
Janji palsu. Itulah yang Nara yakini sampai detik ini. Arion mengikrarkan janji itu hanya untuk menjaga perasaan Lisa, tidak dengan kebenaran yang sesungguhnya.
Mustahil, jika Nara akan mendapatkan cinta Arion sedangkan Masih ada Syera yang menjadi pemilik hati yang sebenarnya.
Ini hanya perkawinan kontrak, perjanjian di atas kertas dan tidak ada hubungannya dengan hati. Miris memang, tapi Nara berkorban semuanya demi menyelamatkan Lisa. Biarlah semua akan ia jalani walau penuh dengan teka-teki.
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan."
Arion memergoki Nara yang masih terjaga walau malam sudah larut.
Langit tidak secerah biasanya, bintang-bintang memilih bersembunyi. Namun Nara tetap bisa menikmati cahaya terang dari kerlap kerlip lampu yang menerangi kota.
"Janji bukan lah hanya sekadar ucapan belaka, yang bisa di ingkari atau di lupakan begitu saja. Janji adalah hutang, bagaimana pun harus di lunasi," ucap Nara tanpa menoleh lawan bicaranya yang melangkah di belakang.
Jari-jari tangannya yang dingin menumpu pada teralis balkon. Sesekali Nara menggidikkan bahu saat angin melintas menerpa bulu kuduknya.
"Kamu tahu bahwa Saya tidak pernah mengingkari janji." Arion menyampirkan sweater yang sengaja ia bawa di pundak Nara. "Cuacanya dingin, nanti masuk angin." Bisiknya dengan suara rendah.
Jarak mereka sangat dekat, sehingga hawa dari mulut Arion terasa hangat dan kembali membuat Nara meremang.
Pria sensitif itu memang tidak pernah Jera. Padahal sudah berulang kali hidungnya gatal karena mencium aroma parfum Nara. Tapi tetap saja dekat-dekat. Dia memang termasuk kategori mesum kan?
"Ucapan anda pada Ibu itu semuanya palsu. Anda tidak mungkin menepatinya. Seharusnya, Mister tidak perlu berjanji padanya. Saya takut Ibu kecewa."
"Begitu?? " sahut Arion santai. Kini ia berdiri di samping Nara. Turtleneck hitam yang di pakai malam ini membuat bagian dadanya menonjol dan terlihat sangat padat. Ada biji ketumbar yang juga turut mengintip di pucuk tonjolan tersebut.
"Saya serius Mister, anda tidak bisa menganggap sepele semua urusan. Pernikahan palsu kita saja sudah menguras pikiran saya."
Ketakutan Nara memang memiliki alasan. Bagaimana ia akan menjalani kisah hidup dalam segala kebohongan, terutama rasa bersalah pada Ibunya yang terus memghantui.
"Loh, saya juga serius." Dada bidangnya kini berhadapan lurus dengan Nara.
Nara tidak bisa membiarkan lolos pemandangan indah di depan matanya. Dia tampak lebih gagah malam ini.
Namun dengan cepat Nara membuang pikiran liarnya, ia mengalihkan pandangannya ke segala arah.
"Anda memang pandai berbohong."
"Saya tidak berbohong. Saya memang berjanji akan mencintai dan menjaga kamu."
"Iya itu, itu kebohongan anda Mister." Nara mengacungkan telunjuknya.
__ADS_1
"Dasar keras kepala." Arion mendengus dan menyergap telunjuk Nara, kemudian membawa telapak tangan mungil itu tepat di permukaan dadanya yang bulat dan padat. "Janji itu berasal dari sini, dari hati. Apa masih bisa di anggap bohong??"
Jari-jari Nara seketika membeku, Bergerak sedikit saja, maka ia akan merasakan benjolan dada Arion lebih jelas. Sial.
"Ta-tapi. Bukan saya perempuan yang anda cintai, Mister. Pernikahan kita hanya untuk formalitas kan??"
Cup!!
Bibir mereka bertemu, Arion membenamkan kecupan hangat itu untuk beberepa detik. Ia memejamkan matanya, menarik napas hingga udara memenuhi rongga dada. Sementara Nara hanya bisa melebarkan kelopak matanya, napasnya justru tertahan dan ia masih membeku.
"Nara, Edsel merengek. Di mana susunya?"
Suara Lisa berhasil membuat tautan bibir mereka terlepas. Nara yang terkejut setengah mati, langsung mendorong dada Arion dengan kasar lalu menuju ke kamar.
