
Our Home adalah sebuah Yayasan Rehabilitasi mental dan jiwa. Terletak di pinggiran kota yang damai dan sejuk. Jauh dari hingar bingar keramaian sehingga cocok untuk para pasien yang sedang menjalani proses penyembuhan.
Sudah dua bulan lamanya, Ceta di rujuk ke tempat ini untuk pengobatan lanjutan. Arion mengambil alih dalam urusan biaya pengobatan Ceta.
Hari ini, Arion kembali mengunjungi Yayasan bersama Nara dan Edsel. Menurutnya, Seorang Ibu dan Anak tidak seharusnya di pisahkan. Mereka wajib di pertemukan rutin walau dalam waktu yang singkat. Apalagi Arion berpendapat bahwa Edsel bisa mengembalikan Ceta ke keadaan Normal. Semoga keajaiban itu benar-benar datang.
Biasanya saat matahari mulai naik, para pasien akan di biarkan berkeliling di sekitar taman untuk berjemur dan berinteraksi dengan alam atau pun orang-orang sekitar. Para perawat akan di beri tugas untuk mengawasi dari kejauhan.
Seorang Perawat pria mengantarkan Arion dan Nara ke tempat dimana Ceta berada sekarang. Gadis belia itu sedang duduk di tepi taman sambil memeluk bantal guling berwarna putih. Dari kejauhan terlihat bahwa Ceta berbicara dan tertawa pada benda yang ia letakkan di sampingnya.
Pihak yayasan mengatakan bahwa tidak ada gelagat membahayakan yang di tunjukkan Ceta. Hanya saja dia sering bangun tengah malam hanya untuk berbicara panjang lebar kepada bantal gulingnya. Sehingga pasien yang kamarnya saling berdekatan menjadi terganggu akibat kebisingan yang Ceta timbulkan.
"Selamat pagi... " Arion menyapa Ceta.
"Kamu datang??" Ceta langsung menghambur ke pelukan Arion dan berhasil membuat seseorang yang berdiri di sebelahnya terbakar api cemburu. Nara mengalihkan pandangannya kesegala arah agar tidak melihat adegan yang membuatnya tidak nyaman itu.
Sopan kah begitu?? dasar buaya darat. Jelas Nara mengumpat dalam hati karena ketidaksukaannya pada sikap Arion yang pasrah saat di pegang-pegang oleh Ceta. Beruntung sekali perempuan ini. Apa Nara juga harus jadi perempuan dengan gangguan mental agar bisa dekat-dekat dengan si perfeksionis itu?? Jangan gila!
"Aku datang bersama Edsel, dia sudah pandai mengoceh." Arion menarik Nara agar sedikit bergeser kedekatnya. Ia ingin menunjukkan Edsel yang berada dalam gendongan.
Aku?? Sejak kapan Arion menyebut kata aku dalam dialognya. Bahkan saat di rumah bersama Nara saja dia selalu berkata formal.
Nara bergeser untuk mendekatkan Edsel ke hadapan Ceta. Bayi itu langsung mengais-ngais wajah dan tubuh Ibunya. Ikatan batin antara anak dan Ibu itu memang tidak pernah bisa lepas.
"Tidak!! pergi!! pergi!!" Ceta yang pada awalnya menunjukkan senyum manis seketika langsung berubah sebaliknya, ia berteriak dan hampir menyerang Edsel kalau saja Nara tidak segera menghindar.
Edsel langsung menangis ketakutan karena pekikan Ceta.
"Hei ini anak mu! kenapa membuatnya menangis!" Nara kehilangan kontrol dan langsung mengomeli perempuan yang kurang waras itu.
Kesalnya bertambah karena Ceta kembali memeluk Arion.
"Jangan memarahinya, dia tidak tahu apa-apa." Arion berdesis seperti ular, mencoba menenangkan Ceta.
Senang kan di peluk-peluk. Ingin rasanya Nara mengumpulkan keberanian untuk meneriakkan kalimat itu secara langsung. Tapi nyalinya seperti kerupuk tersiram air. Mana berani mengumpat bos nya itu.
"Bela saja terus dia! "
__ADS_1
Kemudian Nara meninggalkan keduanya yang masih saling berpegangan. Ia berjalan semakin jauh menuju koridor.
Melihat Nara yang cemberut, Arion jadi tidak enak. Ia bahkan tak mengalihkan pandangannya saat Nara dan Edsel tak terlihat lagi.
"Aku pergi dulu ya?" Arion melepaskan diri dari Ceta, pelan-pelan ia bergerak menjauh.
"Dasar br*ngs*k!! kamu jahat!! kamu ninggalin aku!!! "
Mendengar kata pamit dari Arion, Ceta langsung ngamuk. Ia meninju dada dan memukul tangan Arion berulang kali.
