CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Ada apa, Arion?


__ADS_3

"Nara, Saya benar-benar minta maaf."


Berulang kali Arion mengetuk pintu kamar, tapi tidak juga mendapat respon apapun.


Di kamar mandi, Nara membenamkan diri. Menyesali apa yang sudah ia ucapkan. Hatinya terasa di kuliti hidup-hidup, bukan hanya perkara sikap Arion yang kasar melainkan tentang kenangan buruk di masa lalunya.


Semua lelaki sama saja, hanya pandai menyakiti hati wanita. Arion mungkin juga seperti itu. Apa bedanya dia dengan pria lain? Kasar dan tempramen.


Tangisnya tidak mengeluarkan suara, hingga napasnya tersengal dan Nara berusaha mendinginkan emosinya dengan guyuran air dingin. Membasuk seluruh tubuhnya, mengusap wajahnya yang sembab.


Waktu berlalu hampir satu jam lamanya. Arion masih dengan perasaan tidak menentu, mondar mandir di depan pintu kamar. Rasa sesal itu ingin segera ia ungkapkan dengan sebuah kata maaf. Bukan sekedar kata-kata, tapi dia benar-benar tidak terkendali. Dia sama sekali tidak bermaksud menyakiti atau melukai Nara.


Bagi Arion, semua orang memiliki alasan saat mereka mengambil keputusan walaupun memang menyakitkan. Bukan tentang tidak menghargai seorang wanita. Tapi, ah Arion sama kacaunya. Ada sesuatu yang membuatnya hilang kendali, hanya karena kalimat yang ia dengar, 'Tidak menghargai seorang wanita' .Arion bukan orang yang seperti itu.


Nara akhirnya keluar, menggunakan pakaian yang Arion berikan. Dress berwarna merah jambu itu sangat cocok dengan tubuhnya yang langsing.


"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyakiti kamu." Arion menangkupkan jemarinya di depan dada, memohon pengampunan.


Wajah sembab dan kedua mata yang memerah tidak bisa Nara sembunyikan. Ia telah menghabiskan waktu berjam-jam dengan menangis di kamar mandi. Arion semakin merasa iba melihatnya.


"Nara.. "


"Nggak apa-apa. Saya baik-baik aja."


Nara menyadari bahwa ini bukan seutuhnya salah Arion. Dia juga sama-sama hilang kontrol.


Arion menghembuskan napas lega mendengar Nara yang masih sudi berbicara dengannya.


"Terimakasih."


KReepp!!!


Arion menarik tubuh Nara kedalam dekapannya, mengencangkan tautan tangannya pada punggung Nara.


Nara terhenyak, desiran di dada nya semakin jelas. Ada getar-getar rahasia yang tidak bisa ia artikan saat ini.


Waktu seperti berhenti berputar. Merasakan hangat yang menguar dari tubuh Arion, Nara langsung terbuai dan tanpa ia sadari tangannya terangkat untuk membalas pelukan itu.


"Saya juga minta maaf." Bibirnya bergetar, selaras dengan aliran darahnya yang berpacu dengan degup jantung.


Arion melepaskan pelukannya. Hari ini penciumannya tidak lagi sensitif walaupun menghirup aroma parfum orang lain dari jarak dekat.


"Kamu cocok pakai baju itu." Puji nya kemudian.

__ADS_1


Nara mengangguk, ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat melayang entah kemana.


"Saya benar-benar menyesal sudah membuat kamu menangis."


"Lupakan saja, Mister. Anggap hari ini tidak terjadi apapun di antara kita."


Perbincangan serius mereka terganggu oleh tangisan Edsel yang tiba-tiba pecah. Nara langsung menggendong dan menenangkannya kembali.


"Saya akan bersiap-siap."


Sementara Nara menggendong dan menyusui Edsel, Arion memilih kembali ke kamar untuk bersiap.


Arion menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia diam sejenak di balik daun pintu. Menekan dadanya kuat-kuat.


Suhu yang membekukan hatinya selama beberapa tahun, kini mulai berubah menjadi sedikit hangat. Nara, saat nama itu terbersit di kepalanya, wajahnya langsung meremang kemerahan.


Pasti ada yang tidak beres.


...----------------...


Kevin sudah menjadwalkan pertemuan antara Arion dengan pihak kepolisian. Hari ini mereka akan bertemu dengan Ibu si Bayi yang akan di dampingi oleh Psikiater.


"Namanya Ceta, usianya baru Tujuh belas tahun dan dia masih berstatus sebagai siswi sekolah menengah atas." Salah satu pihak kepolisian memberikan sedikit informasi menegenai pelaku pembuang bayi tersebut.


