CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Janji


__ADS_3

Hari kebebasan Lisa di sambut dengan suka cita oleh Nara. Dekapan hangat yang hilang beberapa tahun terakhir kini berhasil mengobati rindu. Tubuh kurus Ibunya di peluk erat, kedua pipi Lisa di ciumi bergantian. Nara begitu merindukan perempuan hebat kesayangannya.


Rangkaian doa yang Nara kirimkan berhasil menembus langit. Segala impian untuk memeluk kembali sang Ibu, kini terwujud. Betapa banyak rasa syukur yang harus ia ucapkan untuk keajaiban yang datang pada hidupnya.


"Ucapkan selamat datang pada dunia Ibu yang penuh kebebasan." Nara memberikan satu bouqet mawar putih kepada Lisa.


Menggandeng tangannya dengan erat. Menuntun pergi meninggalkan bangunan tinggi yang menyimpan kisah kelam di ruang tahanan.


"Anak Ibu sudah dewasa. Sekarang pandai menepati janji." Lisa menatap penuh bangga, putri semata wayangnya yang dulu pintar merajuk nyatanya kini sudah bukan bayi lagi.


"Nara tidak mungkin membiarkan Ibu berlama-lama disana. Ibu tidak bersalah, Ibu hanya ingin melindungi ku kan?"


Kerutan di sudut mata Lisa tampak jelas akibat senyum nya yang mengembang.


"Nara, anak Ibu yang hebat." Mereka kembali melepas rindu, saling mengeratkan pelukan bersama tangis haru yang tumpah tak tertahan.


Disana, ada seseorang yang bersandar di sisi mobil. Menyaksikan moment haru yang terjadi antara Ibu dan anak. Diam-diam ia turut menyeka kedua sudutnya yang berair.


"Apa dia Nak Arion?" Lisa mengalihkan pandangan pada lelaki yang menatap kearahnya.


Nara menoleh, lalu menggeleng. "Itu Kevin, sekretaris Mister."


"Tampan. Ibu rela punya menantu seperti dia. Apa dia juga yang membantu mengeluarkan Ibu dari sini?"


Nara menunjukkan wajah yang cemberut, tidak suka saat Lisa membahas perkara menantu. Tidak jika itu Kevin. Ya, Nara memang belum menceritakan tentang perkawinan kontraknya dengan Arion. Karena Pria itu meminta agar dirinya dapat mengatakan secara langsung kepada Lisa.


"Ya dia membantu Mister Arion dalam menyelesaikan kasus Ibu."


Kemudian Nara merangkul Lisa dan berjalan bersama menuju mobil. Kevin langsung menyapa ramah.


Mobil yang membawa mereka kemudian melaju membelah lautan kendaraan yang hilir mudik di jalanan.


Ada pesta kecil yang ingin Nara siapkan untuk merayakan kebebasan Lisa. Ia sudah memesan tempat di Resto ternama dengan menu andalan yang sangat lezat.


Selama di dalam tahanan, Lisa pasti tidak pernah menemukan makanan enak. Itu sebabnya tubuhnya terlihat kurus.


Sebenarnya ini ide Arion, pertemuan dengan Lisa untuk pertama kalinya akan membahas satu hal yang paling serius.

__ADS_1


Hal ini pasti akan mengejutkan Lisa, karena putrinya tiba-tiba akan di nikahi oleh pria tampan yang mapan.


"Bukan karena Kamu hamil kan???" Lisa memindai wajah Nara dan Arion bergantian.


Mereka baru saja menghabiskan waktu beberapa menit yang lalu untuk menikmati hidangan makan siang. Di lanjutkan oleh penuturan Arion yang meminta izin pada Lisa untuk mempersunting putrinya.


"Nggak, Bu." Nara langsung menyela.


"Tapi kami memang mengurus seorang bayi bersama-sama." Bukan memberi penjelasan, Arion justru menambah suasana semakin kacau.


Karena Lisa kembali menaikan intonasi bicaranya.


"Kalau tidak hamil, kenapa kalian memiliki bayi? Nara, Ibu kecewa sama kamu."


"Bukan begitu Bu, itu bukan bayi Nara. Dengarkan dulu penjelasannya." Nara berusaha keras menenangkan Ibunya yang nyaris berteriak, pelanggan lain yang ada di resto itu menatap dengan penuh keanehan.


Karena kesal, Nara mencubit pinggang Arion.


"Awww!!" Ia melirik kearah Nara yang sedang melotot padanya. "Bayi itu, anak yang akan kami adopsi. Pernikahan ini terjadi bukan karena Nara hamil. Saya harap Ibu percaya."


