
"Ibu harus dengar penjelasan Arion."
Ruth mendudukan dirinya di sofa, Arion yang berada di sampingnya berusaha menenangkan Ruth yang masih shock. Sedangkan Nara tak mampu bergerak, berdiri di sana bersama Edsel yang mulai merengek. Bayi itu kelaparan.
"Bawa dia ke dalam!! beri susu!! jangan biarkan dia menangis!!" Tiba-tiba Arion membentak dengan lantang, telunjuknya mengacung lurus ke arah kamar yang akan di tempati Nara.
"Ba-baik." Nara ketakutan karena Arion kembali terlihat menggila setelah kejadian pagi yang lalu saat bibirnya di cengkram kuat.
Bayi itu segera di bersihkan, mengganti popok dengan yang bersih dan di biarkan menyedot susu banyak-banyak agar segera terlelap. Dari kamar ini, Nara sedang berusaha mencuri dengar apa yang sedang di katakan Arion pada Ibunya.
Di ruang nonton, Ibu dan Anak sama-sama bungkam. Menunggu satu diantara mereka membuka mulut lebih dulu, Arion belum berani berkata apa-apa lagi, karena membiarkan Ruth meluapkan segalanya dalam tangis.
Wajah lelahnya di usap kasar, Arion tampak frustasi. Ia kehilangan kontrol karena telah membentak Nara yang tidak tau apapun dalam hal ini. Sekarang, ia kembali membuat Ibunya terisak.
Hari ini Ruth mengunjungi Arion di apartemennya, selain menaruh rasa rindu pada putranya itu, ia juga sangat khawatir atas berita pembunuhan yang terjadi di sekitar tempat tinggal Arion.
Diam-diam dia berencana memasak sesuatu untuk di makan bersama dengan Arion, Ruth lalu membeli bahan-bahan memasak. Saat tiba di apartemen, tidak ada orang disana.Rupanya Arion sedang pergi menjemput Nara dan Edsel.
Ruth kemudian menyelinap masuk secara diam-diam dengan pasword yang ia curi dari Kevin. Sekretaris itu membocorkannya karena Ruth memaksa melalui panggilan telepon.
Niat hati, Ruth akan memberikan surprise kecil pada putranya tapi Keadaan menjadi terbalik, karena sekarang Ruth lah yang mendapat kejutan dari Arion.
"Ibu, bayi itu bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang bayi yang Arion adopsi." Pelan-pelan Arion mulai memberikan penjelasan.
"Bagaimana ibu bisa percaya sama kamu, sedangkan bayi itu datang bersama Ibunya, perempuan itu. Siapa?? kekasih mu? bahkan Ibu tidak pernah tau soal itu." Suaranya serak, berlomba dengan tangis yang mencekat.
"Bukan, dia Nara. Sekretaris Arion, dia bekerja di sini juga jadi babysitter. Ibu bisa tanyakan semua nya sama Kevin agar bisa percaya."
Ruth membuang napas frustasi.
"Bagaimana bisa kamu mengadopsi bayi orang lain. Untuk apa? pekerjaan kantor sudah membuatmu kelelahan."
Arion tau betul akan semua resikonya. Tapi hatinya terketuk saat melihat bayi itu terlantar, apalagi ketika Ceta, ibunya mengalami gangguan jiwa akibat trauma masa lalu. Hatinya tidak mungkin sejahat itu untuk membiarkan Edsel terombang ambing.
__ADS_1
"Arion kasihan dengan bayi itu, Ibu bisa dengarkan ceritanya dengan utuh."
Usapan pelan pada punggung itu membuat Ruth mulai luluh dan tangisnya mereda. Kekhawatiran seorang Ibu memang kadang terkedan berlebihan. Tapi semua itu tak terlepas dari kejadian di masa lalu yang membuat semua anggota keluarga terguncang.
"Apa karena kamu ingat pada Syera dan anaknya??"
"Bisakah kita tidak membahasnya sekarang, Bu?"
Arion beranjak menuju dapur, meraih satu botol air mineral dari lemari es, menenggaknya hingga tandas. Ruth menatap cemas dari tempat duduknya.
"Ibu tau, kamu merasa sangat bersalah pada Syeira." Lirih Ruth nyaris tanpa suara.
...----------------...
Sejak perdebatan dengan Ruth sore tadi, Arion memilih mengasingkan diri di dalam kamar. Nara yang khawatir hanya bisa menunggu sembari menimang Edsel.