"Bagaimana dengan keluarganya?"


"Saya ingin bertemu dengan perempuan itu." Pinta Arion.


Polisi pun menyetujui dan langsung mengajak Arion ke sebuah ruangan khusus.


Di sana, Ceta sedang di ajak berbincang oleh seorang psikiater wanita. Mencoba memahami keadaan pasien sembari mengajaknya sarapan.


Petugas polisi mengetuk pintu kamar, dan Dokter pun mempersilahkan masuk.


Arion mendekat bersama Nara yang mengekorinya di belakang.


"Dia mengalami trauma yang sangat mendalam." Dokter wanita itu bangkit dan mempersilahkan duduk kepada Arion.


Hati Nara teriris melihat seorang gadis belia yang harus menerima kemalangan ini. Wajahnya cantik, rambutnya panjang terurai, namun masa depannya tampak suram. Hidupnya hancur karena pergaulan bebas. Napsu berhasil menipu para pemuja cinta. Membawa ke jurang gelap lalu meninggalkannya dalam keterpurukan.


Siapa yang sanggup, ketika seorang remaja harus hamil tanpa seorang suami. Di hakimi oleh orang-orang sekitar, di salahkan dan hanya mendapat tepuk tangan tanpa ada yang merangkul.


"Panggil saja Ceta." Saran Dokter saat Arion berniat untuk mengajaknya bicara.

__ADS_1


Arion mencoba menatap wajah perempuan yang terus menunduk itu. Tatapannya kosong, ia terus bermain-main dengan jari tangannya.


"Ceta, Saya datang bersama bayi Edsel. Ya namanya Edsel, nama yang bagus kan?"


Pelan, Ceta mengangkat kepalanya ia merespon saat mendengar Arion berbicara.


"Bayi?? " Katanya.


"Iya, Bayi." Arion mengambil alih Edsel dari gendongan Nara, lalu menunjukkan bayi itu kepada Ibunya. "Kamu harus sembuh, Edsel merindukan Ibunya."


Arion berharap, ada keajaiban yang datang saat Ibu dan bayi itu di pertemukan.


"Bayi ku.. " Ia beranjak lalu menghambur untuk menyentuh bayi itu dalam gendongan Arion. "Bayi.. " Hanya itu yang terus menerus ia katakan.


"Kamu menyayanginya?"


"Tidak!!! tidak!! kamu jahat!! kamu bajingan!! kenapa kamu melakukan ini sama aku?? kenapa kamu tinggalin aku!! aku benci!! " Tiba-tiba Ceta berteriak, memaki Arion ia bahkan mencengkram tangan kemejanya.


Khawatir terjadi apa-apa dengan Edsel, Nara langsung merebut bayi itu dari gendongan Arion dan membawanya menjauh.


Dokter hendak menarik Ceta yang terus menyerang Arion, tapi Arion mengode agar mereka membiarkan Ceta melampiaskan beban di hatinya.


"Itu bayi kita.. kita akan menikah. jangan pergi lagi." Ceta menggoyang-goyangkan kedua tangan Arion sambil menangis. "Nggak. Nggak. Aku nggak mau bayi, aku mau sekolah. Kita berangkat sekolah."


Tangisan Ceta kemudian berganti menjadi tawa lebar.


Kondisinya memang sangat memprihatinkan.


"Kamu merusak hidupku!! kamu menghancurkan impian ku!!!" Dada Arion di pukul berulang kali.


Arion tak bergeming, ia hanya menahan pergelangan tangan Ceta saat akan melakukan pukulan lagi. Iris hitam remaja belia itu mengeluarkan banyak air mata, ia sesenggukan.


"Tidak, aku tidak seperti yang kamu bayangakan. Aku melakukannya karena satu alasan." Arion membalas tatapan Ceta, aura kesedihan mendominasi mereka berdua.


Nara dan Dokter yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa saling melempar pandang. Menyimpan banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban.


"Kamu jahat!!!" Ceta merutuki Arion lagi.


"Maaf." Arion memeluk Ceta, menenangkannya.


Aneh. Tentu saja itu yang Nara pikirkan sekarang. Arion tidak pernah menyentuh orang lain sembarangan, apalagi hingga memeluk Ceta seperti itu. Perempuan yang baru ia temui dan dia tidak waras. Arion yang angkuh, kini menjadi lebih peduli dengan orang sekitar??


"Nona, saya ingin bicara dengan anda." Dokter berbisik di dekat telinganya, lamunan Nara buyar seketika. Dokter itu pasti memiliki pemikiran yang sama.

__ADS_1


Arion Kenapa??


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2