
Pintu apartemen berdenyit setelah Arion menekan enam digit angka. Nara mengikuti langkah Arion dengan susah payah bersama beban di kedua tangannya, kotak berisi bayi yang lumayan berat.
Ruangan besar itu terlihat sangat nyaman dengan berbagai furniture berlebel internasional. Sofa besar yang melingkar, televisi yang hampir menyaingi layar bioskop, serta Aroma lavender langsung memenuhi indra penciuman. Tempat tinggal yang boleh di katakan cukup mewah untuk di huni oleh seorang pria yang masih melajang.
Nara terperangah memandangi seisi tempat tinggal mewah milik Arion, ia sampai lupa dengan tujuan awal mengunjungi rumah Boss nya itu.
"Oek! Oek! "
Bayi mungil itu berteriak kencang, Nara terkejut dan langsung meletakkan di atas sofa. Ia merengkuh untuk menggendongnya.
"Cup. Cup. Sayang."
"Ternyata kamu sudah cocok menggendong bayi." Komentar Arion yang baru saja keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian.
"Semua orang juga bisa, kalau hanya menggendong seperti ini."
"Ah, sudah pandai menjawab."
Arion duduk di sofa, kakinya di silang kan dan ia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
"Ya Maaf, Mister."
Entah sudah berapa ribu kalimat maaf yang di ucapkan Nara.
"Oek! Oek! Oek! "
Ditengah perdebatan dua manusia itu, si bayi justru ikut merusuh dengan terus merengek dan mengais-ngais di depan dada Nara.
Nara menepuk-nepuk bokong bayi tersebut, kadang ia berdesis seperti ular berusaha menenangkan tangisan si bayi.
"Kamu bisa ngurus bayi nggak sih? atau kamu perempuan jadi-jadian yang tidak punya maluri seorang Ibu ya? "
Ah, dia hanya pandai memprotes tanpa melakukan tindakan apapun. Lihat! bahkan ia masih bisa duduk santai sembari menyalakan televisi.
"Dia kehausan Mister," Sahut Nara kesal. "Sssss.. ssss.. " Ia menimang si bayi sambil. mencoba mengorek-ngorek kotak tempat bayi di temukan, siapa tahu si pembuang meletakkan susu untuknya.
"Banyak air di dalam lemari pendingin." Katanya tanpa menoleh.
Dia manusia atau monster sih? apa tidak punya belas kasihan, bayi kok di kasih air mineral. Bisa kembung.
"Bayi itu minum Susu, Mister. Kalau saya minumnya Teh." Nara menyahuti seenak perutnya, Boss macam apa dia? mempekerjakan karyawan di luar kantor? "Ternyata tidak ada," Gumam Nara karena tidak menemukan apapun di sana.
"Ya sudah beri dia minum susu. Perempuan kan sudah takdirnya menyusui! "
__ADS_1
Astaga! Nara tidak yakin jika Boss nya itu seorang pria genius. Kalimatnya barusan justru membuat Arion terkesan hanya memiliki otak sesendok.
"ASI hanya di hasilkan oleh Perempuan yang sudah melahirkan." Begitu yang Nara tahu.
"Terus siapa yang harus menyusui bayi itu? saya? "
"Ya Mister harus membeli susu formula."
Apa hal seperti ini harus di jelaskan? heran deh.
"Atau bayi ini akan kehilangan nyawanya, lalu Mister akan di tangkap polisi, dinyatakan sebagai Tersangka dan di penjara seumur hidup."
"Ya!! apa yang kamu bicarakan?? " Arion melotot. Nara hanya mengangkat kedua bahunya saat kedua mata Arion nyaris keluar dari kelopak.
"Ya sudah, segera belikan bayi ini Susu."
"Oke! oke! "
Arion beranjak dari tempat duduknya dengan rasa terpaksa, kemudian berlalu dan meraih kunci mobil yang biasa ia letakkan di dekat lemari TV.
Kemalangan apa yang sedang menantinya? Urusan kantor sudah membuatnya pusing tujuh keliling kenapa sekarang di tambah dengan kehadiran seorang bayi tidak tahu siapa orang tuanya.
...----------------...