"Iya Bu, Nara akan seduh susunya." Nara menyeka sudut bibirnya yang basah dengan segera.
Ia berlari ke dapur untuk mencari stok susu dan air panas. Otaknya tiba-tiba saja jadi kacau karena ulah Arion.
Padahal jelas-jelas bahwa di rumah itu bukan hanya ada mereka Berdua. Arion memang keterlaluan. Batin Nara tak berhenti mengomel.
...----------------...
Nara langsung menoleh pada tas kerja yang usang dalam dekapannya. Ini memang sudah tidak bagus lagi, tapi masih layak di pakai.
Konsentrasi Arion beralih kembali pada jalanan yang sedang padat saat pagi. Semua orang beraktifitas rutin keluar rumah.
"Tas ini menyimpan banyak kenangan. Saya tidak akan membuangnya."
"Terserah kamu saja, mau di simpan atau di museum kan. Sekarang yang penting adalah ganti dengan yang baru. Hidup itu perlu di nikmati, jangan terlalu berhemat."
Mulut orang kaya memang begitu ya? selalu menganggap enteng dalam segala hal. Berhemat itu penting, karena banyak impian di masa depan yang belum tercapai. Berbeda dengan Arion yang memiliki segudang uang, ia bisa membeli semua yang di inginkan.
Hari ini Mereka berangkat ke kantor tanpa Edsel. Karena bayi itu tidak di titipkan. Lisa dengan suka rela akan menjaga bayi yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri.
"Apa berkas perkawinannya sudah lengkap?"
Kemarin malam, Nara sudah memberikan segala data yang di perlukan kepada Arion untuk melengkapi persyaratan pernikahan.
"Sudah, lusa kita akan menikah. Besok kita akan fitting baju pengantin."
Penjelasan beruntun itu lolos begitu saja dari bibir Arion.
__ADS_1
Lihat? Pernikahan ini memang pura-pura kan? nyaris tanpa persiapan apapun. Bahkan H-3 pun, calon mempelai masih di sibukkan dengan urusan pekerjaan.
"Saya tidak mengira akan secepat ini, saya bahkan tidak memiliki persiapan apapun."
"Kamu tinggal duduk manis saja, tidak perlu lelah memikirkan hal apapun. Oke??"
Manusia macam apa dia?? Memang selalu seperti ini kan? sesuka hatinya.
"Tapi ini benar-benar terlalu cepat, dan saya khawatir dengan penilaian orang di luar sana."
Nama baik Arion sebagai pemegang perusahaan tentu harus tetap terjaga. Tidak boleh ada citra buruk yang mengotori karirnya.
Arion mengangkat kedua bahunya. Nara langsung merotasikan bola matanya. Bosan.
Sepertinya dia memang tipe orang yang cuek. Ia tidak akan peduli dengan apapun. Apalgi jika hanya sebatas ocehan dari orang-orang sekitar yang tidak menguntungkan.
Di lain sisi, Terlalu banyak hal yang mencemaskan Nara. Pernikahan mendadak ini sudah pasti akan menjadi topik hangat di kalangan karyawan kantor. Telinga nya akan menebal dan panas karena Nara tidak seperti Arion yang bisa acuh dengan hal-hal tertentu.
"Pulang dari kantor, kita kerumah Ibu. Kamu belum pernah bertemu Ayah kan??"
Nara membuang napas lagi, dadanya semakin sesak.
"Anda bahkan tidak mengizinkan saya untuk bernapas, Mister."
"Tidak perlu menunda-nunda hal baik kan? Pernikahan ini adalah kebaikan untuk kita semua, demi Edsel, demi Ibu Lisa dan demi kamu?"
Perkataan Arion memang benar, saat mendengar kabar pernikahannya, Nara dapat melihat rona bahagia di wajah Ibunya. Juga untuk Edsel, bayi lucu itu akan segera mendapatkan orangtua yang lengkap. Tapi Bagi Nara sendiri, sepertinya masih banyak keragu-raguan yang menetap.
"Apa pernikahan tanpa saling mencintai bisa di katakan baik??" tanya Nara ragu.
"Ciuman malam tadi kurang meyakinkan?? Saya mencintai kamu loh."
Arion menurunkan laju kendarannya, kemudian menepi di bahu jalan.
"Tapi ..."
Nara tidak yakin dengan perkataan Arion, ia masih bimbang dengan perasaan cinta yang terucap. Apakah memang tulus dari hati?
"Kamu mau saya cium lagi biar percaya??? "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1