CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Suruh siapa dekat-dekat.


__ADS_3

Melihat kesempurnaan yang terpatri di wajah pria jangkung dihadapannya , Nara semakin sulit memerintah hati dan otak untuk menjauh dari Arion. Logika nya sudah tak mau lagi sejalan.


Saat manik hitam itu mengunci pandangan, desiran di dada semakin bergelora. Dalam waktu yang sama pula, gemuruh rasa perih berkubang dalam relung terdalam. Arion tak bisa di miliki.


Andai waktu bisa di putar kembali, Nara ingin mengubah keputusannya agar tidak bekerja di High Class Corp, tidak bertemu dengan Arion, dan tidak akan pernah jatuh cinta kepada lelaki yang sudah menjadi milik oranglain.


"Saya tanya, sudah berapa lama kamu berdiri di sini??"


Suara bariton itu jelas menyapa indra pendengarannya, suara yang diam-diam ia rindukan.


"Nara melody!! " Bentak Arion karena lawan bicaranya hanya menatap tak berkutik.


"Maaf, Mister." Nara mengerjapkan matanya, di balik pelupuk sendu itu ada buliran bening yang bersembunyi.


"Masuk."


Alih-alih mengulangi kembali pertanyaannya, Arion justru memilih untuk memerintah kepada Nara agar mengikutinya.


Arion bersandar di meja kerjanya, di susul dengan Nara yang terus memainkan ujung-ujung jemarinya pertanda cemas. Disana Arion berdiri seraya menunggu apapun yang akan Nara ucapkan.


"Saya mau berhenti jadi asisten rumah tangga Mister, juga berhenti mengurus Edsel."


Kepalanya tertunduk, Nara sadar diri bahwa kalimatnya kali ini tidak tepat untuk di utarakan. Padahal sebelumnya ia selalu berani menatap lawan bicara.


"Apa kamu bilang?? berhenti!!" Arion beralih, menegakkan tubuhnya.


"I-iya," sahut Nara dengan terbata-bata.


Aura gelap mulai menyelimuti di sekitar mereka. Sejenak, hening datang menelusup. Hanya terdengar suara deru napas dari masing-masing yang sesekali di tarik dan di hembuskan dengan berat.


"Kenapa?" Intonasi Arion berubah melemah. Tatapannya tak setajam beberapa menit yang lalu. Saat itu pula, Nara mulai berani menatap.


Arion sedang berusaha mengontrol emosinya. Ia jera karena telah membuat Nara menangis karena kehilafannya waktu itu.


"Saya tidak ingin mengganggu hubungan Mister. Saya takut keberadaan saya akan menimbulkan masalah."


Sampai saat ini, Nara memang tidak pernah tahu seperti apa wajah perempuan yang bernama Syera, lalu bagaimana hubungannya dengan Arion dan dimana ia kini.


Sekalipun Nara tidak pernah bertemu atau melihat Arion bersama seorang wanita. Bahkan rumor di kantor pun mengatakan bahwa dia adalah lajang penumpuk harta.

__ADS_1


Berita yang mengejutkan ini ia dengar langsung dari Arion. Bahwa Syera adalah kekasihnya, dan Yeri mengatakan bahwa mereka sudah memiliki anak. Itu artinya mereka bukan hanya sebatas sepasang kekasih, melainkan suami istri??


"Saya yang berhak memutuskan apakah kamu berhenti atau tidak."


Jawabannya memang sudah bisa di tebak, Arion tidak suka di bantah. Keputusannya mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.


"Tapi saya juga punya hak untuk memilih jalan hidup saya. Saya mau berhenti"


Nyatanya, hidup berdampingan dengan Arion hanya membawa ketidak nyamanan dalam hidup Nara. Sejak mereka dekat, semua orang menggunjing dirinya setiap hari. Nara masih punya harga diri, ia tidak suka di pandang rendah bahwa seolah-olah dirinya adalah perempuan penggoda.


"Tetaplah bekerja. Cukup pikirkan bayi malang itu, Edsel butuh kamu." Kalimat Arion terdengar setengah memohon.


Mendengar nama Edsel, tentu saja membuat hatinya merasa iba. Tapi, Nara sudah mengambil keputusan untuk berhenti. Setidaknya nanti, mereka hanya bertemu di kantor tanpa harus tinggal satu atap dengan Arion. Rencananya, Nara akan mengajukan lamaran pekerjaan di perusahaan lain. Sehingga ia bisa lepas seutuhnya dengan Arion dan bisa menghirup udara bebas.


Hanya sebatas rencana, ia tidak yakin jika itu berkaitan dengan manusia berhati baja dihadapannya ini.


"Saya tidak bisa, Mister." Nara masih mempertahankan niat awalnya.


"Oke!"