"Hei. hei." Arion kewalahan, ia berusaha menutupi wajahnya yang akan di pukul menggunakan bantal guling.
"Jahat!! kurang aj*r!!"
"Tolong!! suster!! "
Perawat yang memantau dari kejauhan langsung memanggil bantuan dan berusaha melerai amukan Ceta. Kemudian perempuan itu di giring kembali ke kamarnya.
"Dasar perempuan sinting! aku itu berniat baik. Menolong kamu dan anakmu. Si*lan!! "
Ini pertama kalinya Arion mengumpati seseorang dengan kalimat yang cukup jahat. Dia terus menepuk-nepuk kemejanya yang kusut.
"Mamp*s!! rasakan tuh!" Nara senang karena Arion mendapat kesialan. "Lihat Papa mu itu, dia sudah mendapatkan karma."
"Dadadadada.. " Edsel menyahut setelah berhenti dari tangisnya.
"Bayi pintar." Nara mencubit gemas pipi tembam itu.
Nara kembali melanjutkan perjalanan berkeliling menyusuri koridor. Dari sana ia bisa menyaksikan beberapa pasien yang sibuk dengan tingkah laku absurd. Ada Ibu-ibu yang berdandan menor dan di kucir dua layaknya anak sekolah dasar. Ada Pria berjanggut yang menari-nari tanpa memakai baju. Ada pula remaja yang duduk di bawah pohon tanpa mengeluarkan suara, hanya di temani beberapa alat lukis di dekatnya.
Melihat mereka yang sedang di uji hidupnya, Sudah sepatutnya kita bersyukur karena masih di beri kesehatan lahir dan batin sampai hari ini.
Melalui ekor matanya, Nara menangkap seseorang yang berdiri diruang konsultasi. Perempuan anggun berjubah putih. Sosok itu tidak asing, dan Nara memutuskan untuk menyapanya.
"Dokter Intan."
Dia masih ingat saat pertama kali bertemu dan bertukar nomor telepon di kantor polisi waktu itu.
__ADS_1
"Nara, apa kabar?"
"Baik, Dok. Anda dinas di sini juga??"
"Iya," Timpalnya seraya mencuil pipi Edsel. "Udah gede aja. Pinter kamu merawat bayi."
"Ya gitu deh. Harus sering-sering searching di internet." Curhat Nara.
Intan mengajak Nara ke ruangannya, menawari teh hangat agar acara mengobrol pagi ini lebih sempurna.
"Bagaimana dengan Arion? sepertinya hubungan kalian semakin dekat."
Nara tersipu mendengar Intan yang mencoba menggodanya. Nara memang berharap seperti itu, tapi nyatanya kedekatan ini hanya sebatas babu dan majikan. Terlalu kasar, tapi memang begitu jika mengingat Arion si Maha benar.
"Bagaimana cara menghadapi seseorang yang trauma karena sebuah hubungan, Dok?" Konsultasi dadakan mulai di utarakan Nara.
"Tentu saja hal pertama harus buat dia nyaman dan terbuka. Agar mau bercerita tentang segala masalah. Sehingga tidak membuatnya depresi saat di emban sendirian. Membawanya kedunia yang ceria dan bahagia agar masalalu buruk itu perlahan di lupakan." Tutur Intan.
Hidup harus terus berlanjut. Tidak sepatutnya terus terpuruk dalam kenangan masalalu yang kelam. Berpikir positif, dan bersyukur bahwa ada masa depan yang lebih baik sedang menunggu.
"Apa mungkin seseorang yang terjebak dalam kenangan masalalu akan mudah membuka hati untuk orang baru?" tanya Nara lebih lanjut.
"Tentu bisa, apalagi jika orang tersebut berhasil membuatnya nyaman, bisa dipercaya dan membawa dampak positif. Orang-orang yang pernah trauma perlahan menemukan setitik cahaya terang untuk menyambut masa depannya." Sambil menyeruput teh hangatnya, Intan menjelaskan dengan tutur kata yang lembut dan menenangkan.
"Begitu ya." Nara mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Apa pria itu Arion?? " Pertanyaan berbalik pada Nara sekarang.
"Apa? " Tentu saja ia langsung kikuk dan terkejut.
"Pria yang kamu maksud. Kamu menyukai Arion??"
Sejenak isi kepalanya kosong. Tampaknya kata-kata Nara tadi terlalu mencolok sehingga Intan dengan mudah menebak kebenarannya.
"Apa kalian membicarakan saya?? " Arion muncul di ambang pintu.
Ketiganya langsung melempar pandangan dalam bibir yang terkunci. Tertangkap basah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...