CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Gejolak jiwa


__ADS_3

"Nara.. apa kamu tidak lapar?"


Tiga ketukan pintu kamar tidak membuat si penghuni menyahut.


"Saya bikin nasi goreng spesial loh, toping sosis dan seafood."


Dua piring nasi goreng yang masih hangat di pegang erat oleh kedua tangannya. Dengan sedikit kepandaian yang di miliki, Arion mencoba mempraktekan resep nasi goreng paling mantap yang ia tonton di kanal Youtube salah satu chef terkenal.


Malam belum larut, jika memilih untuk makan malam -lagi- sebelum tidur nanti. Pukul sepuluh lebih lima menti. Arion yakin Nara belum tidur.


Tentu saja, Nara memang sedang menahan perutnya yang keroncongan. Pulang kerja tadi, dia memang sempat makan. Tapi hanya sedikit. Mencium aroma nasi goreng buatan Arion membuat cacing di dalam ususnya kembali berteriak.


Ia kabur dan mengurung diri di kamar setelah mendorong Arion hingga jatuh menabrak kursi di balkon tadi.


Jempol Nara sibuk menggulir layar ponsel. Berandanya di penuhi oleh tujuh pria-pria tampan yang sedang mempersiapkan Comeback single terbaru mereka yang berjudul Butter.


Disampingnya ada Edsel yang sudah mendengkur. Tidurnya semakin nyenyak karena Nara dengan sengaja memutar lagu yang cocok di dengarkan saat tidur, Still With you. Bayi tidak mungkin pemilih, dia akan rela mendengarkan apapun lagu yang di putar.


Awalnya Nara malas keluar kamar lagi dan bertemu si mesum itu. Mengingat apa yang akan Arion lakukan tadi. Mau menciumnya? iya kan?


Menepis ego yang ada, akhirnya Nara keluar kamar karena bayangan nasi goreng terus menari-nari di kepalanya.


"Apa?? Ada apa?? Pria mesum!" Nara berpura-pura. Padahal matanya langsung melotot pada piring yang berisi nasi goreng. Ah, aromanya saja sudah terasa nikmat.


"Siapa yang mesum. Jangan ngaco." Arion tertawa.


"Tadi itu apa? dekat-dekat? katanya tidak napsu dengan saya?"


Kelakuan Arion tadi itu, hampir membuatnya mati berdiri. Di buat kaku dan gemetar sekujur tubuh. Secara, Nara tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Pacaran saja belum pernah.


Nara sedikit tertutup diantara teman-temannya, dia tidak mudah bergaul. Sehingga ia tidak memiliki teman yang benar-benar akrab. Tapi jika sudah kenal dengan seseorang, maka sikap bawelnya akan langsung terlihat. Kini Arion dan Kevin lah yang menjadi korban karena mendengar ocehan si sekretaris magang itu. Sebentar lagi, uji coba nya selesai. Nara akan resmi di angkat menjadi sekretaris yang patut di acungkan jempol. Dia orang kepercayaan Arion setelah Kevin.


"Oh, yang tadi itu... " Arion memutar bola matanya acak. Mencari-cari alasan untuk menyelamatkan diri. " Itu, cuma mau bilang ada nyamuk di pipi kamu. Tapi kamu malah dorong saya sampe nabrak kursi."


"Bohong!! "


Mana mungkin Nara langsung percaya.


"Lihat saja sendiri, pipi mu bengkak karena di gigit nyamuk." Arion menunjuk dengan dagu.

__ADS_1


Penasaran. Nara langsung berbalik dan menuju cermin panjang yang menggantung di dinding kamarnya. Arion dengan sabar menunggu di ambang pintu. Nasi goreng saksi bisu itu, sebentar lagi akan dingin.


Nara mengusap pipinya yang merah, ada benjolan kecil disana. Ini memang bekas gigitan nyamuk.


"Benar kan? saya tidak bohong." Seru Arion dari kejauhan.


Bibir Nara mengerucut tak peduli. Wajahnya sekarang terasa sudah menebal seperti dinding karena menahan malu.


Nara pikir tadi itu Arion akan......


"Mencium mu?? Semudah itu?? Saya bukan pria mesum seperti yang kamu anggap," Jawab Arion penuh percaya diri, lalu menyodorkan satu piring Nasi untuk Nara.


Sial. Nara tertangkap basah lagi.


...----------------...


Sebuah kotak berwarna biru di letakkan di atas meja setelah Nara menyelesaikan sarapan. Arion yang pagi itu turut sarapan bersamanya langsung mengalihkan atensi pada kotak tersebut.


"Saya tidak ulang tahun, kenapa kamu ngasih hadiah," tebak Arion asal. Ia sengaja membuat lelucon untuk mencairkan suasana.


"Ini bukan hadiah. Terlalu percaya diri." Nara mendengus. Kemudian membuka kotak tersebut dan menunjukkan isinya.


