CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Bayi itu bernama Edsel


__ADS_3

"Jam berapa ini?! " Nara terkejut dari tidurnya, seketika kantuknya hilang setelah melihat jam weker di atas nakas yang sudah menunjuk ke angka enam. "Aku harus pulang, jadwal kerja ku sudah menunggu!! " Desisnya.


Nara hampir lupa kejadian semalam, kalau saja bayi itu tidak menggeliat dan merengek di sampingnya. Ini kamar Arion.


"Ya Tuhan."


Nara mengurut dada, menumpuk rasa sabarnya banyak-banyak disana. Berharap kejadian ini hanya mimpi, tapi mustahil karena bayi yang tergeletak itu tersenyum dengan mata bulat yang bersinar.


"Apa? Kamu bahagia karena aku sengsara ya? " Nara mengomeli bayi seperti orang gila.


Bayi itu tertawa lagi. Baiklah, Nara langsung memutuskan untuk membuatkan susu untuk bayi. Ia keluar kamar dan mendapati Arion yang tengah mendengkur di atas sofa.


Barang belanjaan yang di beli bos nya semalam masih utuh di atas meja. Nara langsung membongkar dan menemukan susu lengkap dengan dot nya.


Setelah selesai membuat susu hangat, Nara kemudian menggendong bayi itu keluar lalu meletakkan di bawah ketiak Arion di pojok sofa. Dengan dot yang di kenyot dengan semangat, bayi itu tidak akan menangis dalam beberapa jam kedepan sampai Arion bangun dan mengetahuinya.


Sementara Nara mengendap-endap meninggalkan apartemen Arion dan pulang kerumah.


BRUK!!


GUBRAK!!


Arion terjatuh dari sofa karena terlalu lasak saat tidur di tempat yang sempit. Arion merintih saat dahinya terhantuk meja.


"Oek.. Oek.. " Akibat keributan yang di timbulkan Arion, bayi itu menangis karena kaget.


Arion sama kagetnya saat menyadari bayi itu sudah rergeletak di sofa.


"Kenapa kamu di sini. Hei bayi! jangan berisik!!"


Arion langsung mencari keberadaan Nara agar bisa menenangkan bayi yang sedang merengek itu. Di kamar dan dapur tidak menunjukkan keberadaan Nara, ia hanya menemukan memo kecil yang menempel di pintu lemari es.


"Saya pulang."


"Bisa-bisanya dia meninggalkan bayi itu di sini. Awas saja kamu Nara."


Arion kembali ke ruang nonton, dimana bayi itu masih menangis. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Nara.


"Kenapa pulang? urus bayi ini!"


"Bukan urusan saya Mister, tugas kantor yang anda berikan pun belum sepenuhnya saya kerjakan." Nara menyahut tanpa takut di seberang sana.


"Biarkan saja Kevin yang urus. Kamu buruan kesini, atau saya potong gaji 50%."


"Tapi, Mister."


Tut.. tut.. tut.. panggilan terputus.


"Hanya dengan ancaman kamu bisa patuh." Sudut bibir Arion terangkat.


Di seberang sana Nara berteriak sembari mengacak rambutnya yang sudah rapi dan siap berangkat ke kantor.

__ADS_1


"Arion!!!! Enyahlah dirimu dari dunia ini!! " Geramnya. Ia mengepalkan tangannya, tidak bisa meluapkan kemarahannya pada atasan super duper menyebalkan itu.


Taksi langganannya sudah tiba di depan rumah, sang Sopir hanya bergidik heran melihat Nara yang kacau.


"Nona siap berangkat kantor?" Sopir itu ragu karena melihat rambut Nara yang acak-acakan.


"Antar saya ke Best Luxurious Apartment."


Hunian mewah tempat Arion bercengkrama sekarang.


...----------------...


"Kenapa lama sekali? "


"Anda juga tahu, ini jadwal padat bagi para pengendara. Jalanan macet semua orang kembali beraktifitas."


Omelan rutin Arion masih sama, apa dia pikir Nara mampu berteleportasi yang hanya butuh waktu satu detik lalu sampai.


"Cepat selsaikan masalah Alien itu. Dia mengeluarkan bau busu. Saya bisa muntah di buatnya." Tunjuk Arion pada bayi yang masih berada di tempat yang sama saat Nara tinggalkan pagi tadi.


"Alien?? dia manusia Mister. Jahat sekali anda."


"Saya tidak peduli, urus dia cepat."


Punggung Nara di dorong-dorong oleh Arion agar cepat mengurusi bayi itu.


Sepertinya bayi mungil itu pup, aromanya memang tidak sedap. Dengan naluri yang ia punya, Nara langsung menelanjangi bayi tersebut kemudian akan memandikannya.


