
Ruangan konseling terasa begitu mencekam siang ini. Sepasang remaja menundukkan kepala dengan perasaan gelisah. Di belakang keduanya, berdiri dua pasang orang tua yang sama-sama menunjukkan ketidak sukaan.
Guru perempuan berkacamata di depannya mengabsen wajah mereka satu persatu.
"Dengan terpaksa, Arion dan Syera harus di keluarkan dari sekolah." Guru konseling tersebut mengeluarkan dua amplop putih berisi surat keputusan dari pihak sekolah. "Sangat di sayangkan, padahal keduanya adalah murid yang berprestasi. Hanya tinggal menunggu enam bulan lagi untuk lulus. Tapi kalian memilih keluar dari sekolah ini dengan cepat."
Insiden ini bukan hanya di sesalkan oleh pihak sekolah. Tentu saja hal yang paling di rugikan adalah orangtua dan pelaku.
Syera hamil di usia belia dan masih menyandang status sebagai pelajar. Begitu juga Arion, Ayah biologis dari janin yang hidup di rahim kekasihnya.
"Ini semua gara-gara kamu! anak saya jadi korban!" Jody menarik kerah seragam Arion hingga anak SMA itu terseret dan di sudutkan ke dinding.
BUGH!!
Semua berteriak melihat tinju Jody yang mendarat di rahang Arion.
"Anda pikir hanya Arion yang bersalah?? anak anda pun sama!!" Giliran Benjamin yang menyalahkan Syera. "Perempuan macam apa kamu, dengan mudah di tiduri oleh laki-laki."
Syera hanya bisa menangis tanpa suara mendengar pertikaian kedua ayah mereka.
Ruth menghambur ke pelukan Arion, menenangkan putranya dan membantu menyeka sudut bibir yang mengeluarkan darah. Sedangkan Norah menarik suaminya agar menjauh dan menenangkan diri.
Kegaduhan di ruang konseling berhasil menarik perhatian siswa. Segerombolan murid datang berbondong-bondong untuk mengintip di balik jendela. Berbagai ekspresi di tunjukkan teman-teman Arion dan Syera. Banyak di antara mereka yang menyayangkan kejadian ini dan merasa kasihan. Tapi tak sedikit pula dari mereka yang menunjukkan perasaan jijik dan tidak suka. Ada juga segelintir orang yang datang selewat lalu pergi dengan sikap tak peduli.
Sedangkan sepasang siswa yang menjadi pusat perhatian, hanya bisa menelan ludah dengan payah. Menanggung rasa malu yang sudah sampai ubun-ubun.
"Saya akan bertanggung jawab atas kehamilan Syera." Arion berusaha kuat, walaupun ia tidak tahu apakah sudah siap atau tidak menjadi seorang Ayah. Sudah sepatutnya ia mengambil resiko atas perbuatan tidak menyenangkan tersebut.
"Arion!!" Sentak Benjamin. "Kamu sudah berjanji untuk meneruskan perusahaan Ayah, apa kamu pikir semudah itu mengingkarinya?? Jika SMA saja kamu tidak lulus, mau jadi apa kamu nanti?? gelandangan?? Mengurus anak orang??" Tunjuk Benjamin pada Syera yang tersedu di dalam pelukan Ibunya.
"Saya juga tidak butuh tanggung jawab dari mu, karena Syera tidak akan ku izinkan menikah dengan cepat. Dia harus menyelesaikan sekolahnya, dia harus menyelesaikan sarjana hukumnya kelak." Jawaban Jody spontan membuat Norah dan Syera terperangah.
Situasi semakin pelik. Kedua orangtua mereka masing-masing berpegang teguh pada ego dan ambisi. Tanpa peduli keputusan apa yang sebenarnya di inginkan oleh putra putri mereka.
"Syera mencintai Arion, Dad." Kini perempuan dengan rambut sebahu itu menyerbu Jody, bersimpuh dan memeluk tangan Ayahnya. "Biarkan Arion bertanggung jawab."
"Tidak! Ayah punya seribu satu cara agar kamu tetap bisa melanjutkan sekolah."
__ADS_1
"Kita bisa menikahkan mereka diam-diam, bayi itu sudah terlanjur ada." Norah mencoba mengutarakan pendapatnya.
"Tidak!!!" Jody dan Benjamin menyahut bersama.
"Saya tidak mau ada hal-hal busuk yang mengotori nama perusahaan. Anda tahu kan perusahaan kita sedang di atas daun??" Sambung Benjamin.
"Tolong jangan egois untuk kali ini saja." Bisik Ruth memohon pada Ben.
"Mulai hari ini juga, kerja sama perusahaan kita berakhir. Saya akan tarik semua saham di perusahaan anda Tuan Ben."