Berhasil di tatap dengan sangar, Arion pun membantu menjelaskan pada Lisa.


Lisa pantas khawatir dengan gadis nya yang pernah melalui kisah hidup yang buruk.


"Bu, ceritanya panjang. Nanti Nara akan ceritakan semuanya."


...----------------...


Tidak ada tempat lain yang bisa Lisa tuju selain tempat tinggal Arion. Perempuan senja itu tidak memiliki harta benda apapun selain putrinya yang paling berharga. Rumah yang pernah mereka tinggali dulu, harus terjual untuk membayar beberapa hutang yang di tinggalkan Cakra. Sisanya, Lisa memberikan kepada Nara untuk membiayai kuliah.


Saat kuliah, Nara harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kehidupannya, untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sewa rumah.


Tidak ada tempat untuk bergantung atau sekedar teman bertukar pikiran bagi Nara saat itu, karena Lisa langsung mendapat jatuhan hukuman dan di tahan hingga begitu lamanya. Nara pun tumbuh menjadi perempuan hebat dan mandiri.


Rencananya, Lisa akan kembali ke kampung halaman. Disana masih ada rumah peninggalan mendiang kakek-nenek Nara. Lisa bisa melanjutkan hidup sebagai petani sayur atau apapun cara untuk melanjutkan sisa hidupnya.


Namun, rencananya tentu saja tertunda. Karena Arion meminta Lisa untuk menetap sementara, sampai hari pernikahan mereka tiba.

__ADS_1


"Menjalani pernikahan itu tidak semudah kelihatannya. Kalian harus bisa saling memahami satu sama lain."


Arion dan Nara yang di minta untuk mendengarkan beberapa wejangan, hanya diam dan menyimak dengan seksama.


"Iya, Bu." Arion langsung menyahuti sedangkan Nara mengerutkan dahinya. Heran, karena Arion seolah sedang berperan sebagai calon mempelai pria yang sebenarnya.


Ada rasa tidak tega saat melihat Ibunya menaruh harapan besar pada pernikahan ini. Nara merasa sudah membuat satu kebohongan dalam hidupnya karena pernikahan yang mereka maksud hanyalah kepura-puraan.


Namun, sebelum ini Nara sudah memikirkan matang-matang. Ia juga seringkali memperingatkan Arion agar kebohongan ini jangan sampai terdengar oleh orangtua mereka. Sebisa mungkin keduanya akan menjaga rahasia itu rapat-rapat. Entah sampai kapan.


Semua hal tentang Edsel, mereka tidak akan merahasiakannya. Arion dan Nara menceritakan semua kisah itu dari awal.


"Pfuh!! syukurlah." Lisa bernapas lega. "Ibu sudah berpikiran buruk tentang pernikahan kalian."


"Ibu hanya berpikir terlalu jauh," Nara memaksakan senyum di hadapan Lisa. Mencoba menutupi rasa tidak nyaman di dalam hatinya.


"Iya, Ibu sekarang sudah lega. Kalau ternyata kalian berdua memang menikah karena saling mencintai, saling menerima dan memang siap untuk menjalani biduk rumah tangga."


"Saling mencintai? " Arion mengulang kalimat tersebut karena terdengar janggal.


"Tentu saja karena kamu mencintai Nara kan?"


Butuh beberapa sekon bagi Arion untuk menjawab satu pertanyaan ini. Terlihat sederhana, tapi bibirnya tak bisa memberikan jawaban yang tepat.


"Nara ke kamar dulu, sepertinya Edsel menangis."


Dalam suasana yang tengah canggung, Nara sengaja melarikan diri. Membiarkan Arion terbunuh oleh pertanyaan mematikan dari calon mertuanya. Tapi, tidak sepenuhnya kabur. Nara mengintip dan mencuri dengar dari balik pintu kamar.


"Tolong jaga Nara, Cintai dia dengan sepenuh jiwa mu. Jangan sia-sia kan putri Ibu satu-satunya." Kalimat Lisa penuh nada permohonan. Sorot matanya yang sendu meluluhkan hati siapapun yang melihat.


"Ibu jangan khawatir. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Nara." Walau dengan nada yang bergetar, Arion berhasil menyuarakan isi kepalanya.


"Berjanjilah pada Ibu, kamu akan menjaga dan menyayangi Nara selamanya."


Arion menelan salivanya dengan berat. Ada beban yang baru saja di berikan oleh Lisa untuk segera ia pikul. Bukan hanya tentang janji yang mudah diucapkan lidah, tapi ini tentang pertanggung jawaban atas janji tersebut.


"Saya berjanji akan Menjaga dan mencintai Nara ... Selamanya."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2