"Cepat bawa dia ke kemar mandi, Saya tidak tahan." Arion menutup lubang hidungnya, sedangkan tangannya yang terbebas mengibas-ngibas menyuruh Nara pergi.


Sementara Nara memandikan bayi itu di kamar mandi yang ada di dekat dapur, Arion juga tengah mempersiapkan diri dan berangkat ke kantor.


Ketika ia keluar kamar, bayi itu sudah tampak bersih. Wajahnya cemong oleh bedak tabur, pakaiannya ganti dengan baju yang dibelinya di minimarket semalam, dan aroma minyak telon memenuhi indra penciumannya. Nara tengah menggendong bayi yang sedang mengedot itu.


"Apa saya boleh menumpang?? "


Berangkat bersama ke kantor maksud Nara.


"Tidak dengan bayi itu kan? gila saja jika kamu membawa bayi bekerja. Bukannya cepat beres, pekerjaan justru semakin menumpuk."


Memangnya Nara sebodoh itu. Siapa juga yang akan membawa bayi rusuh ini. Apa kata dunia saat teman-teman sekantor menyaksikan ini.


"Kita bisa menitipkan di tempat penitipan Bayi, Mister. Dan kembali menjemputnya setelah kita pulang kerja." Nara memang selalu punya ide cemerlang, tidak seperti atasannya gang kejeniusannya diragukan. "Maksudnya Anda, Mister. Ini kan bayi anda." Nara jahil ingin mengejek.


"Siapa bilang? itu bayi kamu! "


"Bayi ini di temukan di mobil anda, itu artinya anda Ayahnya."


Nara tak mau kalah saat berdebat.


"Ayah?" Arion melotot. "Jaga mulut anda, Nara. Potong seratus limapuluh ribu."

__ADS_1


"Mister!!" Nara berseru tidak terima.


"Suruh siapa membantah. Ayo berangkat sekarang, nanti telat ada meeting bulanan hari ini."


Nara menghentak-hentakkan kaki kesal saat membuntuti Arion bersama dengan bayi dalam gendongannya.


Bayi itu sekarang bahkan di perlakukan seperti boneka karena di balut dengan kain tebal hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya. Mereka takut jika ada yang melihat dan menjadi salah paham.


"Cari tempat penitipan bayi paling dekat dari sini."


Boss memang hanya bertugas memerintah kan? dan Nara terpaksa berdeham kecil sembari mencari tempat tersebut di google map.


"Tidak jauh dari sini." Nara menunjukkan alamatnya pada Arion. Kemudian Boss muda itu menambah kecepatan laju mobilnya.


Butuh beberapa menit untuk sampai di tempat penitipan bayi. Nara langsung mendaftarkan diri dan menyerahkan bayi tersebut.


"Nama bayinya siapa?" tanya seorang perawat yang bertugas.


"Siapa?" Nara menyenggol tangan Arion meminta saran. Mereka bahkan tidak berpikiran sampai kesana.


"Namanya Bella." Karena mendapat tatapan aneh dari perawat Arion pun menyahut dengan asal-asalan.


"Bayi itu laki-laki, Mister! " Nara mendelik kearah Arion.


"Lalu siapa? Aahh, Edsel." Arion mengacungkan telunjuk. "Namanya Edsel, Sus."


Sang perawat semakin aneh melihat prilaku dua orang di hadapannya. Ia menjadi ragu dan curiga pastinya.


"Kalian berdua bukan pencuri bayi kan??" todongnya kemudian.


"Tidak!! kami orangtuanya!! " Spontan Arion dan Nara berseru bersama.


"Baiklah, jam berapa kalian akan menjemput?"


Perawat itu akhirnya percaya saja, yang penting mendapat bayaran yang sesuai.


"Setelah pulang kantor, pukul lima sore."


Pendaftaran Bayi itu selesai setelah terjadi percekcokan kecil tentang pembuatan nama. Jadi namanya hari ini resmi menjadi Edsel. Kemudian keduanya memutuskan untuk berangkat ke tempat kerja. Hari ini terasa begitu membosankan.


"Seharusnya kamu saja yang mengaku ibu dari bayi itu." Celetuk Arion ketika dalam perjalanan.


"Anda sendiri yang mengakui orangtuanya pada perawat tadi." Nara berhasil memutarkan fakta.


"Benar juga, semua ini gara-gara alien itu."


"Dia bayi lucu, bukan alien. Berhenti mengatainya seperti itu. Bahkan dia memiliki nama sekarang." Protes Nara.


Manusia berhati dingin di sampingnya itu nyaris tidak memiki rasa kemanusiaan.


"Terserah apapun namanya, dia tetap saja membuat hari-hariku kacau."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2