hatinya yang paling dalam ia sungguh sedang tidak mau menerima tamu.
"Pulang saja. Aku tahu Mister mu itu sibuk dengan pekerjaan." Begitulah tebakan Nara karena Keberadaan Kevin di hadapannya tak lain atas utusan Ceo High Class Corporation itu.
"Sebenarnya bukan tentang pekerjaan. Mister terlambat pulang, tapi karena ada hal lain."
Manik hitamnya mulai melebar. Kalimat yang di ucapkan Kevin cukup menarik perhatian Nara.
"Ada pertemuan dengan Syera." Sambung Kevin lagi.
Darah nya terasa berdesir kencang ke kepala. Wajah Nara terasa memanas, dada nya mulai sesak.
"Tapi Mister tidak ada niat apapun. Ini semua hanya demi Alea putrinya. Beliau benar-benar meminta ku untuk menyampaikan ini semua agar anda tidak salah paham." Kevin tak berhenti bicara. Ia juga khawatir dengan ekspresi wajah Nara yang berubah setelah mendengar kabar darinya.
"Anda boleh pulang sekarang." Nara memalingkan wajah jengah.
"Tolong jangan marah pada Mister. Ini tidak seperti yang Anda pikirkan." Kevin terus mencoba mengklarifikasi.
"Pergi!"
"Nara, dengar... "
"Baik, aku minta maaf. Sekali lagi, tidak ada apapun diantara Arion dan Syera." Kevin sudah berjanji pada Arion akan bantu menjelaskan kepada Nara, namun kenyataannya tak semudah itu. "Aku permisi."
Nara masih mematung, tetapi enggan melihat lawan bicaranya hingga pria itu menjauh, kemudian tenggelam dalam pintu Lift.
Pintu rumahnya langsung tertutup rapat. Hening seketika menyebar, namun isi kepala Nara masih saja berisik.
Tubuhnya lemas hingga ia ambruk di balik daun pintu. Nara menyandarkan punggung seraya menekan kuat dadanya dengan kedua tangan. Cairan bening itu langsung melesak keluar dan membasahi kedua pipi.
...----------------...
"Kacau... Bagaimana bisa aku lalai sampai daya ponsel habis pun tidak sadar." Arion panik karena layar ponselnya tidak mau menyala akibat Low battery. Ia baru sadar saat dalam perjalanan pulang.
Laju mobil pun di percepat, hati Arion mulai was-was dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Termasuk pemikiran Nara yang akan salah sangka padanya.
Arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
"Ghosss!!" Katanya mengumpat lagi. "Ada apa dengan ku ini." Sesal Arion karena sudah terlena oleh waktu.
Sampai di Basement, Arion meninggalkan mobil dengan tergesa. Ia tidak sabar untuk segera menemui Nara.
Pintu Apartemen berdenyit setelah Arion menekan enam digit angka. Saat mmasuki rumah, Ia mendapati Beberapa ruangan gelap tanpa ada cahaya. Hanya dapur yang terlihat masih terang.
Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungkan Charger dengan ponsel. Setelah gawainya berhasil menyala ia langsung mengecek beberapa pesan dan beberapa panggilan.
|| Selesai kantor segera pulang ya.||
|| Aku mencontek resep memasak di Y0utub3, dan membuat menu makan malam yang spesial. ||
|| Edsel merindukan Papa katanya. ||
|| Aku juga. Hehehe. ||
Arion baru bisa membaca serentetan pesan dari Nara, serta ada lima panggilan yang gagal ia jawab akibat daya ponselnya habis.
Setelah membaca pesan, masih dengan pakaian kantor, Arion menuju ke dapur. Benar saja ada banyak menu yang sudah di sajikan di sana. Bahkan makanan tersebut sudah dingin karena terabaikan.
Arion semakin merasa bersalah.
Pelan-pelan, Arion mendorong pintu kamar Edsel. Nara tampak berbaring sembari memeluk putranya dalam ruangan yang temaram. Dengan langkah yang berjingkat agar tidak menimbulkan suara berisik, Arion mendekat.
"Kamu sudah tidur?" Lirih Arion seraya mengusap surai yang menutupi dahi istrinya. "Aku benar-benar menyesal. Aku sudah membuat kesalahan besar. Kamu bisa menghukumku kapan saja." Arion semakin intens menyusuri wajah Nara, beberapa kecupan mendarat disana. Nara pun tidak terusik sedikitpun, Arion pikir istrinya sudah terlelap dengan begitu nyenyak.
Kini Arion beralih pada Edsel yang berada dalam dekapan Nara. Ia memberikan ciuman yang sama disana.
"Mimpi indah, jagoan Papa." Bisik Arion dan berhasil membuat Edsel menggeliat kecil merasakan sentuhan yang lembut.
Setelah memberikan ucapan tidur pada Nara dan Edsel, Arion menuju ke dapur untuk membereskan semua peralatan makan yang ada di meja. Lalu duduk termenung disana, memikirkan segala kekacauan yang ia buat tanpa sadar. Lagi-lagi Nara harus menjadi korban keegoisannya.
Sementara di kamar, dari balik selimut yang menutupi tubuh itu ada seorang wanita yang diam-diam terisak menyembunyikan tangis agar tidak terdengar.
Sebenarnya Nara hanya pura-pura tidur. Tidak mudah melupakan sesuatu yang sudah menorehkan luka di hati. Bahkan matanya kini sudah merah dan membengkak akibat air mata yang terlalu banyak keluar.
"Seharusnya aku sadar sebelum memulai dan melangkah lebih jauh." Batinnya bergejolak.
__ADS_1
Mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya, membuat Nara merasa bahwa selama ini hanya menjadi pelampiasan semata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...