
Nara di bawa ke sebuah ruangan terpisah. Ada hal yang ingin Dokter katakan padanya.
"Panggil saya Dokter Intan." Katanya sembari mempersilahkan duduk pada Nara.
"Ada hal penting apa ya, Dok?" Sejak tadi ia hanya menerka-nerka apa yang akan di bicarakan Intan padanya.
"Sudah berapa lama kerja dengan Pak Arion?"
Betul dugaan Nara, ini pasti berhubungan dengan Arion. Karena ia juga sedang memikirkan hal tersebut sejak tingkah aneh yang Arion tunjukkan padanya pagi tadi. Dia sangat sensitif saat membahas tentang kesakitan seorang wanita atau Semacamnya.
"Belum sampai setahun, karena saya masih tryning di perusahannya. Ada yang salah dengan Arion?" Topik pembahasan mereka sangat menarik simpati Nara.
"Sejauh mana anda mengenal dia atau keluarganya?"
Nara menggeleng, tidak banyak yang ia tahu tentang Arion, karena semua itu memang masuk mawasan privacy seseorang. Tidak pantas ia menyelidiki hal tersebut. Nara hanya tahu Ibunya saat berkunjung tempo hari. Selebihnya, ia hanya kenal Arion sebagai pimpinan perusahaan.
"Arion memiliki trauma berat. Namun ia mencoba memendamnya sendiri." Intan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, menatap Nara penuh keseriusan.
Sejenak, Intan mempelajari sikap Arion terhadap Ceta. Pria itu tidak setangguh tampilannya, hatinya tampak rapuh dan mudah retak.
"Saya pikir selama ini dia baik-baik saja." Sela Nara.
Terlepas dari sikapnya yang dingin, posesif, suka mengatur, dan paling tidak mau di bantah. Menurut Nira itu masih dalam tahap wajar.
Tapi kejadian pagi tadi, memang terlihat aneh.
"Jangan biarkan dia memendam itu sendiri, karena akan berbahaya bagi kesehatan mental nantinya."
"Saya akan mencoba mencari tahu, Dok. Kalau begitu boleh saya minta kartu nama anda?"
Dokter Intan mungkin akan ia butuhkan untuk di ajak berkonsultasi tentang kesehatan jiwa seseorang. Termasuk dirinya sendiri, semua orang pasti memiliki trauma di masa lalu, tergantung tingkat keparahannya.
Setelah berbincang dengan Dokter Intan, Nara memilih berjalan-jalan di sekitar kantor. Membawa Edsel berjelajah karena bayi itu sudah mulai merengek.
Nara melakukan panggilan telepon pada seseorang, Kevin pasti tahu semua tentang Atasannya tersebut. Informasi penting pasti ia dapatkan dari Kevin.
__ADS_1
"Apa nanti malam anda sibuk? bagaimana kalau kita makan di luar?"
Nara mengatur pertemuan dengan Kevin di telepon, ia juga teringat dengan janjinya waktu itu bahwa akan mentraktir Kevin makan.
"Boleh, nanti malam saya Free. Tapi tolong ngomongnya jangan formal dong kalo lagi nggak bahas urusan kerja." Kevin berbicara santai.
"Tapi, saya harus menghargai atasan." Walau mereka sama-sama menduduki jabatan skretaris di perusahaan, tapi dia tetap seniornya apalagi usia mereka terpaut lumayan jauh.
"Panggil saja Oppa. Biar kayak cowok korea." Kekeh nya di seberang sana, spontan Nara pun tertawa lebar.
Tidak di duga, ternyata manusia es itu bisa cair juga.
"Oke Oppa. Nanti saya kabari tempat dan waktu ketemuannya." Menjadi akrab dengan Kevin juga tidak ada ruginya, dia bisa mengorek informasi lebih banyak dari tangan kanan Arion tersebut.
Nara kemudian mematikan teleponnya, ia terkejut saat berbalik dan Arion sudah berdiri di belakangnya.
"Mister, apa kita pulang sekarang? bagaimana dengan Ceta?"
"Ceta baik-baik saja," jawabnya dingin.
"Sukurlah, tapi sepertinya kita tidak bisa mengembalikan bayi ini sekarang. Kondisi Ibunya sangat buruk. Apa kita perlu mencari panti asuhan yang bagus untuk Edsel??"