Nara menarik napas lega, paru-paru nya langsung meraup oksigen banyak-banyak. Ternyata melepaskan diri dari Arion tidak serumit pikirannya.


"Saya biarkan kamu berhenti bekerja di rumah saya, tapi saya juga akan mengembalikan Edsel ke jalanan. Toh dia juga bukan anak saya kan? biar saja dia terlantar karena tidak ada yang mengurus."


Arion menyeringai, ia berbalik arah dan duduk bertumpang kaki di kursi kerjanya. Memindai wajah Nara dengan meninggalkan sunggingan kecil di bibir..


"Anda sungguh tidak punya hati!! "


Mendengar Edsel akan di buang, Nara merasakan tubuhnya seolah sedang di cambuk. Bayi tidak berdosa itu tidak boleh terlibat dalam urusan hidupnya, apalagi Edsel salah satu yang kurang beruntung di dunia ini. Bayi itu tidak memiliki keluarga, bahkan ibunya pun tidak sanggup merawat.


"Terserah, keputusan ada di tangan kamu." Arion memgangkat bahunya. "Oya, satu lagi. Ini surat peringatan kamu karena sudah membuat onar satu kantor. Gaji potong duapuluh lima persen untuk ganti rugi kerusakan properti kantin."


"Sekalian saja potong seratus persen." Nara menyaut amplop putih di atas meja, kemudian ia hendak beranjak pergi.


"Terus gimana? nggak jadi berhenti kerja kan?"


"Saya nggak jadi berhenti karena Edsel. Kalau bukan karena bayi itu, saya akan angkut barang dari apartemen anda sekarang juga. Mana tahan saya kerja dengan anda."


Arion yang selalu bertingkah semaunya, suka memaksa, tidak bisa di Tebak. Dia memang pantas masuk ke dalam kategori pria paling aneh. Tidak akan ada yang bisa bertahan berdampingan dengannya, kecuali Kevin.

__ADS_1


Nara juga penasaran apa yang membuat Kevin tahan kerja di bawah pimpinan si perfeksionis itu. Atau memang hanya dirinya saja yang mendapat perlakuan buruk dari Arion? sungguh dunia tidak adil bagi orang-orang lemah seperti dirinya.


"Maaf kalau kamu merasa tidak nyaman karena Syera."


Langkah kaki Nara terhenti di depan pintu. Seharusnya Nara tidak bersikap seperti ini. Karena Syera tidak ada sangkut pautnya dengan Nara. Tapi ketika nama itu menyapa telinga, seperti ada duri yang menggores lapisan kulitnya.


"Anda pasti sangat menyayanginya, saya hanya takut Syera salah paham karena kita tinggal bersama."


Bahkan seisi kantor pun sudah melakukan hal tersebut. Menerka-nerka hal yang sama sekali tidak terjadi diantara Nara dan Arion.


Tangan Nara yang sedang memegang gagang pintu kemudian lepas perlahan, ia memutar tubuhnya dan kembali berbicaRa dengan Arion.


"Saya paham, seharusnya kamu mendengar langsung semuanya dari saya, bukan dari orang lain." Pria jangkung itu sudah berdiri di hadapan Nara. Aroma citrus kembali menyeruak saat mereka hanya berjarak beberapa centi.


"Anda juga tidak harus menceritakan semuanya pada saya. Itu privacy anda, Mister."


"Syera memang kekasih saya, tapi itu dulu. Kami sudah berpisah sejak lulus SMA."


Tanpa di minta, Arion memberi jawaban atas apa yang selama ini Nara pikirkan.


"Lalu anak itu?? "


Nara ragu ketika harus menyebutnya dengan -anak kalian-. Karena ia juga belum yakin dengan apa yang di katakan Yeri saat ia menguping tadi.


Arion menarik lurus kedua sudutnya. "Saya tidak bisa cerita sekarang soal itu."


Satu langkah Arion membuat keduanya semakin dekat. Nara mencoba melangkah kebelakang, namun terhalang oleh pintu Alhasil ia hanya diam bak patung ketika terpojok.


"Parfum mu ganti ya??" Arion mengendus area di dekat tubuh Nara.


Sekujur tubuh Nara meremang, bulu kuduknya berdiri saat hidung mancung itu kembang kempis di dekat wajahnya.


"Iya." Nara melebarkan senyumnya, menyamarkan gugup yang sudah sampai ubun-ubun.


HATCCCIIH!!!! HATCCCIIH!!!!


Suara bersin Arion langsung menggelegar di telinga Nara.


Nara langsung bergegas pergi keluar, jangan sampai gajinya terkena potongan lagi hanya karena parfumnya membuat sinusitis Arion kambuh.

__ADS_1


Suruh siapa dekat-dekat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2