CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Menemukan titik terang


__ADS_3

"Seorang mahasiswi di temukan tewas di dalam apartemen. Pelaku pembunuhan adalah kekasihnya sendiri. Sang kekasih menolak untuk di ajak berhubungan badan sehingga pelaku marah dan terbawa emosi hingga menghabisi nyawa korban."


Siaran televisi di penuhi oleh berita kriminal yang mengejutkan.


"Kamu dengar kan? tetangga yang dikunjungi itu adalah seorang pembunuh." Arion beralih mengomeli Nara yang sedang sibuk menakar susu dan menyimpan di lemari es.


Rumah Arion kini berasa seperti rumahnya sendiri. Semakin hari Nara semakin paham tentang seluk beluk rumah atasannya itu.


"Mana saya tahu. Saya kan hanya numpang istirahat kemarin, karena anda mengabaikan kami."


Nara tidak ingin di salahkan, sudah tahu hatinya sedang di landa ketakutan karena kasus tersebut. Arion malah habis-habisan mengomelinya.


Iya, dia tahu bahwa lain kali harus hati-hati.


"Kalau begini saya jadi takut berlama-lama di apartemen anda." Celetuk Nara tiba-tiba.


Edsel terbangun dari tidurnya, ia mulai menangis dan Nara langsung menggendong serta menyusuinya. Membawanya berjalan-jalan di tengah rumah.


"Apa maksud kamu bicara begitu? kamu pikir saya punya jiwa kriminal?"


Arion kesal karena tuduhan Nara tidak berdasar.


"Saya kan harus hati-hati." Acuhnya.


"Saya tidak mungkin gegabah. Karir saya bisa hancur kalau jadi penjahat."


Arion beranjak dari depan televisi, mengambil jaket ke kamar kemudian berpamitan kepada Nara.


"Kamu jangan pulang dulu, saya ada urusan dengan Kevin." Katanya setelah menerima sebuah pesan dari sekretarisnya itu


"Apa ada kabar tentang pelaku pembuang bayi?"


"Mungkin." Arion meraih kunci mobilnya.


"Mudah-mudahan urusannya cepat beres."


Memang betul, Nara mendapat gaji tambahan karena sudah mengurus Edsel. Tapi bukan hanya perkara uang saja yang ia pikirkan, tubuhnya terlalu lelah jika banyak pekerjaan. Belum lagi harus berlama-lama berdua di apartemen Arion. Rasanya seperti mimpi buruk. Desas desus di kantor tentang kebersamaan mereka sangat mengusik ketenangan.


"Jangan menerima tamu." Pesan Arion sebelum ia pergi.


"Tunggu, Mister."

__ADS_1


Nara menghentikan langkah Arion. Edsel masih betah di dalam gendongannya.


Di tinggalkan sendiri di dalam apartemen itu sepertinya bukan kabar baik. Mengingat tetangga di seberang sana baru saja mati terbunuh. Konon katanya, roh manusia yang terbunuh akan terus gentayangan meminta bantuan dari orang sekitar.


"Apa lagi? saya banyak urusan."


"Ikut." Nara mengerucutkan bibirnya. "Saya takut sendirian di rumah."


"Takut apa? penjahat itu sudah tertangkap polisi. Kamu cukup mengunci diri dari dalam semua pasti aman." Arion percaya apartemen mahalnya tidak akan mudah di dobrak oleh siapapun. Lagipula selama ini lingkungan tempat tinggalnya aman, sebelum psikopat itu datang dan menghabisi kekasihnya. Dunia terlalu menyeramkan.


"Bukan itu."


"Lalu apa?" Arion mendelik kesal karena perkataan Nara yang bertele-tele.


"Saya takut hantu." Nara melebarkan kelopak matanya, mencoba meyakinkan Arion.


"Ini tahun 2021, jaman teknologi canggih dan kamu masih takut hantu??"


Arion yang urung membuka pintu utama kini berbalik kehadapan Nara.


Dulu, aturan pertama yang ia buat di kantor adalah harus menjaga jarak minimal dua meter, karena penciumannya sangat sensitif. Tapi sekarang, Arion justru berada dalam jarak yang berbahaya bahkan tangannya tanpa segan mengacak pucuk kepala Nara.


Nara tertegun, ada sesuatu yang menyeruak di dalam dadanya saat jari-jari panjang itu menyentuh rambutnya. Aroma citrus dari tubuh Arion langsung memenuhi indra penciuman.


Suara benda jatuh itu mengejutkan keduanya yang sama-sama bergeming dalam beberapa sekon.


