
"Gerbang utama sepertinya sudah tertutup rapat." Sindir Kevin dari meja kerjanya.
Ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Bahkan keduanya baru saja mendaratkan pantat di atas permukaan kursi. Tapi Kevin memilih menyapa Nara dengan celotehan garing, alih-alih menanyakan kabarnua seperti biasa.
"Gerbang apa sih? nggak jelas." Nara mulai menyalakan komputer, langsung berjelajah pada draft-draf penting yang akan ia kelola.
"Gerbang hati muuuuuuuu." Bibir Kevin berhasil memanjang, mirip bibir Suneo salah satu teman Nobita, serial kartun dari jaman Baheula yang tak habis di makan zaman.
Baru kali ini Nara mendengar acara gombal-gombal ria dari Kevin. Lelaki yang masih melajang itu kan terkenal dengan ke-beku-annya.
"Nggak usah becanda. Nggak lucu." Nara melihat Kevin dengan ekor matanya, di seberang sana Pria itu sedang menumpukan wajahnya pada tangan yang di lipat di atas meja. Menatap Nara.
"Kalau kamu sudah menikah, saya nggak bisa lagi godain kamu, nggak bisa ajak makan berdua, dan nggak bisa...."
"Nggak bisa apa?? "
"Ungkapin perasaan saya ke kamu."
"Hah??? apa?"
"Nggak." Kevin menarik tubuhnya menjadi tegak lurus. "Saya harus menjaga diri, demi Mister."
Nara tergelak lebar. Mentertawakan hal yang membuat hatinya tergelitik. Merasa tidak ada yang lucu, Kevin hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Apanya yang lucu??"
"Saya sama Mister itu cuma nikah palsu. Bukan beneran. Kita tetep bisa berteman dan makan di luar bersama sekali-kali. Apa. salahnya?"
"Beneran?? kita masih bisa jalan berdua??" Kevin mengetuk-ngetukkan kedua telunjuknya. "Maksud saya, bisa sambil membahas masalah pekerjaan."
"Tentu saja."
Pernikahannya nanti tidak membuat satu sama lain terikat. Hanya formalitas untuk memenuhi persyaratan untuk hal-hal tertentu. Keduanya akan tetap menajalani kehidupan masing-masing sesuai yang di ingini.
Arion memang mengutarakan perasaannya malam tadi, dengan ciuman?? apa itu bisa di percaya seutuhnya?? Nara merasa bahwa Arion sedang berbohong dengan perasaannya. Melupakan Syera bukan hal yang mudah, mereka sudah melewati beberapa waktu penting dalam hidup. Kehadiran Nara yang hanya berperan sebagai pengasuh bayi dan karyawan kantor, tidak akan mudah meluluhkan hati pangeran es tersebut.
Ciuman itu? ah, kenapa Nara harus menerimanya. Seharusnya ia dengan cepat mendorong tubuh Arion. Tapi saat bibir mereka bertemu dengan cepat, Nara seketika kehilangan keberanian untuk menolak. Raganya luluh.
"Bagaimana kalo weekend depan kita nonton film??" Kevin mengajukan ide dadakan.
"Hemm.. " Nara berdeham untuk mempertimbangkan ajakannya.
__ADS_1
"Tidak bisa!!" Suara itu lantang, berasal dari arah pintu yang mengayun terbuka. "Weekend depan Nara sudah resmi menjadi istri saya."
Arion langsung duduk di sofa, menyilangkan kaki dan tangannya. Mengabsen wajah sekretarisnya secara bergantian.
"Tapi, Nara bilang kalau kita berdua masih bisa pergi bersama." Kevin menunjuk Nara, Dia mulai takut dengan tatapan Kevin yang serius.
"Oya?? istri macam apa yang berencana pergi dengan pria lain??" Tatapan Arion beralih pada Nara.
"Kita belum menikah, Mister." Nara menyangkal dengan cepat.
"Lusa kita sudah menikah, kamu akan jadi istri saya."
"Tapi kalian hanya nikah kontrak kan? ini pura-pura kan??" Giliran Kevin yang menyela.
"Kevin saya peringatakan sekali lagi. Jangan ganggu istri saya." Dada Arion membusung, seolah tengah menyombongkam satu hal.
Namun Kevin justru tertawa dan menutup mulutnya dengan cepat. Mereka belum menikan, tapi Arion sudah bertingkah menjadi suami yang sebenarnya.
