CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Absen kerja lagi


__ADS_3

Seorang Dokter sengaja di datangkan ke apartemen untuk memeriksa keadaan Nara. Edsel terlebih dahulu ia antarkan ke tempat penitipan bayi. Arion juga sudah menelpon Ruth agar sore nanti Edsel akan di titipkan padanya untuk sementara. Karena Keadaan Nara yang buruk tidak memungkinkan untuk mengurus bayi malam ini.


"Istri anda hanya kelelahan. Berikan waktu untuk istirahat. Apalagi jika harus bekerja dan mengurus anak. Itu bukan pekerjaan mudah."


Kelopak mata Arion melebar saat Sang Dokter dengan mudah menyebut Nara sebagai istrinya.


"Iya Dok, tapi dia bukan istri saya."


Siapa yang peduli? lalu apa sebutan yang pantas bagi seorang pria dan wanita dewasa yang tinggal serumah, dan memiliki bayi.


Tidak ada yang bisa Arion sembunyikan karena keadaan kamar yang memang penuh dengan perlengkapan bayi.


"Kalian belum menikah? tapi sudah memiliki bayi. Saya sarankan segera resmikan hubungan kalian. Pernikahan bisa memperkuat kesetiaan."


Dokter paruh baya itu menyerahkan beberapa butir obat dalam kemasan. kemudian pamit sembari menepuk pundak Arion.


"Terimakasih, Dok."


Arion mengantar Dokter sampai ke ambang pintu, lalu kemudian kembali ke kamar untuk melihat Nara.


"Kalau bukan Dokter, sudah ku patahkan lehernya. Peduli apa dia dengan urusan orang lain." Arion menahan geram.


Sebenarnya bukan salah Dokter itu juga, karena tidak tahu apa-apa dengan urusan pribadinya. Namun tetap saja, ketenangan Arion menjadi sedikit terusik.


Nara terbangun dari tidurnya, ia memegangi kepala dan seperti kesulitan saat membuka mata.


"Minum... " Rintihnya dengan kelopak mata yang masih tertutup.


"Minum? tunggu saya ambilkan." Arion berlari ke dapur menuangkan air hangat ke dalam gelas dan kembali ke kamar dengan tergesa.


Nara memaksakan diri untuk duduk dan bersandar di ranjang tidur, Lalu Arion menyodorkan air mineral tersebut.


"Kamu mau makan apa? roti?" Arion duduk di tepi ranjang, mencoba membantu Nara sebisa nya.


Gelengan kepala Nara berarti tidak.


"Kamu harus makan dan minum obat."


"Apel." Pinta Nara, hanya satu kata tapi berhasil membuat Arion mengerti.


"Kamu mau makan buah? oke saya ambilkan. Apapun itu, yang penting perut mu terisi."


Kembali Arion menuju ke dapur untuk memeriksa, apakah di rumahnya masih memiliki stok bahan makanan. Beruntung saja, masih tersisa dua butir apel yang tersisa dari dalam lemari es.


Dengan telaten, Ia mencuci buah tersebut lalu meletakkannya di piring kecil dan langsung di bawa ke kamar.


"Untung masih ada di kulkas." Arion datang sembari menunjukkan buah dalam genggamannya.

__ADS_1


Dengan pisau kecil yang ia bawa, Arion mulai mengupas apel tersebut. Nara sabar menunggu, sesekali matanya akan terpejam untuk mengusir pening yang tiba-tiba singgah.


Nyaris kembali tertidur, karena ia terlalu lama menunggu Arion mengupas apel.


"Apelnya," pinta Nara.


"Hehehe Belum selesai." Tunjuk Arion.


Dengan waktu yang cukup lama, Arion hanya berhasil mengupas sebagian apel. Tangannya kaku menggerakkan pisau, kadang-kadang kulit apel gagal terkelupas karena pisau yang di gunakan tidam tepat sasaran.


"Biar saya makan dengan kulitnya saja." Dengan penuh ketidak sabaran, Nara merampas apel yang di pegang Arion sejak tadi.


"Jangan! kupas dulu kulitnya."


Terlambat, karena Nara berhasil mendaratkan gigitan di permukaan buah tersebut.


"Saya bisa mati kelaparan kalau menunggu anda selesai mengupas."


Walau sakit, Jiwa bawelnya tidak pernah padam. Nara masih memiliki banyak tenanga untuk mengomel.


...----------------...


Hanya beberapa gigit apel yang bisa mengisi perut Nara. Napsu makannya tiba-tiba menghilang. Kalau tidak terasa lapar, ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk menyantap makanan.


"Jangan lupa minum obatnya." Arion menyodorkan tiga butir obat kepada Nara.


