
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang."
Arion menarik diri dari tubuh Nara. Permainan mereka padahal sudah setengah perjalanan, namun terhenti saat keduanya memang sama-sama belum siap.
Rasa takut saling menyakiti hinggap di tengah-tengah cumbuan hebat mereka.
Keduanya memiliki potongan kisah yang sama dalam hal sensualitas. Penuh tragedi yang tak bisa di lupakan dengan mudah.
"Maaf." Nara menaikan selimut tebal itu hingga menutupi dadanya.
Sebenarnya mereka bisa saja menyelesaikan permainan itu, jika Nara tidak seperti orang keraksukan. Tubuhnya menggigil dan berkeringat. Kelopak matanya memejam dengan kuat. Jari-jari tangannya mencengkram permukaan seprai.
Malam pertama yang seharusnya berkabut napsu berubah menjadi momok yang menakutkan. Arion pun tidak bisa bertahan dengan konsentrasinya, karena bayangan-bayangan hitam masa lalu juga datang meraksuk. Akhirnya mereka menjeda, walau beberapa pakaian sudah tanggal dan berserakan.
"Nggak apa-apa. Suatu saat mungkin kita akan siap." Arion menyingkap surai legam milik Nara, ia juga membantu menyeka peluh di pelipis istrinya. "Tidurlah, kamu pasti lelah."
Tidak baik memaksakan diri, karena hasilnya tidak akan bagus. Lebih baik saling menerima dan memahami keadaan mental masing-masing. Toh, menikah bukan hanya tentang **** saja kan?
"Kapan kita berangkat ke Maldives?"
Alih-alih pergi tidur, Nara justru mempertanyaan acara bulan madunya. Bagaimana ia bisa memejamkan mata dengan cepat, sedangkan beberapa menit yang lalu Nara baru saja melakukan senam jantung.
"Lusa. Dan Besok kita ke kantor dulu untuk mengurus pekerjaan. Mengadakan rapat bulanan sebelum pergi. Bisa kan?"
"Yes, Mister!" Nara mengangkat tangannya di pelipis tanda hormat. Ini hanya godaan kecil untuk mencairkan suasana di malam pertama.
"Sekali lagi kamu ngomong gitu, aku cium loh...." Arion menyentil pucuk hidung nara.
Nara tentu saja tidak lupa aturan baru yang di buat suaminya. Dilarang berbicara formal saat di rumah, dan panggil dia Arion tanpa embel-embel apapun.
Kemudian Arion beranjak dari atas ranjang, kembali mengenakan piyama tidurnya.
"Ngomong-ngomong kamu pemula yang hebat." Arion mengerling nakal dari tempat ia berdiri.
"Hebat dalam hal apa?" Nara berpikir keras untuk menelaah maksud perkataan Arion.
"Bercumbu." Bibirnya membentuk garis lengkung yang manis. Pria itu benar-benar menunjukkan senyum yang tulus. Binar-binar cinta memancar dari kedua manik hitamnya.
"Tidak juga, aku kan hanya mengimbangi kamu." Nara mengelak, tak mau mengakui.
__ADS_1
"Ya, kamu cukup lihai untuk itu."
"Apa sih?? nggak jelas."
Dengan menggulung tubuhnya menggunakan selimut, Nara memunguti pakaiannya lalu menenggelamkan diri di dalam kamar mandi.
"Kalau sudah siap kita bisa mencobanya lagi, sayang..." Arion berseru walau istrinya sudah tak terlihat lagi.
Di dalam kamar mandi itu, Nara tak langsung mengenakan pakaiannya. Ia justru senyum-senyum sendiri di balik Pintu. Mendengar kata sayang yang di ucapkan Arion, membuat angannya melambung tinggi.
"Iya sayang." Nara menjawab dengan pelan sambil terkekeh geli.
Senyum bahagia dari masing-masing mereka merekah. Hidup terasa begitu sempurna ketika sepasang insan bisa saling melengkapi.
Banyak hal yang terduga dan di luar rencana terjadi begitu saja di dalam hidup. Tidak ada yang tahu seberapa cepat hati menemukan labuhan cinta yang sebenarnya. Apakah kepada teman dekat, teman kerja, atau bahkan kepada seseorang yang baru saja kita kenal. Semuanya misteri, tidak bisa di tebak. Ikuti saja, permainan dunia yang penuh berbagai tantangan ini.
...----------------...