"Saya akan urus surat adopsi dan kelengkapan berkas lainnya dari kepolisian." Jawaban Arion jauh lebih mengejutkan.
"Anda akan mengadopsinya?? anda serius?? bagaimana bisa pria lajang mengadopsi bayi?? siapa Ibunya??"
Ini seperti mimpi buruk. Kebebasan hidup Nara sudah pasti akan menjadi korban selanjutnya.
"Saya percayakan kamu untuk urus dia. Mulai hari ini kamu kerja sebagai asisten rumah tangga, dan tinggalkan rumah sewa yang sempit itu, pindah ke apartemen saya besok."
Jalan pikiran Arion memang tidak mudah di tebak. Pria itu memang selalu bertingkah seenak udel nya.
"Tidak!!! yang benar saja. Mana boleh laki-laki dan perempuan yang belum menikah tinggal bersama." Nara langsung protes, kalau bisa dia juga ingin mengajukan demo atas keputusan sepihak itu.
"Kenapa tidak boleh? Kamu bekerja menjadi asisten rumah tangga, saya bayar kamu. Kita bukan mau kumpul kebo!!"
__ADS_1
Jangan panggil Arion, jika ia tidak bisa menang dalam perdebatan apapun.
"Kalau kamu menolak, itu artinya kamu juga siap resign dari perusahaan dan saya akan jamin tidak ada perusahaan lain yang mau menerima karyawan pembangkang seperti kamu."
Pembangkang katanya? kurang nurut apa lagi sih Nara selama ini. Batin gadis itu bergejolak. Rasanya ingin melempar diapers milik Edsel yang sudah penuh air kencing itu tepat ke wajah Arion.
Ini bukan sekedar ancaman, Nara paham betul bagaimana kekuatan perusahaan Arion, hanya dengan menjetikkan jari. Dia bisa berbuat semaunya termasuk membiarkan Nara jadi pengangguran seumur hidup. Nara tidak mau itu terjadi, karena impiannya masih panjang untuk menggendutkan rekening Bank dan menjadi orang kaya.
"Terserah anda saja." Nara merajuk meninggakan Arion.
Urusan di kantor polisi sepertinya berakhir sampai di sini. Selebihnya menunggu informasi tentang keluarga Ceta, semoga saja mereka mau mengambil alih hak asuh Edsel. Agar Nara tak jadi hidup seatap dengan Mister super menyebalkan itu.
Di dalam mobil, Nara langsung merebahkan Edsel di jok belakang. Tangannya sudah kesemutan karena menggendong terlalu lama. Bayi itu terbangun dan mulai mengoceh.
"Bayi yang tidak bersalah harus menjadi korban. Untung saja, Mister menyebalkan itu yang merawatmu. Dia banyak uang!!" Nara menemani Edsel mengoceh, bayi itu sesekali tertawa melihat ekspresi Nara yang sedang menggunjing Arion seolah mengerti dengan apa yang Orang dewasa katakan.
Tidak berapa lama Arion menyusul masuk, dia duduk di depan kemudi, menoleh kearah Nara dan Edsel yang berada di belakangnya.
"Jangan berbicara buruk pada bayi." Tuduh Arion tiba-tiba.
"Tidak. Saya bilang dia beruntung bertemu dengan Ayah yang banyak duit seperti anda." Nara menahan tawanya, Arion sangat benci di panggil Ayah, tapi Nara suka melihat dia kesal saat mendengar itu.
"Tolong berikan panggilan yang layak untukku. Menyebut ku Ayah terkesan seperti pria berusia empat puluh tahun."
"Lalu apa? Anda kan Ayahnya, apalagi jika dia resmi di adopsi nanti."
"Panggil Daddy, lebih keren dan berkelas."
"Huh! apa bedanya?"
"Pakai seatbelt." Arion tak mau meladeni perdebatan.
Matahari sudah merangkak di atas kepala, Perut Nara mulai berontak minta isi, ini sudah jadwal makan siang. Suara kruyuk di dalam perutnya tidak bisa di ajak kompromi lagi.
"Laper ya?" Arion melirik Nara yang duduk di belakang melalui spion di atas dasboard.
__ADS_1
Nara menggigit bibir bawah dengan wajah yang memerah malu. Tawa Arion langsung melebar menampakkan giginya yang rapi. Pertama kalinya Nara merasakan kehangatan dari lemari es tujuh pintu itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...