Masalahnya, kini merembet ke topik lain. Bahkan hubungan Kedua orangtua Arion dan Syera yang terjalin sebagai relasi kerja pun harus berakhir.
Beberapa siswa terus berdatangan untuk menyaksikan perdebatan dua keluarga disana. Guru konseling segera menutup tirai jendela dan berusaha membubarkan pertikaian yang terjadi di hadapannya.
"Sebaiknya anda semua selesaikan masalah ini dirumah. Karena hal ini sudah mengganggu kenyamanan sekolah. Pihak kami tidak bisa berbuat lebih, cukup sampai di sini Arion dan Syera bukan siswa kami lagi."
Guru konseling menjulurkan tangannya kearah pintu, mengusir mereka secara halus.
...----------------...
Pernikahan memang bukan keputusan yang akan mudah di terima. Bahkan Arion sendiri tidak yakin dengan hal ini. Tapi, rasa tanggung jawabnya meyakinkan bahwa ia akan berani mengambil resiko terbesar jika itu menyangkut dengan hidup mati kekasihnya.
"Suruh Syera mengaborsi bayinya, Ayah akan ganti rugi dengan jumlah uang yang sesuai."
"Ayah!! " Ruth tidak suka mendengar Benjamin yang mengentengkan permasalahan putranya.
"Terus kalian akan mempermalukan nama baik keluarga kita dengan menikahkan mereka berdua?? Putra dari Benjamin pengusaha sukses akhirnya di keluarkan dari sekolah karena memghamili anak orang?? siap kalian mendengar berita itu tampil di berbagai sosial media??"
"Setidaknya kita harus pikirkan keputusan yang tebaik untuk keduanya." Suara Ruth melemah, ia tahu betul suaminya keras kepala dan tidak suka di bantah.
Arion tidak tahan dengan keributan yang pada akhirnya tidak menghasilkan solusi apapun. Pikirannya semakin runyam dan tidak tahu harus berpegang teguh pada keputusan yang mana.
"Uang. Uang. Uang. Ayah selalu berpikir semua masalah selesai dengan uang!! "
Dengan sikap tak peduli, Arion meninggalkan kedua orangtuanya yang masih beradu mulut.
"Mau kemana kamu, Nak?? " Ruth membuntuti Arion yang menyambar kunci motor miliknya.
__ADS_1
"Lihat hasil didikan mu yang terlalu memanjakannya, dia jadi kurang ajar kan??" Gerutu Benjamin yang tidak terusik di tempat duduknya.
Ruth yang menguntit putranya tidak mendapat atensi apapun. Arion pergi meninggalkan rumah tanpa mengatakan tempat yang akan ia tuju.
Di jalanan sore yang lengang, Arion menarik gas motornya dengan cukup kencang. Kecepatan di atas rata-rata bahkan nyaris membahayakan pengendara lain, karena beberapa kali ia nyaris menubruk dan menyerempet pengguna jalan. Arion tidak takut mati, ia hanya tidak ingin kehilangan Syera.
Waktu yang di tempuh menjadi sangat singkat. Arion membawa motornya mirip seperti kekuatan setan, dia memang sedang keraksukan.
Setelah tiba di depan sebuah rumah besar bercat putih itu, Arion langsung meberobos pagar besi yang menjulang tinggi.
Disana Norah, Jody dan Syera sedang mengangkut beberapa koper kedalam mobilnya yang sudah menyala di halaman.
"Syera... " Panggil Arion.
Perempuan cantik pemilik nama itu langsung berlari dan memeluk Arion setelah mendengar namanya di panggil.
"Arion, aku menyayangimu."
"Aku akan menikahi mu, aku akan bertanggung jawab atas bayi kita." Tangan Arion yang bergetar menangkup wajah yang sembab. Bola mata Syera yang memerah, di tatap lekat penuh rindu. Perempuannya terlalu banyak menderita. "Aku mencintaimu, Syera."
Keduanya saling mengeratkan pelukan, bersama dengan itu tangis Syera pun pecah. Air matanya mengalir dan membasahi kemeja Arion.
"Tidak akan ada pernikahan! " Ujar Jody mantap. "Syera akan kami bawa pindah ke Eropa. Dia akan menyelesaikan sekolahnya."
"Tapi Om, saya akan bertanggung jawab."
"Tidak untuk hari ini. Kamu juga harus melanjutkan sekolah mu. Jadilah sukses seperti yang Ayahmu inginkan."
Norah kemudian datang bergabung, ia menarik tubuh Syera menjauh dari Arion. Sedangkan Jody, berdiri sebagai tameng agar Arion tidak bisa menghentikan kepergian Syera.
"Arion maafkan aku... " Syera menoleh sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Kami harus pergi sekarang." Jelas Jody lagi.
"Syera.. " Air mata Arion turut tumpah di kedua pipinya. "Tolong biarkan bayi itu hidup."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1