Arion mengecek kearah sumber suara. Benda jatuh itu terdengar dari arah dapur dan benar saja, wadah yang berisi sendok, garpu serta pisau kue jatuh berantakan di lantai.


Tidak ada apapun di sekeliling dapur, karena tidak akan ada hewan yang sembarangan masuk. Termasuk kucing atau tikus, kediaman Arion selalu di sterilkan setiap hari olehnya.


"Kenapa bisa jatuh?" Arion menyelami pikirannya, selama ini wadah sendok tersebut selalu berada di tengah-tengah meja makan.


"Hantu..... " Tiba-tiba Nara berdesis di dekat telinga Arion dan pria itu langsung terhenyak kaget.


"Aiissshhh!! bikin kaget saja." Dia sebenarnya terkejut dan kuduknya terasa meremang. "Saya bilang tidak ada hantu di jaman modern."


"Lalu itu apa? siapa yang melakukannya? pasti hantu. Hiiiiiii." Nara bergidik sambil mengeratkan pelukan pada Edsel. Tangan bayi itu hanya mengais-ngais lucu dengan bibir yang bergerak-gerak.


"Sudah, jangan banyak berilusi kamu!"


Arion meninggalkan dapur setelah kembali membereskan peralatan yang berserakan. Ia kemudian melanjutkan rencana untuk menemui Kevin sesuai janji sebelumnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan saya?" Nara masih di rundung ketakutan, apalagi kejadian jatuhnya wadah sendok itu nyaris seperti teror di film horor.


"Tidur saja, semua akan lupa." Entengnya lalu ia pergi tanpa menoleh lagi.


Kedua pundak Nara langsung menciut. Membuang napasnya agar ketakutan di hatinya juga turut hilang.


Dengan acuh, Arion meninggalkan Nara begitu saja walau rasa khawatir sempat terbersit dihatinya kala garis polisi masih terbentang di pintu apartemen milik seorang mahasiswi yang menjadi korban pembunuhan tersebut.


Tersiar kabar bahwa mahasiswi tersebut memang anak dari seorang pengusaha kaya, Pantas saja ia sanggup membayar sebuah apartemen elit di pusat kota. Selama ini ia juga di jadikan pohon uang oleh kekasihnya.


Itulah mengapa peran orangtua sangat penting dalam mengontrol pergaulan serta kehidupan anak-anak. Tidak melulu di sibukkan dengan mencari uang.


Arion sudah sampai di tempat yang sudah di janjikan oleh Kevin. Biasanya mereka akan berkunjung ke sebuah bar minimal seminggu sekali walau hanya untuk minum soda. Hitung-hitung cuci mata, karena banyak pemandangan yang menakjubkan disana.


"Sudah ketemu pelakunya?" Arion langsung ke topik permasalahan.


Mereka duduk berdampingan di seberang meja bartender.


"Sudah. Polisi menemukan jejak rekaman pada kamera pengintai yang terletak di tempat parkir mininarket." Kevin mulai menjelaskan. "Wanita itu meletakkan bayinya, ketika anda sedang lengah mengambil barang dari mini market sedangkan bagasi mobil tengah terbuka."


Cerita Kevin sesuai dengan apa yang di lihat di CCTV.


"Siapa perempuan itu, kenapa dia membuang bayinya?" Arion semakin penasaran, ia akan menuntut tanggung jawab atas bayi yang sudah merepotkan itu.


"Ibu si bayi sepertinya mengalami gangguan mental, dia kesulitan saat di interogasi. Tidak ada petunjuk apapun yang bisa menghubungi keluarganya."


"Dimana perempuan itu sekarang?"


Sepertinya, masalah bayi tidak mudah di selesaikan dalam waktu dekat.


"Sedang menjalani perawatan oleh seorang psikiater. Pihak kepolisiaan mencoba mengorek informasi pelan-pelan."


"Atur pertemuan saya dengan Perempuan itu besok." Pinta Arion yang langsung membuat Kevin mengernyit heran.


"Anda yakin? Dia mengalami gangguan mental, apa tidak berbahaya bagi anda?"


Hal-hal yang tidak terduga mungkin bisa saja terjadi, terlebih Kevin tahu betul sikap Boss nya yang arogan.


"Aku akan membawa bayi itu padanya, mungkin saja dia bisa memberikan informasi setelah mengingat bayi yang sudah ia buang."


Arion menduga-duga. Berharap bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat tanpa ada hambatan. Bayi itu harus kembali pada pemiliknya. Jika Ibunya sakit, setidaknya harus ada pihak keluarga yang bisa merawat Edsel.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2