"Maaf, saya tidak akan mengganggu istri palsu anda." Kevin masih menahan tawanya.
Plak!!
"Owwwhh. Rasa sakitnya tak seperih saat patah hati." Arion mengusap dahinya sendiri, mengolok Kevin. "Akan saya carikan perempuan seksi untuk kamu. Agar tak lagi mengganggu istri orang lain."
Arion merapikan jas kerjanya, kemudian meninggalkan ruangan sekretaris dengan dagu yang terangkat.
...----------------...
"Kamu lihat tingkah nya tadi? dia benar-benar sombong dan bertingkah sesukanya?"
Kevin kembali membicarakan Arion setelah orangnya tidak lagi berada di sana.
"tapi anda setia pada Mister," jawab Nara santai.
"Maksud saya, apa kamu tahan hidup berdampingan dengannya? sebagai istri pria angkuh?" Tanpa ragu Kevin kembali mencela atasannya. Padahal Jika di depan Arion, ia nyaris seperti kerupuk yang tersiram air. Melempam.
"Anda sedang memprovokasi ya? Mister pria yang baik, jangan mencela nya seperti itu." Nara tersenyum. "Bisa habis gaji anda di potong jika percakapan kita didengar olehnya."
"Agghhh!! my heart." Kevin meremas dadanya. "Mister, pria idaman, Pria baik-baik."
Nara tertawa, baru kali ini ia menyaksikan orang yang keraksukan. Ada apa dengan Kevin hari ini? atmosfir di sekitarnya berubah menjadi hangat. Dia ternyata memiliki sisi yang berbeda.
__ADS_1
"Saya baru tau loh, kalau anda pandai bercanda. Ngomong-ngomong lucu juga."
Benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Nara yang dulu baru pertama mengenal Arion dan Kevin, menghadapi kedua orang itu terasa sangat menyebalkan. Tapi setelah mengenal mereka lebih lama, pria-pria dewasa itu sangat nyaman dan terkadang menggemaskan.
"Awas nanti jatuh cinta... cinta kepada diriku...." Kevin langsung menyahut dengan lirik lagu milik Armada yang ia nyanyikan dengan nada yang indah.
"Isshhhh..." Nara Menggigit merotasikan matanya melihat Kevin bernyanyi penuh penghayatan dan ekpresi.
Klek!!
Pintu ruangan kerja mereka kembali terbuka, dan orang yang sama datang lagi. Arion mengangguk-angguk dan berjalan menghampiri keduanya.
"Sepertinya minggu depan Nara akan pindah keruangan yang baru," Ujarnya tiba-tiba.
"Loh, kenapa Mister?? ruangan ini sudah membuat saya nyaman." Sorot mata Nara mengikuti arah langkah Arion yang bergerak kearahnya.
Tangan pria itu kemudian menepuk pundak Nara dan mengusapnya pelan.
"Seperti ini lebih baik Mister, saya dan Nara bisa berbagi tugas dengan mudah. Juga bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat." Kevin turut mungutarakan pendapatnya.
"Iya.. kalian memang berbagi tugas. Tapi jika kalian terus berada dalam ruangan yang sama, sudah pasti akhirnya bukan hanya berbagi tugas tapi berbagi perasaan juga."
Spontan, Nara dan Kevin saling melemparkan tatapan aneh.
Apa itu adalah bentuk perasaan cemburu yang di tujukan oleh Arion pada Nara.
"Ehem! Ehem!!" Arion pura-pura batuk karena perkataannya tadi tidak mendapat respon dari Kevin dan Nara. "Oke, berarti kalian setuju."
"Mister, kita belum memberikan jawaban apapun." Sangkal Nara lagi.
"Tapi kalian berdua diam. Artinya Iya."
Memang hari yang aneh bagi Arion. Ia sudah dua kali bolak balik masuk ke dalam ruang kerja sekretarisnya hanya untuk menyela obrolan Kevin dan Nara.
Dirinya pun merasakan hal yang janggal dalam hati. Ada rasa tidak suka saat Nara dan Kevin tampak terlalu dekat, bercanda satu sama lain dan tertawa bersama.
Pikirannya pun berjelajah saat ia tidak bisa melihat Nara meski dalam waktu sebentar saja. Konsentrasi pada pekerjaannya menjadi sangat terganggu. Memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan dua sekretarisnya itu.
"Kevin, ingat! " Arion menunjuk wajah orang kepercayaannya. "Jangan goda istri orang!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1