Apartemen Arion terletak di tempat yang sangat strategis, pusat perbelanjaan tidak jauh dari sana sehingga memudahkan bagi siapapun untuk membeli keperluan yang mendesak.
Tangannya sibuk menekan layar persegi itu, mencoba menghubungi Nara untuk menanyakan susu Merk apa yang harus di beli. Namun panggilannya lagi-lagi di tolak. Sepertinya Nara sedang sibuk mengurus si bayi.
"Harusnya Sekretaris itu saja yang mencari, aku kan tidak pengalaman soal ini." Arion menggaruk tengkuknya.
"Apa yang sedang anda perlukan Mister? " Sapa salah satu pegawai mini market. Sejak tadi ia memperhatikan pelanggannya yang tampak kebingungan.
"Aku perlu susu bayi."
"Umur berapa bulan bayi nya? "
"Satu bulan, ya satu bulan." Arion ragu, ia lupa menanyakan ini kepada Nara sebelum pergi.
"Mau Merk apa? "
"Apa saja, yang paling mahal yang paling bagus, agar bayi cepat bicara dan berjalan."
Karyawan mini market tertawa mendengar perkataan Arion. Bayi mana yang bisa bicara dan berjalan di usia satu bulan, bayi ajaib mungkin saja.
__ADS_1
"Anda Papa muda yang baik hati." Celetuknya lalu gadis itu meraih satu kotak susu formula dengan Merk terkenal. Yang mahal biasanya berkualitas.
"Papa?? " Arion mendelik.
Kapan benihnya menciptakan seorang anak? statusnya saja masih melajang hingga kini.
Lagi-lagi ia mendapat tawa dari karyawan tersebut. Apanya yang lucu, pikir Arion.
Setelah melihat Merk susu yang sesuai dengan usia si bayi, Arion ikut mengambil beberapa kotak susu lagi. Sepertinya satu kotak tidak akan cukup untuk persediaan satu minggu.
Pada akhirnya, Arion meminta Pelayan mini market untuk menemaninya berbelanja kebutuhan bayi.
"Anda juga butuh diapers, Mister." Pelayan itu meraih diapers dari etalase dan memasukkan ke troli. "Agar bayi anda tetap aman saat pipis dan pup."
"Ya, kau benar."
Bukan hanya Susu dan Diapers, troli belanja kini sudah terisi dengan berbagai jenis barang mulai dari dot, tissu basah, bedak, minyak telon, sampai ke peralatan mandi.
Hari ini Arion mendapatkan pengalaman berharga. Ia belum pernah melakukan hal gila seperti ini sebelumnya.
Arion harus mengantri saat akan membayar barang belanjaannya di kasir. Ibu-ibu yang berbaris di depannya seketika menoleh lalu saling berbisik.
"Suami idaman."
"Papa muda."
"Istrinya pasti bahagia."
Arion mengalihkan pandangannya ke segala arah. Kupingnya sekarang sudah memerah akibat menahan malu karena menjadi topik pembicaraan orang banyak.
"Percayalah, Tuhan memberkati pernikahan kalian." Salah seorang Ibu di belakangnya menepuk pundak seolah memberikan doa.
"Terimakasih." Arion membungkuk sopan.
Pernikahan? kata itu bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya sebelum ini.
Sementara di Apartemennya, Nara masih berseteru dengan bayi yang enggan berdamai. Tangisnya semakin kencang dan dia kewalahan. Sudah lebih dari dua puluh menit sejak Arion pergi berbelanja, namun ia belum juga kembali.
Nara tak menyerah sampai di situ, ia bahkan berulang kali mengganti posisi saat menggendong bayi, sampai pada akhirnya si bayi di baringkan di atas tempat tidur milik Arion, menyelimuti nya dengan selimut tebal, memeluk serta menepuk-nepuk bokong bayi.
"Ah, kamu kedinginan yah? " Bayi itu terdiam dan mulai memejamkan matanya setelah di selimuti.
Nara terus mengusap punggung bayi, sampai tanpa sadar ia pun ikut terlelap di sampingnya akibat kelelahan.
__ADS_1
Benar-benar hari yang buruk bagi Nara. Apa ini adalah penjara kedua setelah kantornya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...