"Gagal??? Aishhh!!." Komentar Kevin terdengar begitu kecewa ketika Arion mengatakan bahwa tidak ada malam pertama. di hari pernikahannya.
"Saya tidak bisa melakukannya, ada rasa takut yang tiba-tiba datang."
Sekretarisnya itu memang tempat paling nyaman untuk mencurahkan berbagai perasaan. Kevin selalu mendesak Arion untuk menceritakan apapun yang terjadi padanya. Ia tahu, jika beban itu di tanggung sendiri akan mengganggu kesehatan mental Arion. Kevin mengerti bagaimana masa lalu yang kelam itu di lalui dengan tidak mudah oleh atasannya. Ia selalu memiliki cara untuk memberikan solusi dalam memecahkan masalah.
"Dia juga tidak bisa melakukannya, Nara memiliki trauma yang cukup berat."
"Pantas saja kalian berjodoh."
Katanya, kalau jodoh pasti mirip. Entah itu dari segi wajah, prilaku atau latar belakang keluarga.
"Tapi tunggu... " Kevin menyela kalimatnya sendiri. "Pernikahan kalian hanya kontrak kan?? tapi kenapa harus melakukan itu??"
"Kami menikah Resmi, bukan kontrak." Arion menegaskan. Pernikahan kontrak kan hanya ide gilanya untuk menjebak Nara. Karena Arion takut akan penolakan dari Nara.
Jika tahu bahwa perempuan itu menyukainya juga, Arion tidak akan berbohong seperti ini.
"Jadi ternyata anda menyukai perempuan bawel itu?? sungguh??"
"Jaga bicara mu, dia itu istri ku sekarang." Arion menunjuk wajah Kevin penuh ancaman. "Apa salahnya dengan orang jatuh cinta."
__ADS_1
"Bukan begitu, hanya saja. Anda sekarang pandai bersembunyi dari saya. Selamat kalau begitu." Kevin tersenyum, turut merasakan kebahagaiaan Arion. Ia tidak perlu khawatir lagi, karena Boss nya ternyata masih normal. Dia masih bisa menyukai wanita walau pernah melalui kisah percintaan yang rumit.
"Saya memang sempat bingung dengan perasaan yang sebenarnya."
Butuh beberapa waktu untuk memantapkan hati bahwa Ariom benar-benar menyukai Nara. Kemudian perasaan itu semakin di perkuat ketika cemburukerap kali muncul saat Nara dekat dengan Kevin.
Memang. Kadang perlu waktu untuk mencari jawaban yang Pasti. Isi sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam.
"Oya, saya ada ide." Kevin tiba-tiba menjentikkan jari.
"Jangan bilang kalau itu ide gila." Arion menyela sebelum Kevin menjelaskan.
"Besok, kalian akan berbulan madu ke Maldives. Jadi jangan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Sudah saatnya membuktikan keperkasaan anda."
Anda kalian tahu?? jika dua orang pria berbicara tentang Orientasi ****. Mereka akan membahas secara blak-blakan tanpa rasa malu dan segan.
"Kami belum bisa melakukannya dalam waktu dekat. Anggap saja ke Maldives itu jalan-jalan biasa."
Walaupun tujuan utamanya bukan saling berjelajah ke hutan belantara, Menyusuri gunung dan lembah atau pohon besar berakar. Tapi setidaknya perjalanan ini dapat menyuguhkan hiburan yang bisa melepaskan penat.
"Anda pasti bisa!" Kevin yakin dengan ide nya kali ini. Dan itu cukup gila.
"Caranya??"
"Alkohol. Kalian harus membuang sebagian kesadaran diri dengan minum terlebih dahulu. Sehingga hal itu akan mudah terjadi."
"Kamu gila, Vin. Nara tidak suka Alkohol."
"Coba saja dulu, katanya saat mabuk melakukan hubungan intim akan terasa lebih nikmat." Kevin terus meracuni Arion agar mematuhi ide gila nya.
"Sok tau kamu. Nikah aja belum."
"Searching dude." Kevin menaikan alisnya berulang kali. "Bagaimana??"
"Keluar kamu dari ruangan saya!" Usir Arion kemudian, ia menatap tajam pada wajah Kevin. Namun yang di tatap hanya menahan senyum sambil meninggalkan ruangan sebelum amukan berikutnya ia terima dari Arion.
"Jika anda setuju, saya akan siapkan untuk bekal anda, Mister." Saran Kevin sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan kerja Arion.
"Sekretaris gila!" Arion mengumpat kesal karena Kevin tak berhenti menggoda nya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...