Diantara hening yang tercipta, celotehan bayi lucu itu sesekali terdengar dan membuat Nara tersenyum. Tangan mungilnya mengais-ngais pada rambut dan wajah Nara.
Jadwal makan malam sudah lewat, Nara mencoba menahan lapar. Sungkan rasanya jika harus sibuk di dapur menyantap makanan sedangkan Arion masih dalam keadaan tidak baik di dalam sana. Lagipula, Edsel sedang tidak mau di tinggal sendiri, ia akan kesusahan jika harus membuat makanan sambil menggendong bayi.
Sang bayi hanya merespon dengan tawa dan bibir yang bergerak lucu.
"Kamu tidur ya? Aku pengen bikin mie rebus instan. Kayaknya enak."
Karena perut yang semakin keroncongan, Nara langsung membayangkan mie kuah pedas yang akan ia santap sambil menonton film malam ini. Menunggu Arion keluar dari kamarnya sama saja bunuh diri, karena membiarkan dirinya mati kelaparan.
Edsel tiba-tiba menguap sangat lebar, Nara langsung kegirangan. Ia segera menyeduh susu satu botol untuk di berikan pada bayi itu.
"Anak pintar." Nara menyodorkan botol susu sambil menepuk-nepuk bokongnya.
Bayi itu memang pintar, ia seolah tau dengan apa yang di inginkan pengasuhnya. Hanya menunggu beberapa menit, Edsel langsung tertidur dengan pulas. Nara menyelimuti dengan kain tebal agar tidurnya semakin nyaman dalam kehangatan.
Bergegas Nara keluar kamar, tujuan utamanya adalah dapur. Ia langsung memeriksa stok makanan di lemari. Beruntungnya mie rebus instan ada banyak, ia juga akan menambahkan telur mata sapi. Satu lagi, ada perkedel kentang buatan Ruth yang belum sempat di santap tadi.
__ADS_1
Makan mie instan terlalu sering memang tidak baik untuk kesehatan, sebagai anak kost Nara nyaris mengabaikan himbauan kesehatan tersebut.
Baru saja ia menyalakan kompor, meletakkan panci kecil yang berisi air. Namun kegiatannya urung, dan kompor di matikan kembali. Ada suara teriakan dari arah kamar Arion.
Nara berjalan mendekat ke pintu kamar, menempelkan telinganya di sana.
"Jangan!! Jangan pergi!!"
Arion berteriak kencang, Nara yakin itu hanyalah igauan orang yang sedang tidur.
Karena Nara bersandar terlalu keras, sehingga pintu terdorong begitu saja dan tidak terkunci.
Lampu kamar menyala dengan terang, Nara dapat melihat jelas Arion tengah terbaring di atas tempat tidur, ia terpejam namun bibirnya terus berteriak.
"Maafkan aku! aku menyesal!" Kepala Arion berguling ke kanan dan kiri. Keringat mulai merembes dari pelipisnya. Nara mendekati, memastikan apa yang sedang terjadi pada Arion.
"Mister?" Nara menyentuh tangan Arion pelan, mencoba membangunkannya karena sepertinya Arion sedang mimpi buruk. "Ya Tuhan, panas sekali."
Nara merasakan sengatan hawa panas saat menyentuh tangan Arion, kemudian Nara juga menempelkan punggung tangannya di dahi. Suhu tubuh Arion berada di atas normal.
"Mister anda sakit." Nara menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh Arion.
"Aku salah. Maafkan aku." Arion menarik tubuh Nara dan memeluk dengan erat di dadanya. "Syera... "
Syera.
Nama itu sempat menjadi perbincangan tadi sore. Mereka membahasnya, siapa Syera?
"Syera sayang, aku mencintai mu." Arion mengeratkan pelukan pada tubuh Nara. Nara hanya diam membaringkan kepalanya di atas dada Arion.
"Apa Syera itu kekasih anda." Nara menggigit bibirnya, dadanya tiba-tiba sesak saat Arion mengatakan cinta untuk Syera.
Sudah ku katakan jangan jatuh hati pada Arion kan? nyatanya, memang akan menyakitkan.
__ADS_1
Nara menyalahkan hatinya yang terlalu lancang sudah menaruh perasaan pada seseorang yang tidak mungkin di miliki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...