"Saya kembalikan baju ini. Itu pasti milik Syera kan?"


Dress warna merah jambu yang Nara pakai beberapa waktu yang lalu itu sempat berhasil mengobati rasa rindu Arion pada seseorang. Mereka memang perempuan yang berbeda, tidak memiliki kemiripan dari segi apapun. Tapi saat Nara memakai baju milik Syera, seketika potongan kenangan indah tentang nya menepi dalam ingatan.


Merah jambu, warna kesukaan Syera. Mereka membeli baju itu saat kencan pertama kali sambil nonton bioskop.


"Duhhh bajunya jadi kotor," Keluh Syera saat Pepsi yang sedang di nikmatinya tumpah dan meninggalkan noda yang lumayan banyak di pangkuannya, parahnya lagi baju itu sudah basah sebagian.


Itu karena Arion tak berhenti menggoda Syera, menggelitikinya dan bermain-main. Alhasil, minuman soda yang sedang mereka nikmati harus mengotori baju milik Syera.


Setelah menghadiri pesta ulang tahun teman sekelas. Arion mengajak Syera mampir ke rumahnya. Pada awalnya Syera menolak dengan keras, ia malu jika harus bertemu dengan kedua orangtua Arion. Namun dengan nakal Arion berbisik lembut di telinga kekasihnya.


"Ayah dan Ibu sedang ke luar kota. Tidak ada siapa-siapa di rumah."


Dengan bisikkan yang menggiurkan, Syera kemudian menuruti ajakan Arion untuk berkunjung kerumahnya. Lalu, Keduanya menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menonton sebuah film sambil menikmati beberapa cemilan.


"Upss! Sorry." Arion tertawa lebar karena berhasil menjahili Syera. "Kamu ganti pake baju aku aja. Kayakanya ada deh yang kecil. Mau?"

__ADS_1


Arion khawatir Syera akan masuk angin jika memakai baju basah. Sementara ia menawarkan baju miliknya agar Dress merah jambu itu di bersihkan dahulu nodanya sebelum di kenakan lagi saat Syera pulang nanti.


"Boleh." Angguk Syera sembari mencoba mengeringkan bajunya dengan tisu walaupun tidak berhasil sama sekali.


"Ya udah. Aku ambilkan dulu bajunya." Arion beranjak, namun tangannya langsung di sergah oleh Syera.


"Ikut. Aku mau liat kamar kamu."


Setahu Syera, kamar anak lelaki itu pasti seperti kapal pecah. Dindingnya kotor dan penuh coretan serta gambar-gambar artis. Selain itu, aroma apek juga akan mendominasi akibat terlalu banyak baju kotor yang menggantung.


Jika ternyata kekasihnya juga seperti itu, siap-siap saja, Syera sudah mempersiapkan hukuman untuk Arion. Daun telinganya akan memerah karena di jewer dengan kuat.


"Silahkan masuk." Arion mengulurkan tangan sambil membungkuk.


"Not bad." Syera langsung berjelajah. Kamar Arion tidak seburuk apa yang ia pikirkan. Semuanya tertata rapi dan bersih. "Pasti Asisten kamu bersihin tiap waktu kan?" tebak Syera.


"Salah. Aku selalu merapikan kamar ku sendiri. Tanpa ada yang bisa masuk seenaknya, apalagi asisten."


"Oya? emang ada ya laki-laki spesies langka kayak kamu?" Syera tak percaya. Jiwa perempuannya terkalahkan oleh Arion yang ternyata super teliti dalam kebersihan.


"Ada dong. Kamu tuh ngejek ya!" Arion kesal karena di usili oleh Syera, ia pun langsung menyergap pinggang ramping Syera dan menggitikinya.


"Iihhh!! " Syera memutar tubunya dan berusaha lari dari Arion. Namun Arion berhasil mengunci tubuh langsing kekasihnya.


Pupil legam mereka bertemu dalam raga yang tak berjarak. Hawa yang dingin berubah menjadi hangat. Seluruh tubuh mereka kaku dan tiba-tiba ada sesuatu yang menjalar dan berdesir dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Gejolak darah muda yang berderu hebat, mampu menaklukan segala logika dan kemungkinan.


Bibir merek bertemu, lidah mereka menari. Decak saliva menjadi irama indah yang harmonis dengan deru napas sang remaja yang terbakar asmara.


Kenikmatan dunia itu benar-benar ada. Mereka melaluinya dengan napsu yang berkabut.


"Mister! Mister!" Nara mengibaskan telapak tangannya berulang di hadapan Arion. "Anda memikirkan sesuatu???"


Nara penasaran karena lawan bicaranya tidak merespon perbincangan mereka.


"Ah, Maaf." Arion terkesiap dan ia sadar dari lamunannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2