
"Apa kita mau ke kantor?"
"Nggak. Kan khusus hari ini libur."
"Tapi kenapa kita berhenti di sini??"
"Repot kalau harus membawa bayi."
"Memangnya kita mau kemana?"
Arion mengangkat kedua pundaknya, ia tidak menjelaskan kemana akan pergi setelah ini.
Mereka sudah sampai di tempat penitipan bayi. Meninggalkan Edsel, dan seperti biasa akan di jemput kembali setelah petang nanti.
Nara hanya membuntuti Arion yang kembali ke mobil.
"Kita cari makan dulu, habis itu belanja kebutuhan Edsel." Jelas Arion seolah tau apa yang sedang Nara pertanyakan sejak tadi.
Selain pada Kevin, sekarang Arion mulai melimpahkan kepercayaannya kepada Nara. Walau gadis itu terkadang begitu ceriwis dan banyak protes, tapi ia yakin Nara sangat bisa di andalkan.
Kenyamanan pun mulai ia rasakan, ada hal yang berbeda saat bersama Nara. Tingkahnya yang selalu membuat Arion menahan tawa dalam hati. Apalagi saat Gadis itu berhasil di kerjai.
Ekor matanya mengintip, memperhatikan Nara yang duduk di sampingnya. Dress merah jambu yang di kenakan itu terlihat sangat cocok. Sebersit kenangan pun melintas, teringat pada pemilik dress itu sebelumnya.
"Kenapa melihat saya seperti itu?"
Arion langsung terkejut saat di tegur oleh Nara. Ia tidak sadar sudah berapa lama memandang sekretarisnya itu.
"Ah, nggak. Itu ada nyamuk di dahi kamu." Bohongnya, peduli apa? Arion hanya berusaha menyembunyikan gengsi karena sudah memperhatikan Nara diam-diam.
Plak!
Nara menepuk dahinya. "Mana? nggak ada? " Di Telapak tangan Nara tak ada bekas apapun.
"Wah sudah terbang." Arion merotasikan matanya, kembali ke jalanan dan bersikap se-keren mungkin.
Arion memilih Everjoy Cafe sebagai tempat makan siangnya kali Ini. Sudah lama ia tidak datang kesana, padahal Everjoy Cafe adalah tempat paforitnya dulu.
Menu Nasi haina dan ayam serundeng menjadi pilihan Arion Sedangkan Nara memilih Nasi dan soto ayam, siang yang terik seperti sekarang sangat cocok menyantap makanan pedas dan berkuah. Sementara untuk minumannya, mereka memilih menu yang sama yaitu blue ocean soda.
"Jangan lupa, besok kamu sudah harus pindah ke apartemen saya."
Arion memulai pembicaraan setelah menyantap makan siang dalam diam beberapa menit yang lalu.
"Berarti malam ini saya harus pulang ke rumah untuk berkemas. Tolong jaga Edsel, seperti biasa saya akan siapkan takaran susu untuknya."
Edsel sudah beberapa kali di tinggalkan dengan Arion, sepertinya Ayah muda itu mulai pandai mengurus bayi. Bangun tengah malam, membuat susu dan mengganti diapers bila sudah penuh. Siapa sangka, kalau dia benar-benar Ayah idaman.
__ADS_1
"Tidak perlu membawa barang banyak, cukup pakaian kamu saja."
"Oke. Saya juga harus berpamitan kepada pemilik rumah." Rumah yang ia sewa perbulan itu akan segera di tinggalkan. Mendapat pekerjaan tambahan yang menjamin kehidupan tentu saja tidak boleh di sia-sia kan.
"Tentu saja kamu juga harus berpamitan kepada orangtua mu kan? apa mereka tinggal sangat jauh dari kota ini? sehingga kamu memutuskan menyewa rumah."
Orangtua? satu kata itu selalu berhasil mengoyak batin Nara.
"Ah masalah itu, pasti saya akan kabari mereka." Nara mengedipkan matanya terus menerus, menahan air mata itu agar tidak mengalir.
Beruntung, Arion tidak menyadari kesedihan yang sedang Nara sembunyikan di balik matanya.
...----------------...
Perjalanan Arion dan Nara berlanjut, setelah makan siang mereka pergi ke swalayan terbesar di pusat kota. Ada beberapa perlengkapan yang harus mereka beli.
Nara menarik tangan Arion memasuki stan yang menjual peralatan bayi. Semua tersedia, mereka tinggal memilih mana yang di butuhkan. Ada seorang karyawati yang membantu mereka mencari barang.
"Bagaimana kalau yang ini?" Nara menunjuk salah satu Stroller berwarna abu-abu.