Tanpa seorang Ibu, banyak hal yang berubah dalam hidup Nara. Ia tumbuh menjadi perempuan mandiri dan tidak lagi cengeng. Bahkan kini ia berhasil menelan pil itu bulat-bulat.


"Pahit ya?" Arion menyaksikan sendiri bagaimana Nara berusaha keras menelan pil dengan mata terpejam dan wajah yang mengkerut.


"Lebih pahit perjalanan hidup saya." Celetuk Nara.


"Semua orang memiliki sisi kelam, bukan cuma kamu."


Tergantung kepada kita, bagaimana menyikapi masa-masa sulit yang telah di lalui. Terpuruk semakin dalam atau menjadikannya hal tersebut sebuah motivasi hidup untuk masa depan lebih baik.


"Anda tidak ke kantor? hari ini ada meeting penting kan?" Nara baru menyadari saat matahari sudah sejajar dengan kepala.


"Ada Kevin yang atur semuanya."


Ini hari kedua mereka berdua tidak hadir di tempat kerja.


"Kasihan, pasti dia sibuk."


Mengingat pekerjaan kantor yang tidak pernah ada habisnya, Nara pun cukup mengkhawatirkan Kevin sekarang.


"Tidak perlu mengasihani orang sehat, kasihani tubuhmu yang sedang sakit. Sekarang istirahat, jangan pikirkan masalah kerjaan." Sarkas Arion, tidak suka mendengar perkataan Nara yang masih memikirkan hal lain di banding kesehatannya sendiri.

__ADS_1


"Lalu Edsel mana??"


"Saya sudah antar ke penitipan, nanti sore Ibu yang jemput dan dia akan menginap di rumah Ibu malam nanti."


"Kenapa tidak dibawa pulang? Kalau rewel gimana?"


Lagi, Nara lebih memperhatikan Edsel daripada dirinya sendiri.


"Kamu itu sakit, tadi itu badan mu panas tapi menggigil, wajah mu pucat dan itu membuat saya takut. Jadi tidak memungkinkan untuk menjaga Edsel dalam keadaan seperti itu."


"Edsel kan sekarang sudah pintar, tidak terlalu rewel jadi saya tetap bisa menjaganya."


"Tenang aja, Ibu juga pandai mengurus bayi. Lihat, saya saja tumbuh menjadi pria yang tampan karena beliau yang urus." Arion membusungkan dadanya bangga.


Nara akhirnya tertawa melihat kelucuan yang dibuat-buat oleh Arion. "Dasar!! "


"Gitu dong, senyum."


Senyum Nara juga menular pada Arion, ada kehangatan yang tercipta diantara ruang yang sepi. Arion tidak memungkiri bahwa gadis itu memenuhi kriteria sebagai tipe ideal para lelaki. Pasti banyak pria yang mengantri untuk mengencaninya.


"Terus malam nanti hanya ada kita berdua di rumah??" tanya Nara memasang kembali wajah serius.


"Iya, jadi kamu bisa istrihat yang banyak. Nggak ngurusin bayi."


Belum sampai satu hari Nara sakit, Arion sudah merasa kerepotan mengurus Edsel. Sekarang ia tahu, pekerjaan yang Nara lakukan setiap hari tidak mudah. Kadang ia merasa terlalu jahat karena memporsir tenaga Sekretarisnya itu.


"Anda tidak berpikir untuk masuk ke kamar saya diam-diam kan?? karena kita berdua? tidak ada Edsel???" Telunjuk Nara mengacung ke depan wajah Arion, menuduh tanpa alasan.


"Kalau saya punya pikiran seperti itu, sudah sejak lama saya lakukan. Kamu pikir bayi bisa menyelematkan kamu saat kamu saya apa-apain tengah malam??"


Arion menyeringai, ia menjilat bibir bawahnya dengan keseksian level dewa. Nara di buat merinding oleh pemandangan tersebut.


Selimut tebal itu kemudian di tarik sampai ke leher. Nara beringsut untuk menjauh dari Arion.


"Jangan macam-macam!!" Bola matanya bergerak acak, berjaga apabila Tiba-tiba tangan Arion menyergap tubuhnya.


"Macam-macam seperti ini???"


"AAaaaaaaaaa!!!!!!! "


Nara memekik kencang saat Arion mendekatkan wajah mereka, bahkan Nara dapat mencium aroma mint segar yang menguar dari mulut Arion.


Tawa Arion melebar saat melihat Nara yang hanya berjarak beberapa senti dengannya itu terancam oleh ketakutan.


"Sudah saya bilang, saya tidak napsu dengan kamu." Arion menarik kepalanya dan kembali menjauh.


Langkah kakinya yang lebar meninggalkan ruang kamar Nara, sedangkan penghuni nya masih tak berkutik dengan jantung yang nyaris pindah posisi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2