Kereta dorong bayi yang memiliki keranjang beralas datar dan biasanya dirancang untuk bayi di bawah usia 3 bulan. Saat bayi belajar duduk, stroller jenis ini bisa diubah menjadi kereta dorong dengan tempat duduk yang menghadap ke depan, juga bisa dilipat tetapi sedikit berat jika ditenteng. Karena awet, stroller jenis ini biasanya dipilih untuk dipakai bertahun-tahun.
"Ya sudah ini satu." Pesan Arion pada Karyawati yang mendampingi mereka.
"Tapi mahal," Keluh Nara saat melihat label harga yang tertera di sana.
"Suami idaman. Anda beruntung menjadi istrinya." Bisik Karyawati itu kepada Nara.
"Saya bukan istrinya." Nara mendelik lalu membuntuti Arion yang sedang memilih beberapa barang lagi.
Karyawati itu tersenyum, Ayah dan Ibu muda sebagian besar memang bertingkah seperti itu. Seolah tidak saling mencinta, padahal aslinya bucin abis.
Arion nyaris memborong seisi toko. Mulai dari Peralatan mandi, baju, bahkan peralatan makan. Padahal Edsel belum waktunya untuk mendaptkan MP-ASI. Tapi Si keras kepala itu tidak peduli walaupun Nara memperingatkannya berkali-kali.
Keduanya saling membantu membawa beberapa barang dan bagasi mobil sudah dipenuhi dengan keperluan Edsel.
"Ternyata punya bayi itu seru." Katanya sambil tersenyum lebar.
Nara memicingkan matanya. "Tidak juga, karena saya paling di repotkan dalam hal ini." Ia membantah.
"Kamu sudah di bayar, jangan terlalu sering protes. Kuping saya budeg!" Arion menyelinap kedalam mobil lalu di ikuti oleh Nara.
Detik bergulir begitu cepat, hari sudah sore Waktunya menjemput Edsel. Di tengah perjalanan Arion menelpon perawat yang bertugas menjaga Edsel, dia berpesan bahwa akan menjemput sedikit telat. Mendengar hal tersebut lagi-lagi Nara melayangkan protes.
"Kita kan sudah selesai belanja? kenapa harus menunda menjemput Edsel?"
"Makan malam dulu, trus nyobain Cinema Drive-in."
__ADS_1
Sebenarnya Nara juga ada janji malam ini untuk bertemu Kevin. Tapi mendengar Arion menyebut Cinema Drive-in membuat ia penasaran. Seumur hidupnya belum pernah merasakan sensasi menonton bioskop mobil seperti itu. Kedengarannya ajakan Arion memang seru.
"Saya belum pernah," Ujar Nara.
"Sama dong. Saya juga baru mau coba, ini akan menjadi pengalaman baru untuk kita kan? selain mengurus bayi."
Janji bertemu dengan Kevin pun seketika terlupakan begitu saja.
Arion dan Nara akan mencari restoran terlebih dahulu, mengisi amunisi saat perut sudah keroncongan lagi. Setelah itu barulah keduanya akan pergi menonton.
Ponsel Nara berdering. Panggilan dari Kevin.
"Astaga!" Nara langsung teringat kembali dengan janjinya. "Halo. Iya, maaf malam ini saya nggak bisa. Besok aja gimana? Oke deh. Terimakasih."
Singkat, padat dan jelas. Panggilan itu kemudian berakhir.
Arion mengurangi kecepatan mobilnya, matanya menyipit menelisik dengan siapa Nara berbicara.
"Siapa?"
"Kevin, malam ini sebenarnya saya ada janji makan di luar bareng dia. Tapi karena sekarang saya pergi dengan Mister, terpaksa saya batalkan."
Raut wajah Arion seketika berubah, ia merotasikan matanya dengan malas.
"Sepertinya kalian berdua semakin akrab. Sering mengadakan jamuan makan berdua." Intonasi sinis itu di ucapkan Arion terang-terangan.
"Nggak juga, kita cuma temen." Nara menanggapi santai sesuai fakta. "Apa Kevin sudah memiliki kekasih?"
Ccciittttt!!
Arion menginjak rem mendadak, spontan kepala Nara membentur dasbord mobil. Ia mengaduh merasakan sakit di dahinya.
"Uppsss!! sorry." Kemudian Arion beralih menginjak pedal gas, giliran kepala bagian belakang Nara yang membentur sandaran jok.
"Mister, anda berniat mencelakai saya??"
"Tidak."
"Yang tadi itu... "
"Kamu aja yang nggak hati-hati."
"Mister, anda benar-benar menyebalkan."
Perjalanan mereka berlanjut dengan perdebatan yang tidak akan selesai dalam waktu yang sebentar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1